Loading...

(photo source: dokumentasi pribadi)

Pengalaman liburan yang tak terlupakan terjadi saat aku dan temanku berkesempatan untuk berlibur ke Malang. Memilih Malang sebagai tempat berlibur adalah opsi yang tepat karena Malang menyajikan beragam destinasi wisata dan sajian kuliner autentik. Pada awalnya, kami hanya akan menjelajahi beberapa destinasi wisata di pusat kota Malang karena keterbatasan waktu dan biaya. Namun, tujuan kami berubah ketika aku bertemu dengan temanku yang asli orang Malang. Dia mengajak kami mengeksplorasi wisata di Kabupaten Malang, tepatnya dia mengajak kami ke pantai bersama orangtuanya. Kami pun sangat bersemangat menyambut ajakan tersebut.

Hari itu pun tiba, kami bergegas menuju salah satu pantai di selatan Malang, yaitu pantai Ngliyep. Ketika mendengar nama tersebut, aku merasa heran karena bagiku nama pantai ini cukup unik. Temanku menjelaskan bahwa kata ngliyep berasal dari bahasa Jawa yang bermakna mengantuk. Lalu, mengapa dinamakan Pantai Ngliyep? Apa hubungannya dengan maknanya? Katanya karena alunan gelombang pantai ini sangat indah dan semilir anginnya pun meneduhkan sehingga mampu membuat siapapun merasa mengantuk hingga tidur sebentar. Wah, menarik sekali! Aku tidak sabar ingin membuktikannya.

Perjalanan ke pantai Ngliyep menggunakan kendaraan pribadi memakan waktu sekitar 2 – 3 jam dari kota Malang. Jaraknya dari pusat kota Malang kurang lebih 65 KM. Perjalanan kami memakan waktu agak lama karena kami sempat tersesat. Hal ini disebabkan oleh gmaps yang tiba-tiba tidak berfungsi dan smartphone kami yang tidak bisa menangkap sinyal. Namun, hal tersebut tak membuat kami kecewa karena sepanjang jalan kami disuguhi panorama indah berupa hutan jati di kanan dan kiri.

Suara deburan ombak menyambut kedatangan kami di kawasan pantai yang terletak di desa Kedungsalam, Danumulyo, kabupaten Malang. Sesudah membeli tiket dan mobil terpakir dengan sempurna, kami pun langsung bergegas menuju area pantai. Aku dan kedua temanku memutuskan langsung mengeksplorasi pantai, sementara kedua orangtua temanku mempersiapkan penginapan. Bau pantai menarik kami untuk berlari ke arah bibir pantai. Teriknya matahari dan semilir angin mengiringi langkah kami. Jarak dari area parkir ke bibir pantai tidak jauh. Aku melihat ke sekeliling tampak pengunjung tidak banyak hari itu. Pandanganku menyapu segala hal yang begitu indah di sini, dari mulai warna pantai yang biru kehijauan, ombaknya yang menenangkan, dan pasir putihnya yang luas dengan dibentengi pepohonan yang rindang di tepinya. Selain itu, pantai ini juga dikelilingi bukit-bukit hijau yang menyegarkan mata. Perpaduan yang sangat cantik!

(photo source: dokumentasi pribadi)

Aku menginjak lembutnya pasir pantai Ngliyep yang sanggup mengobati kerinduanku akan liburan di pantai. Deburan ombak begitu tenang, datang dan pergi menyapu-nyapu kakiku. Kami berlari-lari di hamparan pasir putih luas yang lembut sekali sambil tertawa-tawa melepas penat. Kulihat sekeliling dan menyadari bahwa selain panorama alam yang sudah cukup indah untuk menjadi latar jepretan kamera, tersedia juga beragam spot menarik yang tak patut dilewatkan, seperti signage yang super kece, ayunan, replika perahu, dan masih banyak lagi. Spot-spot menarik ini sanggup memuaskan pengunjung untuk dapat mengekspresikan diri dengan berfoto atau sekadar memotret panorama pantai yang memang sudah indah.

Matahari sudah tidak terlalu terik, kami melihat ke sisi kiri pantai yang terdapat bukit yang nampak eksotis dan memanggil-manggil untuk disambangi. Jiwa berpetualang kami terpanggil untuk mengeksplorasi area bukit di sisi kiri pantai tersebut. Menaiki bukit tersebut memang sedikit melelahkan, namun terbayarkan dengan keindahan yang ditawarkannya. Terdapat spot-spot berfoto di sini dan panorama pantai Ngliyep semakin indah dilihat dari sisi yang berbeda.

Bukit tersebut juga membuka akses untuk mengarah ke sebuah pulau yang dinamakan Gunung Kombang. Ya, ini merupakan sebuah pulau kecil bukan gunung. Untuk sampai ke Gunung Kombang, kami hanya perlu menuruni bukit dari sisi yang berbeda lalu berjalan lagi menyeberangi jembatan yang sudah disediakan oleh pengelola sini. Kami menyadari bahwa Gunung Kombang ini merupakan tempat yang sakral karena terdapat petilasan, sesajen, dan tempat beribadah. Sepinya suasana dan deburan ombak yang besar membuat kami merasakan aura mistis di sini. Namun, kami tetap senang bisa berada di sini karena dari atas pulau ini kami bisa menikmati panorama hamparan laut biru dengan alunan ombak yang menarik dan sejuknya semilir angin. Kami juga merasakan ketenangan bisa menikmati keindahan dari atas sini.

Keeksotisan pantai pesisir selatan ini tak berhenti sampai di situ saja. Kami berjalanan lagi menyelusuri sudut pantai Ngliyep dan menemukan sebuah teluk yang eksotis. Teluk ini bernama teluk putri karena pemandangannya yang indah dan pasir putihnya yang sangat lembut. Saat kami ke sini ternyata teluk ini sangat sepi, hanya ada kami saja sehingga terasa seperti pantai pribadi. Kami pun menghabiskan waktu di teluk putri dengan bermain pasir, bermain air, dan mengabadikan momen dengan kamera. Entah mengapa saat di sini waktu terasa berjalan dengan cepat. Waktu telah menunjukkan pukul lima sore, kami pun harus bergegas kembali ke penginapan.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Matahari hampir kembali ke peraduannya, senja pun akan tiba. Kulihat cahaya kemerahan di atas langit pantai Ngliyep yang keindahannya tak tertandingi. Perlahan-lahan matahari terbenam, cahaya langit berganti dari kebiruan, memerah, hingga menggelap. Suasana senja sangat meneduhkan dengan iringan suara ombak dan semilir angin yang menyejukkan. Kami pun menyambut petang dengan makan malam menikmati hidangan laut yang segar khas pantai Ngliyep. Sangat puas dan senang sekali bisa menjelajahi eksotisme pantai Ngilyep ini. Malam itu pun ditutup dengan obrolan hangat nan panjang tentang segala hal sebagai pelepas kerinduan.

 

Penulis: Afifah Faizah

Press Enter To Begin Your Search
×