Loading...

Foto: Dokumentasi Pribadi

Sudah setahun berlalu aku mengunjungi pulau yang membuat ku berdecak kagum akan keindahan alam dan kekayaan budaya nya. Tidak terpikir sebelumnya kalau aku bisa berada di tempat indah bernama Tana Humba ini. Salah satu tempat yang banyak orang idam-idamkan termasuk diriku.

Tana Humba adalah sebutan untuk pulau Sumba, sebuah pulau di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Orang sering mengira bahwa Sumba adalah Sumbawa, padahal tidak. Pulau Sumba terletak berbatasan dengan Sumbawa di sebelah barat laut, dan Flores di sebelah timur laut. Sumba berasal dari kata “Humba” atau “Hubba” yang berarti asli, masyarakat disini menyebut pulau mereka sebagai “Tana Humba” atau Tanah Asli.

Perjalananku menggunakan pesawat terbang dimulai dari bandara Juanda, Surabaya menuju bandara Ngurah Rai, Bali karena harus transit 3 jam terlebih dahulu, lalu lanjut terbang menuju bandara Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Yeay! Akhirnya, selamat datang di Sumba! Hihi. Setelah sampai di bandara, aku menunggu penjemputan oleh pihak agen travel. Selama di Pulau Sumba ini, aku  menggunakan jasa travel karena memang banyak hal yang diperhitungkan membuat ku tidak bisa backpacker an disini. Oke cuss lanjut, sekitar 10 menit an menunggu, aku dijemput oleh guide bang Galez dan sopir trip bang Amma namanya.

Aku bergegas menuju hotel untuk check in dan meninggalkan barang bawaan yang tidak terlalu dibutuhkan selama trip berlangsung. Selesai berkemas, akhirnya trip dimulai! Berikut beberapa destinasi yang aku kunjungi selama 4 hari  di Sumba:

Day 1

  1. Kampung Adat Ratenggaro

Perjalanan dari hotel ke kampung adat ini ditempuh sekitar 1 jam an. Kampung ini terletak di kec Kodi, Kab. Sumba Barat Daya. Kalau ditempuh dari bandara sih ya sekitar 1,5 hingga 2 jam an. Disini terdapat kuburan batu khas Sumba. Satu kuburan batu biasanya diisi 6 sampai 7 orang jenazah. Oiya, soal kepercayaan disini mereka rata-rata menganut kepercayaan Marapu, yakni agama yang memiliki kepercayaan pemujaan kepada nenek moyang atau leluhur. Sisanya, Kristen, dan Islam.

Bentuk rumah adat Sumba dan kubur batu khas Sumba. (Photo taken by Iphone 5 SE)

“Uma Mbatangu” atau “Rumah berpuncak”. Rumah adat Sumba memiliki puncak yang tinggi pada atap, terbuat dari jerami atau alang-alang. Biasanya rumah ini memiliki tata letak berbentuk persegi. Empat tiang utama penopang atap puncak memiliki simbol mistis. Dua pintu masuk diposisikan kanan dan kiri rumah. Tidak ada jendela, ventilasi udara dari lubang kecil-kecil di dinding rumah yang terbuat dari anyaman dahan sawit. Dan satu rumah adat bisa menapung beberapa keluarga lho! Yang unik juga, di rumah adat ini bagian atas dihuni oleh keluarga, dan bawah rumah dihuni oleh hewan ternak mereka, seperti ayam, babi, anjing. Jadi otomatis mereka tidur seatap dengan hewan ternak mereka, wah ga bisa bayangkan gimana rasanya deh.

  1. Pantai Mbawana

Dari Ratenggaro lanjut ke pantai Mbawana, sekitar 45 menit sampai disini. Parkir mobil, lalu tracking turun ke bawah bentar 15 menit an untuk sampai di pesisir pantai.  Terbayar sudah lumayan capek tracking medan terjal dengan suguhan pantai yang indah banget! Ciri khas dari pantai ini selain pasir putihnya  adalah adanya tebing berlubang yang berdiri kokoh sejauh mata memandang. Kebetulan, aku kesini pas sunset. Jadi epic moment banget sunset an di tepi pantai sambil menikmati angin pantai sepoi-sepoi dan deburan ombak yang waktu itu sedikit tenang.

Day 2

  1. Pantai Mandorak

Esok harinya, aku lanjut ke pantai Mandorak. Perjalanan dari hotel ke pantai ini sekitar 1 jam an. Ngga kalah eksotisnya dari Mbawana, Mandorak juga memiliki ke eksotis an pantai sendiri. Di kelilingi oleh dua tebing curam yang hampir menyatu di tengah-tengah nya. Hanya terpisah jarak sekitar 20 m, tebing itu seperti sebuah gerbang masuk pantai dari laut lepas. Pasir pantai nya halus, tidak ada sampah, air laut nya jernih terlihat warna biru kehijauan. Ombak nya yang tinggi, sampai terdengar suara hempasan keras air laut ke tebing di pinggir an pantai nya.

Tebing curam pantai Mandorak yang menyerupai gerbang masuk pantai dan laut lepas. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

  1. Danau Weekuri

Tidak jauh dari pantai Mandorak, melipir dulu ke danau Weekuri. Danau air asin cantik ini berasal dari air laut yang menembus batu karang sehingga membuat sebuah laguna dengan air nya yang jernih berwarna biru kehijauan. Benar-benar memukau! Rimbunnya pohon mengelilingi bibir danau, dan batuan gua yang membentuk stalagtit hingga stalagmit membuat suasana sangat sejuk. Ada warung- warung warga untuk berjualan makanan atau minuman, hasil tenun, kerajinan tangan gelang dan kalung. Aku pun menyempatkan membeli kelapa muda, seger banget minum nya di pinggir danau apalagi waktu cuaca panas kayak gini hihi.

View indah danau Weekuri diliat dari atas tebing. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

  1. Kampung Adat Prai Ijing

Perjalanan sekitar 1,5 jam dari danau Weekuri akhirnya aku sampai di kampung adat Prai Ijing. Kampung ini terletak di desa Tebar, Waikabubak, Sumba Barat. Struktur rumah disini juga tidak jauh berbeda dengan rumah adat yang ada di kampung Ratenggaro, yaitu rumah berpuncak. Keaslian adat dan budaya berhasil membuat kawasan Prai Ijing ini menjadi salah satu tujuan utama wisata budaya yang ada di pulau Sumba. Perlu diketahui juga, di pulau ini banyak sekali kampung adat tetapi tidak semua nya di publish. Meskipun menjadi kawasan wisata, namun aktivitas warga sekitar tetap berjalan, seperti bertani, menenun kain, hingga anak-anak bebas bermain sesuka hati di jalan setapak hingga utama desa.

Potret mama yang sedang membuat kerajian tangan. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

  1. Air Terjun Lapopu

Air terjun Lapopu terletak di desa Hatikuloku, kec Wanokaka, Sumba Barat. Dan berada di kawasan Taman Nasional Menepue Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (MataLawa). Tinggi air terjun ini sekitar 90 meter sekaligus menjadi air terjun tertinggi di NTT. Struktur dari air terjun ini berbeda dengan air terjun Laputi dan Matayangu yang satu kawasan juga di TN. Matalawa, dimana air terjun Lapopu ini bertingkat-tingkat baru di bawah nya terdapat kolam air yang begitu jernih. Karena air terjun ini di dalam hutan yang teduh, jadi suasana nya sangat asri, tenang, dan sejuk ketika berada disini.

Air terjun ini menjadi penutup hari kedua ku menjelajah pulau Sumba. Sekitar jam set 5 an sore, guide ku mengajak untuk segera pulang. Karena pernah ada mitos tidak boleh sampai malam hari berada disini.

Selesai dari air terjun Lapopu, aku bersiap untuk menempuh perjalanan jauh selama 3 jam dari Sumba Barat ke Sumba Timur. Jadi tadi pagi sekalian check out dari hotel pertama di Waikabubak, lanjut ke hotel kedua di Sumba Timur. Melewati hutan belantara TN. Matalawa, hanya lampu sein mobil dan bulan purnama yang jadi penerangan jalan malam itu. Hutan nya panjang banget, sepi pol jarang yang lewat. Perjalanan ini cukup menyiksa ku, disaat kondisi badanku sedikit tidak fit karena masuk angin dan kecapekan trip seharian, ditambah lagi jalannya berkelok-kelok. Ah sial! Aku kena jackpot! Mabok darat gakuat sama jalan nya, terus bang Amma juga nyetir nya kenceng banget ya gimana ga kenceng ditengah hutan. Pro banget dah nyetir nya bang Amma sebagai warga lokal disini. Sampai hotel aku langsung tepar, beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk trip esok hari.

Day 3

  1. Air Terjun Tanggedu

Destinasi yang paling favorit selama trip, Grand Cayoon nya Sumba, mengunjungi air terjun Tanggedu. Begitu mempesona dengan tebing – tebing curam di samping kanan kirinya. Karakteristik dari air terjun ini dengan air yang bening kebiru-biruan membuat air terjun ini sangat lah indah. Jadi spot instagramable banget buat para wisatawan yang berkunjung kesini. Untuk berkunjung kesini memerlukan waktu sekitar 45 menit dari parkiran ke air terjun, itu jalan kaki ya. Turun kebawah melewati aliran sungai kecil, lalu naik lagi muterin bukit. Melewati savana yang bagus nya parah! Terus turun lagi menuruni bukit. Warga sini membuat anak tangga yang terbuat dari tanah, ada pegangan kayu di pinggir cukup untuk jalan satu orang saja kalau papasan ya harus salah satu minggir dulu gantian. Setelah tracking yang menguras tenaga, akhirnya disuguhkan pemandangan air terjun yang sangat indah! Duh terbayar sudah. Perlu diingat, kalian tetap harus sadar lingkungan ya, jangan buang sampah sembarang. Sayang banget kalau tempat sebagus ini jadi jelek dan kotor karena ulah orang yang tidak  ber tanggung jawab.

  1. Pantai Walakiri

Destinasi penutup di hari ketiga ku, berkunjung ke pantai Walakiri. Pantai ini memiliki ciri khas adanya berjejer pepohonan mangrove yang berada di bibir pantai. Sangat unik, pengunjung bisa berjalan menyusuri pantai sambil menikmati matahari terbenam. Tekstur pasir nya juga tidak seperti pantai yang pernah aku temui sebelumnya, tektur pertama dengan butiran pasirnya berwarna putih gading. Dan kedua, bekas air laut yang surut memiliki tekstur seperti semen basah kemudian kering, mengeras dan dibatasi oleh garis yang terlihat jelas. Siluet pepohonan mangrove yang meliuk-liuk seperti penari membuat pantai Walakiri terlihat artistik untuk di foto dari segala arah.

  1. Bukit Wairinding

Bukit wairinding menjadi destinasi penutup perjalananku di Sumba. Otw jam 04.50 WITA dari hotel untuk menikmati sunrise, lalu sekitar 45 menit kemudian tiba di bukit Wairinding. Di beberapa jalan menuju bukit Wairinding kabarnya dulu pernah buat syuting film popular yaitu Marlina si pembunuh dalam empat babak. Memang jalanan nya bagus banget, jalan meliuk, perbukitan kanan kiri, menemui sabana di sepanjang jalan. Cakep banget!

Banyak sekali bukit-bukit di Sumba yang cantik-cantik, tapi kali ini aku berkesempatan mengunjungi salah satunya, Wairinding. Terletak di Waingapu, Sumba Timur. Bukit ini jadi spot foto favorit wisatawan yang banyak aku temui di sosial media. Saking perfect nya, bukit ini cocok buat nikmati sunrise atau pun sunset. Jadi dari segi mana aja emang ga bisa diragukan lagi deh kecantikan nya.

Tidak terasa hari terakhir ku menjelajahi pulau Sumba ini. Ah seperti baru sehari saja disini, lalu pergi. Seperti ditinggalkan pas lagi sayang – sayang nya huhu. Perjalanan 4 hari yang melelahkan namun sangat berkesan untuk ku. Di tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya, aku bisa mendapatkan banyak hal baru serta pengalaman baru. Inilah, eksotisme dari Tana Humba yang bisa aku share ke kalian.

Bangga, Indonesia ku memiliki kekayaan alam serta keragaman budaya yang patut aku jaga, dan aku kenalkan ke seluruh dunia. Semoga saja, di lain hari aku bisa ber kesempatan untuk menapakkan kaki lagi di Tana Humba ini, aku akan lebih banyak mengeksplor beberapa tempat yang belum sempat aku kunjungi kemarin. Selain Sumba, semoga saja aku juga bisa berkunjung dan mengenal kan destinasi indah di Indonesia ku lebih banyak lagi. Salam Lestari!

 

Penulis: Fardesi Indah KumalaSari

Instagram: farindah19_

Twitter: farindah19_

Facenook: Fardesi Indah

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×