Loading...

 

Dokumen Pribadi

Karimunjawa merupakan pulau terbesar dan salah satu yang paling padat penduduknya di Kepulauan Karimunjawa. Pulau ini terletak di bagian utara Kota Jepara dan masuk sebagai Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara.

Terdiri dari 27 pulau dan hanya lima pulau yang berpenghuni, membuat Kepulauan Karimunjawa menjadi salah satu pesona wisata di Jepara oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Kepulauan ini memiliki pasir putih yang indah sekali sehingga memiliki beberapa julukan seperti pulau liburan, Paradise of Java, Caribean Van Java, Bali-nya Jepara, dll. Kebanyakan orang yang ber kunjung ke Karimunjawa untuk  hiburan menikmati keindahan pantai sunset, laut bahari dengan berscuba, diving, snorkelling, berenang, memancing, ataupun bermain pasir .

Kepulauan  Karimunjawa dapat dicapai dengan menggunakan kapal laut, baik dari Semarang ataupun dari Jepara. Ada dua pilihan kapal untuk mencapai kepulauan ini, kapal express dan kapal ekonomi . Waktu yang ditempuh ke Pulau Karimunjawa dari Pantai Kartini menggunakan kapal express biasanya 2 -3 , sedangkan kapal ekonomi biasanya ditempuh hingga 6 Jam. Namun, saat ini sudah ada sejumlah wisatawan yang datang dengan menggunakan pesawat terbang yang hanya menempuh waktu 30 menit dari Semarang. Jika mendatangi Karimunjawa via udara, maka akan melalui Bandara Dewadaru.

Aku bersama tiga teman melakukan perjalanan dari Yogyakarta di sore hari, sehari sebelum keberangkatan kapal ekonomi dari Pelabuhan Kartini Jepara, Sabtu pukul 07.00 WIB. Sesampainya di Jepara, pukul 22.00 WIB, kami memutuskan untuk menginap di rumah rekan yang kebetulan dekat dengan pelabuhan tersebut.

Mentari masih sedikit malu untuk memperlihatkan sinarnya, itu tandanya kami harus bersiap-siap menuju pelabuhan untuk membeli tiket kapal, setengah jam sebelum keberangkatan. Tampak beberapa orang telah memadati loket penjualan tiket. Mulai dari warga Karimunjawa yang kembali dari pekerjaannya di Kota Jepara, rombongan keluarga, rombongan dengan kawan nongkrong seperti kami hingga rombongan paket wisata oleh jasa travelling.

Hari itu, kapal ekonomi yang kami tumpangi masih banyak kelonggaran di beberapa tempat. Kebanyakan penumpang memilih area bagian atas kapal. Pasalnya bagian ini bisa melihat lautan lepas dengan sentuhan angin sepoi-sepoinya. Sebagian lagi memilih di bagian bawah, dengan alasan goyangan kapal tidak begitu terasa. 

Dokumen Pribadi

Sekitar pukul 11.00 WIB, kami tiba di Pelabuhan Karimunjawa. Karimunjawa tampak biasa saja saat itu, seperti pelabuhan-pelabuhan lainnya. Di sepanjang perjalanan mencari tempat makan, kami banyak ditawari akomodasi penginapan maupun trasportasi yang disediakan oleh pelaku bisnis di sana. Sungguh menarik, mereka memberikan harga promo dll. 

Tempat makan pertama kami, warung yang berada tepat di depan SPBU. Di situ kami bertemu dengan kerabat dan ditawari untuk menginap di rumah neneknya selama berada di Karimunjawa. Kami menyetujui itu. Selepas makan, kami menuju ke rumah nenek kerabat. Rumahyang hanya ditempati neneknya seorang diri, berada tepat di sepadan pantai di sisi barat Pulau Karimunjawa. 

Membayar Lelah Perjalanan

Untuk memudahkan mobilisasi di Pulau Karimunjawa, kami memutuskan untuk menyewa sepeda motor. Semangat kami di sore hari itu untuk mengelilingi Karimunjawa masih menggebu mengalahkan lelahnya perjalanan di kapal. Kami menuju ke pantai-pantai yang terletak di bagian utara Pulau Karimunjawa.

Menuju ke Pantai Batu Lawang yang terletak di bagian utara Pulau Karimunjawa, pantai ini memiliki panorama sunset yang bagus, airnya jernih dan keindahan pasir putihnya. Selain itu, aksesnya cukup baik untuk kendaraan roda dua. Tempat snorkeling dan diving, banyak terumbu karang yang bewarna warni ada ikan Nemo,  cocok untuk tempat referensi liburan anda sekeluarga.

Karena waktu yang tinggal sedikit, mencari spot sunset di tempat yang paling bagus. Kami direkomendasikan oleh kerabat untuk menuju ke Pantai Sunset. Ya, sepertinya cocok dengan nama pantainya. Setibanya di sana, ternyata benar. Wisatawan domestik maupun mancanegara berkumpul di sini untuk menikmati panorama sunset. Sebagian orang bilang, “Balinya Jepara”

Hari pertama nampaknya cukup melelahkan, akhirnya kami kembali ke rumah neneknya kerabat dan langsung istirahat. Namun sebelumnya, kami mampir ke warung makan di samping alun-alun Karimunjawa. Nampaknya tempat ini menjadi salah satu tempat makan sebagian wisatawan yang ingin mengisi perutnya. Harganya lumayan, untuk sekali makan 10-20 ribu rupiah.

Hari Kedua Terbukti Kelelahannya

Nampaknya kami memang benar-benar kelelahan dan bangun agak siang. Tak mau kehabisan waktu liburan, kami langsung bergegas mencari  pantai-pantai yang belum dijelajahi di bagian utara. 

Beberapa menit perjalanan ke arah utara, kami menemui jalan menuju ke arah pantai, belum ada petunjuk nama pantai, tapi kami mencoba mengikuti jalannya. Pohon-pohon jambu monyet di pinggiran jalan setapak itu menggiring kami ke arah pantai yang sepertinya masih belum terjamah. Hanya ada beberapa tempat duduk dan beberapa warga yang sedang membangun gubuk.

 Kami menikmati tempat tersebut, hingga tidak terasa bentol bekas gigitan nyamuk sudah penuh di bagian tangan. Benar, beberapa tempat di Karimunjawa masih banyak nyamuk. Tapi itu tidak menjadi hambatan untuk kita bersenang-senang. Kami kembali ke rumah, hal ini untuk meminimalisir kelelahan kami seperti di hari pertama. Tidak lupa, kami mengambil beberapa kacang mede di sepanjang jalan setapak pantai tadi untuk kita jadikan cemilan malam hari. Selanjutnya, kami mencari hiburan di pantai terdekat rumah tempat kami menginap.

Sinar mentari mulai meredup, kita nikmati suara desiran ombak. Tiba-tiba mataku tertuju pada cahaya di tengah laut. Cahaya tersebut berasal dari senter yang digunakan para warga untuk menangkap ikan. Aku penasaran dan ingin mencoba bagaimana rasanya mencari ikan di tengah gelap malam. Akhirnya ku hidupkan lampu senter HP yang ku bawa.

Mungkin kesenangan yang didapatkan oleh warga dan aku, sungguh sangat berbeda. Jika mereka ingin menangkap ikan sebagai lauk makan keluarga mereka, aku hanya menikmati bagaimana ikan seperti terhipnotis melihat cahaya senter. Bukan hanya itu, aku menikmati keseruan berjalan di atas bebatuan yang tajam di malam hari dengan air yang jernih, sehingga tampak kaki yang sudah mulai memerah.

Malam telah larut, dan dua temanku sudah tertidur. Bersama teman satunya, ngobrol hingga larut sambil membakar kacang mede yang kita dapat dan akhirnya kami merencanakan untuk ikut membersihkan pantai di bagian selatan pelabuhan di esok harinya. Ku beranjak dari tempat duduk dan langsung menuju ke kamar untuk istirahat.

Bercinta di Hari Terakhir

Pagi itu, rupanya temanku yang satunya telah mengecek lokasi pantai yang dibersihkan terlebih dahulu. Ia kembali dan memberikan kabar kepada kami yang masih di rumah, baru selesai mandi. Kami berempat menuju ke lokasi tersebut, kudapati beberapa orang tengah menyisihkan sampah-sampah ke bagian belakang untuk dibakar, sebagian lagi mengangkut pasir untuk menimbun bekas lokasi pengumpulan sampah. 

Dokumen Pribadi

Dengan ini, kami menambah relasi di pulau sebrang. Warga Karimunjawa sangat baik dan mempersilahkan kami menempati pantai tersebut sesaat kami kembali ke Karimunjawa. Lumayan olahraga pagi kali ini. Matahari mulai menembus badan kami, kami memutuskan untuk meninggalkan pantai tersebut dan pergi ke suatu tempat untuk menikmati hari terakhir. 

Bagaimana cara ‘bercinta’ di Karimunjawa? Jawabannya adalah pergilah ke bukit cinta di tengah pulau Karimunjawa. Kalian akan disuguhkan dengan pemandangan yang sangat luar biasa. Bukit love atau bukit cinta adalah sebuah bukit yang berada sekitar 10 menit dari pusat Kota Karimunjawa. Di bukit ini terdapat banyak spot untuk berfoto dan uniknya spotnya bermacam-macam dan beranekaragam. 

Kini liburan kami sudah sampai ujung waktu. Kami menikmati seluruh keindahan di Pulau Karimunjawa, namun kami belum mencicipi pulau-pulau lain, mungkin suatu saat nanti. Kalian harus merasakan bagaimana menikmati Karimunjawa dengan cara sendiri. Ada beberapa hal yang harus kalian nikmati ketika berada di Karimunjawa, yakni tidur di rumah warga, ngobrol dengan warga asli hingga membantu warga dalam kegiatan masyarakat yang ada di sana. 

Sampai jumpa. Kami harus segera terlelap untuk bahagia keesokan harinya setiba kembali dari Karimunjawa dan menceritakan kisah ini ke kalian semua. 

Penulis: Adi Ariyanto

Instagram: @adiariy_8

Twitter: @adiariy_8

Facebook: adiariy8

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×