Loading...

(photo source: dokumentasi pribadi)

Seindah-indahnya tawaran traveling ke kota orang, kembali ke kampung halaman adalah pilihan terbaik. Menyaksikan tempat di mana kita tumbuh dan dilahirkan, menertawai masa kecil, tentang main di alam dengan bebasnya, sampai tubuh becucuran bau matahari. Apalagi kala sudah terlalu jauh merantau, mengajak sahabat baru untuk berlibur ke kampung halaman tentu menggembirakan.

Pekan lalu, saya bersama sahabat baik memilih tempat traveling menuju Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat. Letaknya sekitar 4 jam dari Kota Pontianak jika ditempuh menggunakan kendaraan bermotor. Kami sepakat untuk mengeksplore wisata alam yang ada di sana dengan bersemangat. Barangkali untuk para petualang Kalbar, memikirkan wisata daerah hulu Kalimantan Barat hanyalah tentang air terjun dan riam-riamnya saja. Tapi kami sebagai kaum muda dan berbahaya, memilih menjadi berbeda!

Kami memilih wisata bekas kegiatan pertambangan. Ada pasir cokelat dan pasir putih. List rencana liburan yang tak pernah ada dalam daftar catatan sejarah petualangan kami berdelapan. Terbiasa main di alam yang hijau dan biru seperti hutan, air terjun, dan pantai, membuat kami tak habis pikir mengapa memilih menempuh cuaca terik di gurun tanpa ruang seteduh pepohonan. Lagi-lagi, kami ingin suasana yang berbeda di momen traveling kali ini.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Traveling tanpa foto seperti makan bubur tanpa garem, hambar. Begitu juga dengan kami yang memang selalu senang mendokumentasikan momen sebagai oleh-oleh dalam jalan pulang. Lokasi pertambangan di Kecamatan Tayan Hilir Kabupaten Sanggau memang cukup tak terduga. Kami butuh bertanya ke beberapa orang untuk sampai. Bahkan lucunya, ternyata kami baru tau kalau lokasi itu dinamakan masyarakat lokal sebagai “Dubainya Tayan”. Sebelum ke padang pasir Dubai asli, ada baiknya main-main ke Dubai tiruan pun tak apalah ya~

Benar saja, sesampainya di sana panas terik membakar kulit. Pemandangan gurun pasir pasca kegiatan pertambangan yang keren memang bikin mata kami segar. Akhirnya oleh-oleh foto instagramable kali ini bak di luar negeri. Safari Gurun Dubai versi Tayan memang luar biasa menipu. Bedanya, tak kami dapati unta-untan yang bisa dinaiki wisatawan. Kami hanya bisa jalan kaki mencari spot foto paling menarik. Tidak masalah lah ya, apalagi wisata ini gratis dan sepi. Seolah-olah gurun itu milik kami berdelapan seorang. Lalu lalang pekerja tambang pun tampak tak ada, kecuali mendekati sore hari.

Area gurun pasir juga dilengkapi dengan pemandangan sungai terbentang. Kalau sunset pasti akan seru sekali menyaksikan dua pemandangan sekaligus. Sangat cocok buat yang mau travelling ala-ala gurun pasir luar negeri tapi tak punya tabungan untuk sampai ke sana.

Sebagai penyeimbang, kami juga mendatangi gurun pasir putih di Kabupaten Sanggau. Kalau tadi diisi panorama pasir coklat, kali ini dengan tetap ditemani terik matahari yang menggosongkan kulit kami siap menikmati hamparan pasir putih. Sambil nyanyi lagu Laskar Pelangi, rasanya seperti berada di Pulau Belitung. Kembali mengenang SD Muhammadiyah Gantong, Bu Mus, Museum kata, dan seluruh aktor yang terlibat pada film karya Andrea Hirata itu. Wuh, di Kalimantan Barat ternyata kita punya spot-spot foto menarik selain hutan dan pantai.

Sayangnya, semua wisata tadi belum dikelola dengan baik. Selain karena belum banyak yang mengetahui keberadaannya, lokasi bekas pertambangan identik ditinggalkan begitu saja. Padahal kalau mau dikembangkan menjadi kawasan wisata sambil membenarkan kembali penghijauan di beberapa titik pasti worth it! Selain jadi pemasukan tambahan, kehadiran wisata-wisata baru ini juga memperkaya alternatif penduduk Kalbar untuk travelling. Daripada jauh-jauh ke luar pulau, atau berdiam di rumah karena tak punya uang, mendingan jalan-jalan ke wisata terdekat. Apalagi lokasinya gampang diakses, segala umur dan orang-orang yang takut berpetualang jadi punya kemauan untuk mencoba menikmati liburan.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Bagi kami yang paling menakjubkan dari traveling tak hanya tempatnya, melainkan momen bersama orang-orang terkasih. Tertawa bersama, saling mengisi menjadikan liburan dimanapun terasa seru. Sepulangnya ke kota rantauan, berbagai pertanyaan dari whatsapp dan Instagram mulai berjejeran. “Dimana tempatnya? Keren!” Syukurlah kalau ternyata liburan kami ikut menginspirasi banyak orang untuk ikut datang ke tempat yang sama. Semoga traveling menjadikan obat yang menyembuhkan setiap lelah dan penat dari rutinitas. Menepi untuk mengisi energi adalah penting!

 

Penulis: Sekar Aprilia Maharani

Instagram: @sekarapriliaa

Twitter: @skrapriliam

Facebook: Sekar Aprilia

 

Press Enter To Begin Your Search
×