Loading...

(photo source: dokumentasi pribadi)

Penerbangan dari Jakarta selama 1 jam 30 menit membawa saya mendarat di Bandara Pangkalan Bun. Sebuah kota yang menjadi daya tarik turis asing untuk rela berkunjung demi melihat satwa endemik yang menjadi kebanggaan Indonesia. Tahun 2015, pertama kali saya menginjakkan tempat ini. Dan, selalu rindu untuk datang kembali lagi.

Berada di semenanjung barat daya provinsi Kalimantan Tengah, tepatnya di Kumai, Kotawaringn Barat. Tanjung Puting menjadi tempat yang selalu dirindukan. Bukan hanya saya saja, aktor tampan-Nicholas Saputra pun beberapa kali bertandang ke tempat ini. Di area seluas lebih dari 400.000 ha dan habitat Orangutan sekitar 57.000 individu, Tanjung Puting menjadi tempat konservasi Orangutan terbesar dan terluas di dunia.

Kenapa sih harus jatuh cinta dengan Tanjung Puting. Hanya sebuah hutan dengan penghuni asli Orangutan. Tapi ternyata itulah seninya, yang cintanya hingga tembus ke mancanegara. Tidak perlu harus menjadi seorang petualang untuk bisa merasakan sensasi di alam liar.  Karena seorang petualang tanpa cinta, bukanlah petualang sejati. Mencintai satwa endemik Indonesia adalah salah satu bentuk kepedulian kita untuk menjaga populasinya dari kepunahan.

 SELAMAT DATANG DI RUMAH KLOTOK

(photo source: dokumentasi pribadi)

Seorang guide lokal telah menunggu kedatangan saya bersama 12 orang traveler lainnya. Kami mengambil paket cruise untuk 3 hari 2 malam. Mobil melaju menuju Pelabuhan Kumai yang berjarak 15 km dari bandara. Sekitar 30 menit berkendara, saya tiba di Kumai yang menjadi start menuju Tanjung Puting.

Selamat datang di rumah klotok. Penginapan berupa kapal traditional yang terbuat dari kayu ulin. Memiliki panjang rata-rata 15 meter dengan dua dek yang difasilitasi layaknya sebuah tempat inap. Bagian dek atas khusus untuk tamu. Ada meja dan kursi makan, sebagian digunakan lesehan yang dapat disulap menjadi tempat tidur berkelambu kala malam hari. Balkon terbuka untuk duduk santai sambil menikmati pemandangan alam liar.

Sedangkan dek bawah digunakan untuk ruang kemudi, dapur dan kamar crew serta juru masak. Dilengkapi dengan dua kamar mandi shower. Umumnya, satu kapal bisa memuat hingga 6 tamu inap. Didampingi 4 orang crew kapal dan 3 juru masak. Kebetulan juru masak kami adalah tiga orang ibu-ibu transmigran asal Jawa yang sudah menetap lama di Kalimantan. Soal menu makanan, tidak kalah lezatnya dengan restaurant bintang lima. Juru masak disni terbiasa melayani tamu mancanegara. Menu yang disajikan beragam mulai dari sajian seafood, tradisional hingga western, juga pelengkap seperti buah-buahan dan camilan lokal.

CINTA MENGALIR DI SUNGAI SEKONYER

(photo source: dokumentasi pribadi)

Tiba di pelabuhan, kami kemudian menuju kapal tempat kami akan menginap untuk santap siang. Usai makan siang, kapal mulai bergerak membelah perairan Kumai berbelok menuju Sungai Sekonyer. Semakin masuk ke belantara, semakin tenggelam suara mesin. Berganti dengan suara rimba dari balik sungai Sekonyer.

Saya jatuh hati dengan Sekonyer. Bak surga amazon, hanya pemandangan hijau terhampar memadu perjalanan. Vegetasi pepohonan yang tinggi menjulang. Deretan pohon nipah yang tumbuh subur dipinggir sungai. Laju klotok yang lambat tak menggoyahkan ketenangan sungai Sekonyer. Menciptakan cermin bagi dedaunan disekelilingnya. Kicauan burung liar yang merdu. Elang yang terbang di langit biru. Burung enggang yang terbang dengan pongahnya di atas kapal. Primata yang saling bersahutan di kanan-kiri sungai. Bius sungai Sekonyer membuat saya selalu ingin duduk terdiam dan hilang pikiran.

Sore hari tak kalah menawan. Semburat orange senja terukir di langit. Sekawanan bekantan yang masih bergelantungan di atas pohon. Menyaksikan matahari tenggelam di sela aliran sungai. Berganti malam, yang diterangi bulan, dihiasi bintang juga si serangga cahaya. Bahkan, jika posisi tidur pas menghadap keluar depan kapal, sangat indah memandang bulan yang bulat memancar di gelapnya malam.

HARAPAN BERTEMU DI TANJUNG HARAPAN

(photo source: dokumentasi pribadi)

Tanpa terasa 1,5 jam klotok melaju ke camp pertama yaitu Tanjung Harapan. Setiap kali melangkahkan kaki ke dermaga, selalu ada degup di hati. Degup harapan bisa bertemu Orangutan yang mendiami tempat ini. Karena sekali bertemu, rasa candu itu muncul untuk bisa bertemu lagi di camp-camp selanjutnya. Tanjung Harapan menjadi pos pertama dalam proses rehabilitasi Orangutan yang dilengkapi dengan klinik untuk merawat Orangutan yang masih kecil sebelum di lepas ke alam bebas.

Bersama pemandu trekking menyusuri hutan yang lembab menuju feeding ground, area pemberian makan Orangutan. Rata-rata butuh waktu sekitar 30-50 menit berjalan kaki menuju feeding ground di tiap-tiap camp. Awal yang baik, di tengah perjalanan, menjumpai seekor Orangutan jantan yang sedang duduk sendirian di bawah pohon. Memang, Orangutan jantan yang cukup dewasa dan memiliki bantalan pipi besar akan menghabiskan lebih dari 90% waktunya dengan menyendiri.

Puas mengambil foto si Orangutan jantan, lanjut kembali ke feeding ground. Atraksi pemberian makan dimulai pukul 14.00 WITA. Tampak turis asing sudah lebih dulu menanti dibukanya atraksi ini. Jarak antara Orangutan makan dengan pengunjung hanya diberi pagar tali sebagai pembatas. Terdapat panggung kayu sebagai tempat makan Orangutan, dan bangku panjang dari lempengan kayu yang disediakan untuk pengunjung. Staf lapangan sibuk membawa dan mengatur makan yang berupa pisang, rambutan untuk diletakkan di atas panggung berikut air susu dalam baskom.

Selesai mengatur pakan, staf lapangan akan memanggil dengan menirukan suara Orangutan. Kemiripan 97% DNA Orangutan dengan manusia, menjadikan satwa ini mudah beradaptasi dengan manusia. Tak lama, mulai terlihat beberapa Orangutan bergelayutan berpindah pohon menuju panggung makan. Melihat tingkah polah Orangutan dihabitat aslinya, memang menjadi hiburan yang dapat mengendurkan syaraf.

Apalagi saat Orangutan duduk manis menikmati pisang kegemaraanya diatas panggung. Terkadang kita bisa membaca bahasa tubuh Orangutan. Seperti yang saya lihat, seekor anak Orangutan yang merangkul induknya, kemudian menyuapi pisang ke mulut induknya. Semua momen yang terjadi di panggung, tidak pernah lepas dari jepretan kamera para wisatawan, hingga satu persatu Orangutan pergi berlalu kembali ke dalam hutan.

Jika Orangutan yang datang ke feeding ground hanya sedikit, berarti ketersediaan makanan didalam hutan masih tercukupi. Saat musim buah, kadang pengunjung kurang beruntung bisa menyaksikan atraksi, karena tidak ada Orangutan yang datang.

SI KANTUNG SEMAR DI PONDOK TANGGUI

Setelah bermalam di Tanjung Harapan, di hari ke-dua klotok melanjutkan menuju camp selanjutnya yaitu Pondok Tanggui. Bagian dari Tanjung Puting yang merupakan tempat rehabilitasi Orangutan remaja dan semi liar.  Dimana Orangutan tetap diamati secara tertutup dan dihindari kontak dengan manusia.

Camp ini adalah favorit saya, disini banyak ditemukan flora endemik seperti tumbuhan pemakan serangga, kantung semar yang tumbuh mengulur subur di tanah, ada juga lumut daun, ulin, pakis, tanaman buah, serta tanaman bunga. Selain itu, dapat dijumpai semut hitam Borneo yang konon memiliki khasiat untuk pria.

Sekitar area camp, terdapat rumah-rumah panggung yang difungsikan sebagai tempat inap staf juga pusat informasi. Disini juga menjual kerajinan berupa gelang beruta seharga Rp 15-25 ribu rupiah dengan motif warna coklat kehitaman, khas Kalimantan.

Disini kita dapat melihat perbandingan jumlah kunjungan dimana turis asing selalu lebih tinggi 2x lipat dari jumlah turis lokal di tiap bulannya. Orangutan adalah satwa endemik asli Indonesia yang hanya hidup di Kalimantan (Borneo) dan Sumatera. Merupakan salah satu kera besar yang ada di Asia. Perannya penting sebagai spesies payung yaitu penanda keberaadaan habitat di hutan masih lengkap atau tidak. Adalah tanggung jawab  kita sebagai pemilik satwa ini untuk semakin peduli dan mengiatkan kunjungan turis domestik.

Atraksi pagi hari biasa dimulai jam 09.00 WITA. Tampilan feeding ground di semua camp tidak jauh berbeda, panggung makan dan bangku panjang pengunjung. Hari itu, staf lapangan tidak perlu memanggil Orangutan sebagaimana biasanya. Dua Orangutan sudah terlihat bergelayutan mengayunkan badan berpindah dari pohon satu ke pohon lainnya hingga mencapai panggung. Kedatangan pemain baru, si tupai hitam turut menyemarakkan acara. Lucu melihat tingkah laku para satwa ini, seperti si tupai yang berulang kali naik turun pohon berusaha mencuri kesempatan mengambil makanan saat Orangutan lengah. Ditambah, pengunjung dikejutkan dengan hadirnya Orangutan tengah berjalan santai membelah barisan pengunjung menuju panggung. Sontak, ini mengundah riuh diantara pengunjung.

SILSILAH KETURUNAN & SUNGAI HITAM DI CAMP LEAKEY           

Selepas dari Pondok Tanggui, kapal melaju ke camp terakhir yaitu Camp Leakey hingga sore hari. Menjadi zona pemanfaatan khusus untuk Orangutan yang telah liar dan semi liar.  Didirikan tahun 1971 menjadi pusat rehabilitasi dan pusat penelitian baik dalam maupun luar negeri berkenaan dengan Orangutan dan ekosistem di Tanjung Puting.

Melewati jembatan panjang menjadi awal trekking masuk ke pintu camp. Sekumpulan kera ekor panjang tengah menunggu wisatawan yang iseng memberi makanan di sepanjang jembatan. Di camp terdapat rumah bekas Prof. Gladikas yang sudah kosong, pendiri Camp Leakey. Ruang Carolyn Townson Information Center mendokumentasikan dan memberikan informasi mengenai habitat Orangutan di Tanjung Puting. Disinilah, dapat mengetahui pohon keturunan dari Orangutan yang hidup di Camp Leakey. Uniknya nama-nama dari tiap keturunan akan mengikuti huruf awalan dari induk asalnya.

Sesekali, saya menjumpai beberapa ekor babi hutan yang sedang mencari makan di jalur setapak menuju feeding ground. Papan ikonik di feeding ground Camp Leakey, adalah tanda peringatan “Silence Please! Respect The Orangutas!.”Hmm, ternyata bukan manusia saja yang butuh ketenangan. Orangutan juga butuh ketenangan saat makan siang.

Atraksi berlangsung pukul 14.00 WITA, hadir seekor induk betina beserta bayinya. Bayi Orangutan begitu mungil dengan matanya yang bulat besar. Mendekap erat dalam pelukan si induk. Seekor owa bergelayutan di dahan pohon sembari mengamati keadaan panggung menunggu dua Orangutan jantan lainnya pergi meninggalkan panggung. Kehadiran babi hutan di sekitar panggung menjadi pelengkap tontotan liar ini hingga akhir atraksi. Entah sudah berapa banyak episode live show yang saya rekam. Setiap pergerakan satwa ini, selalu menarik untuk diabadikan.

Camp Leakey tidak lepas dari sungai hitamnya yang fenomenal. Dibalik kisah misteri sungai Sekonyer, tersembunyi sungai hitam yang menyimpan oksigen tinggi. Warna air yang tampak hitam pekat berasal dari hutan gambut yang tumbuh di sekitar sungai. Oksigen dari zat akar tanaman menjadikan air di sungai ini bersih alami. Sangat bening ketika kita ambil dengan tangan. Di sungai ini, selalu dijadikan tempat untuk bermalam. Air sungai dimanfaatkan oleh para crew untuk mengisi tampungan air di kapal. Kami pun menggunakan air sungai ini untuk mandi. Dan terbukti tidak berbau, jernih dan memberikan kesegaran alami.

MALAM TERAKHIR & KETENANGAN TANPA SINYAL

Ini yang saya selalu saya rindukan. Menyaksikan ribuan kunang-kunang adalah momen yang dinanti saat melepas malam terakhir di Tanjung Puting. Selepas sore dari Camp Leakey dan usai makan malam, kapal membawa kami menjauh dari sungai yang menjadi jalur hilir mudik klotok. Di antah berantah dan hanya hamparan rimbunan pohon nipah. Malam terasa lebih pekat dan gelap, crew pun meminta kami untuk mematikan semua pencahayaan. Percik titik-titik cahaya muncul dan berdatangan dari segerombolan kunang-kunang beterbangan di sekeliling pohon nipah. Mata ini dibuat sibuk harus melihat di kanan-kiri, dimanjakan oleh permainan kilau kunang-kunang,  semuanya  indah dan menakjubkan. Jika ingin lebih spesial, bisa candle light dinner diatas kapal bertemankan kerlip kunang-kunang.

Berada di alam liar tanpa adanya sinyal. Ini hanya tiga hari saja melepaskan gadget dari genggaman. Menghilangkan penat dan menenangkan pikiran Kadang kita memang perlu ketenangan tanpa ada dering suara gadget. Menikmati duduk di dek ujung kemudi kapal dengan hembusan angin sepoi. Rebahan di balkon sambil memenjamkan mata dan mendengarkan alunan alam yang bersenandung. Menyeruput kopi sore hari ditemani hangat gorengan pisang, bercengkrama dengan crew dan teman perjalanan. Ini surga yang dirindukan, yang membuat siapapun rindu untuk datang kembali lagi.

TIPS & BUDGET WISATA

Bagi yang berencana plesiran ke Tanjung Putting, dengan paket inap di klotok 3 hari 2 malam berkisar antara Rp 1,8-2,5 juta perorang. Sedangkan biaya tiket dari Pulau Jawa ke Pangkalan Bun mulai dari Rp 1-2 juta (pulang pergi). Berikut ini beberapa tips agar nyaman dan aman selama plesiran di Tanjung Puting:

  1. Musim terbaik berkunjung ke Tanjung Puting saat musim kemarau antar bulan Juni hingga September. Peluang lebih besar dapat bertemu dengan orang utan di alam liar
  2. Jangan lupa minum obat malaria seminggu sebelum berangkat sesuai resep dokter.
  3. Gunakan sepatu yang nyaman untuk trekking dan pakaian yang mudah menyerap keringat.
  4. Bawalah peralatan mandi, tissue basah-kering dan obat-obatan pribadi
  5. Gunakan sunblock dan siapkan jas hujan atau topi saat trekking
  6. Bawalah botol minum yang dapat diisi ulang.
  7. Siapkan ransel kecil untuk menaruh barang-barang penting yang dibawa saat treeking.
  8. Siapkan full  baterai kamera & power bank
  9. Sedia buku bacaan atau games lainnya untuk aktivitas di kapal
  10. Selalu ikuti intruksi pemandu dan taati peraturan di tiap camp

 

Penulis: Nuning Widyastuty

Instagram: penguinjourney

Facebook: @belongtonuning                               

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×