Loading...
 

(photo source: pixabay.com)

Selamat datang, traveller sejati.

Perkenalkan, namaku Agam Pamungkas. Seorang pelajar yang baru saja menamatkan pendidikannya di SMA Negeri 2 Cirebon dan akan bertempur dalam bingkai dunia pendidikan di Institut Teknologi Bandung. Aku anak ke-3 dari tiga bersaudara dan tentu saja hobiku adalah travelling. Baik, aku cukupkan perkenalanku.

Menjelajahi Indonesia adalah satu dari sekian banyak cita-citaku. Berbagi kisah dan pengalaman hidup, bertemu dengan banyak orang dari latar belakang yang beragam, mempelajari bahasa, budaya, dan kearifan lokal yang kaya dengan nilai tradisi. Terasa sangat memuaskan dengan menjelajahi setiap sudut tanah air kita, Indonesia.

Setiap daerah yang telah aku kunjungi memiliki kesan dan kisah menariknya masing-masing. Makanan khas, tempat wisata, alam, atau lainnya adalah bonus yang kita dapatkan dari travelling. Tetapi interaksi dengan penduduk sekitar adalah yang utama. Akan rugi rasanya jika berkunjung ke sebuah daerah tanpa berinteraksi dengan penduduknya.

Pada kesempatan kali ini, aku akan berbagi salah satu kisah perjalananku yang sangat berkesan dari Cirebon menuju pulau Bali menggunakan jalur darat. Mari kita mundur sejenak, kembali pada Juli 2018, adalah aku, seorang siswa sekolah menengah pertama yang memberanikan dirinya untuk berkelana ke “Tanah para Dewa”, Bali, Indonesia.

BALI, AKU DATANG

Awal perjalananku ke Bali berawal dari Pramuka. Aku seorang pramuka yang aktif dalam media sosial. Yang pada akhirnya aku bertemu dengan teman pramuka dari Bali, kak Dewa Gede Anom Atmaja (Bagaimana kabarnya, kak? Aku kangen Bali, hehe). Siapa yang menyangka, berkomunikasi dengan beliau berujung pada rencana untuk menginjakkan kaki di Bali. Tetapi itulah pramuka, menyatukan.

Aku mulai merencanakan kapan dan menggunakan apa untuk berangkat ke Bali. Kemudian aku putuskan untuk menggunakan jalur darat dengan kereta api sebagai alat transportasi utama, berangkat pada awal bulan Juli, 2018. Tentu orang tuaku terkejut saat mendengar kabar aku ingin ke Bali. Bagaimana bisa melepas anaknya yang masih duduk di bangku SMP berkelana seorang diri memecahkan jarak ratusan kilometer menuju pulau Bali. Tapi aku memberikan pengertian dan meyakinkan orang tuaku bahwa aku akan berusaha menjaga diriku sebaik mungkin. Juga, aku memiliki sebuah agenda pramuka untuk dikunjungi di sana –  Perkemahan Saka Widya Budaya Bakti. Dengan berat hati, kedua orang tuaku memberikan izin untuk berkelana ke Bali.

Menyiapkan tiket, baju, dan perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk perjalanan satu minggu ke depan dalam satu carrier. Semua telah selesai disiapkan. Kini tinggal menghitung mundur tujuh hari sebelum keberangkatan. Aku yang mantap dan yakin akan pergi ke Bali menjadi resah dan khawatir akan keselamatan diri sendiri. Mungkin aku tidak pandai menyembunyikan kegelisahanku hingga Ibu menyuruhku untuk melakukan perjalanan singkat dari Cirebon ke Tegal untuk “berlatih” selama perjalanan menuju bali nanti. Enam hari menuju keberangkatan, aku menyempatkan diri pergi ke Tegal menggunakan kereta, mengurus kebutuhan diri sendiri walaupun hanya setengah hari di sana. Berangkat pukul 11 siang dan pulang pukul 5 sore.

Pikir singkatku, bepergian ke Tegal tidak akan memberikan efek apapun terhadap kegelisahanku. Ternyata aku salah. Sepulangnya dari Tegal, aku merasakan seperti ada pelindung yang menyiapkan mentalku untuk mantap berkelana ke pulau Bali. Kegelisahanku hilang dan aku semain yakin untuk menginjakkan kaki di “Tanah Dewa” itu. Satu hari menuju keberangkatan, aku berikan nomor kontak Kak Anom pada keluargaku, untuk komunikasi. Semuanya sudah siap. Bali, aku datang.

CIREBON – SURABAYA – BANYUWANGI

Cirebon, 4 Juli 2018, 16.00 WIB

Hari ini adalah hari keberangkatanku ke Bali. Aku hanya ditemani Ayah di stasiun sambil menunggu waktu keberangkatan. Ibuku masih bekerja dan kedua kakakku masih sibuk dengan pekerjaan dan sekolahnya. Sedih rasanya, tetapi aku bersyukur memiliki ayah yang sangat sabar dan selalu ada dalam situasi apa pun. Aku sudah berpamitan dengan Ibu sejak pagi, sesaat sebelum berangkat kerja. Meminta izin dan doa keselamatan agar dilancarkan selama perjalanan dan kembali dengan selamat.

Satu jam menunggu di koridor stasiun, terdengar suara klakson kereta api menandakan aku harus segera memasuki peron. Berat rasanya harus berpisah dengan Ayah. Tetapi tidak ada waktu untuk mundur. Aku harus pergi. Biarkan mata dan kakiku menjadi wakil dari orang tuaku untuk melihat dunia. Salam peluk hangat dariku hingga tiba waktunya untuk memasuki peron. Sampai jumpa, Ayah! Anakmu akan kembali dengan sejuta cerita bahagia.

Memasuki rangkaian gerbong kereta dan menyimpan barang bawaanku yang sudah dimuat dalam satu carrier. Menyapa hangat sebuah keluarga yang duduk di depanku. Ayah, ibu, dan anaknya yang masih kecil – sedang tertidur. Ternyata kami memiliki tujuan akhir yang sama, Surabaya. Perjalanan ini akan menghabiskan malam dalam kereta dan sampai di Surabaya pada pukul dua dini hari. Menanyakan kabar, berbincang, berbagi makanan, adalah hal yang paling aku sukai dari rangkaian kereta kelas ekonomi. Berbeda dengan kelas bisnis atau eksekutif yang terkesan lebih “individualis”, di dalam kereta ekonomi kita bisa berbagi cerita dari A – Z.

Terlebih posisiku yang masih duduk di bangku SMP membuat pasangan suami istri di depanku ini menganggapku seperti anak sendiri. Mereka juga tidak kalah terkejut dan khawatir saat mengetahui tujuan akhirku yang sebenarnya adalah Bali. Mendapat nasihat dan wejangan adalah hal yang sangat aku hormati. Untuk bapak dan ibu yang bersamaku di kereta malam menuju Surabaya saat itu, aku ucapkan sekali lagi, terima kasih.

Surabaya, 5 Juli 2018, 02.00 WIB

Berpamitan dengan “keluarga baru” sesaat sebelum meninggalkan gerbong kereta, ratusan orang berjalan menuju keluar stasiun. Udara dingin dini hari langsung menusuk hidungku. Melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk menghilangkan kantuk karena tidak bisa tidur, memikirkan apakah ini hanya mimpi bahwa aku sedang dalam perjalanan menuju Bali; sebuah tempat yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Turun di Stasiun Surabaya Pasar Turi, aku harus menuju Stasiun Surabaya Gubeng untuk melanjutkan perjalanan menuju Banyuwangi. Aku terkejut saat keluar dari Stasiun Surabaya Pasar Turi karena masih ramai dengan para pengemudi ojek online bahkan pada dini hari. Mungkin angapan segelintir orang yang menganggap Surabaya adalah kota yang tak pernah tidur benar adanya. Kemudian aku memesan ojek online untuk membawaku ke Stasiun Surabaya Gubeng. Mengobrol banyak tentang Surabaya dan keunikannya selama perjalanan dengan pengemudi ojek online menambah pengetahuanku tentang uniknya kota pahlawan ini. Gemerlapnya lampu perkotaan dan gedung-gedung tinggi dengan sapuan angin yang sejuk menghanyutkanku dalam suasana pagi hari. Damai sekali.

Sesampainya di Stasiun Surabaya Gubeng, ternyata sudah banyak yang menunggu di koridor stasiun untuk melakukan perjalanan kereta pagi yang dimulai pada pukul empat pagi. Begitu juga aku, menunggu bersama yang lainnya untuk melakukan perjalanan pagi ke Banyuwangi. Untuk Bapak pengemudi ojek online yang sudah mengantarkan saya ke Stasiun Surabaya Gubeng sekaligus berbagi cerita tentang Surabaya, saya ucapkan sekali lagi, terima kasih.

Pintu utama Stasiun Surabaya Gubeng terbuka. Kami yang sedang menunggu secara bersama-sama bangkit dari tempat duduk. Mencetak tiket yang sudah dipesan dan bersiap untuk memasuki peron. Teleponku berdering, ternyata Ibuku menanyakan apakah aku sudah sampai di Surabaya. Tak lama setelahnya, aku memasuki gerbong kereta yang akan membawaku ke wilayah paling timur pulau Jawa, Banyuwangi.

Perjalananku dari Surabaya ke Banyuwangi memakan waktu hingga tujuh jam. Perkiraanku akan lebih singkat, tetapi di perjalanan, keretaku harus berhenti sejenak untuk bersilangan dengan kereta Asian Games saat itu.

Hal menarik yang paling aku sukai dari perjalanan Surabaya – Banyuwangi adalah pemandangannya selama perjalanan. Kita diajak untuk melewati hamparan sawah, menembus bukit, dan melihat rimbunnya hutan. Juga, betapa beruntungnya aku bertemu dengan seorang mahasiswa yang dengan senang hati menjelaskan secara detail wilayah–wilayah menarik yang kami lewati.

Selama perjalanan, aku dapat merasakan seperti apa wajah Indonesia yang sebenarnya. Iklan-iklan di TV yang menunjukkan pesona alam Indonesia memang benar adanya. Betapa indahnya lukisan Tuhan di atas bumi ini menjadikanku orang yang bersyukur. Aku berkata dalam hati, “Ayah, Ibu, anakmu sedang berada di sebuah tempat yang sangat jauh dan indah sekali. Tunggu aku pulang. Aku akan menceritakan kepada kalian semuanya. Iya, semuanya.”

Satu stasiun sebelum pemberhentian terakhir, seorang mahasiswa cantik yang penuh dengan keberanian dan rasa percaya diri di depanku ini, harus menyelesaikan perjalanannya. Melambaikan tangan dan memberikan senyuman tipis di wajahnya seolah berkata, “Senang bertemu denganmu, sampai jumpa di lain waktu” bersahut dengan perasaan sedihku harus berpisah dengannya. Untuk kakak mahasiswa yang sudah menemani dan menceritakan banyak peristiwa sejarah selama perjalananku menuju Banyuwangi, aku ucapkan sekali lagi, terima kasih dan sampai jumpa di lain waktu.

Banyuwangi, 5 Juli 2018, 11.00 WIB

Terik matahari menyinari tepian Pulau Bali yang dapat dilihat dari Pulau Jawa. Mengabarkan kak Anom bahwa aku sudah sampai di Banyuwangi. Bingung. Tidak tahu kemana harus melangkah untuk menemukan pelabuhan penyebrangan. Mengikuti jejak orang-orang yang mengarah pada jalan raya di depan sana, aku mulai melangkah. Membeli roti dan minuman di sebuah mini market sekaligus bertanya kemana arah Pelabuhan Ketapang – Gilimanuk. Ternyata sangat dekat. Hanya berjarak 100 meter dari minimarket tersebut, sudah terlihat papan besar sebagai identitas pelabuhan penyebrangan.

Tidak berakhir di situ, ini adalah pengalaman pertamaku menyebrangi pulau sekaligus menaiki kapal penyebrangan. Tidak tahu harus pesan tiket di mana dan berapa harganya. Tetapi, Tuhan tidak pernah tidur. Sepasang suami istri (lagi) lewat di depanku dan memasuki lorong pelabuhan. Tidak ada petugas yang berjaga saat itu, sehingga aku bertanya pada pasangan suami istri ini. Belum saja aku meminta bantuan untuk memesan tiket dan menyebrang bersama, Bapak dan Ibu ini sudah menawarkan bantuan dan memintaku untuk tidak jauh dari mereka.

Apakah aku tidak takut? Atau khawatir? Tentu saja. Tetapi aku selalu memegang prinsip bahwa masih banyak orang baik di dunia ini. Dan lihat? mereka adalah bagian dari orang-orang baik itu. Bahkan mereka panik saat aku tertinggal di belakang mereka.

Kapal penyebrangan beroperasi setiap saat. Sehingga aku tidak perlu menunggu untuk menyebrang. Bersama Bapak dan Ibu ini aku melangkahkan kaki menuju kapal dan meninggalkan pulau Jawa. Terlintas rasa cemas dan takut saat baru memasuki kapal. Terombang-ambing kanan dan kiri karena ombak. Mungkin wajahku juga tidak bisa menutupi rasa takut, sehingga Bapak dan Ibu ini berusaha menenangkan suasana hatiku. “Tenang aja, memang seperti ini. Gak kerasa, nanti tiba-tiba sampai”, sebuah senyuman kecil tergambar di sudut bibirku.

Baiklah. Bali, aku datang.

SELAMAT DATANG, BALI.

Bali, 5 Juli 2018

– 13.30 WITA

Kapal penyebrangan masih terombang-ambing mencari posisi yang tepat untuk berlabuh. Kemudian Bapak dan Ibu ini meraih tanganku untuk serta mempersiapkan diri turun dari kapal.

Kini aku telah menginjakkan kaki di tanah para Dewa, Bali, Indonesia. Bergetar dadaku saat melihat penunjuk waktu di telepon pintarku sudah berganti menjadi Waktu Indonesia Tengah. Apakah ini hanyalah mimpi? Kemudian Ibu itu memanggil, memecahkan lamunanku. Kemudian mereka bertanya kemana aku akan pergi di Bali ini. Sesuai dengan arahan dari kak Anom, aku akan menaiki bis dan berhenti di Terminal Mengwi. Tangan Tuhan kembali bekerja untuk membawaku ke tempat tujuan. Bapak dan Ibu ini memiliki tujuan yang searah dengan Terminal Mengwi. Sehingga kita bersama-sama mencari bis menuju kota Denpasar.

Aku kira hanya menghabiskan beberapa menit saja untuk sampai di Terminal Mengwi. Ternyata menghabiskan waktu hingga 6 jam karena lalu lintas yang padat. Sejak saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau Bali, aku sudah tersentuh dengan masyarakat Bali yang masih memegang erat budaya mereka. Janur kuning ditemukan disetiap ruas jalan, Pura yang berdiri dengan kokoh nan indah, pohon yang batangnya berlapis kain kotak-kotak khas Bali, semuanya dapat ditemukan dengan mudah. Betapa mengesankannya pulau ini dengan segala kekayaan budayanya.

Pukul 20.00 WITA, aku sampai di Terminal Mengwi. Berpamitan dengan Bapak dan Ibu yang sudah menjagaku sampai di terminal ini. Perjalanan menyebrangi pulau adalah perjalanan yang sesungguhnya dan memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Dengan mengantongi banyak nasihat, aku turun dari bis dan berpamitan dengan mereka. Untuk Bapak dan Ibu yang sudah menjagaku hingga sampai dengan selamat di Terminal Mengwi, aku sampaikan sekali lagi, terima kasih banyak. Tak lama setelah turun dari bis, Kak Anom menjemputku dengan sepeda motor dan langsung menuju bumi perkemahan di daerah Bedugul, Bali. Perjalananku menjelajahi Pulau Bali dimulai.

TERIMA KASIH, BALI.

Bali, 5 Juli 2018, 21.00 WITA

Melalui perkenalan singkat di atas sepeda motor, Kak Anom, yang saat itu menjabat sebagai ketua DKD Bali sudah menganggapku sebagai adik sendiri. Memasuki wilayah perkemahan dan disambut dengan kakak-kakak pramuka penegak (SMA) di sana. Perasaan terharu masuk ke relung hati tanpa izin. Kemudian aku diarahkan menuju tenda yang sudah disiapkan. Aku tidak pernah menyangka bahwa akan disambut sehangat ini oleh para anggota pramuka Bali. Berganti pakaian pramuka lengkap dan menuju aula utama untuk menonton pentas malam. Berbagi cerita tentang perjalanan pramukaku hingga mencapai tingkat Pramuka Garuda dan bergabung pada ATAS (Association of Top Achiever Scout); mereka dengan antusias mendengarkan. Berbagai kesenian Bali mereka pamerkan semuanya malam itu. Juga, aku bercerita tentang kota kelahiranku, Cirebon. Gelak tawa dan senyuman tersaji dalam satu lingkar persahabatan kepramukaan. Walaupun aku lebih muda dari mereka tetapi mereka sangat menghormati setiap tamu yang datang.

Menjelang tengah malam, Ibu menelepon menanyakan kabar. Aku sampaikan, aku sudah menginjakkan kaki di Bali, sudah bertemu dengan kak Anom dan para Pramuka sejati yang tangguh. Telepon ditutup setelah Ibu mengucapkan selamat malam dan selamat tidur.

Angin pagi wilayah Bedugul yang sangat dingin membangunkanku. Masih tidak percaya bahwa aku benar-benar ada di Bali. Kak Anom masuk ke dalam tenda dan menjelaskan bahwa Ia harus pulang pagi ini karena memiliki jadwal pelatihan. Akhirnya perjumpaan dengan para anggota Pramuka Bali harus berakhir dengan sangat singkat. “Sampai jumpa Kak Agam! Hati-hati di jalan”, ucap salah satu anggota Pramuka Bali. Untuk pengalaman yang tak terlupakan dari seluruh kakak-kakak Pramuka Bali, aku ucapkan sekali lagi, terima kasih.

Karena kak Anom memiliki pelatihan pagi hari itu, beliau memberikan kebebasan kepadaku untuk menjelajah Bali secara mandiri. Iya. Sendiri. Bali, sambut aku dengan hangat!

Bali, 6 Juli 2018, 11.00 WITA

Aku baru membuka mata setelah tidur sejak sampai di rumah kak Anom pagi tadi. Mengecek telepon dan membalas beberapa chat yang masuk. Mandi, membersihkan diri, kemudian Ibu Kak Anom mengajakku makan siang. Berbincang banyak dengan Ibu kak Anom, aku mulai penjelajahanku pada sore hari.

BALI ARTS FESTIVAL

(photo source: dokumentasi pribadi)

Waktu kedatanganku di Bali bertepatan dengan Bali Arts Festival yang diadakan selama satu bulan penuh setiap tahunnya. Berbagai kesenian Bali ditunjukkan oleh perwakilan dari setiap daerah di Bali. Bersama-sama mempersembahkan kekayaan budaya Bali kepada ribuan pasang mata dari seluruh penjuru dunia. Berbagai tarian, teater, dan kesenian Bali lainnya dikemas dengan apik. Aku sangat bersyukur dapat menonton berbagai kesenian Bali dalam satu festival budaya tahunan.

NUSA DUA LIGHT FESTIVAL

Malam hari di tanggal 6 Juli 2018 ini, aku pergi bersama Kak Anom mengunjungi Nusa Dua Light Festival. Aku dibuat takjub kembali dengan jalan tol di atas air pertama di Indonesia yang juga memiliki jalur khusus motor, Jalan Tol Bali Mandara.

Menikmati riak ombak dan hembusan angin malam membuat suasana terasa damai. Memasuki wilayah Nusa Dua Light Festival membuatku berdecak kagum dengan lampion-lampion dengan berbagai bentuk dan ukuran; juga air mancur manari yang berpadu dengan semburat cahaya yang sangat indah. Entah apakah aku pantas menyebutnya dengan “Surga Dunia”. Baik pengunjung domestik maupun mancanegara bersama-sama menikmati karya-karya yang terhampar dalam lahan yang luas dengan iringan musik yang menggugah semangat. Akhirnya aku cukupkan perjalananku malam ini. Mari beristirahat untuk mengumpulkan energi esok hari. Selamat malam, Bali.

Bali, 7 Juli 2018, 08.00 WITA

Hari ini adalah hari terakhir pelatihan Kak Anom yang artinya aku masih harus menjelajah bali secara mandiri. Aku putuskan untuk mengunjungi Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Bajra Sandhi Renon.

MONUMEN BAJRA SANDHI

(photo source: dokumentasi pribadi)

Kak Anom bilang, Bajra Sandhi adalah “Monas”-nya Bali. Memang iya, bentuknya seperti candi Borobudur dalam versi lebih kecil dengan pusat menara di tengah yang menjulang ke atas dan susunan batu dengan ukiran khas Bali yang sangat memanjakan mata. Melangkah dengan perlahan menaiki setiap anak tangga. Aku terkejut saat memasuki bangunan utama monumen; ada sebuah kolam dalam ruangan yang ditengahnya terdapat tangga melingkar untuk naik ke puncak menara. Karena dibuka untuk umum, aku menyempatkan diri naik ke atas menara Monumen Bajra Sandhi.

Seketika aku dibuat takjub dengan pemandangan Kota Denpasar dan hamparan laut yang luas. Bergeser ke sisi luar, tempat ini dijadikan spot foto Pre-wedding bagi pasangan yang berasal dari dalam luar negeri. Awalnya terkejut, tetapi dengan melihat keseluruhan bangunan dan nilai estetika yang sangat tinggi, aku mengerti mengapa tempat ini dijadikan spot foto pre-wedding mereka.

Setelah melewati tengah hari, Kak Anom mengabarkanku bahwa beliau sudah menyelesaikan pelatihannya dan memintaku untuk berkemas karena harus berpindah ke hotel yang disediakan oleh pihak Pramuka Bali. Sebuah bonus yang sangat berkesan dengan mendapatkan kamar kelas utama di sebuah hotel bintang tiga di kawasan Kuta, Bali.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Melepaskan sejenak penat dengan berenang di kolam renang hotel kemudian bergegas menuju pantai Kuta untuk menghabiskan senja. Ramai sekali. Pemandangan laut lepas dengan lukisan matahari terbenam di ujungnya membuat hatiku tidak berhenti mengucap syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan hari ini. Lalu-lalang pesawat yang datang dan pergi dari Bandara I Gusti Ngurah Rai menambah kentalnya julukan Bali sebagai tujuan wisata dunia. Bali, aku bahagia. Sangat bahagia.

Bali, 8 Juli 2018, 08.00 WITA

Hari ini adalah hari terkahirku di Bali. Menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh khas Bali. Aku membeli tiga kotak pie susu, tiga pasang baju, dan tiga paket gantungan kunci. Kurasa cukup untuk membawakan suasana Bali bagi keluargaku di Cirebon. Menyelesaikan proses check-out dari hotel, Kak Anom kemudian mengajakku berkeliling Bali dan berakhir pada pukul tiga sore. Bertemu dengan dua teman Pramuka Bali lainnya untuk bersama-sama menghabiskan senja di Pantai Double-Six Seminyak. Kami saling bertukar cerita dan pengalaman ditemani matahari yang bersiap untuk tidur. Matahari terbenam di Pantai Double-Six Seminyak itu adalah matahari terbenam yang menutup perjalananku di Bali.

Untuk Kak Anom, pertemuan kita melalui media sosial telah membawaku menulis kisah perjalanan menuju “Tanah Surga”; “Tanah para Dewa”; dengan sejuta kesan menarik penuh kebahagiaan. Terima kasih banyak telah memberikanku kesempatan untuk berkunjung ke Bali. Terima kasih atas segala bantuan dan arahan selama di Bali. Terima kasih untuk semuanya. Semoga aku bisa kembali berkunjung ke sana.

Untuk semua pihak yang telah membantuku, Ayah, Ibu, kedua Kakakku, Keluarga baru di kereta, Bapak pengemudi ojek online, Kakak Mahasiswa, dan Bapak Ibu di pelabuhan penyebrangan, saya ucapkan sekali lagi, terima kasih banyak.

Cirebon, 10 Juli 2018, 05.00 WIB

“Ibu…Ayah…Kak…ya ampun Agam seneng banget…tau gak sih kalu Bali itu….”

“Ssssttt, sudah, istirahat dulu. Sore nanti kita dengerin cerita kamu dari A – Z.” Tutup Ibu pagi itu.

TERIMA KASIH BALI, TUNGGU AKU KEMBALI.

 

Penulis: Agam Pamungkas

Instagram: agam_pamungkas77

Twitter: @marah_ehe

Facebook: Agam Pamungkas

Press Enter To Begin Your Search
×