Loading...

Sumber: www.unsplash.com

Seorang traveler pastinya memiliki momen traveling yang tidak akan dia lupa. Untuk aku sendiri tidak akan melupakan momen menjelejah Weltevreden dengan komunitas Backpacker Jakarta yang diselenggarakan oleh Group Sejarah dan Museum. Menjelejah Weltevreden diselenggarakan pada hari minggu tanggal 20 Agustus 2017 yang di ikuti sekitar 12 orang peserta. 

Kenapa menjelejah Weltevreden akan selalu diingat oleh diri ku? Karena traveling ini bukan sekedar perjalanan saja tetapi sarana belajar buat diri ku. Tidak semua perjalanan mengandung unsur edukasi di dalamnya, bahkan tidak semua traveler mau mengedukasi dirinya sendiri. Banyak yang masih berpikir cukup menikmati keindahan alam, suasana kota, segarnya udara gunung, jernihnya air laut disebuah pulau dan lain sebagainya.

Bisa dibilang menjelajah Weltevreden merupakan wisata sejarah buat ku. Backpacker Jakarta merangkul lulusan sejarah dari UIN Yogyakarta untuk menerangkan sejarah Weltevreden yaitu mas Reyhan. 

Mas Rayhan dan 11 Traveler komunitas Backpacker Jakarta Group Sejarah dan Museum didepan Toko Kompak, pasar Baroe, Jakarta

Hal tersebutlah yang menguatkan aku untuk ikut kegiatan traveling yang diadakan oleh Backpacker Jakarta kala itu. Perjalanan yang tidak hanya jalan tetapi memberi insight buat diri ku.

Weltevreden Ada di Ibukota Indonesia

Bila mendengar seseorang mengucapkan kata "Weltevreden" akan berpikir sesuatu yang berhubungan dengan luar negeri khususnya Eropa. Bahkan mungkin saja ada yang mengenali itu kata dari Bahasa Belanda.

Bisa jadi dari 20 juta orang yang bergelut di Ibukota Indonesia tidak mengetahui Weltevreden. Saya pun pada tahun 2017 dimana sudah tinggal di DKI jakarta begitu lama tidak mengenali kata itu. 

Aku mengenal Weltevreden itu apa dari traveling bersama komunitas Backpacker Jakarta yang menghadirkan mas Rayhan. Pria yang memiliki pendidikan sejarah menyampaikan kepada kami peserta traveling "Weltevreden dirancang menjadi pusat pemerintahan Batavia dengan lokasi yang baru. Kawasan ini dibentuk menjadi pusat pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels, juga tempat  kediaman orang-orang Eropa. Areanya sekarang terletak di sekitar Lapangan Banteng. Di daerah ini juga Daendels mendirikan istana yang saat ini menjadi gedung Kementerian Keuangan" ungkapnya

Tambahnya, Weltevreden dibangun pasca Gunung Salak meletus pada 1699. letusan ini mengaakibat kota tua Batavia terbenam lumpur dan menjadi kawasan sarang penyakit. 

Debit air yang mengalir ke kanal yang membelah kawasan kota tua makin menurun. Dikisahkan, tujuh dari sepuluh orang Eropa yang singgah ke kawasan Batavia Lama meninggal dunia.  

Akibat letusan itu terjadi proses sedimentasi dan pendangkalan sungai yang membelah Batavia Lama membuat meluapnya kotoran. Air sungai menjadi keruh dan berbau. Nyamuk dan lalat berkembang biak dengan subur di rawa-rawa yang tergenang. 

Selain itu, banyak ditemukan mayat di muara kali-kali Batavia akibat tingginya tingkat kriminalitas pada era kelam itu. Masalah lain yang timbul kemusian ialah kekurangan air bersih, akhirnya membuat Batavia dijangkiti wabah penyakit.

Lambat laun Batavia Lama menjadi kawasan yang tidak sehat ditambah pula padatnya kawasan Batavia Lama. Penguasa Batavia saat itu Deandles akhirnya membongkar tembok kota dan kastil Batavia untuk mengatasi masalah kesehatan lingkungan yang telah timbul. Dahulu Kota Tua Jakarta di kelilingi oleh tembok kota.

Kemudian Deandles mengembangkan Weltevreden menjadi pusat pemerintahan, religi, tempat tinggal dan pergaulan masyarakat yang baru. Lokasi Weltevreden berada dikisaran silang monas sampai dengan Rumah Sakit Gatot Subroto, atau saat ini berada di area Jakarta Pusat. 

Mengelilingi Weltevreden dengan Jalan Kaki

Untuk mempermudah jalannya traveling, titik kumpul disepakati di depan gerbang Pasar Baru, sebetulnya merupakan titik kumpul. Setelah 10 orang traveler berkumpul, mas Reyhan menceritakan sejarah Pasar Baru.

Ia memberikan fakta sejarah bahwa lokasi Pasar Baroe merupakan pusat perbelanjaan yang dibangun pada tahun 1820. Awalnya pasar ini bernama Passer Baroe sewaktu Jakarta masih bernama Batavia. 

Adapun penyebutan "Passer" sendiri menurut Reyhan awalnya bukan tempat belanja tapi pass atau pelintas. Pada saat itu, untuk memasuki wilayah Pasar Baroe seperti masuk jalan TOL saat ini yang berbayar.

Toko Kompak yang berada di Pasar Baroe, tidak jauh dari pintu gerbang

Pada saat berada di Passer Baroe tidak jauh dari pintu gerbang kami mengunjungi toko kompak.  Toko ini dulunya merupakan tempat tinggal seorang mayor beretnis Tiongkok. 

Vihara Dharma Jaya (Sin Tek Bio)

Kemudian kami pun melanjutkan ke Vihara Dharma Jaya (Sin Tek Bio) yang terletak didalam gang yang sempit yang telah berdiri sejak 1698 di batavia. Mungkin dahulu sebelum Pasar Baroe seramai seperti saat ini, terdapat jalan yang lapang didepan Vihara ini.

Sekolah Santa Ursula

Perjalanan kami selanjutnya ke arah timur menuju Sekolah Santa Ursula. Dahulu sekolah ini merupakan sebuah Kapel bagi saudara kita yang beragama Nasrani. Kalau tempat ibadah Gereja disandingkan dengan Masjid, maka Kapel ini sebanding dengan Mushola dari sisi fungsi dan ukuran.

Tidak jauh dari Sekolah Santa Ursula, kami pun berhenti sejenak di sebuah bangunan khas Belanda yang mirip dengan Stasiun Jakarta Kota. Nah ternyata bangunan ini telah digunakan sebagai Museum Filateli Jakarta saat ini.

Museum Filateli Jakarta

Gedung ini dibangun pada tahun 1860-an yang digunakan oleh Belanda untuk kantor pos dan telegram sebagai alat komunikasi pada masa itu. Bagi kalian pengkolektor perangko, sebaiknya mampir bila sedang ke Pasar Baroe.

Gedung Kesenian Jakarta (GKJ)

Setelah nya kami berjalan melewati Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Rayhan menyampaikan GKJ acapkali berubah nama, pada tahun 1809 gedung ini bernama Mini Simple Theater. Lalu, berganti nama lagi menjadi Showburg. Saat ini Gedung Kesenian Jakarta menjadi tempat bagi seniman menampilkan aksinya seperti theater, pertunjukkan musik, dll. 

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Lapangan Banteng, sebelum sampai tujuan kami melewati Gedung Kementerian Keuangan. Sebuah gedung putih bergaya kolonial menunjukkan kemegahannya. Awalnya gedung putih ini direncanakan sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal Gebenur Jendral.

Gedung Kementerian Keuangan, Lapangan banteng

Bangunan ini dibuat pada masa Deandles berkuasa. Ia ingin membangun pusat pemerintahan dan pertahanan yang baru dan lebih sehat karena kota Batavia Lama dianggap sudah tidak layak.

Lokasi akhir penjelajahan ini adalah Masjid Istiqlal. Masjid besar ini penuh sejarah baik bangunan Masjid saat ini maupun bangunan sebelumnya. Istiqlal berarti 'Merdeka', melambangkan kemerdekaan dan kejayaan bangsa Indonesia setelah berhasil membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Masjid Istiqlal berdiri di atas tanah seluas 9,9 hektar yang dulunya merupakan benteng Belanda. 

Area kawasan gedung Istiqlal yang dahulu dijadikan Benteng Frederik Hendrik

Menurut keterangan Rayhan, karena bangunan benteng itu tidak terurus dan agar menghilangkan kenangan kolonial, maka atas perintah Bung Karno benteng Belanda tersebut dirobohkan. Kemudian didirikan sebuah Masjid yang membanggakan yang bernama Istiqlal. 

Nama benteng tersebut Frederik Hendrik yang dahulu berdekatan dengan Wihelmina Park. Benteng Frederik Hendrik dibangun 1834 oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch. Kabarnya benteng tua yang sudah lama di bongkar ini memiliki terowongan menuju pasar ikan.

Menurut Aku perjalanan mengelilingi Weltevreden salah-satu yang berkesan walaupun panas terik saat menyaksikan bukti-bukti sejarah.

Jangan melupakan sejarah, karena sejarah dapat memberi pelajaran bagi generasi berikutnya. Bangunan atau benda sejarah dilihat dari wujud fisiknya, tapi bagaimana kisahnya, sama seperti tulisan ini yang berkisah yang dapat dibaca generasi setelah saya tentang kondisi Weltevreden di tahun 2017.

Mengelilingi Weltevreden merupakan wisata sejarah yang murah meriah. Cukup dengan ongkos ke titik kumpul Pasar Baroe dan ongkos pulang dari lokasi terakhir Masjid Istiqlal. Bila Anda berada dari luar kota bisa mencari penginapan didekat pasar baroe atau kawasan Weltevreden.

 

Nama Penulis: Andri Mastiyanto

Instagram: andrie_gan

Twitter: andriegan

Facebook: ade.a.m.3

Press Enter To Begin Your Search
×