Loading...

www.unsplash.com

Semenjak pandemi virus Covid-19 masuk ke Indonesia, banyak hal-hal yang berubah, mulai dari segi kesehatan, ekonomi, hingga pariwisata. Terkait hal itu, pemerintah membuat peraturan untuk membatasi kegiatan atau tempat-tempat yang bisa menyebabkan kerumunan masyarakat, salah satunya sektor pariwisata. Banyak tempat pariwisata yang ditutup sementara semenjak pandemi virus ini masuk ke Indonesia, seperti kolam renang, wisata alam, taman nasional, dan sebagainya.

Hal ini membuat para masyarakat yang senang travelling mau tidak mau harus mengurungkan niatnya untuk berpergian, termasuk aku. Aku sudah merencanakan bahwa tahun 2020, setelah lulus kuliah, aku akan mulai kembali mendaki gunung kembali, berliburan ke pantai, menikmati wisata arung jeram di aliran sungai yang deras. Dari tahun lalu, aku sudah mencatat gunung apa aja saja yang ingin kudaki, beberapa diantaranya ialah Gunung Slamet, Gunung Sumbing, dan Gunung Sindoro. Aku sudah membuat rencana perjalanan ke tiga gunung tersebut bersama kawan-kawanku, dan rencana kami pada saat itu ialah menyelesaikan pendakian tiga gunung tersebut dalam dua minggu.

Alasan aku memilih tiga gunung tersebut ialah karena ketiga gunung itu (Sindoro, Sumbing, dan Slamet) sering dijuluki "Gunung 3S". Sehingga kalau ingin mendaki salah satu gunung tersebut, masih kurang lengkap kalau hanya satu atau dua saja, harus ketiga-tiganya didaki. Selain itu, ketiga gunung tersebut tidak memiliki jarak yang jauh, Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro dapat dimulai dari pintu masuk di daerah yang sama, yaitu Kabupaten Temanggung, sedangkan untuk Gunung Slamet masih harus pindah ke beberapa kota, tetapi tidak terlalu jauh. Jarak yang dekat itu lah membuat aku dan kawan-kawanku ingin mendaki ketiga gunung tersebut dalam dua minggu.

Ketiga gunung tersebut memiliki ketinggian di atas 3000 meter di atas permukaan laut (MDPL), namun ketiganya juga memiliki trek jalan yang berbeda-beda. Berdasarkan penuturan dari kawanku yang lain, Gunung Sindoro memiliki trek yang dibilang tidak terlalu sulit, meski tetap menanjak namun kondisi jalanan tidak membuat kaki cepat sakit. Lalu Gunung Sumbing, selama di tengah perjalanan, akan ditemui jalanan landai yang membuat kaki bisa istirahat sejenak, lalu dihadapkan kembali dengan jalanan yang menanjak dibandingkan Gunung Sindoro. Terakhir ada Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah. Memiliki trek yang kerap menanjak, berpasir, dan berbatu.

Gunung Sindoro

Gunung Sindoro memiliki ketinggian sekitar 3.153 MDPL berada di Temanggung dan Wonosobo, Jawa Tengah. Gunung Sindoro memiliki 4 jalur dan juga 4 pintu masuk, yaitu Kledung, Sigedang Tambi, Sibajak, dan Jlumprit, namun jalur Kledung menjadi jalur yang sering dilalui oleh para pendaki. Jalur Kledung juga dinilai memiliki kontur jalanan yang tidak terlalu sulit dibanding jalur yang lainnya. Dari pintu masuk atau dari pos basecamp Kledung untuk sampai Pos 1 dapat ditempuh menggunakan jasa ojek, lalu dari Pos 1 dapat memulai pendakian.

Sumber : travel.kompas.com

Sindoro juga memiliki beberapa keunikan, yaitu dari Gunung Sindoro dapat melihat keindahan Gunung Sumbing di sebelahnya. Ketika berada di Sunrise Camp atau di Pos 4 atau di Puncak Gunung Sindoro, dapat berfoto dengan latar belakang Gunung Sumbing yang indah. Salah satu spot foto untuk mendapatkan dengan latar belakang Gunung Sumbing ialah di Pos Batu Tatah, di pos tersebut terdapat sebuah tumpukan batu dengan posisi yang tepat, yaitu dengan membelakangi Gunung Sumbing.

Selain itu dapat melihta keindahan Gunung Sumbing, Gunung Sindoro juga memiliki hamparan padang bunga edelweis. Dalam musim tertentu, bunga edelweis akan bermekaran di antara Pos 4 menuju Puncak Gunung Sindoro. Namun, apabila cuaca dalam keadaan panas terik, daerah ini akan menjadi sangat panas dan membuat energi menjadi cepat lelah, karena semenjak dari Pos Batu Tatah sampai Puncak Gunung Sindoro, sudah tidak ada lagi pohon yang akan melindungi dari panasnya matahari.

Sesampainya di puncak, Gunung Sindoro memiliki hamparan tanah yang luas. Apabila Gunung Sindoro dalam keadaan aman, tidak mengeluarkan asap sedikitpun, di sana terdapat sebuah tanah lapang yang luas. Namun, apabila Gunung Sindoro mengeluarkan asap, tanah lapang tersebut akan berubah menjadi danau air kawah yang sangat panas.

Gunung Sumbing

Berdekatan dengan Gunung Sindoro, Gunung Sumbing juga tidak kalah menariknya. Alasan aku tertarik untuk mendaki Gunung Sumbing ialah karena jaraknya yang berdekatan, sehingga sangat disayangkan apabila hanya mendaki Gunung Sindoro saja. Untuk memulai pendakian Gunung Sumbing bisa dimulai dari pintu masuk Garong, atau basecamp Garong, tidak jauh dari pintu masuk Kledung yang menuju Gunung Sindoro.

Selain berdekatan dengan Gunung Sindoro, alasan aku ingin mendaki Gunung Sumbing ialah karena Gunung Sumbing merupakan gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa, setelah Gunung Semeru dan Gunung Slamet. Gunung Sumbing memiliki ketinggian 3.371 MDPL ini membuat jalur pendakin Gunung Sumbing lebih sulit dan lebih terjal dibandingkan gunung di sebelahnya, Gunung Sindoro. Gunung Sumbing juga terletak di tiga daerah, Temanggung, Wonosobo, dan Magelang. Namun, jalur yang paling sering dilalui ialah dari pintu masuk Garong, yaitu di daerah Temanggung.

Sumber : travel.tribunnews.com

Gunung Sumbing memiliki kontur jalanan yang lebih terjal dibandingkan Gunung Sindoro, namun dibanding jalur yang lain, jalur dari Garong masih terbilang mudah untuk dilalui. Salah satu yang menjadi daya tarik Gunung Sumbing ialah terdapat sebuah desa yang berada di lereng Gunung Sumbing ini. Desa tersebut bernama Desa Butuh. Susunan tiap rumah juga unik, karena seperti susunan terasering. Untuk dapat melihat keindahan Desa Butuh, dapat memulai pendakian melalui jalur Kaliangkrik yang berada di Magelang. Namun, kontur trek jalanan di jalur Kaliangkrik lebih sulit dibandingkan dengan jalur Garong.

Bagi pendaki pemula seperti aku, jalur Garong menjadi alternatif pilihan. Selain trek yang lebih mudah, waktu tempuh perjalanan juga tidak terlalu panjang, sehingga bisa lebih cepat sampai.

Kondisi trek Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro tidak jauh berbeda, hanya saja Gunung Sumbing tidak memiliki hamparan padang bunga edelweis. Ketika berada di puncak, dapat melihat keindahan Gunung Sindoro di sebelahnya. Di puncak Gunung Sumbing juga dapat melihat puncak Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Gunung Prau. Puncak Gunung Sumbing juga memiliki lahan lapang apabila kondisi gunung sedang baik.

Gunung Slamet

Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Provinsi Jawa Tengah dan menjadi gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru. Gunung Slamet memiliki ketinggian 3.428 MDPL. Berkat ketinggiannya, Gunung Slamet berada di lima daerah, yaitu Banyumas, Brebes, Purbalingga, Pemalang, dan Tegal.

Sumber : travel.kompas.com

Gunung Sumbing juga memiliki tiga jalur yang populer dan sering dilalui oleh para pendaki. Yaitu jalur Bambangan dari Purbalingga, jalur Baturaden dari Pemalang, dan jalur Pemandian Air Panas Guci dari Tegal. Namun, jalur Bambangan menjadi jalur yang paling sering dilalui diantara ketiganya.

Gunung Slamet juga merupakan gunung aktif, tidak heran jika Gunung Slamet kerap mengeluarkan asap dari puncak kawahnya. Gunung Slamet juga sering ditutup apabila kondisi gunung tersebut sedang tidak baik-baik saja. Selain itu, sepanjang pendakian Gunung Slamet juga akan dikelilingi oleh kabut, maka dari itu, disarankan agar mendaki di siang hari dan alat penerangan.

Mendaki Gunung Slamet memiliki resiko yang sangat besar, sama seperti Gunung Semeru, Gunung Slamet juga bisa tiba-tiba mengeluarkan asap yang sangat banyak, jadi mau tidak mau harus segera turun.

Namun, apabila keberuntungan sedang memihak, maka ketika sampai di puncak Gunung Slamet, akan terlihat gunung-gunung yang berada di Jawa Tengah, mulai  dari Gunung Prau, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Gunung Lawu. Hal itu lah yang membuat Gunung Slamet menjadi sangat indah.

Ketiga gunung itu lah yang sangat ingin kudaki. Namun, aku juga harus mempersiapkan banyak hal, mulai dari mental hingga fisik, mulai dari kesiapan barang hingga keuangan. Semua harus kuperhitungkan demi mendapatkan kenang-kenangan yang indah ketika mendaki tiga gunung tersebut. Semoga setelah pandemi virus Covid-19 ini hilang, aku bisa segera mendaki tiga gunung tersebut.

 

Nama Penulis: Abdul Hadi Anwar

Instagram: www.instagram.com/hadieanwar_/

Twitter: www.twitter.com/hadieanwar_

Facebook: Hadie

Press Enter To Begin Your Search
×