Loading...

Foto: igpdesaininteriorrumahjakarta.blogspot.com

Nenek moyangku memang seorang pelaut betul adanya karena negara ini adalah negara mariti, lihat saja geografis yang dimiliki Indonesia, hampir seluruhnya adalah lautan. Melihat kembali masa lalu kita yang dipenuhi dengan kejayaan perdagangan melalui pelayaran seperti Kerajaan Sriwijaya, Kutai, Majapahit dan sebagainya semuanya mengandalkan pelayaran sebagai transportasi laut untuk membuka akses perdagangan ekonomi antar kerajaan, sehingga nusantara (sebutan untuk NKRI masa itu) merupakan kepulauan dengan tingkat ekonomi yang sangat tinggi

Beruntungnya saya sebagai salah satu generasi 90an yang sempat merasakan menggunakan transportasi laut ini di tahun 1996. Saat itu, usia saya sekitar 6-7 tahun, berlayar dari Kota Ambon menuju Surabaya, ibukota Provinsi Jawa Timur menggunakan salah satu KM milik Pelni. KM disini berarti Kapal Motor yah guys, bukan kilometer. KM milik Pelni ini berlayar bukan dari Kota Ambon, melainkan rute Tanjung Priok Jakarta – Surabaya – Makassar – Baubau- Ambon – Sorong – Serui  – Jayapura (PP), yang disebut KM Dobonsolo.

KM Dobonsolo daya angkut yang dimiliki tidak terlalu besar, sekitar 1975 orang dengan kelas I sekitar 44 orang, Kelas 2 sekitar 88 orang dan kelas 3 sekitar 288 orang serta kelas Ekonomi 1554 orang. Kebetulan saat itu proses perpindahan saya dan keluarga, kami memilih kelas 3 berhubung saya masih kecil takut terlalu ramai jika ambil kelas ekonomi. Meskipun kelas 3, fasilitas yang ditawarkan oleh Pelni saat itu tidak main-main. Dek kapal kelas 3 sudah memiliki fasilitas kasur masing-masing, restoran untuk makan 3 kali sehari serta fasilitas kamar mandi untuk air hangat maupun dingin. Cukup nyaman.

Foto: pinterest.com

Berangkat dari pelabuhan Ambon, Maluku dipenuhi dengan tangis airmata tante dan om yang mengantarkan kala itu. Maklum, di tahun 1997 jika sudah pergi ke luar pulau pasti sulit untuk bertemu kembali, apalagi jaringan telekomunikasi tidak secanggih saat ini. Pertemuan itu dianggap hampir semua anggota keluarga menjadi pertemuan terakhir.

Mata kecilku yang melihat pemandangan syahdu tersebut tanpa terasa juga menetaskan air mata. Tapi sejenak kemudian tersentak karena persiapan untuk masuk kapal, bel panjang di bunyikan sebanyak 3 kali. Saya yang masih imut-imut (maaf yah, hehe) di angkut pada sebuah bak dan ditarik ke atas oleh orang-orang, alasannya karena tangga masuk sangat penuh dan sesak. Baiklah, untung masih umur 6 tahunan.

Perjalanan dengan kapal, penuh dengan suka dan duka yang sering mabuk darat biasanya kalau naik kendaraan laut, mabuknya lebih dahsyat nih, karena ombak di laut lepas itu tidak santai seperti di pantai. Terus kalau sudah tidak kuat juga tidak bisa melambaikan tangan, angkat bendera putih ataupun minta kapalnya menepi, tidak bisa yah. Bisanya hanya sabar dan banyak berdoa. Memang pada saat di kapal bukan saya yang mabuk, tapi kakak saya, kasihan sekali melihatnya. Transit di Pelabuhan Bau-Bau Sulawesi Tenggara dan Pelabuhan Makassar Sulawesi Selatan menjadi angina segar tersendiri. Meskipun hanya beberapa saat, tetapi sudah membuat saya yang tidak mabuk pun merasakan angin segar.

Pemandangan lautan lepas tanpa tepi, meskipun di mata kecil ku tampak sangat indah. Ada lumba-lumba yang menampakkan diri tanpa perlu kita membayar tiket sirkus lumba-lumba. Lautan biru dan lepas tanpa tepi juga membuat beban hilang tersapu angina laut.

Foto: Investor.id.com

Setelah hari keempat, tibalah di Pelabuhan Tanjung Priok, Surabaya pada pagi hari. Disambut oleh beberapa keluarga dari Jawa dengan senyum merekah membuat hati saya bergetar, tanah Jawa.

 

Nama Penulis: Nanik Prasasti

Instagram: www.instagram.com/nanikprasasti

Twitter: www.twitter.com/nnkprsst

Facebook: Nanik Prasasti

Press Enter To Begin Your Search
×