Loading...

Paralayang (photo source: dokumentasi pribadi)

Namaku Desi. Aku lahir dan besar di Banyuwangi, kota yang sekarang mengembangkan pariwisatanya. Dari SMP aku suka menjelajah destinasi wisata, ya walaupun hanya sebatas dalam kota. Hobi itu kemudian berkembang ketika aku kuliah. Ingin sekali rasanya menjelajah kota-kota di Indonesia. Ya itu mimpi besarku sih. Semoga kelak dapat terwujud dan wishlist-ku terdekat adalah kota Bandung, kota yang diceritakan romantis dalam film-film.

Malang, sebenarnya ini bukanlah pertama kalinya aku ke sana. Tapi liburan yang akan kuceritakan kali ini ada yang berbeda. Pertama, karena aku bersama orang spesial dan yang kedua, karena momennya penuh drama. Liburan ini aku lakukan sekitar Bulan Mei 2016. Saat itu aku masih kuliah di semester 6 di salah satu universitas di Jember.

Seperti biasa, sebelum memutuskan liburan aku selalu menyiapkan budget terlebih dahulu. Terlebih saat itu aku masih minta uang dari orang tua. Jadi aku harus benar-benar berhemat uang jajanku yang memang sudah pas-pasan demi memuaskan nafsu travellingku. Setelah uang tabungan lumayan terkumpul, aku mulai buat perencanaan selanjutnya. Perencanaan itu berisi: di mana akan berlibur, berapa lama, menginap di mana, destinasi wisata yang akan dikunjungi di mana, dengan siapa perginya, dan kendaraan apa yang akan digunakan. Tentu perencanaan itu harus sesuai dengan budgetku yang memang pas-pasan.

Saat itu uangku terkumpul hanya Rp500 ribu dan aku memutuskan pergi ke Malang bersama mas Arghya, pacarku saat itu (yang kini jadi suamiku). Kami hanya akan pergi ke Malang 2 hari 1 malam karena memang budget yang tipis. Kita berkomitmen untuk bayar penginapan sendiri-sendiri karena memang uang kita nipis. Kendaraan yang akan kita gunakan sepeda motor karena terjangkau dan lebih mudah mengakses segala kondisi. Seminggu sebelum keberangkatan, aku booking hotel di salah satu situs online. Kebetulan waktu itu promo. Kita dapat hotel bintang 2 yang baru opening dengan konsep minimalis, selera anak muda banget di daerah Batu dengan harga hanya Rp150 ribu. Aku dan mas Arghya pun berdiskusi masalah destinasi wisata di daerah Batu dan Malang yang murah bahkan gratis tapi bagus. Destinasi list kita ada Paralayang, Alun-alun Batu dan Alun-alun Tugu Malang.

Kami berangkat dari Jember Hari Sabtu, 28 Mei 2016 pukul 06.00 WIB menggunakan sepeda motor. Untuk menghemat budget kita sarapan terlebih dahulu di rumah mas Arghya yang kebetulan di Jember. Sampai di Lawang sekitar pukul 12.00 dan seperti biasa, Lawang selalu saja macet terutama weekend. Dengan bermodalkan map, pukul 13.30 kita sampai di penginapan. Jam cek in hotel pukul 14.00 sehingga kami harus menunggu di lobi hotel sekitar setengah jam. Pukul 14.00 kami masuk kamar masing-masing dan beristirahat.

Hotel tempat kami menginap saat itu sangat bagus untuk ukuran harga 150 ribu. Konsepnya minimalis, berlantai 5 dengan cat putih dan biru. Ukuran kamarnya sekitar 3 m x 4 m tapi ditata sangat apik. Pukul 16.00 kami bertemu di depan kamar dan berangkat menuju Alun-alun Batu yang jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 5 menit dari hotel dengan sepeda motor.

Pukul 17.00 tiba-tiba gerimis mulai datang membasahi Kota Batu, kita memutuskan beranjak dari Alun-alun Batu dan kembali ke hotel. Sesampai di tengah perjalanan kita berhenti di sebuah warung kaki lima yang menjual soto ayam yang rasanya sedikit aneh menurutku. Pukul 19.00 kami berencana melanjutkan ke destinasi berikutnya, yaitu Paralayang.

Kami berdua belum pernah ke Paralayang, saat itu jadi kami benar-benar mengandalkan map. Suasana malam itu mencekam karena selepas hujan dan berkabut. Sesampai di daerah Songgoriti, kami melihat bapak-bapak berjaket berdiri di setiap sudut pinggir jalan yang entah berbicara apa kepada kami karena tidak terlalu jelas. Jalan semakin menyempit dan semakin gelap.

Lampu jalan tidak ada, yang ada hanya lampu dari rumah-rumah warga sekitar. Aku takut, akhirnya kami putuskan untuk putar balik ke hotel. Ketika putar balik kami dihampiri pria tua berkumis, mengenakan jaket tebal dan topi menaiki sepeda motor. Aku sudah deg-degan bukan main. Takut jikalau begal atau orang jahat. Tapi ternyata bapak itu hanya menawari villa. Dan sesaat itu kita sadar bahwa bapak-bapak yang berdiri di sepanjang jalan yang kami temui hanyalah untuk menawari penginapan. Sesampai hotel, kami pun beristirahat karena lagi-lagi hujan deras mengguyur Kota Batu.

Alun-Alun Kota Batu (photo source: dokumentasi pribadi)

Keesokan harinya tepat Hari Minggu, 29 Mei 2016 kami bertemu di depan kamar pukul 06.30 untuk pergi ke Paralayang karena penasaran. Lagi-lagi kami kesasar bukan hanya satu kali tapi lebih dari lima kali, entah aku yang memang tidak terlalu pandai membaca map atau mapnya yang salah. Setelah sempat berdebat karena tidak juga ketemu, akhirnya kami memutuskan untuk bertanya di warga sekitar. Setelah mendapat petunjuk dari warga sekitar, kami pun sampai di Paralayang pukul 08.00.

Padahal jika tau jalan, perjalanan hotel menuju Paralayang hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menitan menggunakan sepeda motor. Di Paralayang usaha kami benar-benar terbayarkan, kami bisa melihat Malang nampak atas dan itu indahnya luar biasa. Ada beberapa orang terlihat bermain balon udara. Rasanya seperti tak ingin beranjak dari tempat itu, tapi kami harus kembali ke hotel sebelum pukul 11.00 karena jam cek out maksimal pukul 11.00. Pukul 09.30 kami beranjak dari Paralayang menuju hotel.

Sesampai di hotel kami berkemas. Pukul 10.30 kami cek out  dan menuju destinasi wisata selanjutnya, yaitu Alun - alun Tugu Malang. Sekitar pukul 11.30 kami sampai di Alun - alun Tugu Malang. Suasana saat itu sangat cerah, langit nampak biru dengan sedikit awan. Di Alun - alun Tugu Malang kami disuguhkan pemandangan taman yang indah. Tugu megah berdiri di tengah alun - alun. Bunga teratai menghiasi kolam di bawahnya. Bunga warna-warni nan cantik menghiasi setiap sudut alun-alun.

Kami berfoto -foto mengabadikan momen saat itu. Setelah itu kami makan di sebelah alun-alun. Lalu kami makan sekitar pukul 14.00, tiba-tiba saja hujan datang sangat deras. Kami berteduh di depan mall di sebelah alun - alun, tapi hujan semakin deras disertai angin kencang dan petir yang menyambar - nyambar. Aku mulai bingung, tidak mungkin kami berangkat pulang ke Jember yang membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam perjalanan dengan kondisi seperti itu, terlebih kami naik sepeda motor. Hingga pukul 15.30 hujan tak juga berhenti, setelah berdiskusi akhirnya kami putuskan untuk bermalam lagi semalam di Malang dengan sisa-sisa uang yang ada.

Pukul 16.00 kami berdua beranjak dari Alun–alun Malang menggunakan mantel melawan hujan untuk mencari penginapan di sekitar Malang yang murah sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. Tapi hingga pukul 19.00 kami tak juga menemukan penginapan yang kami ingin, karena hampir semua penginapan penuh karena esok hari. Tanggal 30 Mei 2016 dilaksanakan SBMPTN. Baju kami basah semua, mantel tak juga menolong karena hujan sangat deras. Pukul 20.00 kami sudah mulai putus asa, kami melihat sebuah hotel bintang 3 dengan harga Rp199 ribu.

Akhirnya kami putuskan untuk menginap di sana. Hotel itu bernuansa klasik, mungkin jika kami menginap di tahun 90an hotel itu tergolong mewah. Tapi untuk generasi milenial yang lebih menyukai nuansa minimalis rasanya hotel ini kurang pas. Aku sedikit takut malam itu, padahal kamarku lurus dengan lobi hotel. Jadi jikalau ada sesuatu aku bisa teriak ataupun langsung berlari keluar. Ada ranjang besar bertangkai besi dengan banyak ukiran. Di sampingnya ada lukisan klasiknya. Entahlah, mungkin aku saja yang penakut. Malam itu aku tidur tidak terlalu nyenyak karena takut.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Keesokan harinya, Tanggal 30 Mei 2016, Malang ramai dengan siswa-siswa yang ingin masuk Perguruan Tinggi Negeri. Pagi pukul 06.00 kami berdua sarapan di restoran hotel. Sembari makan, kami browsing tempat wisata yang dekat dengan kota yang murah tapi apik, karena kami tak ingin menyia - nyiakan kesempatan yang ada. Pukul 07.30 kami beranjak dari hotel menuju Museum Kota Tua. Waktu itu tiketnya kalau nggak salah hanya Rp5 ribu, aku agak lupa. Lagi-lagi kita mengandalkan map dan sedikit kesasar. Ya aku memang tak terlalu pandai membaca map.

Sesampainya di sana, museum belum buka karena kami terlalu pagi. Oleh petugas, kami disuruh nunggu sebentar sembari mereka membersihkan museum. Kami adalah pengunjung pertama hari itu, karena terlalu pagi. Nuansa tempo dulu sangat kuat apalagi suasana museum sangat sepi. Kami sedikit takut, sehingga kami hanya berkeliling sekitar 1 jam. Sekitar pukul 09.00 kami beranjak dari Museum Kota Tua mengelilingi Kota Malang, kemudian kami menuju wilayah kampus yang ramai riuh orang.

Di sana kami membeli jajanan pinggir jalan ‘sempol’ yang waktu itu baru pertama kalinya aku tahu karena di Jember dan Banyuwangi belum ada. Kami ikut nongkrong di sekitaran kampus melihat ramainya suasana. Pukul 10.00 kami bergegas ke hotel. Sesampai di hotel kami berkemas dan langsung check out. Kami takut jika terlalu siang, Malang hujan lagi dan kami kejebak lagi sedangkan uang sekarang benar-benar hanya cukup untuk beli bensin dan makanan pulang ke Jember. Pukul 10.30 kami berangkat dari hotel menuju Jember. Pukul 16.00 kami sampai di Jember dengan selamat. Aku pun membersihkan diri dan beristirahat.

Itulah  salah satu momen berkesanku selama liburan di Malang dengan budget yang sangat minim. Penting buat kalian mempersiapkan semuanya sebelum liburan, terutama penginapan. Agar tidak terjadi drama sepertiku yang kebingungan mencari penginapan. Tapi setiap perjalanan pasti ada momennya tersendiri. Thanks sudah mau baca ceritaku.

 

Penulis: Desi Hendriyani

Instagram: deshendriyani02

Facebook: deshendriyani02

Twitter: deshendriyani02

 

Press Enter To Begin Your Search
×