Loading...

 

Gambar 1. Pemandangan dari atas Air Terjun Temburun (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Jika ditanya, “Apa cerita perjalananmu yang paling berkesan?”, tidak ragu untuk menjawab bahwa perjalanan ke Kepulauan Anambas menempati top of mind saya. Pengalaman yang penuh dengan unsur petualangan, namun juga sangat menarik untuk diulang kembali. Memacu adrenalin mengingat fasilitas waktu itu belum seperti saat ini. Menarik untuk dicoba lagi karena kompensasi yang didapatkan tidak ada bandingannya.

Hampir keseluruhan perjalanan saya dilatarbelakangi alasan pekerjaan. Berprofesi sebagai peneliti menjadikan saya seringkali berkeliling ke banyak tempat untuk mengumpulkan data serta berbagai informasi yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Kendala tidak hanya dihadapi saat proses di belakang meja agar memenuhi kaidah akademis, namun proses implementasi di lapangan menghadirkan cerita tersendiri.

Tahun 2015, saat pertama kali saya melakukan perjalanan ke Kepulauan Anambas. Perjalanan tersebut dilakukan untuk melakukan penelitian penghidupan nelayan sebagai data dasar kebijakan yang akan diambil Kementerian Kelautan dan Perikanan. Saya bersama tim akan berkeliling ke perkampungan nelayan di tujuh kecamatan yang ada di Kabupaten kepulauan tersebut.

Perjalanan dimulai dari penerbangan Jakarta – Pekanbaru. Kami harus ke Pekanbaru (Provinsi Riau) untuk mempresentasikan rencana kerja dihadapan Loka Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) Pekanbaru. Konservasi Kepulauan Anambas sebagai Taman Wisata Perairan (TWP)  berada di bawah tanggung jawab Loka KKPN ini. Dari Pekanbaru kami bergerak ke Tanjung Pinang (Provinsi Kepulauan Riau). Perlu diingat saat itu Bandar Udara Letung belum beroperasi, hanya ada  Bandar Udara Matak dengan frekuensi penerbangan komersil yang juga tidak banyak. Satu-satunya jalan kesana adalah menggunakan moda transportasi laut dari Pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjung Pinang.

Penggunaan moda transportasi laut ke Kepulauan Anambas pun juga bukan tanpa halangan. Kapal Ferry hanya berangkat menuju Anambas tiga hari dalam sepekan (di hari Senin, Rabu, dan Jumat). Karena baru mendapat persetujuan untuk ke lapangan, kami masih harus mencari tiket penyeberangan yang terbatas. Jika gagal mendapatkan tiket, terpaksa harus kembali menginap dua malam untuk mendapatkan jadwal berikutnya. Akan tetapi, bagaimanapun Tanjung Pinang adalah ibukota dari Provinsi Kepulauan Riau, menghabiskan waktu di sana bukan lah hal yang menjemukan. Pilihan wisata kuliner di tepi pantai dan justru menghadirkan sensasi sendiri. Apalagi di saat itu menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, gladi resik pagelaran seni yang diadakan pemerintah daerah, pusat keramaian tersendiri bagi masyarakat setempat. 

Setelah sempat memperpanjang masa inap di Tanjung Pinang, akhirnya kami mendapatkan tiket penyeberangan juga. Kapal dijadwalkan berangkat pukul 07.00 WIB dengan durasi perjalanan 7 – 10 jam. Pelayaran di bulan Agustus diwanai dengan gelombang besar. Namun kita bisa berjalan ke buritan kapal untuk sekadar mencari udara segar, mencegah munculnya rasa mual. Kapal ferry dipenuhi oleh penduduk pulau-pulau yang ada di gugusan kepulauan tersebut. Kesempatan ini saya manfaatkan untuk mencari informasi terkait akomodasi dan transportasi di daerah tujuan. Begitupun lokasi-lokasi wisata yang memungkinkan dikunjungi di sela pekerjaan.

Perjuangan memang tidak mengkhianati hasil. Apa yang didapatkan setelah perjalanan tersebut memang sangat sebanding. Saat itu Anambas sedang berbenah untuk menjadi desinasi wisata. Namun bentang alamnya memang sangat indah, walaupun tanpa polesan.

Berikut tips sebagai masukan jika anda ingin berpetualang di sela perjalanan dinas anda.

  1. Tantang diri anda untuk mendatangi daerah dan menghadapi kejadian yang tidak biasa

“Keluar dari zona nyaman anda”. Mungkin anda seperti saya dan kebanyakan orang lain, duduk di depan meja, menghabiskan waktu untuk memenuhi tanggung jawab. Sekali-kali ambil kesempatan untuk perjalanan ke daerah yang bahkan anda belum pernah mendengarnya. Percayalah ada kejutan yang menunggu anda di sana.

  1. Cari informasi sebanyak-banyaknya, baik sebelum maupun saat perjalanan

Berpetualang bukan berarti bertindak konyol tanpa perhitungan. Sebelumnya telusuri informasi tentang lokasi tujuan melalui media luring (offline) maupun daring (online). Rajin bertanya kepada siapapun yang pernah kesana (maupun daerah sekitarnya). Kemudian ketika sampai di tujuan, konfirmasikan rencana anda kepada penduduk setempat. Siapa tahu ada alternatif lain yang lebih menarik untuk anda lakukan.  

  1. Persiapkan gawai anda sebaik-baiknya

Saat ini, pengalaman dapat anda bagikan melalui berbagai platform media sosial. Jangan lupa bawa gawai andalan anda untuk mengabadikan setiap momen perjalanan anda. Saya hanya mengandalkan telepon seluler untuk melakukannya. Pastikan juga untuk selalu memastikan baterai selalu siap digunakan. Jangan berharap di setiap titik akan ada jaringan listrik, segera isi jika menemukannya.

Satu lagi, jangan mengandalkan jaringan telekomunikasi. Pastikan gawai anda dapat bekerja di fitur offline. 

  1. Ketika sampai di tujuan, temukan tempat keramaian dan kuliner setempat

Terkait dengan mencari informasi di poin 2. Percayalah terdapat pengetahuan lokal tentang lokasi-lokasi yang menarik. Bahkan terkadang lokasi tersebut juga tidak diketahui penduduk kebanyakan. Contohnya, pemilik penginapan dimana saya tinggal mengatakan, dia tidak mengetahui Air Terjun Termburun, di sore hari ketika saya selesai berfoto ria di sana.

  1. Pastikan air minum anda cukup

Ini penting untuk menjaga kondisi tubuh anda. Jangan bayangkan akan banyak yang menjual minuman kemasan di tempat-tempat seperti itu. Tentu anda tidak ingin kehausan di tengah-tengah waktu liburan anda. Jika perlu isi ulang kemasan air yang ada sebagai bekal berpetualang.

  1. Nikmati setiap momen-nya

Terakhir, jangan terlalu berekspektasi kenyataan akan sesuai dengan yang anda bayangkan. Seringkali hal-hal kecil justru mengubah jalannya rencana anda. Nikmati semuanya, karena pasti ada hal-hal lain yang menarik. Seperti saat saya mengunjungi Air Terjun Temburun. Ternyata airnya sedang mengering. Namun itu membuka kesempatan saya untuk bebas berfoto di atas air terjun tersebut.

Bagaimana, anda sudah siap? Kita tunggu terkendalinya pandemi ini, lalu persiapkan perbekalan, berangkat!

Penulis: Rahmat Andriansyah 

Instagram: rahmat.andriansyah

Facebook: rahmat.andriansyah

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×