Loading...

Foto: Dok. Pribadi

Pemandangan yang indah mampu memikat setiap mata yang melihat ditambah lagi dengan pohon mangrove nan hijau seakan berbaris rapi mengelilingi bumi Jargaria hingga sampai mulut sungai Marjina. Sungai yang konon disebut sebagai 'Sungai ibu.’ Sungai tersebut tepat berada di Provinsi Maluku, Kabupaten Kepulauan Aru, Kecamatan Aru Utara, Desa Tasinwaha. 

Nama Tasinwaha sendiri terdiri dari tiga suku kata, yaitu Tasin berarti puasa, Wa berarti air dan Ha baru ditambahkan pada zaman Belanda. Jadi Tasinwaha berarti puasa air. Sehingga tidaklah heran, jika untuk menemukan sumber mata air di desa ini menjadi sangat sulit dan masyarakat hanya bergantung pada curah hujan.

Desa Tasinwaha merupakan desa tertua di Pulau Kola dan keberadaanya berdekatan dengan dua desa, yakni Desa Kaibo dan Foket. Di desa ini juga terdapat tiga golongan agama, yakni Kristen Protestan, Katolik, dan Islam. Kemudian memiliki satu gedung pusat kesehatan yang masih kosong serta memiliki sarana pendidikan, diantaranya gedung sekolah PAUD, SD, dan SMP. Sedangkan pada jenjang  SMA, anak-anak bersekolah di pusat kecamatan maupun di kabupaten.

Foto: Dok. Pribadi

Perjalanan menuju desa Tasinwaha dengan menggunakan speed memakan waktu selama kurang lebih 4-5 jam dari pusat kabupaten. Karena tidak ada jalan lain selain menempuh jalur laut maka ini menjadi jalan satu-satunya dan sangat menantang bila musim Barat tiba. Lautnya sangat bergelora dan ingin memangsa setiap orang yang mencoba melewatinya. Sekalipun demikian, sepanjang perjalanan kita akan disungguhkan dengan pemandangan yang begitu indah. 

Inilah pengalaman pertamaku melakukan perjalanan melihat keindahan alam yang belum pernah dilihat sebelumnya serta menjadi pegalaman yang tidak pernah dilupakan. Alam yang masih sangat eksotis dan membuat hidupku seakan menyatu dengannya. Hingga lamanya perjalanan sudah tidak lagi dihiraukan. Lamanya waktu di tengah laut bukanlah penghalang. Namun, yang terpenting adalah aku dapat menikmati pesona alam ini. Kalau bukan sekarang kapan lagi. Tanpa sadar hatiku berbisik, kita telah tiba di tempat tujuan, yaitu Desa Tasinwaha.

Sepanjang perjalanan aku benar-benar kagum dengan keberadaan pohon mangrove yang membentuk lingkaran dan memagari setiap desa menjadi daya tarik tersendiri. Kemudian dilengkapi dengan bentangan laut yang membatasi desa yang satu dengan desa yang lain. Sebab untuk Kabupaten kepulauan Aru terdapat 187 pulau-pulau kecil dan 89 pulau diantaranya berpenghuni, sementara yang sisa tidak berpenghuni. Karena itu, alat transportasi laut merupakan yang utama, berupa perahu, speed, motor laut maupun perahu bermesin. Alat transportasi laut dijadikan sebagai penghubung antar desa dengan desa, desa dengan kecamatan, dan desa dengan kabupaten. Selain itu pula, digunakan untuk mengambil air bersih saat musim kemarau tiba, mengambil hasil kebun serta mencari di laut.

Foto: Dok. Pribadi

Pohon mangrove yang oleh bahasa masyarakat setempat disebut  mange-mange dan tempat bertumbuhnya mangrove disebut Wakat. Di Wakat inilah masyarakat menjadikannya sebagai salah satu tempat mengais rezeki, berupa kepiting (karaka), dan beberapa jenis  siput yang oleh bahasa setempat disebut kanga, dan duang. Hasil pencarian tersebut dapat  dimakan maupun dijual.  

Dengan demikian, memiliki kondisi alam yang menarik tentunya dapat dijadikan sebagai potensi pariwisata bagi setiap orang yang ingin menyatu dengan alam tanpa harus diganggu dengan hiruk pikuk perkotaan. Mendengar musik tersendiri yang dibuat oleh alam, seperti kicauan burung dan bunyi desiran angin pada pepohonan. Itulah gambaran tentang kehidupan masyarakat dan alam di yang berada di pedesaan.

Penulis: Maria Johanis

Instagram: maria.johanis

Twitter: Mey Johanis

Facebook: Maria Johanis

 

Press Enter To Begin Your Search
×