Loading...

 

(photo source: pixabay.com)

Maluku.

Itulah nama tempat yang menjadi idaman saya tahun 2017 lalu, cerita-cerita yang didengungkan oleh teman-teman traveling sangat menggoda saya, apalagi kalimat “Harusnya disana 2 minggu, 1 minggu tidak cukup”, atau “Pengen balik ke Maluku”.

Ditengah rasa ingin tahu, saya kemudian berselancar di dunia maya, mencari tahu ada apa saja sih di Maluku?

Dan ternyata banyak tempat yang dapat disambangi di tempat kelahiran Thomas Matulessy atau yang kita kenal dengan Kapitan Pattimura ini.

Apa saja? Lanjuuut…

1. Pantai dan laut

(photo source:  instagram @explore_maluku)

Juara satu di Maluku adalah pantai dan laut, Tidak mengherankan karena Maluku yang memiliki dikelilingi oleh laut; Laut Banda di bagian barat, Laut Arafura di sisi selatan, dan Laut Halmahera di sisi utaranya sehingga tidak heran Maluku yang terdiri dari 18 pulau tersebut memiliki begitu banyak pantai dan pemandangan bawah laut.

Pantai yang paling ramai adalah Pantai Natsepa, karena terletak di Kota Ambon. Pantai ini banyak dipilih sebagai tempat kunjungan wisata keluarga, disini semilir angin laut bisa dinikmati sambil makan rujak natsepa. Rujak yang menggunakan buah pala dalam bumbu kacangnya. Banyak juga yang memesan bumbu ini untuk dijadikan buah tangan saat pulang ke tempat asal.

Jika tidak terlalu menyukai keramaian dan memilih adventure traveling, dari Ambon harus menyeberang ke pulau lain untuk menikmati pemandangan pantai dan alam bawah laut di Ora dan mantai di Pantai Uhe yang terletak di Pulau Seram.

Atau menyeberang ke Kepulauan Banda. spot diving di kepulauan Banda memang sedikit kalah popular dari Ora, tapi justru karena belum terlalu ramai akan terasa seperti memiliki laut dan pantai pribadi, alias sepi.

2. Bangunan bersejarah

(photo source: Instagram @si_budakkampung)

Pada jaman kolonial dulu, Maluku diperebutkan karena rempahnya. Perebutan sengit yang bahkan sampai melibatkan negara adikuasa pada zaman itu. Dan meskipun tidak lagi berada pada era kolonial, hingga kini jalur perdagangan rempah tersebut diperingati setiap tahun. Jika China terkenal karena jalur sutra, Indonesia terkenal karena jalur rempah. Hasil browsing saya akhirnya membuat saya memutuskan berangkat ke Kepulauan Banda Neira, persis sebelum corona melanda dunia.

Mengapa Kepulauan Banda? Karena disana saya bisa mendapatkan semuanya: Pantai, pemandangan bawah laut, serta perjalanan napak tilas sejarah. Sebetulnya bisa saja naik pesawat kecil menuju Banda Neira, tapi karena jadwalnya yang tidak banyak itu tidak ada yang cocok dengan jadwal saya, akhirnya saya memutuskan untuk naik kapal cepat saja. Dari Pelabuhan Tulehu saya menaiki kapal cepat selama 6 jam. Kapal cepat ini hanya melakukan 2 perjalanan ke Banda Neira dalam seminggu yaitu Selasa dan Jum’at pukul 09.00 WIT.

Di Kepulauan Banda Neira terdapat beberapa benteng besar, Belanda tidak main-main mempertahankan Banda Neira sebagai wilayah jajahannya karena buah pala yang pada zaman itu harganya setara dengan emas. Sebut saja benteng Belgica, benteng berbentuk pentagon yang terletak di bukit ini terletak berhadapan dengan Benteng Nassau yang terletak di tepi pantai. Kedua benteng ini dihubungkan dengan jalur bawah tanah berbentuk sumur. Kemudian benteng Concordia dan benteng Holandia di Pulau Lonthor, bagian dari Kepulauan Banda Neira.

VOC membangun banyak benteng karena membutuhkan banyak pos penjagaan untuk menjaga Kepulauan Banda agar setiap sudutnya tidak diterobos oleh musuh. Wajar saja, Belanda memperoleh Banda dengan mengalahkan Inggris pada perang Anglo Dutch II dimana pada nota kesepakatan perdamaiannya, Inggris harus rela menukar Pulau Run yang merupakan bagian dari Kepulauan Banda Neira dengan Manhattan, sebuah kota yang kini menjadi bagian dari New York.

Perjalanan mengelilingi tempat-tempat bersejarah di Banda Neira dapat diselingi dengan snorkeling di dekat pantai. Ya, untuk melihat dunia bawah laut di Banda Neira, hanya berenang sedikit dari bibir pantai pun sudah terlihat dunia bawah laut yang menakjubkan.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Salah satu spot keren untuk snorkeling adalah sebelah tenggara Pulau Lonthor, terumbu karang masih subur disini, beragam jenis ikan berkerumun mencari makan termasuk belut moray yang sedang bersembunyi menunggu mangsa lengah yang lewat di depannya.

Semakin ke ujung luar, arus air semakin kencang, sehingga sebelum menyambangi Pulau Run saya menepi sebentar di Pulau Nailaka hanya untuk menikmati pasir pantainya yang halus dan memperhatikan binatang-binatang yang hidup tak terusik. Betul, karena tidak dihuni manusia, keong-keong leluasa berpindah kesana kemari, kepiting dan burung-burung pun singgah tanpa terusik manusia.

Lain Pulau Lonthor, lain pula Pulau Gunung Api. Meski dua pulau ini berhadapan, ekosistem bawah airnya beda sama sekali. Dunia bawah air di laut sekitar Pulau Gunung Api didominasi warna hitam, pasirnya dan ikannya. Selain itu sesekali air terasa hangat karena ada gelembung udara yang muncul dari sela-sela pasir, yang menandakan gunung api itu masih aktif dan sesekali mengeluarkan uap panasnya.

Banyaknya opsi spot bawah air dan wisata sejarah di Banda Neira dibarengi dengan pilihan antara diving atau snorkeling. Jika sudah memiliki lisensi menyelam amat disayangkan kalau tidak menyelam di Banda Neira karena Banda Neira memiliki setidaknya 7 diving spot.

Opsi menginap juga ada dua. Selain menginap di daratan, bisa juga memilih liveaboard, yaitu menyewa kapal dan menginap di dalam kapal. Jika tidak terbiasa diayun ombak pasti akan merasa mual jika memilih liveaboard terutama saat malam dimana air laut lebih bergelombang. Itu alasannya saya tetap memilih menginap di daratan.

Setelah merasakan hampir 2 minggu di Banda Neira, traveling ke Banda Neira adalah traveling yang paling sering teringat di benak saya. Dan memang betul yang dikatakan teman-teman traveling saya, Maluku akan membuat kita ingin kembali lagi.

 

Penulis: Utami Isharyani Putri

Instagram: @utamiisharyani

Twitter: @utamiisharyani

Facebook: Utami Isharyani

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×