Loading...

Sejak 6 bulan lalu sudah kupersiapkan liburan yang penuh dengan ekspektasi yang tinggi , seperti yang aku lihat di media sosial tetapi apa daya liburanku terasa begitu penuh dengan perjuangan dan sepertinya yang maha kuasa telah memberitahukan kepadaku bagaimana sesuatu yang sudah dipersiapkan secara matang , tidak berjalan dengan baik,  jika tak ada tekad maka liburanku pun kandas berakhir dengan kembali ke tempat tinggal asal.

Berawal dari hujan yang turun deras di pagi hari dan tiada henti , dari awal sampai di Bandara yang terkenal  yaitu Bandara Komodo aku sudah disambut dengan gerimis hujan, tetapi aku tidak menyangka bahwa hujan yang turun dari pagi hari hingga sore itu menimbulkan bencana gempa bumi, sehingga daerah yang ingin aku datangi tidak dapat dilalui dengan mobil apapun, jika ingin tetap berkunjung dapat dilakukan dengan berjalan kaki. Akhirnya aku beserta beberapa kawan memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan walaupun harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Sahabat tahu gak dimanakah negeri diatas awan itu ? jawabannya hanya sedikit kita temukan di Indonesia, salah satunya yaitu Desa Waerebo Manggarai. Nah, di sini aku akan cerita bagaimana  liburanku ke negeri di atas awan (Desa Waerebo) bersamaan dengan adanya gempa bumi.

Dimanakah Desa Waerebo itu ?

Waerebo yang sudah terkenal hingga mancanegara merupakan kampung adat tradisional di Kabupaten  Manggarai , Flores Nusa Tenggara Timur . Desa yang memiliki rumah adat berbentuk kerucut yang berjumlah 7 merupakan ciri khas Desa Waerebo. Berada di ketinggian 1.100 meter diatas permukaan laut sehingga dijuluki negeri di atas awan.  Untuk melihat eksotisme Desa Wae Rebo tidaklah mudah, apalagi setelah adanya longsor akibat gempa bumi. Butuh perjuangan sebab lokasinya di lembah pegunungan Manggarai.

Jalan Menuju Desa Waerebo – Doc. Pribadi

Bagaimana  perjalanan ke negeri di atas awan bersamaan dengan adanya gempa bumi

Siapapun tidak ingin liburannya tidak sesuai dengan ekspektasi , tapi apa daya sudah sampai di lokasi, pada jam 06.00 WITA, kami sudah berkumpul di pelabuhan kayu,  kemudian dijemput dengan mobil elf menuju daerah yang terkena bencana longsor akibat gempa bumi dengan memakan waktu perjalanan sekitar 1 jam, setelah itu kami tidak dapat melakukan perjalanan dengan kendaraan, harus dilakukan dengan berjalan kaki, setelah itu terdapat jalan, sahabat dapat memilih melanjutkan dengan motor warga sekitar sebagai wujud membantu warga, dengan memberikan imbalan sebesar Rp. 25.000,- lalu kami lanjutkan lagi perjalanan dengan berjalan kaki, melewati jalan yang terpecah menjadi dua, lumpur yang masih menggenang .

Setelah melewati  bekas longsor akibat gempa tadi, dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan truk terbuka atau biasa disebut tuk-tuk dengan lama perjalanan selama 4 jam, dalam perjalanan kami harus melewati  bawah jembatan yang sedang diperbaiki. Sesampainya di Daerah Denge kamipun disambut oleh rintik hujan dan warga Denge,  disinilah tempat kami menitipkan barang-barang sebab kami akan melanjutkan perjalanan  menuju ke Desa Waerebo sebelum gelap atau magrib, harus melalui perjalanan yang cukup melelahkan sekitar 2 jam berjalan kaki.

Perjalanan ke negeri di atas awan bersamaan dengan adanya gempa bumi - Doc. Pribadi

Setelah mengambil satu baju untuk ganti di Desa Waerebo dan keperluan mandi dan alat lainnya yang diperlukan saja, perjalananpun dilanjutkan dengan menggunakan jas hujan, kami terus menelusuri daerah yang akan membawa kami ke Desa waerebo. Akhirnya dengan perjuangan dan tekad yang bulat kamipun berhasil sampai di Desa Waerbo pas jam 18.00 sebelum magrib, dengan tidak mearasakan bahwa kaki ini sudah dipenuhi dengan pacet yang menempel, dan badan yang sudah kedinginan walau sudah memakai jas hujan, karena hujan yang rintik tadi makin lama semakin deras tapi kami tidak memperdulikannya dengan terus berjalan.

Disambut dengan ramah oleh Bapak Ketua Adat kamipun menginap satu hari di Desa Waerebo. Oh iya sahabat jangan takut tidak ada toilet yak arena Desa Waerebo diatas, toiletpun ada dengan air yang bersih, segar dan super dingin. Setelah badan dibersihkan, kamipun dijamu dengan makan malam yang telah disediakan.

Suasana makan malam di dalam rumah kerucut Desa Waerebo – Doc. pribadi

Disuguhkan dengan panorama milkyway yang indah.

Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan, dan beristirahat pada dini hari aku dan beberapa kawan yang sedang mengambil  landscape bintang-bintang di langit yang biasa disebut milkyway  menyaksikan keindahan tersebut, terusterang ini hal yang pertama kali aku temukan dan rasakan sungguh kagum dengan sang pencipta yang memberikan keindahan ini. Pagipun kami disambut dengan suasana pagi yang cerah bermain dengan anak desa Waerebo.

Desa Waerebo pada malam hari – Doc. Pribadi

Desa Waerebo pada pagi hari - Doc. Pribadi

 

Tips jika liburan  bersamaan dengan terjadinya bencana.

Jika sahabat sudah melakukan persiapan untuk berlibur dan terjadi hal diluar ekspekstasi seperti gempa yang terjadi sama aku, hal yang harus dilakukan adalah :

  1. Berdoa
  2. Persiapan fisik
  3. Bawa obat-obatan pribadi
  4. Bawa coklat atau madu untuk menambah energi  tenaga selama perjalanan
  5. Selalu ceria, jangan dibawa marah atau kesal.

Nah itulah cerita perjalanan liburanku ke negeri di atas awan bersamaan dengan adanya gempa bumi yang membuat travellingku menjadi sangat berkesan dan tidak akan terlupakan. Rencana sudah diatur tetapi jika sahabat bertekad ingin tetap sampai dan memungkinkan semua itu bisa terlaksana. Selamat menjelajah pesona wisata Indonesia dan tetap menjaga alamnya.

 

Salam,

Lina Marlina

 

Nama Penulis: Lina Marlina

Instagram: https://www.instagram.com/marlinajourney

Twitter: https://www.twitter.com/marlinajourney

Facebook: https://www.facebook.com/marlinajourney

Press Enter To Begin Your Search
×