Loading...

Sumber: www.unsplash.com

Tidak ada yang lebih menyenangkan selain di rumah. Benar sekali, rumah adalah tempat paling nyaman dan menyenangkan di dunia.

Tahun 2017 adalah tahun yang cukup berkesan bagi saya. Selain tahun tersebut adalah tahun pertama saya masuk sekolah menengah pertama, tahun tersebut juga adalah tahun pertama saya mengunjungi Danau Toba bersama keluarga. Ya benar, rumah saya berada di Sumatera Utara. Seperti biasa, setiap libur Natal kami akan pulang kampung ke Sumatera Utara atau Medan lebih tepatnya. Namun untuk mengunjungi destinasi ini, kami pergi di dua hari terakhir sebelum tanggal 25 Desember yang adalah hari perayaan Natal.

Tujuan liburan ini sebenarnya cukup mendadak karena seminggu sebelum pergi menuju Danau Toba, secara tiba-tiba mama saya berinisiatif mengajak kami sekeluarga untuk mampir sebentar di Danau terbesar se-Indonesia itu. Seperti namanya mendadak, persiapan juga tidak matang, ban mobil kami meletus dan mesin mobil kami rusak yang mana pada hari itu hampir seluruh bengkel dan tambal ban tutup karena hari menjelang Natal. Pada saat itu saya pikir Tuhan tidak mengkhendaki kami untuk pergi dan berujung membatalkan rencana, namun pagi harinya pukul 8, ternyata kami masih memiliki kesempatan untuk mengunjungi Danau Toba.

Sungguh saat menginjak lahan parkir untuk pertama kalinya di sekitar Danau tersebut, siapa pun dapat merasakan kesejukan yang sangat terasa ketika menyentuh kulit padahal baru dilahan parkirnya saja.

Menaiki kapal menuju Pulau Samosir sekaligus menyentuh dingin permukaan air Danau Toba adalah keinginan saya setiap melewati Danau tersebut ketika akan menuju kampung halaman bapak. Bahkan saya masih sangat ingat hayalan saya ketika sedang menikmati mi rebus di warung kecil yang berada di pinggir jalan beberapa tahun kemarin. Namun mama saya terus mengingatkan untuk tidak mengeluarkan ponsel dan mengeluarkan tangan selama perjalanan, alhasil saya hanya bisa membayang-bayang menyentuh air biru itu.

Sebelum mencapai pulau, kami berhenti sejenak di bawah Batu Gantung berada. Saya benar-benar merasa takjub sekaligus senang karena dapat melihat batu legenda itu dengan mata kepala saya sendiri. Bahkan saya hampir menangis melihat batu legenda itu benar-benar nyata adanya tergantung didepan mata saya.

Waktu berjalan sangat cepat setelah kami mengunjungi Batu Gantung. Tidak terasa kami telah sampai di pulau anakan Danau Toba ini. Tujuan kami setelah tiba tentunya berbelanja. Mama saya adalah satu dari kami berlima yang sangat bersemangat dan bahkan terlalu bersemangat ketika melewati gang-gang penuh gantungan baju, tas dan pernak-pernik kecil lainnya. Bapak sudah sangat kelelahan ketika berjalan melewati toko-toko yang padahal belum satu jam setelah sampai di pulau ini. Selama hunting kami bertemu dengan banyak orang, baik turis asing maupun turis lokal, sehingga penjelajahan kali ini benar-benar terasa sangat melelahkan karena jalan yang sempit sekaligus penuh dengan turis yang memadati jalan. Namun dari semuanya, saya paling ingat ketika mama menawar sebuah tas punggung rajut yang begitu cantik.

Penjual tas tersebut ternyata memiliki asal keluarga yang sama dengan mama saya, sehingga mama saya beralasan tentang keluarga untuk melakukan penawaran yang sangat jauh dari harga aslinya. Tas itu berharga satu juta kepada turis asing, empat ratus hingga lima ratus ribu kepada turis lokal, dan mama saya menawar dengan harga dua ratus ribu!

Benar-benar jiwa seorang ibu-ibu! Penjual itu akhirnya menyerah dan menyerahkan tas itu kepada kami dengan harga dua ratus lima puluh ribu rupiah. Saya sedikit merasa malu dan bersalah pada penjual itu, begitu juga dengan kakak saya, namun mama saya merasa bangga dan menang.

Matahari mulai beranjak naik ke atas kepala kami, kemudian karena telah berjalan kaki setengah hari penuh, kami pergi ke salah satu restoran yang menjual makanan khas Batak. Bapak saya begitu menyukai tempat itu, karena sangat sesuai seleranya sekali, begitu juga dengan mama saya. Restoran itu bersih dengan persediaan air minum hangat yang gratis. Saya sungguh menikmati momen-momen makan bersama di restoran tersebut bersama keluarga saya, karena pada jam-jam kerja kami jarang sekali pergi bersama karena kakak saya telah kuliah dan mama saya sibuk bekerja.

Kami mengakhiri makan kami dengan cepat karena kami mengejar waktu d imana setelah jam tiga sore adalah kapal terakhir kami untuk menuju kembali ke daratan. Sisa waktu kami dihabiskan dengan berjalan-jalan santai dan sekaligus berfoto-foto di area yang sekiranya cukup menarik. Beberapa tempat yang kami kunjungi adalah patung Si Gale-gale yang kini telah dibuat replikanya dengan jumlah yang lumayan banyak. Karena setiap kami menuju kerumunan orang-orang yang ditutupi oleh tirai ulos, kami menemukan patung tersebut tengah menari dengan penggeraknya pada bagian belakang.

Kemudian setelah membayar lima ribu kami berfoto dengan topi adat Batak dan ulos pada pundak kami, selain itu kami berfoto dengan patung sigale-gale yang lain dengan rumah adat sebagai latar foto kami. Tidak hanya Si Gale-gale, kami juga berfoto di tugu tinggi yang kami tebak adalah tempat sakral yang tidak boleh dilintasi dan destinasi terakhir kami adalah makam yang saya perkirakan berumur ratusan tahun. Saat memasuki area makam, kami dihimbau untuk tidak berisik, mengeluarkan kata kasar dan juga harus mengenakan ulos sebagai bentuk menghargai adat.

Saat melihat jam ternyata sudah pukul tiga lebih dua puluh menit, yang berarti kapal terakhir untuk kembali ke daratan telah habis! Jujur pada waktu itu kami semua panik karena sebelumnya kami sempat tersesat juga untuk kembali di mana kapal berada dan berujung terlambat kembali ke daratan. Namun Tuhan benar-benar menyertai perjalanan kami, pada saat itu ternyata singgah kapal terakhir yang benar-benar terakhir. Akhirnya kami kembali dengan perasaan lega dan riang karena telah menghabiskan hari dengan baik.

Saya pikir pergi ke Danau Toba adalah pengalaman pertama dan terakhir kalinya, atau saya tidak akan pernah pulang kampung ke Sumatera Utara lagi untuk selamanya. Saya cukup sedih mengingat fakta ini, sebab semua orang tua bapak dan mama telah dipanggil Tuhan dan menyisakan satu nenek saya yang masih Tuhan jaga sampai saat ini. Saya bersyukur untuk waktu terbaik yang pernah saya miliki bersama keluarga saya, saya benar-benar mengatakan bahwa liburan ini adalah liburan yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya.

Sumber: www.pinterest.com

 

Nama Penulis: Yeusy Novianty Jasmine Siregar

Instagram: ___g.ak__/

Twitter: ajgkuu

Facebook: Yeusy Novi

Press Enter To Begin Your Search
×