Loading...

Minggu lalu, tepatnya pada tanggal 21 hingga 23 Agustus, saya melakukan perjalanan liburan ke Bandung. Kota yang satu ini memang selalu menjadi pertimbangan destinasi liburan bagi warga ibu kota dan sekitarnya. Nilai sejarah, ragam kuliner, hawa sejuk, keramahan penduduk lokal, dan melimpahnya destinasi wisata yang sangat menarik menjadi alasan mengapa pada akhirnya banyak yang menjatuhkan pilihan pada kota ini.

Dan kali ini merupakan perjalanan liburan yang sangat menyenangkan dan berkesan bagi saya karna saya lakukan sendirian!

Awalnya saya tentu mengajak beberapa kawan untuk berlibur bersama. Namun, seperti pepatah Arab mengatakan, ‘li kulli ro’sin ro’yun’, yang artinya setiap kepala memiliki pedapatnya masing-masing. Si A ingin pergi ke sana, tapi si B inginnya pergi ke sini. Si C inginnya berangkat pada tanggal sekian, tapi si D hanya bisa pada tanggal sekian.

Ribet! Liburan saya dipertaruhkan jika harus menunggu semuanya sepakat. Tiba-tiba terlintas di pikiran saya, kenapa saya tidak pergi sendiri saja?

Akhirnya pada Jum’at 21 Agustus lalu, selepas sholat Jum’at, saya bersiap. Mengemas berapa pakaian dan peralatan pribadi, memesan hotel, memastikan rute dan estimasi waktu perjalanan. Perjalanan saya mulai dari Kota Bekasi menggunakan motor. Selanjutnya saya mengambil rute melalui Jonggol, Cianjur, Bandung Barat, hingga sampai di Kota Bandung.

Senyum saya tersungging sepanjang jalan melihat dan merasakan indahnya pemandangan di sepanjang jalan. Saya sengaja memilih rute ini karena rute ini terbilang tidak padat volume kendaraannya sehingga bisa lebih cepat, banyak pepohonan sehingga tidak terlalu panas, dan banyak pemandangan alam yang bisa saya lihat di sepanjang perjalanan seperti hamparan sawah hijau, deretan bukit dan gunung batu, hingga melintasi beberapa sungai besar.

Bahkan saya melewati beberapa destinasi wisata lokal. Saya bebas berhenti di mana saja dan kapan saja. Tidak perlu terburu-buru atau berdiskusi terlebih dahulu jika ingin melakukan sesuatu. Ini perjalanan yang sangat saya impikan sejak dulu.

Setelah melalui perjalanan sekitar 4 jam (termasuk istirahat), tibalah saya di Kota Bandung. Hal pertama yang saya lakukan tentunya check in di hotel atau penginapan yang telah saya pesan sebelumnya yaitu di daerah Cisitu, dekat dengan Jl. Dago. Setelah proses check in selesai, saya segera menuju kamar untuk segera beristirahat. Namun ketika saya sudah masuk, saya harus menunda istirahat saya.

Saya justru terpana dengan pemandangan yang saya saksikan dari balkon kamar. Suasana sore hari dengan langit yang mulai menguning, beberapa gedung yang menjulang di kejauhan, perbukitan hijau, matahari yang bersiap kembali ke peraduannya membuat saya begitu tertegun. Akhirnya saya menghabiskan sepanjang sore di balkon tersebut dan memutuskan untuk tetap di kamar pada malam tersebut.

Sudah sedari lama saya memimpikan liburan seperti ini. Melepas penat dari segala masalah ibu kota, bersantai di penginapan di daerah yang sejuk dengan pemandangan yang menyegarkan dan menentramkan, serta tidak diburu-buru oleh rencana-rencana. Saya bahkan sempat berpikir untuk cukup bersantai di penginapan saja hingga akhir masa liburan saya. Malam itu rasanya semua masalah hidup hilang entah ke mana.

Keesokan harinya, sebagaimana pada hari libur lainnya, saya bangun agak siang. Kasur di penginapan tersebut seakan sulit sekali melepas pelukannya. Rasanya enggan untuk beranjak. Jika ada seseorang di samping saya, atau saya berlibur dengan kawan-kawan saya lainnya, mungkin mereka sudah bawel sekali meneriaki saya, melemparkan handuk, dan menyeret saya ke kamar mandi untuk bergegas. Namun kali ini saya yang memutuskan sendiri semuanya. Dan saya memutuskan untuk menarik selimut kembali sedikit lebih lama. 

Pukul 11.00 WiB siang saya sudah siap berangkat menuju tempat wisata sekitar. Tujuan pertama saya adalah berkeliling ke tempat wisata di daerah Lembang. Saya sempat mencari informasi terkait tempat wisata di daerah Lembang dan saya tertarik dengan beberapa tempat. Saya memutuskan untuk menuju ke Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Parahu.

Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu

Mungkin akan ada yang bertanya, mengapa TWA Gunung Tangkuban Parahu? Saya tahu bahwa Lembang salah satu surga wisata karena terdapat begitu banyak destinasi wisata yang menarik. Sebut saja Taman Grafika Cikole, Orchid Forest Cikole, Farm House Lembang, dan lainnya. Namun saya lebih memilih tempat wisata yang masih terjaga keindahannya sedari awal. Tidak banyak campur tangan manusia untuk memperindah tampilannya kecuali untuk akses jalan dan semisalnya. Dan menurut saya, itu saya dapatkan di TWA Gunung Tangkuban Parahu.

Total yang harus saya bayarkan untuk masuk ke TWA Gunung Tangkuban Parahu adalah sebesar Rp47 ribu dengan rincian sebesar Rp30 ribu untuk HTM wisatawan lokal di weekend, dan sebesar Rp17 ribu untuk HTM motor termasuk parkir.

Saya kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalan berkelok dengan rimbun pepohonan nan indah serta tentunya sejuk sekali sejauh kurang lebih 4 Km sebelum sampai di Kawah Ratu, kawah terbesar dan merupakah ikon dari Gunung Tangkuban Parahu.

Setelah memarkir motor, saya berbaur dengan wisatawan lainnya. Beberapa pedagang terlihat menjajakan dagangannya. Tak lupa juga pedagang jasa yang menawarkan jasa foto langsung jadinya. Saya melewati itu semua dan menuju bagian bibir kawah yang lebih tinggi dengan menapaki tangga yang tidak beraturan.

Tiba di bagian atas bibir kawah dan melihat ke bawah, pemandangan yang dapat saya lihat begitu luar biasa. Dari sini saya dapat melihat dengan jelas kawah ratu yang sangat luas. Langit biru yang membentang, putih awan yang berarak perlahan, dan hijau tetumbuhan di bagian sisi lainnya. Sempurna dengan gelap pasir kawah , dari kejauhan dapat terlihat juga dataran-dataran yang lebih rendah.

Panas matahari yang menyengat terkalahkan dengan sejuk udara sekitar dan semilir angin yang berhembus. Saya bahkan tidak ingat berapa lama saya berdiri di bibir kawah tersebut, menyender pada pagar penjaga, dan terpukau dengan bertentangan alam di depan mata.

Ini saat di mana saya ingin egois; menikmati semuanya sendirian. Duduk bersandar dengan secangkir kopi juga headset di telinga yang tersambung ke handphone yang sedang memainkan musik favorit. Tanpa diganggu dengan ajakan berfoto bersama, atau mengelilingi tempat tersebut mencari spot foto menarik, atau bahkan sibuk menawar dagangan pedagang yang berkeliaran di sekitar. Waktu ini, suasana ini, ketenangan ini, saya begitu menikmatinya.

Beberapa waktu berlalu, saya melanjutkan perjalanan kembali.

Wisata Hutan Pinus Pal 16 Cikole

Sepulang dari TWA Gunung Tangkuban Parahu, saya tertarik untuk bersantai kembali di tengah rimbunnya hutan pinus. Pilihan saya jatuh kepada WIsata Hutan Pinus Pal 16 Cikole.

Saya cukup mengeluarkan uang total Rp15 ribu untuk menikmati rimbunya Pinus di sini. Itu pun sudah termasuk biaya parkir sebesar Rp5 ribu.

Hal yang membuat saya tertarik dengan tempat ini adalah pada saat itu wisatawan tidak begitu ramai dibanding wisata serupa di sekitarnya. Apalagi harga tiket masuk yang ditawarkan jauh lebih murah. Memang di sini tidak tersedia pondokan-pondokan kayu untuk menginap, atau tempat makan besar, atau fasilitas outbond. Namun ini yang saya harapkan sehingga saya bisa lebih menikmati kealamian tempat ini. Dan gelas kopi ke dua hari ini saya habiskan di sini, dengan cara yang sama seperti yang saya lakukan sebelumnya.

Dan matahari mulai beranjak ke peraduaannya, menyiratkan jingga merah di angkasa. Roda motor saya mulai berputar untuk membawa saya kembali ke penginapan. Sepanjang perjalanan saya membayangkan betapa enaknya melewatkan malam ini dengan bersantai di penginapan, menonton televisi dengan jendela terbuka, menikmati udara dingin yang masuk dan dikelilingi oleh berbagai macam camilan dan minuman ringan. Sepertinya saya harus mampir terlebih dahulu ke mini market terdekat.

Keesokan harinya saya kembali menarik selimut lebih lama. Ini adalah hari terakhir saya di Kota Bandung. Saya tidak berencana pergi ke mana pun. Jadilah saya hanya berbaring malas di atas kasur dengan TV menyala namun mata sibuk di layar handphone.

Saya tengah membuka Instagram saat saya melihat salah satu akun open trip mengungah tentang tempat dengan hamparan batu bernama Stone Garden. Foto yang ditampilkan begitu menarik. Saya lalu membuka aplikasi Maps dan ternyata letaknya searah dengan jalan pulang. Stone Garden akan menjadi tempat sempurna untuk menutup liburan panjang ini.

Stone Garden Geopark Citatah

Berjarak kurang lebih 33 km dari penginapan saya di daerah Dago, saya memerlukan waktu sekitar 1 jam untuk bisa sampai di sana. Berbekal panduan arah dari Google Maps dan bertanya kepada penduduk sekitar, akhirnya saya sampai di tempat ini.

Oh, Iya. Bagi yang ingin ke sini menggunakan kendaraan pribadi, ketika sudah sampai di Citatah atau daerah Gunung Masigit, saya sarankan untuk tidak mengikuti arahan dari Google Maps lagi karena sering kali rute yang diberikan tidak sesuai dan papan nama wisatanya tidak terlihat jelas di tengah jalan yang berkelok.

Saya dua kali diarahkan ke rute yang tidak sesuai yang tentunya sangat memakan waktu. Patokannya adalah masjid Al Ikhlas di kanan jalan jika dari arah Bandung. Arah menuju lokasi wisata juga merupakan jalan bebatuan dan agak menanjak. Jadi pastikan kendaraan yang digunakan siap untuk medan tersebut.

Saya pikir saya akan merogoh kocek agak dalam untuk bisa masuk ke tempat ini. Namun ternyata HTM yang ditetapkan untuk kunjungan di weekend sangat murah bagi saya. Hanya sebesar Rp17 ribu  dan itu sudah termasuk parkir motor plus free minuman kopi botol dan permen. Saya sempat tersenyum ketika tangan saya kesulitan menerima itu semua.

Setelah memarkir motor, saya masih harus berjalan menanjak untuk sampai ke spot utama wisata tersebut. Jalan dari tanah dan bebatuan yang dibentuk seperti tangga memudahkan pengunjung untuk mencapainya. Dan inilah Stone Garden yang menakjubkan itu.

Berdasarkan informasi yang tertera, Stone Garden Geopark merupakan Kawasan karst seluas dua hektar dengan batu gamping artistik yang letaknya 908 meter di atas permukaan laut yaitu puncak Gunung Pawon, Kampung Girimulya, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Ciapatat, Kabupaten Bandung Barat.

Ini adalah salah satu tempat wisata terbaik yang pernah saya kunjungi. Batu-batu gamping tersebut, entah bagaimana, terhampar dengan begitu indahnya. Konon tempat ini adalah bukti sejarah Laut Bandung Purba 20 juta tahun lalu karena ditemukan beberapa fosil biota laut di sini. Saya membayangkan bagaimana indahnya tempat ini dahulu ketika masih menjadi lautan.

Hal yang menambah rasa kagum saya akan tempat ini adalah fasilitas yang disediakan oleh pengelola seperti gazebo, tempat sampah, tenaga keamanan di lokasi wisata, spot foto, dan kamar ganti untuk prewedding. Memang betul bahwa di tempat wisata lainnya pun pihak pengelola menyediakan fasilitas yang sama.

Namun yang membuat fasilitas di Stone Garden Geopark ini berbeda adalah fasilitas tersebut dapat digunakan pengunjung secara gratis atau tanpa biaya sepeserpun! Di tengah kondisi di mana tempat wisata lainnya di Kabupaten yang sama justru berlomba-lomba ‘menguras’ dompet pengunjung, tempat wisata ini justru menawarkan banyak fasilitas gratis.

Saya jadi teringat persis satu minggu lalu ketika keluarga besar saya berlibur ke salah satu tempat wisata di Kabupaten Bandung, namun senyum mereka tidak bertahan lama karena mereka hanya bisa melihat fasilitas yang disediakan tanpa bisa merasakan sebagiannya. Bukan karena tidak punya uang. Namun harga yang dipatok untuk bisa merasakan beberapa fasilitas tersebut membuat mereka harus berpikir ulang berkali-kali terlebih dahulu.

Saya duduk di salah satu gazebo yang disediakan. Menatap lurus pada hamparan bukit di depan sana yang mulai diselimuti kabut. Langit juga tak lagi biru. Sirat kuning mentari yang hendak terbenam menjadikan apa yang saya lihat seperti lukisan maha karya. Indah sekali memandang matahari terbenam dari sini.

Saya memancangkan tripod yang saya bawa. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, menatap sunset dari ketinggian. Dan biarkan saya egois sekali lagi, menikmati semuanya sendirian, abai pada lalu lalang manusia yang sibuk berfoto, berjalanan ke sana ke sini, berteriak ini dan itu. Tempat ini tidak sekedar menawarkan keindahan, namun juga ketenangan. Saya berjanji akan kembali lagi suatu hari nanti untuk berkemah di sini. Saya seperti sudah bisa menebak bahwa menghabiskan malam di sini dapat mengalahkan rasa hotel bintang lima yang ada.

Kini matahari telah sempurna menggenapi rutinitasnya. Saatnya saya kembali pulang ke kota asal. Jika ada yang bertanya apakah saya tidak merasa kesepian melakukan perjalanan liburan sendiri maka jawabannya adalah tidak. Itu semua kembali kepada diri masing-masing. Saya justru lebih menikmatinya dengan cara seperti ini. Saya menentukan sendiri ke mana saya pergi, kapan saya berhenti, apa yang saya makan, berapa lama saya berdiri, duduk, tidur, bahkan kenapa memilih hotel ini. Jadi saya bisa membuat semuanya seusai dengan impian saya. Kalian harus mencobanya suatu waktu.

 

Nama Penulis: Ahmad Setiaji

Instagram: www.instagram.com/ahmad_s7170

Twitter: www.twitter.com/ahmad_s7170

Facebook: Ahmad Setiaji

Press Enter To Begin Your Search
×