Loading...

Sumber: www.unsplash.com

Bagi sebagian besar orang Indonesia pulau Bali sudah tidak begitu asing lagi. Bahkan pulau yang terkenal dengan julukan Seribu Pura ini begitu terkenal di kancah internasional. Bagi aku Bali adalah tempat yang tepat untuk menikmati kehidupan masyarakat yang multikultural dan untuk melepas penat, karena banyak sekali destinasi wisata yang dapat dikunjungi. Karena alasan itu, aku juga memutuskan kuliah di Bali. Maksud hati sambil menyelam minum air, kuliah iya liburan pun jalan. Di tulisanku ini aku akan menceritakan destinasi wisata yang telah aku kunjungi, dan banyak sekali drama yang mengiringinya.

1. Pantai Balangan

Pantai ini letaknya ada di Kuta Selatan. Kami memulai perjalanan dari Kota Singaraja, tepat banget selesai perkuliahan yang saat itu lagi UTS. Karena kami semua masih maba alia mahasiswa baru, jadi sangat semangat sekali untuk liburan kali ini, sehingga banyak sekali kerempongan dan kejadian yang tidak enak kami alami. Saat itu di sore hari yang cowok-cowok janjian ketemuan di gedung rektorat Undiksha, namun semua itu berubah jadi ngaret karena kami kekurangan motor dan helem, akhirnya yang cewek-cewek berangkat duluan.

Ke sana kemari kami mengelilingi Singaraja demi meminjam helem, nasib baik kami dapat helemnya nggak pakai lama. Namun, kami masih belum dapat motor dan hari mulai gelap. Untungnya di kontrakan aku ada motor nganggur milik si Bunga. Bergegaslah motor itu aku ambil dengan temanku. Akan tetapi, setelah mengambil motor kami berdua ketilang gara-gara tidak melihat rambu jalan satu arah yang tertutup dedaunan.

Akhirnya STNK motor itu ditahan. Setelah semua urusan selesai sekitar pukul 19.00 WITA kami berangkat dari Singaraja, sebelum berangkat aku menyarankan temanku untuk menunda perjalanannya karena sudah malam dan jalanan di Bedugul itu ngeri serta minim penerangan.

Dasarnya pada semangat akhirnya kami semua jalan. Benar saja sepanjang jalan Bedugul benar-benar gelap dan kabut pun mengiringi perjalanan kami. Rasanya tanganku mati rasa dan hidung berasa berair. Bermodal Google maps kami semua mengendarai motor dengan hati-hati banget karena banyak sekali tikungan tajam. Namun lagi-lagi kejadian tidak mengenakkan terjadi lagi, Google maps membuat kami tersesat, untungnya semua bisa di atasi. Lebih dari sejam kami telah melewati jalanan itu dan sampailah kami di Kuta.

Kami semua menginap di rumah pamannya temanku sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Pagi pun tiba, kami berangkat ke Pantai Balangan, letaknya pun tersembunyi dan jauh dari pusat kota. Saya sarankan kalau ke sini sewa atau bawa kendaraan pribadi sendiri karena letaknya begitu pelosok dan tidak ada angkutan umum. Walaupun pantai ini pelosok tapi sangat ramai loh, pasirnya lembut dan pemandangannya sangat indah.

Oh ya, kalau kalian ke sini jangan bawa sandal yang licin apalagi sandal jinjit, karena untuk turun ke bawah harus melewati tebing batu karang yang curam dan tajam. Disarankan membawa air mineral sendiri ya, karena tidak ada warung makan di bawah tebing. Di sini kami benar-benar menikmati keindahan pantai ini, angin yang berembus pun menyegarkan. Yang paling penting masuknya gratis loh.

2. Menikmati Subak Jatiluwih

Wisata Jatiluwih ini terkenal dengan keindahan sawahnya, namun bukan sekedar sawah biasa karena ada terasering dan subaknya. Oh ya, pertama kali aku datang ke sini untuk melakukan penelitian tentang subak. Aku ke sana bersama lima orang anggota kelompokku. Kami saat itu berangkat dari Singaraja pukul 17.00 wita, cukup kesorean sih sampai-sampai kita sampai di vila malam hari.

Vilanya itu terletak di daerah Baturiti, jangan tanya dinginnya kayak apa soalnya letaknya di dataran tinggi. Sesampainya di vila kami tidak lansung tidur tapi membahas tugas untuk besok sambil nyemil makanan ringan yang telah kami beli secara patungan. Setelah semua selesai kami semua tidur karena paginya harus ngejar waktu untuk pergi ke Jatiluwih. Pagi pun tiba, kami semua siap-siap sebelum berangkat, setelah semua beres kami berangkat dan mengandalkan Google maps untuk menuju Jatiluwih. Dari vila ke lokasi cukup memakan waktu, karena pakai drama tersesat.

Tapi kalau sudah kejadian seperti ini jangan malu tanya sama warga lokal, pasti ditunjukin kok jalannya. Sepanjang perjalanan ke Jariluwih 100% pemandangannya keren-keren. Kami yang tersesat malah menikmati perjalanannya. Total satu jam kami habiskan untuk sampai di Jatiluwih, kami pun bergegas melaksanakan tugas kampus. Setelah itu, kami menikmati keindahan persawahan Jatiluwih yang terkenal dengan subaknya.

Ngomong-ngomong Subak itu apa sih? Jadi Subak itu adalah sistem pengairan sawah tradisional yang dilestarikan masyarakat sejak dahulu kala. Subak sudah diakui oleh Unesco sebagai warisan dunia lho. Asal kalian tahu pendapatan desa dari kunjungan wisatawan digunakan untuk kegiatan administrasi warganya dan itu gratis.

Uniknya lagi saat musim tanam padi seluruh petani akan menanam dengan padi yang jenisnya sama. Selain itu, petani di Jatiluwih dilarang membakar jerami sebelum petani yang lainnya panen, ada juga larangan mencuri air. Jika melanggar akan dapat hukuman. Setelah selesai menikmati keindahan Jatiluwih, kami semua memutuskan balik ke Singaraja. Oh ya, kalian kalau dari Jatiluwih bisa pergi ke Bedugul lho dan mengunjungi Kebun Raya Bali, kebun stroberi, Danau Tamblingan, Danau Beratan, Danau Buyan, dan Handara (di sini tempat fotonya paling mantap).

Sekitar dua jam kami sampai di Singaraja tidak langsung balik ke kost masing-masing karena harus menyelesaikam tugas lagi. Namun, lagi-lagi kejadian tidak mengenakkan menimpa kami lagi. Seorang teman kami kesurupan sepulang dari Jatiluwih, kami semua panik dan teman-temanku yang lainnya sibuk melantunkan mantra gayatri. Akhirnya semua bisa diatasi berkat bantuan pemuka agama setempat.

3. Air Terjun Jembong

Objek wisata selanjutnya adalah air terjun, wisata ini sangat populer di Buleleng dan menurutku Buleleng itu surganya air terjun, akses ke tempatnya juga cukup mudah. Kami ke sana selalu pada sore hari, alasannya karena adem dan tidak mau kepanasan hahaha. Dari Singaraja ke lokasi tidak sampai sejam dan pemandangan di sana sangat keren seperti di Swiss, terdapat banyak perkebunan warga seperti cengkeh, durian, manggis, dan jeruk yang sangat memanjakan mata.

Jika kalian bawa motor dan takut sama anjing, hati-hati banget karena suka ngejar. Waktu ke sana kami dikejar anjing dan heboh banget sampai minta tolong warga setempat. Dari tempat parkir ke tempat air terjun cukup dekat, biaya parkir cukup Rp1.000 dan tiket masuk ke air terjunnya Rp10 ribu. Di sana selain air terjun juga ada kolam buat mandi yang sumbernya langsung dari alam.

Saranku kalau ke sini jangan sampai kesorean mandinya, karena suhu udaranya cukup dingin. Kalau kalian suka sama air terjun boleh banget berkunjung saat pagi hari, biar banyak waktu untuk mengunjungi objek yang serupa di Buleleng, karena banyak banget loh air terjun di Buleleng.

4. Air Terjun Canging

Seperti yang aku bilang sebelumnya kalau Buleleng itu surganya air terjun, maka objek wisata selanjutnya adalah Air Terjun Canging. Lokasi wisata ini berada di Ds. Sambangan, Kec. Sukasada lebih tepatnya lagi di tengah hutan yang perjalanannya diperlukan tenaga ekstra. Kebetulan waktu aku liburan ke sana rombongan, jadi rame dan bisa mengeluh bareng.

Kami ke sana dimulai dari Singaraja dengan membawa motor. Diperlukan 1 jam lebih untuk sampai ke lokasi karena kami harus melewati hutan, jalanan yang menanjak, rusak dan licin. Namun sebanding dengan pemandangan yang disuguhkan, karena kami bisa melihat bukit-bukit yang menjulang, perkebunan warga, dan menikmati udara sejuk.

Untuk sampai ke lokasi air terjun diperlukan tenaga ekstra karena dari tempat parkir ke lokasi cukup jauh. Kami harus menaiki ratusan anak tangga yang rusak dan licin serta jembatan bambu. Begitu sampai lokasi kami disuguhkan dengan air tejun yang mengagumkan. Selain itu, dalam satu lokasi ini memiliki banyak air terjun, namun sayang kami tidak memiliki banyak waktu untuk mengunjunginya.

Kami menghabiskan waktu dengan mandi bersama dan bermain ikan. Setelah semua selesai kami harus segera balik karena hari mulai petang. Banyak kejadian sebelum dan sesudah dari lokasi ini, seperti rem blong, motor yang tidak kuat menanjak, dan kampas rem berasap. Ini semua terjadi karena jalannya yang cukup curam dan menanjak. Saranku kalau berkunjung ke sini harus membawa motor yang sehat jika perlu motor bergigi, membawa air minum, bawa juga botol bekas untuk mengisi air yang gunanya untuk mendinginkan rem, sering-sering istirahatkan motor, dan harus memakai sandal yang tidak licin.

5. Kintamani, Negeri di Atas Awan

Bagi kalian yang suka sekali keindahan pegunungan tidak ada salahnya datang ke Kintamani, pemandangan di sana sangat keren lho. Untuk perjalanan sampai puncak tidak perlu mendaki, cukup bawa motor yang sehat saja karena di sana banyak sekali tanjakan. Kami semua berangkat dari Kota Singaraja pada sore hari, niatnya sih sambil menikmati matahari terbenam dan pergantian malam tahun baru.

Bermodal keyakinan dan Google maps kami berangkat berlima menggunakan sepeda motor, sepanjang perjalanan kami menikmati keindahan garis pantai yang begitu memanjakan mata hingga Google maps mengarahkan kami untuk belok ke jalan setapak. Kami yakin sekali ini jalan menuju ke Kintamani, akhirnya kami mengikuti petunjuk dari Google maps, sepanjang perjalanan kami merasa curiga karena Google maps mengarahkan kita ke daerah yang sepi penduduk dan jalan yang menanjak dipenuhi pohon jati.

Tanpa pikir panjang, saya tanya penduduk lokal dan jawaban mereka adalah salah jalan. Seketika kami semua putus asa karena sudah menyusuri jalanan ini yang cukup menyita waktu. Karena mengejar waktu kami putuskan turun dan cari jalan lain. Beruntung kami bertemu warga dan menunjukkan jalan yang benar. Hari menjelang malam, kami masih menyusuri jalanan yang minim penerangan dan penuh kabut.

Nasib apes menimpa kami lagi, motor David mengalami ban bocor di tengah perkebunan cengkeh dan jauh dari rumah penduduk. Akhirnya kami dorong motor tersebut dan mencari bantuan warga. Beruntung kami ditolong sama warga sana yang sedang pesta bakar babi guling dan dicarikan bengkel tambal ban, namun semua tutup. Akhirnya, warga setempat mengganti ban dalam motor David dan kami menunggu selama lebih dari sejam karena keterbatasan alat.

Motor pun selesai diperbaiki, tidak lupa aku dan David sekedar basa-basi dan memberi uang ke warga, setelahnya kami melanjutkan perjalanan. Kurang dari sejam kami sampai di tempat tujuan, bergegas kami menemui petugas yang menyewakan tenda dan peralatan, tidak sampai 20 menit semua sudah siap dan kami beristirahat di tenda.

Pukul 00.00 WITA pun tiba, pertanda tahun baru telah tiba, di ketinggian kita melihat petasan yang saling bersahutan dan tidak ada habis-habisnya. Saking serunya menikmati petasan dinginnya udara pegunungan sampai tidak terasa. Pertunjukan petasan yang apik telah usai, kami semua tidur di tenda. Tak terasa pagi pun tiba, kami sangat bersemangat melihat pemandangan matahari terbit, tidak lupa pemandangan negeri di atas awan yang sangat memanjakan mata juga. Kami semua menyempatkan foto-foto untuk kenangan-kenangan.

Pukul 10.00 WITA kami semua memutuskan balik ke Singaraja, dan bersyukur banget saat balik tidak ada drama dan lancar sampai tujuan. Bagi kalian kalau ke Kintamani tidak perlu repot bawa tenda, karena di sana ada penyewaan dan disediakan peralatan lainnya seperti matras, senter, dan kayu bakar. Di sana juga ada fasilitas kamar mandi, cukup bayar Rp5 ribu bisa digunakan sepuasnya.

Jangan lupa juga bawa jaket yang tebal karena di Kintamani lebih dingin dibanding Bedugul, jangan coba-coba berangkat sore kalau tidak tahu jalan nanti akibatnya kayak kami semua. Paling penting lagi bawa bekal makanan dan obat-obatan pribadi ya, karena di sana cukup pelosok.

 

Nama Penulis: Moh. Akmal Singgih Priastomo

Instagram: akmalsinggih

Facebook: Akmal Singgih

Press Enter To Begin Your Search
×