Loading...

Hai, kenalin aku Ratna Widyawati, biasa dipanggil Ratna. Aku berasal dari Kota Solo, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kali ini aku ingin berbagi kepada kalian, tentang liburan pertamaku di masa Adaptasi Kenormalan Baru, simak ya!

Selama berbulan-bulan ku terpaku dan terpasung di rumah, tatkala imbauan untuk mengurangi mobilitas di luar rumah digaungkan. Ya, Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) membawa dampak begitu besar dalam kehidupan sehari-hari. Di mana, aktivitas di luar rumah menjadi sangat terbatas.

Dan kemarin tepat 27 Agustus 2020, untuk pertama kalinya aku keluar rumah dan bisa liburan singkat. Jogja menjadi kota tujuan liburan singkat saat masa adaptasi kenormalan baru. Ungkapan 'Jogja Istimewa' rupanya meninggalkan kesan sendiri bagiku.

Ya, sudah beberapa kali aku singgah di kota yang terkenal dengan kuliner dan budayanya ini. Kota yang berjarak 63 km dari kota Solo ini bisa dijangkau dalam waktu 1 jam 30 menitan. Bersama ketiga rekanku, kita berangkat bersama untuk menikmati liburan di Jogja.

Perjalanan di mulai dari Stasiun Balapan, sebuah stasiun terbesar yang ada di Kota Solo. Tepat pukul 06.35 WIB, kereta prameks tujuan akhir Stasiun Tugu Yogyakarta tiba di jalur dua Stasiun Balapan.

"Cariin tempat duduk ya Na, aku ngikut biar bisa duduk berempat," kata rekanku singkat.
"Eh tapi disilang-silang e, tempat duduknya," jawabku pertama kali melihat tempat duduk yang diberi tanda silang.
"Mbok ya, bilang physical distancing gitu lo, kok disilang-silang," timpal rekanku lainnya.

Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya banyolan terlontar percuma menjadi penghibur kepenatan kita berempat setelah beberapa bulan terkungkung di rumah.

jogja

(Sumber: Flickr.com/ Ya, saya di Bali Timur) 

Perjalanan pun selesai, dan kami tiba di pemberhentian terakhir, Stasiun Tugu Yogyakarta. Keluar dari Stasiun Tugu Yogyakarta, kami melangkahkan kaki keluar. Berjalan ke arah timur Stasiun Tugu, kami menapakkan kaki di kawasan Malioboro.

Tak seperti biasanya, suasana Maliboro terasa lebih lengang dibanding sebelum pandemi Covid-19. Sejauh mata memandang tak banyak wisatawan yang berada di kawasan Malioboro.

Berhubung masih pagi, banyak pedagang yang masih tutup. Kita pun memutuskan mencari makan untuk sarapan di Kawasan Pasar Beringharjo. Menuruti permintaan rekanku yang ingin makan di sana.

"Ke Pasar Beringharjo aja, makan pecel apa kek nanti buat sarapan," katanya singkat. Kami pun berjalan sembari mengangguk, mengiyakan permintaan rekan ku yang satu ini.

(Sumber: Flickr.com/ shankar.s – Jajaran lapak pedagang kaki lima yang menjajakan nasi pecel di Kawasan Pasar Beringharjo sebelum pandemi Covid-19)

Tak terasa kita berjalan kaki sejauh 1,8 km dari kawasan Maliboro menuju Pasar Beringharjo. Sempat bingung sih, karena memang yang dagang nasi pecel di sini banyak.

"Beli di sana aja, yang udah ada pembelinya," kataku singkat.

Kita pun berhenti di salah satu lapak pedagang kaki lima Pasar Beringharjo dan menyantap nasi pecel. Rupanya tidak hanya nasi pecel, ada banyak lauk yang bisa dipilih untuk menemani santapan pagi hari ini. Mulai dari bakwan, mendoan, sate telur puyuh, hingga daging ayam.

Selesai sarapan, kita melanjutkan perjalanan menyusuri Pasar Beringharjo mencari jadah bakar, kuliner yang diimpikan salah satu rekanku. Lucunya, ketika sampai di pangkalan tempat penjual jadah bakar, rekanku justru sibuk membuka maps di handphone-nya. Ia tampak asyik mengetik 'jadah bakar terdekat' di maps.

"Jadah bakarnya mbak," suara seorang bapak di depan mata membuyarkan lamunan kami. Ya, maklum habis sarapan perut kenyang, bawaannya pingin melamun aja kan, hehehe.

Kami pun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan bapak tersebut. Bukan menertawakan perkataan si bapak, melainkan menertawakan kebodohan kita yang tak melihat penjual jadah bakar di depan mata.

Saatnya Pergi ke Taman Sari.......

jogja

(Dok. Pribadi)

Bergaya ala backpacker, kita yang sok kuat mencoba berjalan kaki dari Pasar Beringharjo menuju Taman Sari. Bermodalkan maps di handphone, jarak yang harus ditempuh 1,9 km. Awalnya dengan penuh semangat, kaki terasa ringan berjalan menyusuri jalanan. Tapi karena sebab, perjalanan dilanjutkan menggunakan transportasi online.

"Gini aja, tadi mau jalan kaki," kata satu rekanku seraya tertawa. Seolah mengamini, kita juga ikut tertawa karena merasa sok kuat untuk jalan kaki padahal tidak.

Tiba di Taman Sari, ada pemandangan yang berbeda dari biasanya. Dari kejauhan terlihat tenda dengan bangku berjajar serta tempat mencuci tangan. Ya, benar saja, ada protokol kesehatan yang diberlakukan di sini.

Mulai dari pengecekan suhu tubuh, cuci tangan hingga pembatasan jumlah pengunjung. Puas menikmati satu destinasi wisata sejarah di Kota Yogyakarta, perjalanan dilanjutkan dengan menikmati kuliner rekomendasi lainnya.

Hampir separuh hari kita habiskan dengan mencicipi kuliner-kuliner yang ada di Jogja. Meski singkat dan hanya satu hari, tapi aku bersama rekan-rekanku merasa senang. Akhirnya, setelah berbulan-bulan diam diri di rumah, kita bisa menikmati liburan untuk pertama kalinya.

Sekian cerita liburanku, jika ada waktu dan kesempatan, akan ada cerita liburan lanjutan lainnya yang seru untuk kalian. See you.

Penulis: Ratna Widyawati

Instagram: ratnawidya38

Facebook: Ratna Rara Widya

Twitter: ratnawidy76

Press Enter To Begin Your Search
×