Loading...

Buat sebagian orang, kegiatan bekerja adalah kebahagiaan tersendiri. Entah disadari apa nggak, bekerja sudah menjadi bagian hidup seseorang. Karena disetiap paginya ia selalu bergelut dengan aktifitas yang sama. Berulang-ulang, dan gak pernah berniat mengakhirkan pekerjaannya sebelum masanya. Alasanya, tentu hanya untuk memberikan hidup dan kehidupan bagi keluarganya.

Hal yang sama berakhir dengan bapakku, Anto panggilannya. Pria lahiran 1960 yang kini badannya mulai mengurus, dan rambut putih yang kini nggak lagi dihiraukan beliau. Beliau masih tetap bersyukur bahwa masih ada kesempatan untuk bisa melihat anak-anaknya tumbuh dewasa, berkeluarga, dan berpisah dengannya kelak.

Karena hal seperti itu nggak bisa diperoleh oleh mama dan mbakku yang sudah pergi duluan menemui Allah sebagai pemilik kami. Mereka nggak sempat menikmati indahnya menua, menikahkan anak dan adiknya, melihat cucunya, dan bermain bersama mereka dimasa tuanya, serta anak-anaknya yang berusaha membahagiakannya dimasa tuanya.

Bapakku pensiun sejak Desember 2019 lalu, dan artinya adalah ini saatnya dia untuk menikmati jerih payahnya bekerja sejak muda. Menikmati hilangnya rutinitas 40 tahun yang berulang-ulang, dan kini mengulang-ulang rasa kesepian yang tentu berada setiap saat di sampingnya.

Sebenernya, udah sejak lama bapak aku ajak untuk tinggal bersama, tapi jawabannya melulu seperti ini "GAK BISA,,,, bapak kerja Top!"

Itulah PNS, pekerjaan yang diidam-idamkan setiap jiwa anak Indonesia. Pekerjaan yang sulit didapatkan karena sulit pula untuk diphk, tidak seperti saya. Buruh pabrik yang kalau malas dikit, penghasilan berkurang, lembur nggak dikasih, cuti dipotong…dsb…dsb..

Tapi yah begitulah... namanya juga hidup. Cukup nikmati dan tinggalkan kalau sudah gak kuat. Toh rezeki tak pernah lupa arah tujuannya.

Singkat cerita, aku yang tinggal di Tasikmalaya, dan bapak yang tinggal di Lampung. Tiba-tiba aku telepon dengan dalih ada promo tiket pesawat lampung-bandung. "Pak,  Utop dapet promo pesawat nih pak, terbang dari Lampung ke Bandung cuma 100rb..!!"

Sontak Bapak nggak percaya, tapi dia sudah mengakui kemahiranku mencari teknik diskonan beruntun yang meyakinkannya bahwa ini bukan bohongan.

Tapi ya memang begitu jurusku meluluhkan perasaan bapak yang setiap saat selalu khawatir anaknya mengeluarkan banyak uang untuk membuat bahagianya. Padahal kita nggak pernah khawatir sebanyak apa uang yang sudah dihabiskan saat kecil dulu untuk membuat sebuah kebahagiaan bagi kita sendiri.

Saat waktu berkunjung tiba, ku jemputlah Bapak bersama istri, adik, dan adik iparku di bandara Husein. Dengan wajah bahagia, peluk penuh hangat nan kokoh langsung mendarat di badanku, meski ku tahu pelukan Bapak kini tak bisa seerat dulu.

Sebentar bercakap dan ucap di bandara, kita langsung berangkat menuju "Lembang Bandung", yang memang ku tahu kalau bapak belum pernah ke wilayah itu sedari dulu. Hari-harinya diisi oleh pekerjaan yang tidak terlalu berat, namun harus tetap stanby di kantor setiap jam absen masuk dan pulang.

Sepanjang perjalanan, terlihat bapak terkesima dengan kota Bandung yang selama ini hanya ia dengar dari cerita teman-temannya. Terlihat penglihatan yang fokus ke setiap spot saat ada keramaian, tapi sayangnya akupun tak bisa menjawab apa nama area tersebut. Karena memang aku pun baru beberapa kali ke Bandung.

Sesampainya di penginapan yang sudah ku pesan hari sebelumnya, bapak terlihat kagum melihat fasilitas yang ada di sana, mulai dari kolam renang, tempat makan, tempat bermain anak, dan area luas yang memang dipenuhi taman-taman sambil berbicara lembut di sebelahku : "Mahal ya Top penginapannya??" ucap bapak.

Tentu aku jawab nggak pak, murah kok, cuma Rp100 ribu kamarnya semalem, dapet diskon dan makan pagi lagi di resto depan (papatong).

Seketika senyum tulus seperti terlihat lega kalau perjalanannya ini tidak merepotkan anaknya.

Memasuki malam, Bapak kuajak berkeliling mengelilingi daerah Lembang. Padahal aku sendiri belum hafal daerahnya, seketika kita lurus mengikuti jalan, berbelok sedikit, dan kembali lurus mengikuti jalan. Tiba-tiba sampailah kita di area yang hening, dingin dan ternyata itu adalah area balai inseminasi buatan. Sontak seketika kami pun putar arah untuk ketakutan didinginnya malam ini.

Sesampainya di penginapan, berbekal kopi saset dan gorengan hasil kuriling tadi, dinikmati di teras atap penginapan, sambil menceritakan rencana-rencana yang sudah aku siapkan ke depan untuk Bapak, serta berguming kembali tentang kisah pahitnya perjuangan bapak untuk kami, anaknya.

Malam itu, tidur nyenyak kami pun terasa berbeda, karena melihat langsung bahagianya bapak, punya nilai lebih untuk anaknya, ditambah udara pengunungan yang dingin, serta selimut yang bersih nan hangat menemani tidur lelap kami.

Tak terasa tetiba, adzan subuh berkumandang, segera bapak bangunin kami untuk pergi ke masjid. Memang penginapan kami berdekatan dengan masjid, jadi kumandang adzan terdengar jelas membangunkan. Karena memang jarak penginapan ke masjid hanya berkisar 150 meter.

Dengan paksaan atas kewajiban sebagai muslim, kami pun menerjang dinginnya udara dan bekunya air wudhu daerah lembang di pagi itu. Tapi memang sholat subuh kali ini terasa berbeda, keheningan dan dinginnya subuh lebih terasa khidmat dan nikmat saat kita menghadap sang pencipta, mengharap rasa dan semangat seperti ini akan terulang.

Sehabis subuh, kami kembali menikmati sejuknya pagi dari teras penginapan yang menghadap pegunungan. Suasana berbeda yang pertama kami nikmati bersama bapak, dan tak lupa kami sempatkan mengambil kembali beberapa kenangan untuk kelak menginat masa itu.

Penulis: Rustop Tomy

Instagram: Rustop Tomy

Twitter: Rustop Tomy

Press Enter To Begin Your Search
×