Loading...

(photo source: pixabay.com)

25 Juni 2019 adalah hari untuk pertama kalinya Gue liburan terjauh dan 89% semua Gue yang ngurus, termasuk 3 temen Gue lainnya. Kita berempat naik kereta ekonomi yang sudah dipesan H-30 sebelum keberangkatan. Dengan memakan waktu 16 jam 42 menit akhirnya kita tiba di Stasiun Malang Baru.

Sepuluh menit sebelum sampai stasiun, Gue ngeliat tepat disebelah kiri ada Kampung Warna Warni. Segera Gue searching, apakah tiket masuknya mengeluarkan budget yang besar. Ternyata tidak, harga tiket masuknya yaitu sebesar Rp. 3.000,- saja. Baiklah akhirnya Gue memutuskan untuk bilang mau Kekampung warna warni, sekaligus menunggu waktu chek-in Staycation yang sudah kami booking yaitu pukul 14.00. Karena kami sampai Malang pukul 09.45 keputusan tersebut worth it untuk menunggu sekaligus bisa menambah dokumentasi dan petualangan dengan mereka.

Haripun mulai siang, rasa lapar dan lelah dikereta seharian tak bisa dihindari. Kami pun memutuskan untuk makan dekat tempat kami Stay agar bisa segera istirahat. Karena nanti malam pukul 00.00 adalah waktu penjemputan oleh pihak travel yang sudah kami booking untuk ke Bromo. Yaps, Bromo adalah tujuan utama kami. Pukul 14.00 pun tiba, sesampai di tempat kami stay kami segera membersihkan diri, mengingat  belum mandi tapi udah jalan- jalan ke Kampung Warna- Warni, setelah itu kami istirahat sampai malam.

Derrrrttt derrrtt getar hp-ku, ternyata dari supir travel yang menelepon dan menginformasikan bahwa waktu keberangkatan dipercepat dari semula pukul 00.00 jadi pukul 23.00. Kami bergegas merapihkan apasaja yang dibawa dan berganti pakaian. Oh iya, kami stay tidak jauh dari Stasiun Malang Baru dan perjalanan menuju travel ke Bromo memakan waktu kurang lebih sejam. Sesampainya kami ditravel waahh bener bener menggigil dan kami mencoba menghangatkan dengan memesan kopi hangat dan mie instant sambil menunggu mobil jeep yang sedang disiapkan.

Dan yeaahh waktunya pun tiba. Kami mulai memasuki mobil jeep berisikan 9 orang termasuk supir. Jalan menuju Bromo berliuk liuk menyebabkan 3 temanku pusing dan muntah. Oh iya nama temanku Vita, Arif dan Fikar. Lokasi pertama kami dihantarkan oleh Pak Supir Jeep ke Bukit Sunrise dan dalam keadaan masih gelap sekitar pukul 03.00. Kami menghangatkan tubuh didepan api unggun yang dibayar dengan membeli pangan dari warung mereka.

Mataharipun mulai menampakan sinarnya, kami bergegas naik keBukit Sunrise. Benar- benar diluar dugaan dada ku nyesek bukan main karena dinginnya mencapai -4 derajat. Dan Vita juga tidak kuat karena lemas habis muntah di perjalanan menuju ke Bukit ini. Dengan keadaan yang lemas kami hanya mengabadikannya dalam foto singkat dan kembali bergegas ke Jeep untuk istirahat.

Ini adalah salah satu foto kami di Bukit Sunrise ketika matahari masih malu menampakkan sinarnya. Perjalanan dilanjutkan lokasi selanjutnya yaitu pasir berbisik, karena waktu yang semakin siang udara pun tidak sedingin tadi pagi. Matahari sudah terik dan kami sehat dengan sendirinya.

Tapi lagi-lagi perkiraan Gue salah karena memakan waktu yang cukup lama perjalanan di Bromo dan juga memang pasti begadang. Perkiraan yang salah dan sangat fatal yaitu tidak membawa bekal (makanan). Benar-benar sangat lapar disanapun tidak ada yang berjualan hanya ada mobil mobil Jeep dan kuda.

Dan waktupun bergulir begitu cepat waktu di bromo pun habis daan kami segera dihantarkan kembali ketempat Stay kami. Sesampai ditempat stay kami kembali mengisi perut kami yang sudah tidak tertahankan lagi perihnya dan kembali beristirahat mengingat perjalanan ke Bromo dengan begadang.

Krriinggg kringgg alarm hp berbunyi kembali pukul 19.00 tepat kami segera bergegas untuk ke perjalanan kami selanjutnya ke daerah Batu, katanya sih Batu itu adalah puncaknya Malang atau sama dengan Puncak Bogor. Dengan biaya tiket masuk sebesar Rp 40.000,- tanpa bermain wahana, ya kami ke Batu Night Spectacular. Ternyata tempatnya tidak asing seperti pasar malam modern di Jakarta. Kami bermain wahana dan masuk ke rumah Hantu. Waktupun bergulir tanpa terasa semakin malam kami memutuskan untuk memesan kendaraan online untuk menuju ke tempat stay kami kembali.

Hari ini adalah hari ke tiga sekali gus hari terakhir di kota impian yang sudah kami planning jauh jauh hari. Dengan berat hati kami akan meninggalkan. Tapi karena Gue gam au menyianyiakan hari terakhir Gue. Gue dan Fikar bangun pagi untuk lari pagi ke Stadion Gajayana yang tidak jauh dari tempat Stay kami sekitar 20mnt dengan berjalan kaki. Setelah lari pagi kami membeli oleh oleh yang kemudian  disusul dengan Vita dan Arif.

Pukul 11.00 kami sudah sampai kembali di tempat Staycation kami untuk membereskan barang yang kami bawa karna waktu check-out akan tiba. Karena pulang naik kereta adalah pukul 15.45 akhirnya kami memutuskan untuk ke Alun-ALun Tugu Malang. Dengan menggunakan kendaraan yang dipesan online. Wow kami dikejutkan dengan bangunan yang mirip dengan Museum Kesejarahan Jakarta atau orang orang lebih mengenal dengan nama Museum Fatahillah. Benar benar mirip sekali. Kami mulai mngelilingi dan tak lupa mengabadikannya dengan mengambil beberapa foto di Tugu Malang.

Setelah pukul 14.30 kami memutuskan untuk ke Stasiun karena matahari yang semakin terik. Tapi apa yang terjadi, ternyata Vita baru tersadar kamera yang kami gunakan untuk mengambil foto di Bromo tidak ada. Gue mengambil seribu langkah dengan mengirim email ke customer service kendaran online karena nomor supir kendaraan online tadi tidak dapat dihubungi. Dan ternyata tidak tertinggal dimobil kendaraan online tersebut. Dengan kekhawatiran yang memuncak akhirnya Vita ngambek sama Arif karena dia yang seharusnya bertanggung jawab mambawa kamera. Akhirnya diingat ingat kembali kami emutuskan untuk ketempat staycation kami dan Alhamdulillah masih rezeki kami kamera pun masih ada, tertinggal di Receptionist.

Dengan waktu yang mepet kami harus terburu-buru kembali ke Stasiun dan untung tidak tertinggal. Perjalanan pulangpun memakan waktu yang sama seperti berangkat 16 jam lebih. Seseru itu ketempat impian kami dan tempat itu menambah erat persahabatan kami walaupun harus sakit karena kedinginan, harus perih perut karena tidak membawa bekal dalam perjalanan ke Bromo, dan harus ada ngambek dan nangis karena hampir kehilangan kamera, karena kalau kameranya hilang kami tidak akan ada foto satupun di Bromo, karena waktu di Bromo foto hanya menggunakan kamera. Tidak habis piker kalau kamera benar-benar hilang karena tempat yang kami impikan tidak aka nada dokumentasinya.

 

Penulis: Nur hasiyah

Instagram: Nhasiyah_

Twitter: N_hasiyah

Facebook: Nur hasiyah

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×