Loading...

Pulau Padar. Sumber foto: Dok. pribadi

Labuan Bajo adalah salah satu tempat yang paling ingin kukunjungi, setidaknya sekali seumur hidup. Bukan tanpa alasan kenapa tempat ini begitu menarik. Selain Komodo dragon, pemandangan alam yang level keindahannya mendekati unreal membuatku semakin yakin harus mengunjungi tempat ini.

Starting point-ku untuk ke Labuan Bajo adalah di Kota Makassar. Setelah puas jelajah kota terbesar di Pulau Sulawesi ini, aku ingin melanjutkan ke Labuan Bajo. Saat itu adalah awal Juli 2018. Mulai lah cek harga transportasi ke sana. Aku buka aplikasi pemesanan tiket—yang logonya suka bikin salah pencet ketika kita mau buka aplikasi cuitan, tahu kan maksudku?—dan cek penerbangan Makassar – Labuan Bajo. 

Harganya mahal, setidaknya buatku, karena memang pesawat harus transit terlebih dahulu, entah di Bali atau Jakarta. Akhirnya kuputuskan untuk naik kapal laut saja. Aku pesan online dan keesokan harinya aku ke kantor perwakilan kapal untuk mengambil tiket. Harganya? Rp176,500. Murah, kan? Jadwal kapal laut dari Makassar ke Labuan Bajo ada setiap lima hari, sedangkan untuk kembali ke Makassar bisa juga naik kapal laut. Jadi ini sangat cocok kalau punyak waktu luang / cuti yang panjang namun budget terbatas. Tinggal cocokin jadwal kapal untuk pergi dan pulangnya. So, let’s go!

Aku berjalan menyusuri Jalan Penghibur dari penginapan menuju pelabuhan. Jalanan ramai di malam hari. Aku bakal kangen dengan pisang epe’ yang tumpah ruah di sini, kangen dengan buroncong (kue seperti pukis tapi ada parutan kelapa di adonannya. Enak banget!) di pagi hari, serta jalang kote dan lumpia di waktu sore. 

Aku tiba di pelabuhan Makassar jam 9 malam karena kapal berangkat jam 11 malam dan penumpang harus berada di pelabuhan dua jam sebelumnya. Anyway, pelabuhannya modern dan nyaman, nggak salah kalau kota ini menjadi hub di Indonesia timur. Perjalanan akan ditempuh sekitar 19 jam. Jadi akan sampai Labuan Bajo pada jam 6 sore besoknya. 

 

Pemandangan dari atas bukit di Pulau Kelor, Labuan Bajo. Foto: Dok pribadi

Sedikit info nih, karena di kapal tidak ada pembagian kelas seperti ekonomi, bisnis, eksekutif (semua dipukul rata jadi ekonomi) maka jika ingin mendapatkan kenyamanan selama perjalanan, kita bisa sewa kabin. Harganya tergantung negosiasi. Cincai lah. Nanti ada 2 atau 3 orang penumpang yang berbagi kamar dengan kita. It’s not really bad karena ada tempat tidur, colokan listrik, televisi (gambarnya seperti semut, maklum di tengah lautan) dan kamar mandi di dalam kabin. 

Kapal tiba di Labuan Bajo pukul 6 sore, tepat sebelum matahari terbenam. Indah sekali. Kapal-kapal bersandar berlatar sinar matahari sore berwarna keemasan. Aku berjalan menuju penginapan. Anyway, saat itu pembangunan jalan dan beberapa proyek sedang berlangsung, jadi jalanannya berdebu. Banyak sekali tempat menginap di sini, mulai yang murah sampai resort / hotel berbintang. Aku menginap di penginapan seharga Rp116,000 per malam, dengan bunk bed di kamar berkapasitas 10 orang, dan sepertinya aku satu-satunya tamu lokal di kamar itu. 

Malamnya aku pergi ke Kampung Ujung, sebuah area dekat pelabuhan yang menjual berbagai makanan, mulai nasi goreng sampai seafood. Selesai makan, aku pergi ke agen wisata yang menyediakan paket island hopping ke pulau-pulau di kawasan Taman Nasional Komodo. 

Aku memilih paket 1-day tour seharga Rp450,000 per orang, sudah termasuk makan siang, kopi / teh dan snack. Namun, tidak termasuk harga tiket masuk ke Loh Buaya di Pulau Rinca yakni Rp90,000 per orang untuk wisatawan lokal. Ada 4 tempat yang akan dikunjungi, yakni Pulau Padar, Loh Buaya di Pulau Rinca, Pantai Manjarite dan terakhir adalah Pulau Kelor. Ini adalah open trip, jadi nanti aku akan bergabung dengan para wisatawan lainnya. Tidak lupa aku membawa air mineral tambahan dan sunscreen  karena cuaca akan sangat panas. 

Keesokan harinya jam 5.30 pagi rombongan berangkat dari pelabuhan menuju tempat pertama dan terjauh yakni Pulau Padar. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 4 jam. Ada sekitar 12 wisatawan di kapal, sebagian besar dari Eropa dan hanya aku wisatawan lokal. Sepanjang perjalanan ke Pulau Padar, kami menghabiskan waktu, ada yang tidur di atas atap kapal, ngobrol ngalor ngidul dan ada juga yang menikmati pemandangan. 

“How much time do you have for this trip?” tanyaku ke orang Jerman, simply karena yang lain berbicara bahasa-bahasa negara Eropa lainnya dan aku tidak mengerti.

“Two years. But I have two months left.” Jawabnya santai. Jadi dia punya waktu dua tahun untuk travelling. Dia sudah menjelajahi Amerika Selatan, Eropa, India dan Asia Tenggara. Sekarang tinggal 2 bulan lagi waktu liburannya. “Liburan 2 tahun. Gila ini orang,” batinku. Ini yang paling kusuka saat solo travelling, bisa ketemu orang-orang baru dan berbagi cerita dan pengalaman. Sekaligus termotivasi.

Sepanjang perjalanan ke Pulau Padar terdapat deretan pulau dengan bukit yang berwarna cokelat terang karena tandus dan padang rumput mengering, terkesan dramatis, kontras dengan warna biru lautan. Pertengahan tahun adalah waktu terbaik mengunjungi Labuan Bajo, karena saat itu cuaca cerah. Dan itulah sebabnya mengapa catamaran, phinisi dan liveaboard meninggalkan kawasan Papua Barat menuju Labuan Bajo, karena di sana (Papua Barat) pada pertengahan tahun cuaca justru tidak bagus.  

Tak terasa kami sampai di Pulau Padar. Ini adalah pulau terbesar ketiga di kawasan Taman Nasional Komodo setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Kami langsung menaiki bukit untuk melihat keindahan dari puncak. Tak terhitung berapa ratus tangga menuju ke sana, dan di bawah terik matahari membuat siapa saja merasa antara semangat dan putus asa. Namun semua terbayar setelah sampai puncak. 

Teluk-teluk berbentuk hampir setengah lingkaran berada di sisi kiri-kanan pulau, seakan membelah dan menyisakan sedikit bukit batuan di antara teluk yang membelakangi satu sama lain. Tak berhenti di situ, karena bukit di antara teluk-teluk itu berakhir dengan gunung terjal yang ditutupi sabana kering berwarna coklat keemasan di ujung pulau. Pemandangan ini seakan membawaku kembali ke jaman Jura ratusan juta tahun yang lalu. Membayangkan pterodactyl terbang di atas pulau, stegosaurus di tengah padang rumput, brontosaurus menyusuri teluk, wah, keren sekali.

Puas dengan Pulau Padar, kami menuju Loh Buaya di Pulau Rinca. Di sini adalah tempat hidup komodo selain di Pulau Komodo, tentunya. Kami langsung melakukan registrasi dan membayar tiket masuk (usahakan untuk membawa uang pas agar registrasi lancar). Setelah itu, rombongan akan didampingi ranger, sebutan untuk pemandu di sini. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti orang yang sedang menstruasi / ada luka dilarang berkunjung ke sini, dilarang berjalan sendirian apalagi melewati batas “no trespassing” (dilarang melewati batas ini), dan pastinya dilarang mendekati komodo.

Ada 3 komodo dewasa yang sedang “mager”. Semua antusias ingin mengabadikan moment dengan berfoto yang seakan-akan mereka berada di belakang reptil purba tersebut.  Namun keadaan berubah ketika tiba-tiba ada komodo besar lainnya datang dan perkelahian pun terjadi. Suara komodo seperti desisan ular namun jauh lebih keras dan kuat. Setelah adegan dua menitan itu, ranger bertanya kepada pengunjung apakah ada lagi yang mau “selfie” dengan komodo. Dan semua kompak bilang “Tidak, terima kasih!” 

Perjalanan dilanjutkan dengan short trekking di sekitar Loh Buaya. Di sini lingkungannya tandus, namun pohon-pohon lontar yang menjulang membuat landscape sedikit lebih hidup. Ranger menjelaskan tentang kehidupan reptil yang memiliki nama ilmiah Varanus komodoensis itu. Mulai bagaimana mereka “merampas” sarang burung (lubang di tanah) untuk menempatkan telur-telur mereka sampai sifat kanibalisme di antara mereka. Hidup ini keras, bro!

Komodo sedang "mager". Sumber foto: koleksi pribadi

Selanjutnya kami menuju Pantai Manjarite. Ini adalah tempat snorkelling yang bagus. Airnya jernih dan terumbu karangnya luas sekali. Aku menyempatkan untuk berenang beberapa saat, setelah itu istirahat di jetty dengan latar belakang pemandangan bukit yang sangat indah. Singkat saja waktu yang dihabiskan di sini karena banyak kapal yang antre. Kami melanjutkan ke tempat terakhir, yakni Pulau Kelor. 

Pulau Kelor adalah pulau kecil dengan bukit terjal yang menjadi persinggahan kapal sebelum kembali ke Labuan Bajo. Kami berpencar. Ada yang duduk-duduk di pantai, berenang, foto-foto pemandangan atau sekedar bersantai minum kelapa muda. Aku membeli kelapa muda seharga Rp25,000. Aku mendaki bukit karena sepertinya tidak terlalu tinggi. Memang tidak terlalu tinggi sih, namun kemiringan yang terjal dan tanah kering justru licin membuat pendakian sangat menantang. Ditambah satu tangan memegang kelapa muda, uh, kekar lenganku. Namun, saat sampai di atas, pemandangannya bagus sekali! Gradasi warna mulai pasir putih bersambung dengan warna air laut yang biru toska dan semakin jauh semakin gelap warna birunya. Tidak berhenti di situ, di seberang terlihat gugusan perbukitan berbentuk segitiga dengan warna hijau dari vegetasi di bawah bukit, dan cokelat terang dan abu-abu menutupi lereng hingga puncak bukit. Perahu yang berlalu-lalang menambah suasana menjadi vibrant. Tak ingin menyianyiakan momen, aku mengambil foto dari puncak bukit. Aku mengambil foto kelapa muda dengan pemandangan tersebut. 

Kami sampai di Labuhan Bajo sekitar pukul 6 sore. Tidak terasa lelah karena masih larut dalam perasaan takjub dengan apa yang kulihat selama island hopping. Mengunjungi pulau-pulau di Taman Nasional Komodo dan melihat langsung komodo adalah pengalaman yang sangat berharga. Memang belum bisa mengunjungi tempat-tempat lain di sekitarnya seperti Pulau Komodo, Pink Beach, Gili Lawa Darat, Manta Point dan masih banyak lainnya, namun tetap saja, ini sangat berkesan. Dan Labuan Bajo sepertinya bukan tempat yang wajib dikunjungi sekali seumur hidup, karena aku pasti akan kembali melihat keindahan di sana. Semoga.

Penulis: Rangga Yanwar Pratama

Instagram: Ranggainthezone

Twitter: ranggainthezone

 

Press Enter To Begin Your Search
×