Loading...

www.pixabay.com

Perjalanan trip saya ke Labuan Bajo dimulai pada Minggu pagi, tanggal 27 Oktober 2019 ditemani teman baik saya, Nynda. Kami memilih untuk transit dan bermalam di Bali sehari sebelumnya demi mendapatkan harga tiket pesawat yang ramah di kantong dan yaa hitung-hitung latihan tahan terik matahari sebelum 3 hari berpanas ria di Labuan Bajo. Berhubung trip Labuan Bajo kami menggunakan jasa travel, pusat perhatian kami lebih ditujukan untuk memaksimalkan liburan singkat kami di Bali. Jadi… jauh sebelum berangkat, kami sudah menyusun beberapa rencana mulai dari destinasi yang akan dikunjungi saat di Bali, memilih hotel yang terjangkau dari segi lokasi dan biaya, juga transportasi yang akan digunakan untuk mobilisasi. Membuat rencana perjalanan ini cukup penting sih untuk yang mau “sekali mendayung dua pulau terlampaui” alias mampir liburan seperti kami. Di Bali kami berkeliling menggunakan motor sewaan mengunjungi Ubud Monkey Forest, Pantai Melasti, dan pusat perbelanjaan oleh-oleh.

Esok paginya pukul 10.00 WITA kami tiba di Bandar Udara Komodo. Kesan pertama saya ketika keluar dari bandara adalah… panas banget. Sangat sedikit pohon disini, bahkan bisa dibilang gersang. Tidak jauh dari bandara, laut dan perbukitan mulai menampakkan sosoknya perlahan hingga mobil jemputan kami tiba di Kampung Ujung, tempat banyak kapal berlabuh termasuk kapal yang akan kami berdua naiki. Di sekitar sini hampir semua penduduk berprofesi sebagai nelayan. Setibanya di dermaga kami dijemput menggunakan boat menuju kapal pinisi yang sudah bersandar tak jauh dari tempat penjemputan. Kebetulan paket liburan kami adalah sailing, jadi selama 3 hari 2 malam kami terombang ambing di laut sampai-sampai saya mabok ketika mandi hari ke-2 (maklum kamar mandi hanya cukup untuk diri sendiri).

Kapal pinisi kami mulai berlayar pukul 13.00 WITA setelah semua perserta trip sudah lengkap di dalam kapal. Tak lama kapal mulai berlayar, kami disajikan makan siang oleh dua awak kapal yang juga merangkap sebagai koki. Sungguh tak ada yang dapat mendeskripsikan nikmatnya menyantap ikan dan jus jeruk di geladak kapal sambil menikmati teriknya matahari Flores. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa indahnya. Jernihnya air laut, pasir putih disisian pantai, pulau-pulau tak berpenghuni yang membentuk perbukitan, dan birunya langit sejauh mata memandang menjadi memori yang takkan pernah terlupakan.

Tujuan pertama kami adalah Pulau Kelor, pulau berbentuk bukit yang memiliki jalur pendakian cukup curam. Sangat melelahkan bagi kaum rebahan seperti saya karena yesss medannya benar-benar bebatuan terjal, ditambah lagi sandal saya putus waktu turun dari puncak bukit. Sangat menyesal tidak membawa sepatu dari awal. Tapi sungguh pemandangan yang disuguhkan dari puncak bukit Pulau Kelor tidak mengecewakan. Warna gradasi air laut dan bukit yang menjulang di depan pulau ini menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan. Setelah mendapat foto-foto cantik, kami melanjutkan perjalanan menuju salah satu rumah komodo di Loh Buaya (Pulau Rinca).

Pulau Kelor

Di Pulau Rinca ini kami membayar tiket masuk kurang lebih 150-200 ribu per orang. Ditemani Ranger atau pemandu wisata, kami diajak berkeliling Pulau Rinca sambil dijelaskan seluruh informasi mengenai komodo dan kehidupannya, fun fact ternyata komodo jantan sering menjadi kanibal, santapannya adalah telur-telur yang terlepas dari jangkauan si induk komodo. Penting untuk selalu menggunakan sunblock dan membawa payung atau topi karena teriknya matahari seperti membakar kulit, angin pun hanya datang semaunya. Setelah puas berkeliling, kami diantar menuju spot tersembunyi di puncak bukit Pulau Rinca dimana terhampar luas padang perdu sejauh mata memandang ditambah birunya laut tanpa ujung di sisi lainnya. Hari pertama kami ditutup dengan menyaksikan ratusan bahkan jutaan kelelawar yang keluar saat matahari mulai tenggelam di Pulau Kalong, tak jauh dari Pulau Rinca. Semburat jingga dan meriahnya kelelawar yang berterbangan sangat meromantisasi suasana. Kami sudah menunggu sejak satu jam yang lalu untuk bisa menyaksikan para penjelajah malam itu.

Setelah bermalam di Pulau Kalong, besoknya kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Padar dan Pantai Pink (Long Beach). Pulau Padar ini sangat tinggi dan lebar, tersusun dari beberapa bukit menjadikan Pulau Padar memiliki pemandangan yang tiada duanya. Perjuangan untuk mencapai puncaknya luar biasa, saya harus beberapa kali istirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Untungnya di pulau ini sudah dibangun anak tangga sehingga mudah untuk dilalui wisatawan. Meski begitu, beberapa teman saya banyak yang menyerah tidak melanjutkan mendaki karena kehabisan tenaga. Saya juga hampir menyerah, tapi kalau sudah jauh-jauh kesini tidak maksimal takut malah menyesal. Sesampainya dipuncak semua lelah kami rasanya luntur begitu saja, pemandangannya menakjubkan. Saya menikmati tiap senti pemandangan langka ini dan puas menjajal berbagai gaya untuk difoto sampai tidak terasa matahari mulai meninggi. Setelah mendapat arahan dari tour guide kalau terlalu lama disini nanti bisa-bisa ketinggalan pesawat, kami bergegas melanjutkan perjalanan menuju Pantai Pink. Sesuai namanya, pasir yang terhampar disini berwarna pink bukan karena filter kamera melainkan memang benar seperti itu adanya. Konon warna pink ini berasal dari terumbu karang berwarna merah yang terus menerus tergerus ombak, jadilah serpihan karangnya terbawa arus dan menyatu dengan pasir di sepanjang Pantai Pink.

Pulau Padar

Destinasi tujuan akhir kami adalah Manta Poin dan Pulau Kanawa. Manta Poin adalah tempat pembuktian keahlian renang masing-masing karena sepertinya Manta senang bermain kejar-kejaran. Sudah menggunakan segala strategi pun tetap saja Manta hanya berlalu menjauhi kami. Bahkan salah satu teman kami tertipu dengan karang yang menyerupai Manta. Karena sudah lelah tidak kunjung bisa melihat Manta dari dekat, kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Kanawa.  Pulau Kanawa merupakan pulau yang paling banyak penghuni lautnya. Ketika kami mulai mendekat ke dermaga saja sudah disambut puluhan ikan warna-warni yang bergerombol di bawah kapal. Disini kami boleh memberi makan ikan dengan roti asalkan mengetahui batasannya, “kalau sudah terlalu banyak jangan dikasih lagi” begitu kata penjaga pulau. Beruntungnya lagi, kami menemukan penyu sedang melintas di pinggir dermaga yang mana pada akhirnya membuat kami lompat satu persatu saking tidak tahan melihat pesonanya. Kalau kalian melihat foto-foto yang beredar di internet, pasti Pulau Kanawa identik dengan jembatannya. Pulau ini berpenghuni tidak seperti pulau lain yang sudah kami kunjungi, ada rumah makan persis di pinggir pantai. Tidak terlalu gersang juga tidak terlalu sejuk. Sangat cocok sebagai penutup liburan kami di Labuan Bajo.

Pulau Kanawa

 

Nama Penulis: Safira Amalia

Instagram: www.instagram.com/safiramaliaa/

Twitter: www.twitter.com/safiramaliaa

Press Enter To Begin Your Search
×