Loading...

Foto: Dokumentasi Pribadi

Tahun 2015 lalu, bisa dibilang sebagai cerita awal dari segala petualangan yang akan saya jalani hingga di detik tahun 2020 ini. Masih ingat betul bagaimana rasanya setiap malam sebelum tidur, selalu menyusun dan menyocokkan jadwal dan rute perjalanan, menyisihkan uang jajan bulanan, hingga akhirnya berhasil melakukan perjalanan liburan darat pertama dari Bandung menuju Lombok dalam waktu 7 hari dengan biaya 1 juta. Cerita di usia 20 tahunan itu lah yang menjadi awal jatuh cinta saya pada dunia traveling.

Banyak yang bilang, segala sesuatu yang pertama itu pasti akan berkesan. Ya! Saya adalah korban dari keterkesanan sebuah perjalanan huru-hara dan menyenangkan di akhir Desember 2015. Sebagai anak yang memang sedari dulu jarang bergaul dan pergi jauh, memutuskan untuk traveling ke seberang pulau bisa disebut sebagai salah satu upaya pencarian jati diri dan keluar dari zona nyaman. Lombok pun dipilih karena ada begitu banyak tempat indah di sana yang sering saya lihat melalui tv. Jadi sepertinya, liburan ke sana pasti akan berkesan sekali.

Dibanding traveling, saya lebih senang menyebut perjalanan liburan ini dengan kata “backpacker”. Ntah lah, selain karena memang banyak orang yang mengartikan bahwa backpacker itu salah satu tipe traveling hemat budget, kebetulan memang ketika melakukan perjalanan traveling jauh pertama kali ke Lombok saat itu, saya memang menggunakan sebuah ransel besar berukuran 35 liter yang biasa digunakan untuk mendaki gunung. Waduh, tidak terbayang, deh rasanya kalau harus memilih menggunakan koper besar untuk 7 hari perjalanan darat dan harus sambung menyambung kendaraan, dari mulai kereta, bis hingga kapal laut.

Stasiun Kiara Condong, Kota Bandung merupakan titik utama dari perjalanan backpacker pertama ini. Bersama dua teman kuliah saya yaitu Nida dan Miftah, kita bertiga memulai perjalanan dengan kereta ekonomi Pasundan menuju Stasiun Kediri. Berhubung kita adalah mahasiswa dana pas-pasan, jadi salah satu cara untuk menekan budget menuju Lombok adalah dengan menggunakan kereta api beberapa kali, atau disebut dengan “Ngeteng”. Karena sifatnya adalah ngeteng, jadi saya sudah menyusun dengan rinci setiap jadwal jam keberangkatan dan kedatangan dari setiap kereta agar bisa pas apalagi tertinggal.

Ah, ya! Perjalanan ini semakin berkesan pula karena ini lah kali pertamanya juga kita bertiga pergi bersama, perempuan semua pula. Serasa jadi srikandi berransel yang siap berpetualang, deh.

Foto: Dokumentasi Pribadi

Tidak seperti sekarang, dulu saya memesan tiket kereta ekonomi ini di supermarket dengan harga sekitar 35 ribu untuk tujuan Bandung-Kediri. Harga yang cukup impas dengan efek sakit pinggang yang saya rasakan untuk duduk dari jam 6 sore hingga tiba di tujuan jam 7 pagi. Ya mau bagaimana lagi, dompet mahasiswa masih belum mampu untuk beli tiket eksekutif. Tapi justru ini lah pengalaman berkesan lainnya. Bisa saling sapa dengan penumpang lain yang duduk berhadapan dan beradu dengkul kaki saking sempitnya area kursi ekonomi.

Setibanya di Stasiun Kediri, saya melipir sebentar ke luar untuk membeli nasi bungkus sebagai menu sarapan pagi itu. Sekitar  beberapa jam kemudian, saya melanjutkan perjalanan kembali dengan kereta ekonomi Kediri-Jember. Tapi sial, karena kereta yang saya naiki ini mengalami keterlambatan, akhirnya merembet pula pada jadwal kereta yang harus saya naiki selanjutnya ke Banyuwangi. Hanya selang 5 menit ketika tiba di Stasiun Jember, kereta lokal menuju Banyuwangi yang sudah saya pesan ternyata baru saja berangkat. Hangus sudah , deh tiketnya! Lagi-lagi, ini menjadi pengalaman berkesan lainnya di perjalanan segala serba pertama saat itu. Kebetulan, kereta menuju Banyuwangi yang saya pesan itu adalah kereta terakhir keberangkatan hari itu. Jadi, mau tidak mau saya harus menunggu keesokan harinya untuk melanjutkan perjalanan. Cukup membuat saya panik dan takut! Tapi untungnya saya memiliki partner jalan yang bisa menjadi penenang.

Akhirnya, sekitar jam 8 malam, setelah bertanya-tanya pada petugas stasiun, kita memutuskan untuk memilih naik bis antar provinsi menyebrang ke Banyuwangi. Dari pada jadwal yang sudah disusun jadi molor semua, lebih baik berkorban uang lain saja.

Bis malam memang semuanya setipe ya, sepertinya. Ugal-ugalan dan bikin pusing haha.

Setibanya di Banyuwangi, saya melanjutkan perjalanan menggunakan ojek menuju Pelabuhan Katapang untuk menyebrang ke Pelabuhan Gilimanuk, Pulau Bali. Wah! Ini kali pertamanya saya naik kapal laut. Ternyata suasana pelabuhan itu tidak pernah tidur ya, 24 jam penuh orang menyebrang.

Siapa sangka ternyata perjalanan dari Gilimanuk menuju pusat Kota Bali itu sungguh jauh. Saya harus menaiki sebuah bus ¾ yang lagi-lagi dikendarai dengan ugal-ugalan. Ya, namanya juga nasib penumpang yang bayar tiket hanya 20 ribu. Baru mau lelap sebentar, langsung terbangun karena kaget oleh cara menyetirnya. Duh!

Belum hilang sakit pinggang di kereta ekonomi kemarin, pinggang saya sudah ditambah remuk lagi dari jok bis ugal-ugalan tadi. Ini nih yang namanya sengsara, tapi sungguh nikmat dan berkesan! Tiba di Pelabuhan Padangbai, saya kembali melanjutkan perjalanan akhir untuk menyebrang ke Pulau Lombok. Ah, rasanya campur aduk bisa sampai di titik ini setelah hampir 2 hari perjalanan.

Woh, jangan tanya gimana keadaan muka dan badan saya ya. Aroma dan bentukannya tidak jelas! Untungnya karena saat itu keadaan kapal lautnya tidak terlalu ramai, jadi saya bisa dengan leluasa bersih-bersih dan tiduran di dek kapal ditemani semilir angin laut. Ah, ini ternyata rasanya di kapal laut, berasa di Titanic versi low budget. Berhubung saya menyebrang di siang hari dan cuaca sedang cerah, buru-buru lah saya banyak mengambil foto. Sepertinya, kalau dulu sudah hits Instagram, pasti saya masuk ke tim gerak cepat upload foto untuk pamer di kapal laut.

Sejauh mata memandang, saya melihat ada beberapa kapal besar dan kecil yang lalu lalang di tengah laut. Ada beberapa pulau kecil yang dipenuhi dengan pohon-pohon sekitar dan para nelayan yang sedang menyandarkan kapalnya. Warna air lautnya sungguh jernih dan cukup tenang tanpa ombak. Hampir 2 jam perjalanan, kapal mulau bersandar ke dermaga Pelabuhan Lembar, Lombok. Alhamdulillah. Saya akhirnya bisa menginjakan kaki ke salah satu tempat liburan yang sudah diidamkan dari dulu ini tanpa drama mabuk laut.

Ah, iya. Sebelum esok harinya mendirikan tenda di pinggir Pantai Sengigi dan Gili Trawangan, untuk malam hari ini saya memutuskan untuk ikut menginap di salah satu teman yang kebetulan tinggal di Mataram. Namanya Mbak Nity. Dia merupakan kenalan saya dari facebook dan dengan senang hati mengijinkan para perempuan-perempuan yang sudah remuk badannya ini untuk menginap semalam di rumahnya. Ini adalah pengalaman berkesan lainnya yang saya dapatkan di backapckeran saat itu, yaitu menginap di teman yang sebelumnya hanya saya kenal sebatas di media sosial. Begitu besar dan bermanfaatnya ya media sosial!

Keluarga Mbak Nity adalah keluarga yang sangat hangat dan ramah dalam menyambut saya dan kawan-kawan. Bahkan mereka menyuguhkan beberapa masakan khas Lombok yang enak. Alhamdulillah dipertemukan dengan orang-orang baik dalam perjalanan ini.

Oh, iya! Selain bertemu dengan Mban Nity, saya pun sempat berkenalan dengan seorang warga lokal Lombok yang kebaikannya tidak bisa saya lupakan. Bodohnya, saya lupa tidak bertukar nomor telepon. Beliau ada seorang nenek paruh baya yang memberikan tumpangan tidur ketika terlunta-lunta kemalaman ketika menuju Pantai Kuta, Lombok.

Ada kejadian yang memang cukup membuat saya deg-degan saat itu karena sedang nego harga dengan tukang angkot, yang jatuhnya terlihat seperti memalak. Biarpun kita bertiga terlihat berani, namun tetap saja sisi feminin dan rasa takut sempat datang ketika menghadapi kondisi itu. Tiba-tiba saja nenek ini pun datang menolong dan mengajak ke rumahnya. Masyallah, lagi-lagi dipertemukan dengan orang baik.

Keesokan harinya, saya dan kawan-kawan pamit untuk kembali ke Pelabuhan Lembar guna melanjutkan perjalan kembali ke Bali. Saya ingat betul, walaupun beliau jarang berbicara, namun beliau sempat mengatakan bahwa merindukan anak-anaknya yang merantau ke Banyuwangi dan jarang pulang. Pantas saja di rumah biliknya ini, beliau hanya seorang diri saja. Seketika saya teringat akan Mama dan Papa yang kebetulan memang ditinggal merantau anak-anaknya juga untuk berkuliah di luar kota.

Kalau ditanya perjalanan paling mengesankan dalam hidup saya apa, sudah jelas perjalanan ini. Begitupun jika ditanya, perjalanan impian apa yang sebenarnya saya impikan selain pergi ke New Zealand? Saya berharap agar kelak bisa kembali mengulang perjalanan dan backpacker ke Lombok dengan cara yang sama seperti 2015 lalu. Masih banyak tempat dan budaya yang ingin dieksplore. Ada banyak pelajaran yang bisa saya temukan selama berhari-hari di jalan. Bertemu dengan orang-orang baru yang memberikan kesan cukup mendalam dan masih saya ingat hingga kini. Fisik lelah, emosi yang naik turun, seakan jadi teman dekat liburan saat itu. Namun rasanya semuanya terbayar lunas ketika berhasil datang ke tempat yang sudah saya list dan impikan di Lombok. Bangga karena bisa keluar dari zona nyaman sehari-hari sebagia anak rumahan. Dari perjalanan ini lah, sampai sekarang saya cukup sering melakukan perjalanan ke luar pulau sebagai seorang solo backpacker. Berani bertemu orang dan hal baru, harus mengambil keputusan sendiri, dan mengontrol emosi sendiri di lingkungan baru.

Foto: Dokumentasi Pribadi

Sampai bertemu kembali, Lombok!

 

Penulis: Gadis Noer Hadianty

Instagram: gajahsehat

Facebook: Adis Noer Hadianty

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×