Loading...

(photo source: dokumentasi pribadi)

“Be careful, there’s just an explosion there,” pesan seorang teman ketika saat itu aku mengatakan akan berkunjung ke Kashmir. Tidak pernah terbayangkan memang bisa mengunjungi salah satu wilayah di perbatasan antara India, Pakistan dan Cina yang kerap terjadi konflik perebutan wilayah ini. Cuma sebagai penyuka tantangan, justru ini menjadi salah satu liburan yang aku tunggu-tunggu. Dari Indonesia kami langsung terbang ke New Delhi, sebelum lanjut penerbangan ke Srinagar tempat tujuan kami untuk menjelajah Kashmir. Penerbangan ini memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit.

Sesampai di bandara Srinagar kesan pertama yang dirasakan adalah “wow, seperti berada di zona perang”. Banyak tentara laras panjang berjaga di setiap sudut bandara, dan pengecekan juga dilakukan dengan sangat ketat. Yang pasti rasanya ingin segera keluar dari bandara dan menuju tempat tujuan kami. Untuk mengikuti perjalanan ini, saya bergabung dengan salah satu jasa open trip bersama 9 orang lainnya. Pasalnya tidak mudah untuk berkunjung secara solo traveling ke wilayah ini.

(photo source: dokumentasi pribadi)

“If there’s heaven on earth, it’s here, it’s here”

Kashmir merupakan salah satu tempat paling berkesan yang pernah saya kunjungi. Ada sebuah kuote terkenal dari Mughal Emperor Jehangir, Kaisar Mughal keempat yang mengatakan bahwa apabila ada surga di bumi, di sinilah tempatnya, yaitu Kashmir. Kesan pertama menjelajah kota Srinagar, ibu kota Kashmir adalah kumuh, kotor, berdebu, banyak tentara laras panjang berjaga di setiap sudut, bahkan ada jam malam yang diberlakukan untuk faktor keamanan. Meski demikian semua itu terbayarkan ketika kami mengunjungi sejumlah lokasi yang wajib dikunjungi saat berada di Kashmir.

Selama kurang lebih 4 hari, kami akan mengunjungi sejumlah tempat seperti Gulmarg yang merupakan tempat tujuan ski yang cukup popular sambil merasakan pengalaman seru naik gondola. Kemudian berlanjut mengunjungi Pari Mahal yang merupakan rumah dan perpustakaan Pangeran Mughal Dara Shikoh dengan arsitektur menarik. Dari sini kita bisa melihat deretan pemandangan pegunungan Himalaya yang menakjubkan.

Kemudian lanjut dengan menjelajah Dal Lake dengan Shikara boat. Selama menaiki Shikara boat, kita bertemu dengan beberapa penjual yang menjajakan dagangan di atas boat. Biasanya mereka menjual perhiasan dengan bebatuan cantik, teh masala, oleh-oleh khas Kashmir lainnya, serta pashmina. Houseboat-houseboat yang juga menjadi tempat kita tinggal selama dua malam ini menjadi pemandangan kita saat menaiki Shikara boat. Houseboat merupakan rumah apung di atas danau, selain untuk tempat tinggal penduduk lokal, kini kerap dijadikan sebagai tempat penginapan bagi para wisatawan. Bahkan untuk menarik tamu, nama-nama yang digunakan pun cukup unik, seperti Britney Spears, Holywood, dan lainnya. Pengalaman menginap di houseboat cukup unik, hanya satu hal yang membuat tidak tahan, yaitu udara dingin yang menusuk.

Berinteraksi dan Merasakan Keramahan Penduduk Kashmir

(photo source: dokumentasi pribadi)

Ada tempat dimana ketika kita berkunjung hanya berniat untuk menjelajah saja, ada tempat yang membuat kita ingin tinggal, namun Kashmir menawarkan sesuatu yang lain, Kashmir cukup dirasakan. Keindahan dan daya pikatnya akan membuat kita selalu teringat setiap sudut pemandangan indah dan ketenangannya. Ditambah keramahan warga lokal yang membuat kita merasa dengan mudah diterima. Hampir selama berkunjung di setiap tempat, saya ngobrol dan berinteraksi dengan penduduk lokal yang saya temui, meski hanya sekedar obrolan-obrolan ringan.

Sepanjang perjalanan berkendara kuda menuju Sonamarg, kami melewati pedesaan. Saya sempat memperhatikan warga saling menyapa ketika berpapasan, seakan mereka semua saling mengenal satu sama lain. Suasana ini jauh dari Srinagar seperti gambaran saya sebelumnya. Tidak ada tentara laras panjang berjaga, tidak ada tank-tank perang di jalanan. Yang ada hanya penduduk saling sapa dengan ramah, anak-anak bermain dengan ceria, dan para remaja yang saling bersenda gurau di area yang dikelilingi pegunungan Himalaya ini.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Berada di Kashmir selama beberapa hari ini membuat saya penasaran mengetahui bagaimana perasaan mereka yang tinggal di sini, dan apa yang mereka inginkan dan harapkan sebenarnya. Saat kami berhenti di salah satu toko oleh-oleh saat perjalanan kembali menuju Srinagar, saya menyempatkan membeli snack-snack ringan khas Kashmir di kios kecil sebelah toko oleh-oleh.

Si bapak paruh baya yang menjual snack memulai obrolan sembari memperhatikan saya seolah pendatang. Dia menanyakan asal dan tujuan saya kemari. Dari pembukaan itu lantas saya mengajak si penjual ngobrol sejenak sembari menggali rasa ingin tahu apa sih yang dirasakan penduduk lokal tinggal disituasi perang seperti ini.

“Sebenarnya kami juga ingin hidup dengan tenang, tidak ada suara tembakan, atau tank-tank perang yang melintasi jalanan,” ujar si bapak.

Saya sempat menimpali, tapi bapak beruntung bisa tinggal di tempat yang memiliki keindahan alam yang sangat indah. Jawabannya beliau justru sangat menohok.

“Untuk apa tempat yang indah apabila itu hanya menjadi salah satu sumber petaka seperti ini,” jawabnya.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Mendengar jawaban si bapak tentu saya hanya terdiam dan tidak bisa berkata-kata lagi. Memang benar, tempat yang indah terkadang juga tempat yang membuat kita merasa damai, yaitu damai di dalam diri kita. Kashmir membuat saya belajar tentang banyak hal. Belajar menikmati keindahan alam, belajar menghargai apa yang kita miliki, serta belajar untuk melihat segala sesuatu dari setiap sudut pandang. Kashmir memang surga, surga yang jatuh ke bumi, dan saya bangga memiliki secuil pengalaman menginjakkan kaki di sini.

 

Penulis: Melya Findi Astuti

Instagram: @melyafindi

Twitter: @melyafindi777

Press Enter To Begin Your Search
×