Loading...

Selama ini ketika saya berkunjung ke tempat wisata pantai pasti sudah terbayang bayang dalam pikiran saya pasti menjumpai sampah yang berserakan di mana-mana dari sampah plastik, botol air mineral dan sisa makanan terbuang di sembarang tempat, dari sampah-sampah tersebut tidak jarang memunculkan bau yang tidak sedap, dan bisa merusak keindahan alam, jika ini dibiarkan terus menerus makan sampah akan menggunung besar memunculkan bau dan penyakit berakibat turunnya jumlah pengunjung, siapa yang mau berkunjung jika tempatnya kotor tidak terawat dengan baik, ini penting harusnya di pahami oleh semua pengelola wisata supaya dicegah dan di kelola dengan benar.

Namun di tempat wisata ini apa-apa yang saya pikirkan awal kali sangat berbeda sekali, awalnya saya memiliki keyakinan tempat wisata ini pasti kotor dan kebersihan nya tidak terawat dengan baik seperti pantai-pantai yang sering saya jumpai, tapi ketika saya mengunjungi tempat nya melihat dan merasakan secara langsung, saya langsung kagum dan senang dengan tempat wisata ini, sangat jarang sekali wisata pantai yang selama ini saya kunjungi di kelola dengan baik. Bahkan yang lebih saya heran tidak ada satupun sampah sisa makanan atau sampah plastik di temukan di sana. Wah luar biasa sekali managemen pengelolaannya saya salut dan bangga dengan pengelolanya.

Saya bersama teman-teman berangkat dari Lamongan naik mini bus dengan durasi perjalanan 6 - 8 jam, berhenti sebentar di kota batu untuk istirahat perjalanan dari Lamongan yang cukup melelahkan. Setelah sampai di tempat, kami pun harus berjalan dari parkiran mobil menuju pintu masuk pos, ada sekitar 1 kilometer sehingga kami pun harus menyewa ojek dengan tarif 15.000 rupiah per satu perjalanan, lalu kami pun tiba di pos pintu masuk.

Ketika di pintu pos pintu masuk kami tidak di bolehkan masuk wisata begitu saja, namun kami di suruh mengeluarkan semua barang-barang yang berpotensi menjadi sampah seperti botol plastik, plastik makanan, obat-obatan semuanya di data satu persatu, di hitung satu persatu, fungsi pendataan ini gunanya untuk mencegah para wisatawan membuang sampahnya di tempat wisata, akan ketahuan jika barang nya hilang apapun alasannya akan di denda 100.000 rupiah per item yang hilang, jika yang hilang 5 item tinggal di denda 500.000 rupiah dan seterusnya.

Setelah barang bawaan kami di cek, kemudian kami harus berjalan kaki menyusuri hutan-hutan mangrove dan bukit-bukit kecil, di sana pemandangan nya bagus karena tidak ada adanya sampah-sampah yang mengotori hutan ini, kurang lebih ada setengah jam kami berjalan kaki, pegal iya, capek iya, tapi bagi kami tidak ada masalah tetep semangat untuk bisa ke pantai tiga warna yang masih jauh lagi.

Sampailah kami di pantai Clungup kami langsung duduk menikmati suasana pantai yang indah bebas sampah, bebas bau sampah, menunggu giliran wisatawan kembali karena harus di gilir sesuai dengan urutan. Setelah 15 menit berlalu kami berkumpul kemudian di berikan pengarahan hal hal terkait dengan perjalanan ke pantai 3 warna karena perjalanan ini jauh kita tidak boleh berpencar pisah satu sama lain harus tetap berkelompok jika tidak khawatir akan tersesat entah kemana, pemandu wisata kami menjelaskan maksimal jam 16.00 harus kembali karena di dalam perjalanan tidak ada penerangan jalan, dan selalu berhati-hati dalam berjalan dan di tutup dengan berdoa bersama.

Setelah mendengarkan arahan dari pemandu wisata, mulailah kami berjalan kaki setapak dengan setapak menyusuri hutan belantara pantai, di sana kami merasakan indahnya pemandangan alam pantai yang luar biasa indah, tidak lupa kami dokumentasi kan perjalanan yang luar biasa ini, untuk mencapai pantai kami harus berjalan sekitar 2 kilometer dengan durasi satu jam, ke banyang capeknya minuman botol kami sudah habis tetap kami pegang seterusnya tidak boleh di buang. Pemandu wisata terus menerus memonitor kami dan menghitung jumlah kami di setiap belokan perjalanan menjaga supaya tidak ada yang ketinggalan apalagi di sana tidak ada sinyal untuk berkomunikasi dengan handphone, sehingga satu satunya kami harus bersama-sama dalam berjalan jika ada salah satu dari kami kelelahan, maka harus berhenti semuanya, ketika sudah selesai rehat baru bisa di lanjutkan perjalanan, salut banget saya kepada bapak pemandu wisata terus dengan sabar mengawasi kami yang belum terbiasa berjalan menyusuri hutan.
 

Setelah sampai ke pantai tiga warna langsung kami beristirahat sejenak, capek perjalanan nya bener menguras tenaga kami, apalagi semua botol minum kami habis di minum saat perjalanan jauh menuju pantai ini, tapi kami bersyukur masih dalam keadaan sehat dan lengkap tidak ada satupun teman kami yang ketinggalan. Di pantai ini sepi pengunjung kami memaklumi karena kami sampai di pantai jam 15:00 yang kondisinya biasanya wisatawan kembali pulang karena kami datangnya siang hari tidak apa-apa menikmati sejenak keindahan pantai ini yang kami inginkan.

Di sini saya melihat seperti laut dangkal dengan ombak kecil dan pantai ini di kelilingi pulau-pulau kecil yang menjulang tinggi, terdengar suara hewan, pantai ini laut nya bisa berubah warna ketika pagi hari. Di sana kami berenang menikmati deburan ombak kecil dan menikmati pantai dan tidak lupa kami mengabadikan momen ini bersama sama.

Hari sudah petang jam 16:00 sudah terlewati waktunya mengakhiri liburan ini karena kami sudah di beritahu tidak boleh terlalu mendekati malam karena rawan di perjalanan tidak ada penerangan lampu, di khawatir kan kami tersesat tidak bisa kembali di pos pintu masuk, dan akhirnya kami pulang kembali menyusuri hutan belantara kembali yang melelahkan, setelah 1 jam kami sampai di pinggiran pantai Clungup sebelum ke pos pintu, kami membeli makan di sana karena kami tidak kuat melangkah kembali, energi sudah habis, minuman yang kami bawa juga habis. Kami makan bersama sama dengan pemandu wisata dengan bercengkerama dalam suasana keakraban sungguh enak dan bahagia, rasa capek kami hilang dan siap kami melanjutkan perjalanan kembali ke pos pintu masuk.

Setelah kami berjalan kaki sekitar 30 menit pas menjelang magrib, sudah mulai petang kami berjalan di temani suasana malam dan suara hewan saling bersautan, sampai lah kami di pos pintu masuk dan keluar, lalu kami menghitung kembali sampah bawaan kami uang sudah di data sebelumnya, dengan perasaan khawatir jika ada barang yang hilang atau ketinggalan di pantai, setengah jam kami menghitung satu persatu jumlah sampah kami dan Alhamdulillah lengkap tidak ada yang hilang atau ketinggalan sehingga kami bebas dari sangsi denda. Wah senangnya lega gak ada rasa khawatir lagi, kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali menuju parkiran mobil dengan berjalan kaki, total kami bisa berjalan kaki menyusuri pantai lima hingga enam kilometer. 

Kesimpulannya, menurut saya jika suatu obyek wisata jika di kelola dengan profesional, akan mendatangkan banyak pengunjung dari situlah akan mendatangkan banyak manfaat bagi warga lokal, menghidupkan roda ekonomi dan menggerakkan roda lainnya. Pengalaman yang sangat berharga ini saya berharap semoga semua obyek wisata di Indonesia senantiasa maju dan terkelola dengan baik  sehingga mendatangkan banyak manfaat bagi warga sekitar wisata.

Penulis: Agung Dwi Pratama

Instagram: agung.dipra

Facebook: agung.dipra

Twitter: @AgungDipra

 

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×