Loading...

Foto: Pixabay

Ketika mendengar kata 'Jogja', sekelebat bayanganku di sana masih menghantuiku. Jujur saja, itu adalah pertama kalinya aku liburan tanpa keluarga. Tanpa embel-embel study tour. Sebenarnya, aku sedikit ragu untuk meminta izin kepada orang tua. Terlebih lagi ibuku. Kalau dari ayah, izinnya sudah kukantongi. Kabar baiknya, ayah setuju; ibu ikut setuju.

Rencana awalnya, kami berangkat bulan November. Mengingat November masih bulan yang 'sibuk' bagi siswa karena minimnya hari libur. Supaya bisa menikmati Jogja tanpa terbayang tugas yang menumpuk, sekaligus memberi reward kepada diri sendiri atas pencapaian selama 2019, terpilihlah Desember akhir menjadi bulan keberangkatan.

Liburan ini sifatnya sukarela. Estimasi biaya dari sewa mobil, tiket masuk, bayar parkir, sudah diperhitungkan dalam iuran yang dibayar tiap orang. Kami menyewa dua mobil untuk ditumpangi enam belas orang. Yang menyetir adalah Mas Okin. Dia merupakan pelatih teater. Tapi bagiku, dia bukan hanya pelatih. Mas Okin; seseorang yang menginspirasi.

Awal perjalanan, kami sudah disuguhkan deretan mobil yang mengular. Alasannya ada perbaikan jalan. Untungnya tidak terlalu lama. Langsung saja gaspol menuju tol. Karena kami berangkat sekitar jam sebelasan malam, tol terpantau ramai lancar. Aku kasian pada aspal yang dilintasi kendaraan. Setiap hari tanpa jeda, dia terus ditindas tanpa ampun. Bersabarlah wahai aspal.

Seperempat perjalanan, aku mengantuk. Tiba-tiba saja terdengar suara decitan ban yang cukup keras. Aku tidak dapat memastikan apa itu karena nyawaku belum terkumpul penuh. Aku baru menyadari kalau mobil satunya sedang berhenti di depanku. Ternyata, ban mobilnya bocor. Untung saat itu, tidak banyak kendaraan. Karena dari kesaksian temanku, mobilnya hampir saja oleng jika tidak dikendalikan.

Yang laki-laki langsung sigap mendongkrak mobil dengan bantuan pencahayaan dari dua perempuan. Aku dan temanku masih duduk di mobil karena takut malah merepotkan yang lain. Padahal saat di mobil, kami juga sama merepotkan. Karena tidak turun ketika ban sedang didongkrak. Alhasil, butuh tenaga ekstra. Dengan kesadaran diri, turunlah kami dengan berakhir rebahan di aspal. Rasanya seperti bergoyang ketika ada penguasa jalan (red: truk dan bus) melintas. Setelah mengganti ban, masalah lain muncul. Kini tidak di mobil yang bannya bocor. Tapi di mobil yang kutumpangi. Mobil tidak bisa distarter. Ketika dicari sumber masalahnya, ternyata AC, lampu, dan musik menyala selama kita tinggalkan. Jadi, salah satu orang menelpon layanan tol. Syukurlah mereka cepat datang. Kami jadi bisa melanjutkan perjalanan lagi. Terima kasih bantuannya.

Di mobil, ada yang berpendapat kalau akar dari masalah tadi adalah salah seorang di antara kami ada yang membuang bungkus permen sembarangan ketika kita melewati Alas Mantup. Ada juga yang katanya mencium bau wangi. Aku tidak terlalu peduli dengan alasan terakhir. Tapi, aku kurang setuju dengan perbuatan membuang sampah sembarang. Untuk apa membuang sampah sembarangan ketika di mobil ada tempat? Lebih dekat bukannya? Kalau ke luar siapa tau ada pengendara yang membuka kaca helmnya. Sampah kita bisa jadi mengenai matanya yang membuat perjalanannya jadi terganggu. Membahayakan kan?

Ketika sampai di Klaten, kami terjebak di Alun-Alun Klaten. Banyak aparat yang berjaga, hilir mudik pesepeda, riwuhnya pejalan kaki, menyadarkan kalau di Klaten sedang ada Car Free Day. Perjalanan kami ternyata ada saja hambatannya ya. Semua terbayar ketika sudah sampai di Pantai ParangTritis. Senangnya menikmati deburan ombak. Seperti menyeruakkan penat selama perjalanan. Gugusan bukit yang terbentang sangat bagus diabadikan. Hanya saja, kami tidak bisa menggunakan latar belakang itu karena bad light di kamera. Setelahnya, kami bersih diri untuk bersiap menuju destinasi berikutnya. Tapi sebelumnya, kami singgah di warung makan.

Suara gerungan keluar dari mobil yang kutumpangi. Mobil mundur perlahan kalau saja tidak langsung digas. Ada seorang ibu yang membawa HT. Beliau memakai seragam dan topi. Mungkin kejadian yang kami alami sering terjadi. Oleh karena itu, ada penjaga yang ditugaskan memantau daerah ini. Seperti ibu ini. Beliau membantu mendorong mobil untuk menaiki tanjakan. She is a wonder woman.

Btw, kami sudah sampai di Hutan Pinus. Sejujurnya aku tidak terlalu antusias. Mungkin karena aku yang kurang suka fotografi, kurang ahli dalam berpose, jadi kurang leluasa menikmatinya. Sebenarnya, aku kurang suka ketinggian. Melihat temanku yang berani menaiki tangga tertinggi membuatku bergidik ngeri. Katanya juga, embusan anginnya sangat kencang. Aku khawatir temanku terbawa angin karena tubuhnya kecil. Canda doang.

Kami ingin menuju penginapan segera karena langit mulai mendung. Khawatir sebentar lagi hujan. Pasti jalanan lebih licin. Berkaca pada awal masuk, kami tidak ingin mengulangi yang sama. Syukurlah, kami berhasil keluar dari jalanan naik turun sebelum hujan mengguyur.

Penginapan yang kita tempati adalah rumah milik salah satu anggota teater di Jogja. Katanya, tempat ini juga sering digunakan mereka untuk berkumpul. Kukira, penginapannya angker dan tidak terawat. Tapi ternyata, semua jauh dari kata angker. Para perempuan ditunjukkan kamar menginap. Kamar yang sangat luas bagi kesebelasan kami. Bahkan kamar mandi dalamnya ssngat luas hingga bisa membuat sejajar kloset jongkok dan duduk. Mungkin bisa juga untuk mandi lima orang sekaligus.  Aku belum pernah melihat yang seperti itu.

Rencananya akan ada bincang-bincang dengan salah satu teater di Jogja. Sekalian liburan, menambah pengalaman, pengetahuan, persaudaraan, dan perjodohan. Wakaka! Bohong deh yang terakhir. Ternyata seseru itu ya mendapatkan ilmu. Hanya saja, aku sempat tertidur. Benar-benar mode ngantuk pada saat itu.

Perutku tidak bisa menolak ketika disuguhi bakso yang dari kejauhan terlihat kepulan asap. Padahal, tadi sudah disuguhkan ayam goreng. Huwaaaa!! Perutku sedang berpesta pada saat itu. Belum berakhir juga acaranya karena masih ada bakar jagung. Perutku juga tidak bisa menolak untuk melahap satu jagung besar. Harapanku satu, supaya aku bisa buang air besar. Hehe.

Aku sempat tercenung ketika melihat motor Vespa terparkir rapi di halaman. Apakah menjadi hal biasa ya di Kota Pelajar ini? Atau aku yang dari kota kecil tidak biasa melihatnya? Yang kutahu, setiap kota mempunyai gaya hidupnya sendiri. Yang trend di kota besar, diikuti oleh masyarakat kota kecil (red: kecenderungan pasar).

Hari ini hari terakhir di Jogja. Destinasi akhir kami yaitu Taman Sari, Kopi Merapi, dan Malioboro. Mas Okin yang pernah merasakan hidup sebagai mahasiswa di Jogja, menjadi pemamdu wisata di Taman Sari. Keluwesannya dalam menceritakan bagian dalam Taman Sari cukup membuat kami tidak hanya sekadar foto tanpa mengetahui sejarahnya. Lumayan, tidak perlu merogoh kocek untuk membayar pemandu wisata.

Ada salah satu pengrajin wayang yang tidsk boleh di foto saat mengerjakannya. Bisa saja kita didenda. Tapi aku lupa nominalnya. Bapak pengrajinnya sudah tua jika dilihat dari rambutnya yang memutih dan kulitnya yang keriput.

Sebelum ke Taman Sari, kami melewati Gapura Saidan. Ternyata begitu toh bentuknya. Yang awalnya hanya mendengar dari lagu, kini melihat aslinya. Setelah dari Taman Sari, kami melewati UGM. Aku tercengang melihat betapa luasnya lokasi kampusnya. Kanan kiri jalan dikepung gedung fakultas milik UGM. Sambil berharap suatu saat bisa menginjakkan kaki di sana untuk menimba ilmu.

Langsung saja kami menuju Kopi Merapi. Hawa dingin langsung menyapa ketika turun dari mobil. Aku suka dengan suasananya. Kopi selalu pas ditemani obrolan santai. Aku memesan mi rebus dan teh hangat untuk menghangatkan tubuh. Memang, Kopi Merapi salah satu tempat untuk menikmati senja. Ketika dingin semakin menusuk hingga ke tulang, kami melanjutkan perjalanan ke Malioboro. Semakin dekat menuju perpisahan dengan Jogja.

Kami terlalu asyik di Malioboro hingga lupa waktu. Seharusnya pukul 23.59 kami sudah perjalanan pulang. Karena sewa mobil hanya sampai jam delapan pagi. Tapi kita telat satu jam di Malioboro. Kami juga mampir ke penginapan untuk mengambil barang bawaan. Sang pemilik rumah melambaikan tangan. Begitu juga dengan dua laki-laki berambut gondrong yang menemani kami di Malioboro. Rasanya, mengucapkan terima kasih kurang cukup.

Kepahitan menjadi akhir cerita kami. Karena telat mengembalikan mobil, harga sewa menjadi bertambah. Hitungannya menyewa satu hari. Oke, ini menjadi pelajaran bagi kami untuk lebih mengatur waktu. Kami tidak tega kepada Mas Okin yang membayar tol, menyetir mobil, dan lainnya. Umtuk itu, kami iuran lagi untuk menambal kekurangannya. Karena itu juga kesalahan kami. Tapi, Mas Okin menolaknya. Aku tidak bisa berkata-kata.

Sepintas, banyak kejadian sedih apa senang? Awal yang pahit ditutup juga dengan akhir yang pahit. Eitss, hanya saja aku tidak merasakan itu. Tidak ada yang pahit menurutku. Karena kepahitan itu berbuah manis dalam bentuk pelajaran. Aku jadi mengenal orang yang siap siaga membantu kita di tol, seorang ibu yang bekerja keras, beberapa teman dari Jogja yang bersedia menampung kami, itu sangat mengesankan. Sungguh. Memang, hal unik bagiku ketika mengunjungi setiap tempat baru, kita akan bertemu orang yang baru, lingkungan baru, gaya hidup baru, dan pengalaman yang baru. Memburu pengalaman memang seru.

 

Nama: Yuliana Sajidah Fatmawati

Instagram: @linasajidah_

Twitter: @BTenteng

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×