Loading...

 

Dok. Pribadi 

Langkahku berkecipak di jalan aspal nan basah, tak sengaja menginjak genang sisa hujan semalaman. Rintik hujan meningkahi kakiku yang terburu, menghampiri ojek daring yang sudah menunggu di depan hotel besar itu.

“Baru sampai, Mba?” sapa Bapak Ojol dengan logat Jawa yang kental, seraya menyerahkan helm hijau kepadaku.

“Njeh, Pak,” ujarku singkat sambil berusaha mengenakan helm.

Motor mulai melaju pelan, menembus gelap pagi disertai gerimis yang belum juga usai. Mataku terpejam ketika udara dingin mulai memenuhi dadaku yang telah lama sesak. Di bawah sinar lampu jalanan berwarna kuning, hatikku berbisik “Tuhan, terima kasih telah menjagaku sampai di kota ini-”

2017 menjadi tahun yang cukup berat untuk saya jalani. Terpaksa melepas pekerjaan dan menghilang dari lingkar pertemanan. Semuanya hanya demi satu tujuan: membenahi pikiran yang kian memburuk.

Selepas menjadi pengangguran, saya hanya berdiam diri di rumah. Duduk dengan tatapan mata kosong lalu menangis tiba-tiba, menjadi pemandangan yang biasa. Berat badan saya juga mulai turun, meski tak sampai kurus sekali, karena tak nafsu makan. Saat itu rasanya hidup seperti hampir berhenti. 

Tapi tentu saja saya tak pernah benar-benar dibiarkan seorang diri. Dukungan dari ibu dan keluarga, pelan-pelan menguatkan saya untuk kembali berdiri. Hingga pada suatu hari yang terang, ibu tiba-tiba menyarankan agar saya pergi berlibur. Saya menatap ibu tanpa reaksi, seperti tak bisa menentukan harus berekspresi senang atau sedih. Tapi air mata saya jatuh seketika, meski masih tak benar-benar yakin apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hati.

Singkat cerita, saya akhirnya memilih Jogja sebagai kota tempat bersinggah. Tak dipungkiri, sudah sejak lama saya ingin menjelajahi kota ini. Maka tanpa menunggu lagi, saya mulai menyusun rencana perjalanan.

Saya memesan tiket kereta api melalui aplikasi marketplace dan memberi jarak satu minggu kemudian untuk kembali pulang. Ada perasaan takut sekaligus bahagia pada saat yang sama mengingat saya melakukan perjalanan seorang diri.

Maka pada Minggu malam, dengan kereta api Taksaka dan perjalanan selama delapan jam,  saya menuju Jogja. Sebuah ransel merah dan tas tenteng berwarna hitam, tersampir di bahu. Menyimpan beberapa pasang pakaian dan cemilan sebagai bekal perjalanan. Saya memilih kursi di dekat jendela, sendiri, menuju sebuah kota yang terkenal penuh cinta.

Malam itu kereta tak terlalu penuh, sepertinya hanya sepertiga kapasitas kursi penumpang yang terisi. Mungkin itu pula salah satu sebab suasana tak terlalu riuh. Dan tak lama setelah kereta mulai berjalan, para penumpang mengambil posisi untuk memejamkan mata. Begitupun aku, seakan ingin menyimpan energi untuk berpetualang keesokan hari.

Perjalanan selama delapan jam akhirnya selesai beberapa saat sebelum azan Subuh berkumandang. Udara dingin segera menyambut ketika langkahku menjejak peron stasiun.  Saat itu aku tersenyum, seraya berbisik. Jadi inilah aroma kota yang penuh akan cinta.

Dok. Pribadi 

Setelah mencuci muka, aku memesan layanan ojek daring untuk menuju tempat menginap selama di Jogja, rumah seorang sahabat yang begitu baik menawarkan tempat singgah selama aku disana. Langit masih gerimis, dan aku berlari di bawahnya menuju titik penjemputan.

Tak lebih dari sepuluh menit kami melaju di jalanan, kota ini belum sepenuhnya sibuk. Hanya ada satu-dua kendaraan yang melintas; baik motor atau mobil colt terbuka yang penuh akan barang-barang dagangan.

Kami berhenti di sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas. Driver ojol mengatakan bahwa pemilik rumah adalah langganannya, jadi tak mungkin salah. Maka setelah megucapkan terima kasih, aku melangkah memasuki pekarangan rumah.

Seorang ibu berusia di atas 60 tahun membukakan pintu saat salamku yang kedua terlepas. Dengan tersenyum, ia menyilakan masuk lalu mengantarku ke kamar yang sudah disiapkan. Setelah bersih-bersih, aku pun kembali memejamkan mata. 

Dok. Pribadi 

Sekitar pukul sepuluh pagi, aku sudah siap menjelajah kota. Berbekal hasil pencarian rekoemndasi tempat di Google, aku mengatur rencana. Pada hari pertama ini, aku akan menyusuri Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pasar Malioboro.

Tiket masuk kraton terbilang cukup murah, hanya Rp 5.000 saja, dan tambah Rp 1.000 jika pengunjung ingin mengambil foto dengan kamera atau  ponsel pribadi. 

Suasana kraton saat itu cukup ramai, saya ikut rombongan bersama sekitar 20 orang bersama seorang pemandu wisata yang dengan sabar menjelaskan tiap sudut kraton. Beruntungnya saya juga sempat menyaksikan pertunjukan musik gamelan.

Pada hari kedua di Jogja, saya menuju Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko. Saya mengambil paket hemat dengan biata Rp 75.000, sudah termasuk antar jemput dengan menggunakan elf. Saya menghabiskan waktu seharian untuk menyusuri tiap sudut candi. Benar-benar puas. 

Pada hari ketiga, saya kembali berkeliling di pasar Malioboro dan museum sekitarnya. Benar-benar tak ingin menyisakan waktu tanpa pengalaman menjelajah kota ini. Saya bahkan sempat datang ke Sekatenan, pasar malam sebagai  rangkaian kegiatan tahunan peringatan Maulid Nabi Muhammad yang diadakan oleh keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Sisa hari di Jogja saya habiskan untuk mengunjungi seorang teman lain di Semarang, saya pun sempat main ke Klenteng Sam Poo Kong. Sayangnya hasil foto yang kami ambil kurang bagus heheh.

Sebenarnya saya masih kurang puas menjelajahi kota ini, namun saya juga tak bisa terlalu lama pergi. Saya harus kembali, membenahi hidup meski harus dimulai dari awal lagi. Dan semoga saya masih dapat menjejak tiap sudut kota di lain hari, untuk menemukan kisah baru nan istimewa yang akan senantiasa membekas di hati.

Jogja, sebuah kota tempat rindu berpulang. 

Penulis: Endah

Instagram: @endah_asmo

Twitter: @endah_asmo

Facebook: Endah Asmowidjoyo

 

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×