Loading...

Yogyakarta, sebuah kota yang selalu menjadi tujuan wisata orang-orang dari berbagai kalangan.

Di masa pandemi seperti ini pun, tidak menyurutkan minat wisatawan untuk tetap berkunjung ke kota ini. Bahkan yang telah berulang kali berwisata ke Jogja, nampaknya pun tak pernah bosan untuk selalu kembali. Kata orang sih, kota Jogja ini selalu menghadirkan kenangan ketika sudah tak singgah lagi di sini. Dan inilah yang menjadi mantra untuk setiap orang yang sempat singgah di kota ini, selalu rindu untuk kembali lagi.

Mantra itu pun yang kian menyihirku dari pertama kali aku memberanikan diri untuk berwisata di tahun 2017 hingga tahun demi tahun terlewati dan Jogja yang selalu menjadi tujuanku berpulang ketika penat dengan segala kegiatan yang menyita waktuku sehari-hari di kota Semarang. Hingga akhirnya tibalah di tahun 2020, aku berkesempatan lagi untuk kembali ke Jogja pada bulan September ini.

Ketika menikmati perjalananku ke kota Jogja, banyak sekali perbedaan yang kurasakan karena pandemi ini. Dari yang awalnya, aku biasa backpaker dengan naik kereta api dari Semarang, kini akses nya sangat terbatas. Sehingga harus beralih menggunakan jasa Travel. Di dalam Elf yang aku tumpangi, pada umumnya dapat diisi oleh kurang lebih 15 penumpang, namun karena social distancing sehingga Elf  hanya diisi oleh 6 penumpang saja. Setibanya di Jogja, aku memilih untuk singgah di salah satu hotel budget dengan fasilitas yang fantastis namun harga sangat ekonomis. Pada hari pertama aku mengeluarkan  budget Rp140 ribuan, untuk penginapan berbasis syariah dengan tipe kamar single bed, include breakfast dan fasilitas kolam renang.

Senang sekali hari pertama, capek di perjalanan lalu disambut dengan penjaga guesthouse yang ramah dan dengan fasilitas yang oke banget, karena dapat kamar di bawah dan menghadap kolam renang langsung serta kamar bersih, air panas dan dingin berfungsi dengan baik, begitu pula dengan TV dan AC juga wifi yang lancar. Sekitar pukul 19.00 WIB setelah puas istirahat, kembali melanjutkan rencana perjalanan sekaligus bertemu dengan teman lama di sebuah Cafe epic yang berada di daerah Pandega. Lumayan ramai pengunjung bahkan ketika weekday, banyak anak muda nongkrong sambil ngopi bahkan ada pula yang sembari mengerjakan tugas kuliah. Kopinya enak, hargapun standard harga cafe. Kira - kira seperti ini Cafe nya.

Bumi Gayo Coffe

Setelah lelah ngobrol ngalor ngidul, saatnya kembali ke guesthouse dan istirahat lagi (kata orang : “nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?” wkwk).  Bangun pagi, hari kedua di Jogja, aku bersiap untuk pindah hotel sekaligus melanjutkan perjalanan wisata ke Tamansari.

Jika dilihat sekilas dari luar, nampak dekat sekali jarak pintu masuk dan pintu keluar. Namun ketika masuk ke dalam, ternyata Tamansari begitu luas dan cukup bikin kaki pegal. Di dalamnya terdapat kolam bekas pemandian putri - putri raja.

Kolam Tamansari

Dari kolam ini, jalan semakin ke dalam, ternyata isinya ruangan - ruangan yang tertutup lalu tembus ke sebuah pemukiman warga yang mereka buat untuk menjual berbagai barang dagangan yang bernilai seni seperti, kain batik, lukisan, dll. Menuju pintu keluar, ternyata Tamansari yang menurut saya sudah tidak terlalu hits di media sosial, tetapi pada saat weekday pun Tamansari tetap ramai dikunjungi. Buat yang belum pernah masuk ke Tamansari, lebih baik pakai jasa local guide yang selalu ada di dalam area Tamansari, supaya tidak kesasar.

Setelah lelah menjelajah Tamansari, di pintu keluar terdapat warung-warung yang menawarkan dagangannya, dan singgahlah aku sebentar ke warung bakso. Sudah kenyang makan bakso, aku memutuskan untuk mampir ke Beringin kembar di Alun-Alun Kidul Keraton. Sepi sekali, karena pandemi mungkin juga karena siang itu matahari terlalu terik. Namun masih ada saja ibu-ibu yang menawarkan penutup mata untuk disewa kan kepadaku. For your information, beringin kembar di sini memiliki mitos bahwa siapa saja yang berhasil berjalan di antara dua beringin dengan mata tertutup, maka konon keinginan dan hajatnya akan terkabul. Karena pergeseran jaman ini, mitos ini sudah tidak begitu dihiraukan lagi oleh masyarakat kita.

Perjalananku berlanjut ke Bukit Paralayang, Watu Gupit. Lokasinya lumayan jauh dari Alun - Alun Kidul. Di tengah perjalanan, hampir saja menyerah untuk kembali ke hotel saja karena terhalang hujan saat sampai di sekitar kampus Institut Seni Indonesia. Akhirnya aku pun berteduh sejenak hingga hujan mulai reda, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Ternyata sesampainya aku di bukit Paralayang, aku dibuat takjub dengan view seindah ini. Bukit ini letaknya satu area dengan Pantai Parangtritis, akses jalannya sudah dikelola dengan baik. Selama pandemi, penjaga melakukan pendataan wisatawan melalui KTP masing-masing pengunjung, sebelum masuk ke area wisata.

Perjalananku berlanjut ke Bukit Paralayang, Watu Gupit. Lokasinya lumayan jauh dari Alun - Alun kidul. Di tengah perjalanan, hampir saja menyerah untuk kembali ke hotel saja karena terhalang hujan saat sampai di sekitar kampus Institut Seni Indonesia. Akhirnya aku pun berteduh sejenak hingga hujan mulai reda, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Ternyata sesampainya aku di bukit Paralayang, aku dibuat takjub dengan view seindah ini. Bukit ini letaknya satu area dengan Pantai Parangtritis, akses jalannya sudah dikelola dengan baik. Selama pandemi, penjaga melakukan pendataan wisatawan melalui KTP masing-masing pengunjung, sebelum masuk ke area wisata.

Bukit Paralayang

Karena cuaca mendung, aku memutuskan untuk tidak berlama-lama dan menunggu sunset (takut terjebak hujan). Aku pun kembali ke Jogja, dan lapar pun melanda, akhirnya mampir makan ke The House of Raminten. Salah satu restoran nyentrik yang ada di Jogja ini memiliki cangkir khas yang begitu unik untuk minuman seperti susu akan disajikan dengan cangkir ini.

Tak lupa berfoto dengan salah satu pelayannya, karena berpakaian unik seperti ini.

Sudah kenyang dan puas berfoto, kini saatnya pulang ke hotel. Dan untuk hotel kedua ku ini menerapkan protokol kesehatan juga.

Nah, itu tadi detail dari perjalananku ke Jogja yang menyenangkan. Untuk kamu yang ingin berlibur ke Jogja, jangan lupa tetap patuhi protokol kesehatan yang ada selama masa pandemi ini. Dan jangan lupa, untuk yang belum pernah ke Jogja, hati - hati ya, karena mantra rindunya sangat kuat.

 

Nama Penulis: Hana Sri Rahayu

Instagram: bukanhanamasa

Facebook: Hana Ayu I

Press Enter To Begin Your Search
×