Loading...

Foto: Pixabay

Perjalannaku ke Yogyakarta pada 9 November 2019 lalu, bukanlah perjalanan yang well-prepared. Aku melakukannya hanya untuk melunasi janji pada diriku sendiri. Karena itu merupakan perjalanan yang sudah direncanakan sebelum perceraian. Aku dan mantan suami memang berencana untuk pergi ke Jogja pada akhir tahun 2019, malahan, beberapa bulan sebelumnya kami membuat tabungan khusus, menyisihkan sebagian gaji kami untuk perjalanan itu. Namun, rencana tidak terlaksana, dan cerita kami tidak lagi sama. Bulan September, kami memutuskan untuk berpisah karena beberapa alasan, yang tidak bisa aku ceritakan di sini.

Foto: Dokumentasi pribadi

Sempat ragu untuk melakukan perjalanan sendirian, tapi kupikir lagi, perjalanan itu lumayan bagus untuk me-recharge kondisi hatiku yang lagi ambyar … hahaha. Aku memutuskan memesan tiket kereta pulang-pergi dari stasiun Senen Jakarta ke stasiun Tugu Jogja lewat sebuah situs travel online. Berangkat dari Jakarta sekitar jam 22.00 malam, dan tiba di Jogja pagi harinya sekitar jam 07.00. Sesampainya di stasiun Tugu, aku langsung ke toilet dan setelah itu istirahat sejenak di pelataran stasiun sambil mengisi daya ponsel juga mengisi daya perutku, sarapan.

Aku berjalan kaki dari stasiun Tugu ke Malioboro sambil memikirkan rencana perjalanan hari itu. Suasana pagi di Malioboro sungguh membuatku nyaman, meski sedikit padat dengan pengunjung lokal juga beberapa turis asing yang datang. Tapi, udara segar dan suasana perkotaan yang asri sungguh telah mencuri penat  kota Jakarta yang ada di otakku selama ini. Ingin menikmati suasana pagi Jogja yang sepi, tapi tidak bisa. Karena kebetulan hari itu bertepatan juga dengan perayaan Hari Kesehatan Nasional. Beragam rangkaian acara digelar untuk memeriahkan perayaannya. Aku hanya menyaksikan acaranya sekilas, kulihat ada semacam pertunjukan-pertunjukan kesenian, termasuk menyanyi, di Alun-alun Utara, ada juga pawai yang lumayan panjang di sekitaran Titik Nol Jogja, sepertinya diikuti oleh berbagai kalangan yang tergabung di dinas kesehatan Jogja. Mereka menggunakan berbagai kostum juga atribut, layaknya perawat, dokter, bahkan ada yang berperan sebagai pasien didorong di atas kursi roda, yang didandani sedemikian rupa.

Foto: Dokumentasi pribadi

Setelah mengambil uang di salah satu ATM yang tepat berada di perempatan Kantor Pos Jogja, aku memutuskan untuk membeli sebotol susu kedelai dan duduk di kursi yang tak jauh dari Halte Trans Jogja, Malioboro 1, sambil mengambil beberapa foto. Sebelum akhirnya kuputuskan untuk berjalan menyusuri pedestrian sepanjang Malioboro menuju ke pasar Beringharjo, di sana aku membeli asesoris kalung dan gantungan kunci untuk oleh-oleh, juga beberapa baju batik untuk kuhadiahkan pada mama.

Perjalanan-tak jelas tujuan-singkatku kali itu, membawa kakiku ke beberapa destinasi secara random, termasuk Universitas Ahmad Dahlan, kampus III di Jalan. Prof. Dr. Soepomo, Taman Pintar, Museum Benteng Vredeburg, dan Kraton Yogyakarta. Setelah sholat dzuhur di masjid Nurul Iman, dan beristirahat sebentar meregangkan otot kaki yang terlampau pegal, kemudian aku makan siang di salah satu warung nasi gudeg kaki lima yang masih berada di sekitaran Malioboro.

Foto: Dokumentasi pribadi

Satu hal lagi yang tidak aku lewatkan, berburu makanan khas Jogja yang paling kusuka, Bakpia. Aku sangat suka camilan itu, apalagi yang rasa kacang hijau. Manis dan gurihnya pas di lidahku. Bahkan, setiap kali produk Bapkia ini buka stand bazar di mall-mall yang ada di Jakarta, aku pasti memburunya, rasanya tidak akan rela untuk melewatkan moment langka itu. Begitu pun hari itu, aku memutuskan untuk naik ojol ke salah satu kedai Bakpia yang berada di Jalan Gajah Mada. Sepulangnya dari sana aku menikmati pemandangan di Tugu Jogja yang kala itu ramai dengan gerombolan anak muda, mereka mengambil foto juga membuat video, mungkin untuk konten di sosmed mereka. Senja hari itu, aku menutup perjalananku dengan seporsi sate ayam seharga Rp. 20,000 yang dijajakan seorang ibu di pinggiran jalan dekat stasiun Tugu.

Perjalanan singkat ke Jogja di penghujung tahun 2019 yang tidak begitu istimewa, namun aku dapat sejenak melupa segala perkara duka yang kualami di Jakarta. Semoga aku bisa kembali ke sana dengan suasana hati yang berbeda.

 

Penulis: Ina Marlena

Instagram: Inoyunin

Twitter: Inainoyunin

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×