Loading...

Berpose di Eisener Steg, Frankfurt, Jerman

Meski tergolong kota sibuk dengan banyak taburan gedung bertingkat, Frankfurt tetap menarik untuk dijelajahi saat berkunjung ke Jerman. Ketika waktu berwisata sangat terbatas, apa yang bisa kamu singgahi dalam sehari?

Sambil menyelam minum air. Pepatah kuno itu terlintas dalam benak saya saat menyusuri jalan setapak di tepi Sungai Main. Ini kali ketiga saya melintasi sungai terpanjang di Jerman itu dalam tiga hari terakhir. Bukan apa-apa, hotel tempat saya menginap memang berada persis di sisi Sungai Main.

Akan tetapi, ada yang berbeda pada pagi ini. Sungai Main tampak jauh lebih indah. Bukan lantaran kemarin turun hujan atau badai salju, melainkan karena hari ini akhirnya saya bebas menikmati desir sungai, duduk-duduk di bangku taman, atau sekadar memotret gugur daun pohon plane sesuka hati.

Maklum saja, dua hari ke belakang saya mesti bertolak ke Bank Sentral Eropa di Jalan Sonnemann di pusat kota, menghadiri seminar ekonomi seharian penuh. Saat tugas sudah beres, kini saatnya menikmati pesona Frankfurt secara utuh.

Pohon Plane di Tepi Sungai Main

Sayang seribu sayang, waktu yang tersisa tidaklah banyak. Penerbangan kembali ke Tanah Air sudah menanti esok pagi. Saya percepat langkah kaki, bergegas menuju lokasi wisata pertama dalam daftar kunjungan yang sudah saya siapkan jauh-jauh hari.

Untuk kamu yang punya agenda ke Frankfurt, jangan malu-malu menyalin tautan artikel ini. Simpan saja dulu. Mana tahu destinasi wisata yang akan saya ceritakan berguna buat kamu.

Sekarang, ayo kita mulai.

1. Cinta Abadi di Jembatan Besi

Siapa bilang orang Prancis paling romantis? Warga Jerman ternyata juga tidak kalah romantis. Kesimpulan itu saya dapati ketika menyambangi Eisener Steg, atau bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “Jembatan Besi”.

Tidak sekadar menjadi media penyeberangan Sungai Main semata, Eisener Steg juga merupakan salah satu lokasi favorit pasangan Eropa ketika berkunjung ke Frankfurt. Pasalnya, jembatan ini dikenal punya kekuatan gaib yang bisa mengabadikan cinta kasih sepasang kekasih.

Eisener Steg

Meskipun saya pribadi ogah mempercayai, namun tetap saja ratusan—bahkan ribuan—pasangan yang singgah di Eisener Steg, tanpa tedeng aling-aling, terbukti melakukan ritual di luar nalar: mengunci gembok di tepi jembatan. Konon kabarnya, hati pasangan yang meninggalkan gembok dalam posisi terkunci di Eisener Steg, akan tertambat pula satu sama lain. Dengan kata lain, cintanya bakal abadi.

Meskipun belum ada penelitian atau survei yang membuktikan kebenaran kabar tersebut, Eisener Steg tetap saja diburu pasangan dari seluruh penjuru Eropa. Ribuan pasang gembok, baik yang berukuran kecil hingga jumbo, memenuhi tepi jembatan sepanjang 174 meter itu.

Bagi kamu yang berwisata ke Frankfurt bersama pasangan, tidak ada salahnya mampir ke Eisener Steg. Paling tidak, ada kenangan unik ketika membeli gembok di swalayan terdekat, membubuhkan nama di atas gembok, mengunci, dan meninggalkannya di tepi Jembatan Besi.

Gembok Cinta Eisener Steg

Saya percaya, bukan jembatan atau gemboknya yang akan membuat cinta kalian abadi. Akan tetapi, kenangan atau memori berjalan bergandengan bersama pasangan di Jembatan Besi yang bakal kamu kenang seumur hidupmu. Itulah yang membuat hati kalian akan tetap terikat satu sama lain.

Sebaliknya, andai berwisata seorang diri, seperti saya kali ini, kamu juga tidak perlu berkecil hati. Sebab jembatan yang dibangun pada 1868 ini tetaplah memikat hati. Minimal kamu bisa menikmati pemandangan Sungai Main berlatar gedung bertingkat khas Bavaria. Jadi, santai saja.

2. Kota Tua di Romerberg

Memadu kasih bersama Sang Kekasih terkadang membuat kita lupa waktu. Kalau sudah begitu, perut keroncongan pun bisa-bisa luput dari perhatian. Akan tetapi, ingat-ingatlah pesan saya, kawan. Segala hal butuh asupan energi, termasuk tubuhmu sendiri. Jadi, tinggalkan dulu Jembatan Besi. Sebab ada banyak pilihan kudapan lezat menanti di Romerberg.

Romerberg adalah sebuah distrik yang terletak tepat di depan Eisener Steg. Pramusaji di hotel saya bilang, belum bisa dibilang sah ke Frankfurt kalau belum menyambangi Romerberg. Selain pusat kuliner dan berbelanja cenderamata, Romerberg juga terkenal akan keunikan tata ruangnya.

Suasana Pasar di Romerberg

Di antara kepungan gedung modern di Frankfurt, Romerberg adalah satu-satunya tempat di mana kamu bisa menikmati bangunan tua dengan arsitektur bergaya Renaisans. Bisa dibilang, Romerberg bagaikan “Kota Tua-nya” Jakarta. Sentuhan klasik ini yang membuat para pelancong rela berlama-lama ketika mengunjungi Romerberg.

Meskipun bernuansa tua, sebenarnya bangunan Romerberg yang ada saat ini tidak dibangun pada masa Eropa kuno. Pasca kalah pada Perang Dunia II, hampir seluruh kota di Jerman rata dengan tanah, termasuk Frankfurt. Romerberg pun bernasib sama: hancur berkeping-keping. Yang tersisa hanyalah Gerechtigkeitsbrunnen (Fountain of Justice), air mancur yang dibangun pada 1543, terletak di pusat plaza.

Tidak ingin cagar budayanya hilang dalam lintasan sejarah, Romerberg pun direkonstruksi oleh Pemerintah Jerman. Hasilnya cukup mencengangkan. Bangunan tua khas Eropa ini dihidupkan kembali, meskipun materialnya berasal dari zaman sekarang. Yang jelas, sangat disayangkan bila kameramu tidak menyimpan foto bangunan tua di Romerberg.

O, ya. Satu hal lagi. Bila kamu mengunjungi Frankfurt pada bulan November—Desember, seperti saya, ada Pasar Natal (Christmas Market) yang digelar di plaza Romerberg selama dua bulan penuh. Konsepnya mirip dengan pasar kaget. Selain kuliner, kamu juga bisa berburu oleh-oleh dengan harga yang cukup terjangkau. Jadi, silakan menghabiskan sisa Euro-mu di sini.

3. Menara Jam di Hauptwache

Kalau kamu benar-benar mengikuti daftar kunjungan saya sesuai urutan, pada titik ini seharusnya kamu sudah melewati tengah petang. Setelah puas makan dan berbelanja di Romerberg, kini saatnya mengunjungi lokasi wisata menarik berikutnya: Hauptwache. Jaraknya tidak jauh Romerberg. Kamu hanya perlu berjalan kaki ke arah utara selama tujuh menit saja.

Seperti Romerberg, Hauptwache adalah sebuah plaza di pusat kota Frankfurt. Akan tetapi, Hauptwache bukanlah sembarang plaza. Karena di sini ada sebuah menara jam (clock tower) klasik yang dibangun pada 1730. Fotonya cocok untuk menghiasi memori di kamera atau ponselmu.

Menara Jam Hauptwache

Lantaran cukup tinggi, kamu akan kesulitan mendapat sudut yang bagus ketika hendak mengambil gambar Clock Tower. Namun, tenang saja dan jangan berkecil hati. Sebab tepat di depan area plaza, ada pusat perbelanjaan bernama Kaufhof yang punya taman atap (roof garden).

Jadi, masuklah ke dalam Kaufhof dan naiklah hingga lantai keenam. Di sana ada kafetaria, tempat roof garden berada. Meskipun tidak memesan makan, kamu tetap bisa mengakses roof garden secara cuma-cuma alias gratis. Asyik, kan?

Roof garden di Kaufhof memang ditata khusus untuk memudahkan pejalan yang ingin mengabadikan gambar Clock Tower. Pasalnya, letak roof garden berada tepat menghadap Clock Tower. Untuk mendapat sudut jepret yang tepat, tersedia sejumlah penanda di sudut ruangan. Alhasil, saya yang bukan fotografer profesional tetap bisa mengambil gambar dengan kualitas jempolan.

Meskipun Hauptwache indah dipandang, ternyata sejarahnya cukup mengerikan. Bangunan bergaya baroque ini difungsikan sebagai pusat militer dan penjara kota Frankfurt sejak abad ke-18. Setelah pernah beralih fungsi menjadi kantor polisi, Hauptwache rata dengan tanah akibat serangan bom pada Perang Dunia II.

Tidak butuh waktu lama bagi Pemerintah Jerman untuk merekonstruksi Hauptwache. Sebelas tahun pasca perang berakhir, Hauptwache kembali dibuka untuk publik. Sejak pembangunan stasiun kereta bawah rampung pada 1978, Hauptwache pun semakin ramai dikunjungi turis dari seluruh penjuru dunia.

4. Memandangi Kota dari Main Tower

Sudah puas menjelajahi kota, sekarang saatnya kamu memandangi apa yang telah dijelajahi dari gedung tertinggi keempat di Frankfurt: Main Tower. Letak Main Tower cukup dekat dengan Hauptwache. Kamu hanya perlu berjalan kaki selama sembilan menit ke arah barat.

Waktu terbaik untuk berkunjung ke sini adalah sore menjelang malam. Ketika matahari sedang tenggelam (sunset). Pada waktu ini, kamu bisa menikmati transisi siang ke malam, berbalut kerlap-kerlip lampu perkotaan. Inilah tempat terakhir yang saya kunjungi sebelum kembali ke Tanah Air esok hari.

Tidak seperti tiga lokasi sebelumnya, masuk ke dalam Main Tower tidaklah gratis. Kamu harus membeli tiket di lobi seharga 7,5 Euro. Bila pergi dengan rombongan, minimal 30 orang, harga tiket per orang didiskon menjadi 5 Euro saja. Meskipun cukup menguras kantong, tapi saya berani jamin sensasinya tidak akan pernah kamu lupakan.

Setelah membeli tiket, kamu akan dipersilakan naik ke dek observasi (observation deck) di lantai 56 dengan menggunakan lift. Segera rapatkan jaket dan penutup kepala, sebab embusan angin di ketinggian 200 meter akan sangat kencang dan terasa dingin.

Di dek observasi, kamu bisa memandangi hampir seluruh bagian kota Frankfurt dari sudut pandang yang berbeda. Mulai dari Frankfurt Hauptbahnhof (stasiun sentral Frankfurt), Sungai Main, Frankfurt Flughafen (bandar udara Frankfurt), hingga gedung-gedung bertingkat.

Dek observasi Main Tower juga menyediakan beberapa teropong koin. Hanya dengan 1 Euro, kamu bisa menikmati pemandangan kota dengan lebih jelas. Hanya saja, waktu meneropongnya sangat terbatas. Hanya dua menit saja, lensa teropong akan tertutup dan kamu harus menyetor koin 1 Euro lagi kalau ingin melanjutkan.

Senja Frankfurt dari Main Tower

Namun demikian, tanpa teropong pun sebenarnya kamu sudah bisa menikmati pemandangan yang menakjubkan. Sebab sudut pandang area dek observasi didesain 360 derajat, menghasilkan jarak pandang yang tidak terbatas.

Ketika matahari sudah tenggelam, lampu-lampu kota akan menyala. Jangan sia-siakan waktu terbaik ini untuk mengabadikan memorimu melalui kamera. Setelahnya, kamu bisa pulang ke hotel dengan tenang dan bersiap kembali ke Tanah Air dengan segudang kenangan.

Selamat berjalan-jalan!

 

Nama Penulis: Adhi Nugroho

Instagram: https://www.instagram.com/nodi_harahap/

Twitter: https://twitter.com/nodiharahap

Facebook: facebook.com/nodih/

Press Enter To Begin Your Search
×