Loading...

Trowulan

(photo source: dokumentasi pribadi)

Empat atau lima tahun sebelum kunjungan saya ke Ciamis, Agustus 2018, tiga peziarah berkunjung ke Astana Gede di Kawali, dan salah satu dari mereka, ketika keluar dari area situs tersebut, mendapati dirinya berada di depan situs Karang Kamulyan yang berjarak tak kurang dari dua puluh lima kilometer dari Kawali. Saya mendapatkan cerita tersebut dari Aba Ugi, seorang pelukis Ciamis yang memelihara banyak ayam dan bebek di rumahnya, dan mengangkat salah satu dari binatang tersebut sebagai panglima perangnya.

Kami berbincang dalam naungan hawa dingin yang membekukan Ciamis pada tanggal 9 Agustus, sekitar jam delapan malam. Tuan rumah kami, penyair Toni Lesmana, segera menambahkan sebuah cerita yang tak kalah absurdnya perihal Karang Kamulyan. “Ada sebuah jalan pintas menuju Trowulan di sana,” katanya dengan mimik muka lempang.

Menurut jadwal yang saya susun, esok paginya semestinya kami berangkat ke Situ Panjalu, menelusuri jejak-jejak Bunisora Suradipati, orang yang berjasa menjaga Galuh tetap berdiri selepas Peristiwa Bubat. Bunisora Suradipati lah, konon, yang merawat dan mendidik Wastukancana, menanamkan ajaran-ajaran luhur pada calon raja itu, dan berhasil memupus dendam sehingga kelak, sewaktu Wastukancana menduduki tahta, ia tidak lantas mengirim angkatan perang untuk menuntut balas pada Majapahit. Namun kesaksian Aba Ugi, dan pernyataan Toni Lesmana, membuat saya resah semalaman, lantas pagi-pagi benar, sewaktu bangun dari tempat tidur dengan kantong mata bertambah lebar, saya memutuskan untuk meralat jadwal.

“Kita pergi ke Karang Kamulyan, Kang,” kata saya kepada Toni Lesmana yang selama saya berada di Ciamis mengambil peran sebagai pemandu, dan berjasa membuat perjalanan kami lebih panjang ketimbang seharusnya, lantaran daya ingatnya yang payah terhadap jalan.

“Ini darurat,” tambah saya. Dan dengan ringkas, saya berupaya menjelaskan kondisi saya. “Sebagai pengantin baru, perjalanan kali ini lumayan menyiksa, Kang. Lihat, sudah berapa hari saya tidak ketemu istri. Kalau jalan pintas itu memang ada dan bisa ditempuh dalam hitungan detik, saya bisa nengok istri sebentar terus balik Ciamis lagi. Trowulan – Surabaya kan cuman sejam perjalanan,” kata saya. Saya menikah kurang dari lima bulan sebelum perjalanan saya ke Ciamis dalam rangka melakukan riset kecil-kecilan selama sebulan untuk buku puisi saya terkait insiden Bubat yang melibatkan Majapahit dan Galuh di masa lampau.

Toni Lesmana manggut-manggut. Dan sepanjang perjalanan, sepanjang 42 menit yang terasa teramat lama, saya membayangkan seperti apa situs Karang Kamulyan itu. Saya mengimajinasikan sebuah pohon besar tumbuh di salah satu sudutnya, pohon besar yang entah apa jenisnya, namun telah berumur ratusan tahun. Seseorang tinggal memejamkan mata di sana, memohon dengan kesungguhan yang betul-betul, dan ketika membuka mata, ia akan berada di sebuah tempat di Trowulan. Mungkin di Wringin Lawang, mungkin di Bajang Ratu, mungkin pula di Makam Panggung. Tidak ada masalah. Saya juga sempat mengira-ngira bahwa pintu dari jalan tembus tersebut berwujud dua tiang batu dari masa megalitikum, berwarna putih, dan dikelilingi oleh bekas bakaran dupa. Seseorang yang hendak memintas jarak mesti melewati celah sempit di antaranya, lalu ada semacam kehangatan yang mengguyur tubuh, dan ketika kehangatan itu memudar, si penyeberang mendapati dirinya berada di sebuah tempat di Trowulan.

Matahari sudah terasa terik ketika kami sampai. Di pintu masuk, kami menukar dua tiket dengan uang tujuh ribu rupiah. Harga yang terlampau murah untuk perjalanan pulang pergi ke Trowulan. Saya teringat tiket kereta yang ratusan ribu harganya. Dari pintu masuk itu pula, saya bisa membaca sebuah plang aluminium yang menegaskan apa yang dikatakan Toni Lesmana, meski tidak sama persis. Sisa Jalan Kuno yang Menghubungkan Kerajaan Pajajaran dengan Kerajaan Majapahit. Saya semakin antusias. Plang dengan keterangan segamblang ini tidak akan dibuat bila hanya desas-desus. Petugas penjaga pintu masuk tertawa ketika saya mengatakan tujuan saya datang ke situs Karang Kamulyan adalah untuk menemukan dan menempuh jalan tembus tersebut. Tapi saya tidak peduli.

Trowulan

(photo source: dokumentasi pribadi)

Situs itu luas. Jauh lebih luas ketimbang Astana Gede yang sudah lebih dulu saya kunjungi. Dua puluh lima setengah hektar tepatnya. Rumpun bambu dan rotan tampak mendominasi vegetasi di sana. Aneka tinggalan masa lampau menyambut saya dalam suasana adem yang menentramkan. Diawali Pangcalikan atau singgasana raja, jalan-jalan lalu penuh cabang.

“Mungkin Pangcalikan itu singgasana Ciung Wanara,” kata Toni Lesmana. Situs Pangcalikan ini sendiri terdiri dari tiga halaman dengan masing-masing dibatasi oleh susunan batu setinggi sekitar satu meter dan lebar sepertiga meter. Halaman pertama berada di sisi selatan, dan halaman-halaman berikutnya berurutan di sisi utaranya. Pada halaman ketiga, terdapat bangunan cungkup tanpa dinding.

Apa yang disebut Pangcalikan sendiri adalah sebuah batu putih berukuran 92 kali 92 sentimeter dengan tinggi 48 sentimeter. Kami, yang tidak berlama-lama di Pangcalikan, kemudian memilih jalan yang bakal membawa kami ke Sang Hyang Bedil, yang merupakan susunan batu berbentuk segi empat dan di tengah-tengahnya terdapat dua batu panjang dalam keadaan patah; satu dalam posisi berdiri dan lainnya rebah. Batu yang rebah itulah, yang lantaran bentuknya mirip bedil, yang disebut Sang Hyang Bedil. Situs Sang Hyang Bedil bersebelahan dengan Panyabungan Hayam, arena di mana konon dulu sekali Ciung Wanara mengadu jago dan memenangkan separuh kerajaan Galuh. Terdapat sebatang pohon besar di tengah arena adu jago tersebut, pohon yang tidak memiliki keterangan nama, namun mempunyai sebuah tonjolan di ketinggian kurang lebih satu setengah meter dari permukaan tanah. Kata seorang pencari rumput yang kami temui, itu adalah pohon bungur.

Toni Lesmana menunjuk sebongkah batu yang sedikit mencuat di permukaan tanah, lima meter dari pohon tersebut. Batu hitam mengkilat. “Bila kamu berjalan dari batu itu dengan mata terpejam dan berhasil menyentuh tonjolan di batang pohon itu, maka segala permintaanmu akan terkabul,” katanya. Ia tidak perlu mengulangi perkataannya untuk membuat saya melakukan hal itu. Puji Tuhan. Saya berhasil melakukannya. Tangan kanan saya menyentuh tonjolan di batang pohon tanpa perlu meraba-raba. Dan satu-satunya keinginan yang saya panjatkan waktu itu adalah agar memang benar-benar ada jalan pintas menuju Trowulan dari Karang Kamulyan.

Namun, sebelum pintu ajaib itu kami masuki, saya merasa perlu menyiapkan diri. Seperti remaja centil yang tengah jatuh cinta, saya mematut diri. “Cuci muka dulu di Cikahuripan,” kata Toni Lesmana. “Cikahuripan itu, arti harafiahnya, air kehidupan. Terserah mau kamu artikan gimana,” lanjutnya. Saya setuju. Dalam bayangan saya, setelah cuci muka di pancuran itu, muka saya bakal bercahaya dan saya terlihat lebih hidup. Istri saya akan semakin tergila-gila, pastinya.

Dalam perjalanan itu, kami juga singgah di beberapa situs. Mulai dari sebongkah batu yang diberi keterangan Batu Lambang Peribadatan hingga sebongkah batu lain yang disebut Pamangkonan. Konon, siapa yang bisa mengangkat Pamangkonan hingga perut, maka segala permintaannya akan dikabulkan. Saya tidak mencobanya. Selain batu tersebut terlihat berat dan sebagian dari batu itu tampak terkubur, batu tersebut juga di pagar besi dan pintunya terkunci. Lagipula, saya toh sudah berhasil menyentuh tonjolan di batang pohon bungur yang berada di tengah area adu jago Ciung Wanara.

Setelah satu jam yang melelahkan, kami akhirnya sampai di ujung situs tersebut. Sebuah tanah lapang yang berada tepat di tepi pertemuan sungai Cimuntur dan Citanduy. “Patimuan,” ujar Toni Lesmana, “Semacam tempat pertemuan,” tambahnya.

Di sana, sejumlah monyet menunjukkan kekuasaannya. Mereka berkeliaran dengan santai dan tampak tak terganggu dengan kehadiran kami. Salah dua di antara mereka, yang entah tengah dimabuk cinta atau diterjang deru birahi, tanpa memedulikan kami, bercinta dengan singkat dan bergelora. Barangkali, monyet-monyet itu adalah monyet-monyet keturunan monyet yang dilihat oleh Ciung Wanara dulu sekali, dan menjadi muasal nama Wanara dalam nama raja besar itu. Dan sejarah itulah yang membuat mereka meyakini bahwa tempat itu adalah wilayah kekuasaan mereka, dan kami semata tamu bagi mereka.

Seekor monyet besar tiba-tiba mendatangi kami, ia memamerkan taringnya yang tajam. Ia berjalan mantap. Dan kami gentar. “Kasih botol minummu,” kata Toni Lesmana. Saya terlalu takut untuk membantah. Saya memberikan botol dengan minuman yang masih setengah. Dan monyet itu membuka tutupnya dengan terampil, menghabiskan isinya dalam sekali tenggak. Dan kami terpukau.

“Terus, di mana pintu menuju Trowulannya?” tanya saya.

“Ya kalau aku tahu, aku pasti sudah main ke Jawa Timur,” kata Toni Lesmana, santai.

Saya menepuk jidat. Sementara di pertemuan Citanduy dan Cimuntur, beberapa rakit mengambang. Beberapa penambang sibuk mengangkut pasir. Dan tiba-tiba saya membayangkan, tujuh atau delapan abad yang lampau, rombongan pengantin Galuh yang akan berlayar menuju Trowulan menambatkan kapal-kapalnya di sini sebelum bertolak ke Pangandaran, pantai yang menjadi muara sungai tersebut.

“Kitab Wangsakerta menyebut kalau rombongan Galuh berangkat dari Cirebon, bukan Pangandaran,” kata Toni Lesmana tiba-tiba, seolah-olah tahu apa yang saya pikirkan. Ia mungkin memiliki bakat sebagai cenayang, hanya saja tidak ia kembangkan.

Ketika kami akhirnya pulang dari Karang Kamulyan dan melewati rel kereta api, tiba-tiba saya bersyukur bahwa jalan tembus ke Trowulan itu tidak benar-benar ada – atau memang benar-benar ada hanya saja tidak sembarang orang diberi berkah untuk menemukannya. Jika jalan tembus itu bisa ditemukan dan digunakan semua orang, saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib bisnis transportasi, khususnya bus dan kereta api. Mereka akan terpaksa menutup trayek dan negara ini musti menampung sejumlah pengangguran baru.

 

Penulis: Dadang Ari Murtono

Instagram: dadang_arimurtono

Facebook: Dadang Ari Murtono

 

Press Enter To Begin Your Search
×