Loading...

Foto: unsplash.com

Saya suka traveling. Dari dulu ketika masih kuliah dan kemudian bekerja, saya selalu menyisihkan pendapatan saya untuk jalan-jalan. Saya tahan untuk tidak belanja diskonan tas atau sepatu, tapi seperti cacing kepanasan kalau melihat diskon tiket pesawat. Ada saatnya ketika teman-teman sudah mulai sibuk investasi di logam mulia, surat berharga dan lain-lain, investasi saya adalah sehelai tiket jalan-jalan dan voucher penginapan.

Ketika berkesempatan mendapatkan beasiswa dan belajar di Belanda, saya jarang sekali masuk kelas. Waktu saya lebih banyak dihabiskan untuk jalan-jalan keliling Eropa. Sempat saya mendapat julukan Part Time Student, Full Time Tourist karena kegemaran saya itu. Beberapa dosen saya sudah maklum dengan jarangnya saya masuk kelas. Untuk dosen-dosen yang mengutamakan kehadiran, saya berusaha mengatur jadwal jalan-jalan supaya tidak bentrok dengan waktu kuliah. Jangan sampai jalan-jalan mengganggu kuliah, begitu juga sebaliknya. Alhamdulillah saya akhirnya bisa lulus kuliah tepat waktu. Lulus juga mengunjungi semua negara di Eropa Barat dan beberapa negara di Eropa Tengah dan Timur.

Michael Buble Concert, Estate Wineries, Napier, New Zealand

Setelah menikah dan punya anak, tujuan jalan-jalan saya berubah. Kali ini lebih banyak mengunjungi daerah-daerah yang relatif aman dan children friendly. Perjalanan pun harus direncanakan dengan lebih matang. Tidak ada lagi last minute spontan ingin jalan-jalan dan langsung berangkat saat itu juga. Lupakan juga traveling hanya dengan membawa 1 tas ransel tanpa bagasi. Kunjungan pun lebih banyak ke theme park, museum yang menarik untuk anak-anak, atau kebun binatang.

Untungnya, anak-anak sehat dan tahan banting selama ini kalau dibawa jalan-jalan, baik dengan menggunakan pesawat ataupun road trip. Walaupun saya sangat menikmati saat liburan bersama anak-anak, tapi tak bisa dipungkiri kalau terkadang saya kangen jalan-jalan dengan teman-teman.

 Jalan-jalan tanpa harus memikirkan bekal apa yang harus dibawa dan kemana saja agenda hari ini. Jalan-jalan tanpa harus was-was apakah tempat tujuan wisatanya nanti aman, atau apakah baju dan perlengkapan anak-anak cukup memadai untuk cuaca dan tujuan hari itu. Dan jalan-jalan yang tanpa memikirkan harus pulang jam berapa, karena kalau pulang kemalaman nanti anak-anak sudah terlalu capek dan susah bangun besok pagi.

Beruntung saya punya suami yang sangat pengertian.

Sejak beberapa tahun terakhir, suami memberi saya hadiah ulang tahun yang sangat saya syukuri. Tiket pesawat berikut uang saku untuk jalan-jalan dengan teman-teman saya, atau hanya sekedar mudik ke tempat keluarga saya, tanpa membawa suami dan anak-anak. Terdengar sepele, tapi tidak untuk saya.

Sebagai ibu dari 2 orang anak usia sekolah, hari-hari saya penuh dengan kesibukan mengurus anak-anak dan bekerja penuh waktu. Waktu saya hampir habis tak tersisa untuk mengurus diri sendiri. Lama-lama saya lelah. Dan jadi lebih gampang marah ketika capek melanda. Akibatnya, saya jadi seperti kurang menghargai waktu saya bersama anak-anak. Bagaimana kita bisa memberi, ketika jiwa kita sendiri kosong?

Awalnya memang tidak gampang. Walaupun saya ingin pergi jalan-jalan tanpa anak-anak, perasaan bersalah karena ‘meninggalkan’ mereka tetap menghantui. Bagaimana kalau nanti mereka sakit waktu saya tidak ada bersama mereka? Bagaimana kalau nanti ada acara penting di sekolah dan saya tidak bisa hadir untuk mereka?

Lagi-lagi saya beruntung punya suami yang mau repot mengurus anak-anak selama saya pergi. Suami menyakinkan saya bahwa semua akan baik-baik saja. Anak-anak juga sudah cukup besar untuk ditinggal sementara waktu.

Trip ke Kawah Ijen, Banyuwangi, Indonesia

Walaupun itu berarti ada beberapa pengorbanan yang harus dilakukan suami saya, mengingat kami tidak punya asisten rumah tangga yang dapat membantu dan kami hidup jauh dari keluarga. Walaupun ini juga berarti saya harus mau kompromi dan menurunkan standar saya, terutama soal makanan untuk anak-anak.

Saya sangat jarang memberi anak-anak makanan siap saji seperti piza atau ayam goreng. Tapi kalau saya pergi jalan-jalan, mau tidak mau saya harus kompromi dengan suami yang lebih memilih makanan yang praktis seperti itu. Tidak setiap hari tentu, tapi jadi lebih sering dibanding ketika saya ada di rumah.

Sesekali tidak apa-apa. Karena sama seperti saya, mereka juga perlu break dari segala rutinitas yang ada selama ini. Termasuk soal makanan. Saya juga merasa, sesekali perlu untuk mengajarkan anak-anak agar lebih mandiri dengan tanpa kehadiran saya di sisi mereka.

Sudah beberapa tahun ini saya jadi bisa punya waktu untuk jalan-jalan tanpa anak-anak. Waktunya memang tidak lama, hanya sekitar 10 hari-14 hari dalam 1 tahun. Tapi itu sudah sangat cukup untuk saya. Cukup untuk saya recharge, mengisi ulang energi saya dan membuat saya siap menjalani kembali tugas dan kewajiban saya sebagai seorang ibu dan istri dengan lebih baik lagi.

Trip ke Bali, Indonesia

Jalan-jalan tanpa membawa anak bagi saya seperti menekan tombol reset, yang membuat saya jatuh cinta lagi dengan motherhood dan anak-anak saya. Dan tidak ada hal yang lebih indah daripada pelukan hangat anak-anak ketika kita kembali ke rumah.

 

Nama Penulis: Dedek Astrilia Gunawan

Instagram: www.instagram.com/jarigendut

Facebook: Dedek Astrilia Gunawan

Press Enter To Begin Your Search
×