Loading...

(photo source: pixabay.com)

Bali...

Selalu dikenal dan diidam-idamkan banyak wisatawan, agar dapat berkunjung ke sana. Pulaunya, tariannya, pantainya, pemandangannya, makanannya, penginapannya, turis nya, biayanya.

Ah semua deh, indah. Tidak cukup melalui tulisan saja. (Karena cuma sekedar dengar)

Kalau sekedar pergi, jalan-jalan atau liburan, hanya sebatas yang dekat seperti: Yogya (ya karena aku domisili di sana), Batu Malang (dulu pernah tinggal di sana juga ), Semarang (kebetulan ada saudara, tapi itu wisata acara sekolah, bukan traveling), Bandung (nah ini baru traveling, berdua saja dengan anak pertama ku, naik kereta api, pertama kalinya lho itu, nekat).

Ya minimal sudah punya pengalaman pergi dari rumah dan kembali, besok biar siap menghadapi kenyataan keindahannya Pulau Bali (eits). Kan sukses berawal dari mimpi.

Sayang ya, 33 tahun aku kenal dan mendengar tentang Pulau Dewata ini hanya melalui TV, internet atau sosial media. Bahkan bermimpi pun aku sulit. Apakah cukup, dengan hanya dibayangkan? Apakah puas dengan digambarkan, dibanding datang langsung ke sana? Sepertinya tidak.

Bali...

Izinkan aku dapat mengunjungi mu, menikmati keindahanmu seperti cerita banyak insan di luaran sana. Masih kah ada waktu untuk aku dapat bermain di tepi pantai mu? Mampukah aku bergaya sesuka hati demi memenuhi ruang memori ponsel ku? Ingin juga mencicipi makanan khasnya dan mencoba tari Bali nya juga mau. Semuanya aku mau kok. Tidak ditolak rugi.

Ah.. mimpi lagi...

Pasti ini hanya salah satu sisi ruang khayalku, yang senantiasa berharap "siapa tahu aku besok sudah ada di Bali". Aamiin. Kan siapa tahu, bukan tempe.

Tidak sabar menyiapkan koper dan kamera deh jadinya momen-momen diamankan sebagai kenangan dan selanjutnya aku adalah salah satu orang yang mampu menceritakan tentang Pulau Bali kepada mereka yang belum pernah tahu seperti aku sebelumnya.

Harap maklum saja, sejak Bulan Maret 2019 kami di rumah saja, jadi hawa-hawa traveling sudah membara. Menanti ajakan-ajakan jalan, nongkrong dan ngerumpi. Bahkan main ke sawah dekat rumah saja, sekedar selfi dan menghirup udara luar rumah, sudah bahagia kok. Apalagi agak jauhan, lupa diri deh. Kapan ya boleh keluar-keluar normal seperti dulu? Tanpa ada rasa takut dan kewaspadaan terhadap sesama manusia atau benda.

Seperti apa ya situasi dan kondisi di Bali saat ini? Apakah sepi pengunjung? Apa kera-kera yang ada di Sangeh juga di rumah saja? Belum boleh berkeliaran? Pantai Kuta masih banyak yang berjemur di sana kah? Mungkin adalah ya, yang penting jaga jarak kan? Semoga Indonesia pulih, perekonomian juga membaik, kesehatan meningkat, orang sakitnya menurun. Agar perjalanan liburan lancar, mengharap bisa traveling ke Bali oh Bali.

Sungguh mati aku jadi penasaran, oh sampai mati aku pun penasaran

(Malah nyanyi kan jadinya)

Besok harus periksa nih, takutnya aku sudah kena penyakit "DeTra MaSis" (Depresi Traveling Masa Krisis ) dengan gejala: demam, menggigil, mengigau, bingung, tenggorakan gatal, telapak tangan gatal, telapak kaki gatal.

Kalau sampai tervonis, waah resep nya susah. Mahal. Mau cari dimana lagi obatnya, selain T.R.A.V.E.L.I.N.G

 

Penulis: Khariestya Permatarani

Instagram: @khariestya

Facebook: Thatya Razkya

 

Press Enter To Begin Your Search
×