Loading...

Sebenarnya saya adalah tipe orang yang lebih menikmati perjalanan dari pada destinasinya. Itu mengapa saya selalu menikmati momen perjalanan jauh, terutama ketika sendirian. Ketika menuju ke satu kota tertentu via kereta atau ketika di perjalanan malam dalam sebuah bus lintas provinsi, adalah salah dua favorit saya. Di satu sisi, saya memang senang menyendiri.

Apa yang menarik dalam sebuah perjalanan panjang, seorang diri pula? Jika itu ditanyakan pada saya, maka saya akan menjawab: saya bisa mengenal diri saya sendiri lebih jauh. Terdengar sok filosofis, memang. Duduk sendirian, memandang sekitar, mengamati, berpikir, lalu berasumsi sendiri. Nikmat, bagi saya, ketika tak ada yang mengenal dan memperdulikan saya—sedangkan saya sibuk dengan diri sendiri. 

Hanya saja, ada satu impian yang belum bisa saya wujudkan. Impian tersebut adalah melakukan perjalan jauh sendirian dengan mengendarai motor. Jika berwisata sendirian sering dikenal dengan istilah solo traveling, maka aktivitas yang satu ini lebih dikenal dengan sebutan solo touring.

Tentang Impian Solo Touring 

Tak ada literasi khusus yang menjelaskan definisi solo touring. Namun, dari beberapa sumber, saya meyakini bahwa solo touring dalam hal ini adalah berpergian jarak jauh dengan jarak tempuh minimal 200 kilomoter dalam sekali perjalanan, mengendarai sepeda motor sendirian (atau berboncengan), dan dengan catatan tidak konvoi atau beramai-ramai. Baiklah, kita sepakati saja definisi tersebut. 

Saya tahu ada beberapa orang Indonesia yang berhasil keliling Indonesia bahkan dunia dengan mengendarai motor seorang diri. Beberapa nama yang saya tahu diantaranya adalah Stephen Langitan yang melakukan solo touring dari Jakarta ke London dengan sebuah motor adventure bermesin 250 Cc dan pemuda asal Aceh bernama Dayat yang mengelilingi seluruh provinsi di Indonesia hanya dengan sebuah motor bebek tahun lama.  

Stephen Langitan (Sumber foto: oto.detik.com)

Namun, saya sendiri tak memiliki ambisi sebesar itu. Jika saya bisa solo touring, maka saya ingin roda motor saya menginjak tiga provinsi saja: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Mengapa saya memilih tiga provinsi itu?

Sebelum sampai sana, izinkan saya membahas soal motor terlebih dulu. Pertanyaannya sekarang adalah, motor apa yang akan membawa saya untuk mewujudkan impian solo touring ini? Apakah dengan motor adventure bermesin 250 Cc seperti yang dipakai Stephen Langitan dan atau hanya dengan motor bebek seperti yang digunakan Dayat? 



Dayat (Sumber foto: naikmotor.com)

Pertama sekali, jika dengan motor bebek, maka saya sudah selangkah lebih dekat dengan impian saya. Sekarang saya sudah punya motor bebek untuk aktivitas sehari-hari. Jika harus dengan motor adventure bermesin besar yang memang diperuntukkan untuk perjalanan jauh, mungkin saya harus menunggu lebih lama lagi demi bisa membeli motor seperti itu. Saya rasa kondisi mental dan finansial sangat berpengaruh dalam hal ini.

Namanya sebuah impian, maka dalam tulisan ini akan saya asumsikan kondisi mental dan finansial saya sudah lebih dari cukup untuk melakukan solo touring, apa pun motornya. Sepakat, ya? 

Nah, sekarang balik ke soal tiga provinsi yang saya pilih tadi. Saya tidak asing dengan ketiga provinsi itu. Saya adalah orang yang lahir dan besar di salah satu daerah di Provinsi Sumatera Utara, kemudian selama empat tahun saya sempat berkuliah di salah satu universitas yang ada di ibu kota Provinsi Aceh. Saya pun cukup erat dengan Sumatera Barat karena keluarga ayah saya berasal dari sana dan sudah beberapa kali mengunjunginya. Oleh karena itu, saya rasa ketiga provinsi tersebut adalah pilihan yang terbaik untuk saya. Setelah ini akan saya rangkum lebih detail rute perjalanan impian saya ini.  

Memulai Langkah dari Tugu Nol Kilometer, Sabang, Aceh

Sekali waktu, saya pernah mengunjungi Sabang, suatu daerah di Pulau Weh, Provinsi Aceh. Daerah itu terkenal dengan pasir pantainya yang putih dan laut birunya yang jernih. Di sana, ada pula satu ikon wisata yang bernama Tugu Nol Kilomoter. Buat yang belum tahu, tugu tersebut adalah titik geografis paling barat di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mengingatnya, saya jadi terpikir untuk memulai perjalanan impian saya ini dari titik tersebut.

Memulai perjalanan jauh sendirian dengan sepeda motor dari titik nol kilometer Indonesia adalah suatu narasi yang bagus. Saya bisa memulai perjalanan (tidak resmi) saya dari sana dan kemudian menuju pelabuhan untuk menyeberang ke Kota Banda Aceh dengan menumpang kapal. Sebuah awal perjalanan yang menarik, bukan?



Tugu Nol Kilometer, Sabang, Aceh (Sumber foto: idntimes.com)

Sedangkan Banda Aceh bukanlah daerah yang asing bagi saya. Empat tahun saya berkuliah di kota yang pernah tertimpa musibah tsunami pada tahun 2004 itu. Saya pun memiliki banyak teman dan telah terbiasa dengan kultur budaya, makanan, maupun destinasi wisata terbaiknya. Khusus kultur budaya dan makanan, secara umum mungkin sama dengan wilayah di Provinsi Aceh lainnya. Hal tersebut menjadi modal yang baik ketika saya mengarungi roda motor saya selama melintasi jalanan beraspal di Aceh. 

Perlu diketahui kalau jalanan di Aceh sering beriringan dengan garis pantai. Pada beberapa spot tertentu, kita akan melihat garis pantai dan hamparan laut yang indah dari tepi jalan. Terlebih jika perjalanan di sore hari saat matahari menuju tenggelam. Dijamin akan memanjakan mata. Ditambah Aceh memiliki jalanan aspal yang terkenal sangat mulus dan saya berani bilang kalau jalanan aspal di Aceh jauh lebih baik dari provinsi lain di Pulau Sumatera. Saya bisa membayangkan bagaimana serunya melintasi bumi Serambi Mekah dengan sepeda motor sendirian. Melalui provinsi ujung barat, saya akan menuju ke provinsi sebelah yaitu Sumatera Utara.

Menuju Setengah Perjalanan ke Danau Toba, Parapat, Sumatera Utara

Titik tengah yang saya inginkan dalam perjalanan ini adalah Parapat, Sumatera Utara. Melalui informasi yang saya dapatkan dari maps, jarak antara Sabang menuju Parabat berkisar 537 kilometer. Sedangkan tempat tinggal saya sendiri masih berjarak 5 jam perjalanan darat sebelum sampai di Parapat, walaupun masih sama-sama di Sumatera Utara. Meski begitu, saya sudah mengunjungi Parapat beberapa kali.

Jika Sabang yang ada di Aceh erat dengan pantai dan laut yang indah, maka Parapat di Sumatera Utara erat dengan daerah pegunungan yang hijau dan sejuk. Nah, salah satu ikon wisata yang sangat terkenal di Parapat adalah Danau Toba. Tentu sudah banyak yang tahu tentang danau terbesar di Indonesia ini.



Danau Toba, Parapat, Sumatera Utara (Sumber foto: tripelaketoba.com)

Sekadar informasi, Danau Toba terbentuk dari letusan supervolcano yang diperkiran terjadi 69.000-77.000 tahun yang lalu. Karena letusan tersebut, terbentuklah sebuah kaldera yang kemudian terisi air dan sekarang kita kenal dengan Danau Toba. Panjang Danau Toba saat ini mencapai 100 kilometer, lebar 30 kilometer, dan kedalamannya 505 meter. Selain merupakan danau terbesar di Indonesia, Danau Toba juga merupakan danau vulkanik terbesar di dunia. 

Kultur yang erat dengan budaya batak akan sering dijumpai di daerah yang satu ini. Jika datang bertepatan dengan hari-hari adat orang batak, kita bisa melihat secara langsung berbagai upacara-upacara adat yang dapat menumbuhkan wawasan budaya kita. Selain itu, keindahan dataran tinggi di sekitar Danau Toba saya kira sangat baik untuk merilekskan badan dan pikiran setelah perjalanan panjang dari Aceh, menjadikannya sebagai titik tengah yang sempurna dalam mengarungi perjalanan impian ini. Selanjutnya saya akan menyelesaikan perjalanan menuju Sumatera Barat.

Mencapai Titik Akhir di Jam Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat

Awalnya saya cukup bingung dalam menuntukan titik akhir perjalanan saya di Sumatera Barat. Saya sempat berpikir ingin mengakhiri perjalanan di Kota Padang karena merupakan ibu kota provinsinya. Namun setelah dipikir-pikir, ternyata saya melupakan Bukittinggi, satu daerah di Sumatera Barat yang tak hanya ikonik tetapi juga memiliki sejarah panjang di Indonesia.

Jarak dari Parapat ke Bukittingi sendiri berkisar 501 kilometer, angkanya tak jauh berbeda dengan trip pertama dari Sabang ke Parapat.  Jika ditotal-total, jarak tempuh perjalanan impian saya ini setidaknya mencapai 1.038 kilometer dari titik awal di Sabang sampai menuju Bukittinggi. Sekali lagi, jarak dalam satuan kilometer tersebut hanya perkiraan berdasarkan informasi yang saya dapatkan di aplikasi maps.

Balik lagi soal Bukittinggi. Seperti namanya, daerah ini memiliki kondisi tanah yang berbukit-bukit. Hal itu karena Bukittinggi sendiri merupakan salah satu daerah dataran tinggi yang ada di Sumatera Barat. Terakhir kali saya mengunjungi Bukittinggi, saya tetap mendapati suasana kota yang sejuk sekaligus kental dengan kultur minang sebagaimana yang umum ditemukan di Sumatera Barat. Pun Bukittinggi merupakan daerah wisata yang paling terkenal di Sumatera Barat, sehingga kota ini tak pernah sepi dari wisatawan lokal maupun mancanegara.

Oh iya, yang sangat saya senangi di Sumatera Barat adalah makanannya. Semua orang juga tahu betapa juaranya cita rasa makanan minang. Khusus di Bukittinggi, tentunya saya ingin mencicipi nasi kapau yang menjadi ciri khas di sana. Tentu lidah dan perut saya akan dimanjakan setelah perjalanan jauh setelah mengarungi dua provinsi sebelumnya.



Jam Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumber foto: genpi.co)

Satu yang tidak diboleh dilupakan adalah keberadaan Jam Gadang sebagai ikon utama Kota Bukittinggi. Jam Gadang ini sudah ada sejak tahun 1927 alias sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Konon, jamnya sendiri bahkan merupakan hadiah dari seorang Ratu Belanda yang bernama Wilhelmina. Saya pikir, Jam Gadang di Bukittinggi adalah titik yang paling tepat untuk menyempurnakan perjalanan impian saya dalam solo touring ini. 

Berawal dari Sebuah Impian, Berharap Menjadi Kenyataan 

Memang tidak akan sesederhana itu. Banyak hal yang harus dipersiapkan selain kondisi mental dan finansial. Di luar itu, Tugu Nol Kilometer, Danau Toba, dan Jam Gadang adalah narasi yang ingin saya bangun dalam rute perjalanan ini—bisa dibilang sebagai tujuan tidak resmi dalam perjalanan saya. Kebetulan, dari segi jarak, rute tersebut sangat pas untuk menjadi titik awal, titik tengah, dan titik akhir perjalanan. Kebetulan lagi, saya cukup familiar dengan tiga provinsi tempat titik perjalanan tersebut berada. 

Yah, bolehlah jika saya harus bermimpi lebih dulu. Hal-hal luar biasa dalam hidup juga banyak yang berawal dari sebuah mimpi. Dan, inilah perjalanan impian saya: mengendarai motor, sendirian, menikmati setiap momen. Saya tak tahu harus mematok perjalanan impian ini berapa hari, berapa minggu, atau berapa bulan. Saya hanya ingin menikmati perjalanan, melihat segala unsur keindahan yang dimiliki Indonesia, dan semakin mengenali diri saya sendiri. 

Penulis: Irsyad Muhammad

Instagram: irsyadmuhammad_blog

Press Enter To Begin Your Search
×