Loading...

Sumber: www.unsplash.com

Semburat jingga memenuhi tiap sudut langit Palangkaraya ketika pesawat kami bersiap untuk landing di Bandara Tjilik Riwut. Tampak dari udara, bentangan luas hamparan hijau yang saya duga, itulah gambut yang sejauh ini hanya bisa saya lihat melalui media. Meski tampak indah, tetapi terlihat jelas beberapa ‘noda’ hitam yang mungkin area bekas terbakar ataupun alih fungsi lahan untuk pertanian. Rasanya hasrat untuk segera menjelajah hutan gambut sudah tak terbendung lagi.

Tak selang waktu lama, pesawat kami pun landing dengan sempurna. Satu kata yang menggambarkan kesan pertama saya sesaat setelah kami keluar dari pesawat: sepi. Suasana di sini sungguh berbeda dengan Jakarta, di mana saya memulai penerbangan. Tak ada kegaduhan yang berarti di sini.

Tampak di kejauhan pada pagar pembatas bandara, terlihat beberapa gerombolan anak seakan menyambut kedatangan kami. Entah sambutan kegembiraan atau ungkapan perasaan heran terhadap kami, orang-orang asing yang nampak seperti saudara jauh bagi mereka.

Tatkala kami berjalan turun menuju tempat pengambilan bagasi, sayup-sayup terdengar alunan musik khas Kalimantan Tengah menyambut kedatangan kami. Sungguh sambutan yang hangat. Sembari menunggu antrean bagasi, saya gunakan kesempatan ini untuk berkenalan dengan kawan-kawan peserta yang berasal hampir dari berbagai provinsi di Indonesia. Sungguh, saya beruntung mengenal kalian semua. Kalian adalah kawan dan guru yang ramah.

Bertolak dari bandara, kami segera melanjutkan perjalanan menuju daerah Kasongan Lama. Jalanan sungguh sepi. Baik di kota maupun lepas dari kota. Sepanjang perjalanan saya hanya mendapati semak belukar yang sesekali diselingi kelompok kecil pemukiman yang diterangi remang lampu jalan. Saya juga jarang mendapati banyak kendaraan lalu lalang. Jalanan begitu mulus dan panjang sehingga karena kelelahan saya pun segera tertidur.

Saya terbangun ketika mobil berhenti pada sebuah hotel. Malam itu juga, setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam dari bandara, kami melakukan briefing dan diskusi ‘perkenalan’ dengan pihak-pihak yang mempunyai peran penting dalam acara ini, seperti jajaran penting Badan Restorasi Gambut dan kepala Taman Nasional Sebangau. Perkenalan yang ramah dan penuh antusias.

Selesai makan malam, kami segera dimobilisasi menuju motel yang tak jauh dari tempat diskusi tadi. Tanpa babibu saya pun langsung terlelap.

Hari Pertama

Pagi benar, kami telah siap dan segera melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Sebangau. Perjalanan ini tidak jauh berbeda dengan semalam, jauh dan sepi. Untungnya, sepanjang perjalanan saya dapat menikmati. lingkungan sekitar jalanan. Saya menduga hampir seluruh daratan di sini adalah gambut.

Oiya, ada satu daerah yang hampir berkilo-kilo luasnya, seperti halnya padang pasir putih yang menyala-nyala. Jika tidak salah, ini masih belum terlalu jauh daerah Kasongan Lama. Sata tidak tahu pasti nama daerahnya. Jika kawan-kawan berkesempatan kemari, mungkin kawan-kawan bisa menemuinya di sepanjang perjalanan menuju lokasi TN Sebangau. Menurut informasi Pak Supir, area ini adalah bekas penambangan pasir yang sekarang geliatnya sudah tidak seaktif dulu. Memang, pada beberapa area, tampak lubang-lubang yang tergenang air yang sengaja ditinggalkan begitu saja oleh pihak pengelola.

Setelah memakan waktu cukup lama, sampailah kami di dermaga Kereng Pakahi. Ini adalah pertama kalinya saya melihat sungai yang begitu luas. Eh satu lagi, ini juga pertama kalinya saya akan naik perahu di tengah sungai haha. Sungguh pengalaman dagdigdug mengarungi sungai dengan perahu kecil menuju Muara Punggualas. Terlebih perahu yang saya tumpangi sempat bermasalah pada awal perjalanan. Syukur kami sampai dengan selamat.

Sesampainya di Muara Punggualas, kami segera melakukan tracking menuju lokasi revitalisasi ekonomi BRG. Lokasi ini semacam gerbang menuju TN Sebangau. Di tempat ini terdapat beberapa homestay yang dikhususkan untuk tamu yang berkepentingan terhadap TN Sebangau, misalkan kunjungan, penelitian dsb.

Perjalanan tracking, meski hanya sekitar satu kilometer, cukup meninggalkan kesan mendalam. Alasan utama, karena jalur perjalanan kami merupakan lahan bekas kebakaran gambut hebat pada tahun 2015. Meski sudah 4 tahun berlalu dan vegetasi nampak telah membaik, tetapi masih terlihat jelas sisa-sisa kengerian akibat kebakaran yang dampaknya sungguh mengerikan itu. Semoga kebakaran semacam ini tidak terjadi lagi.

Dari lokasi ‘gerbang utama’ ini, kami segera melanjutkan perjalanan kembali menggunakan perahu kecil menuju area camp TN Sebangau. Menyusuri sungai gambut dengan airnya yang bewarna merah sungguh membuat saya haru. Mata saya tak henti-hentinya berbinar memandangi anugerah semesta ini. Saya yang sejak dahulu bercita-cita ingin melihat hutan alami secara langsung, kini impian itu terwujud. Saya dapat merasakan sambutan ramah pepohonan yang seakan mengolok-olok keluguan yang tampak pada wajah saya ini.

Sepanjang aliran sungai ini pula, saya dapat menyaksikan plang yang berisi foto dan informasi beberapa orang utan yang hidup di dalam TN Sebangau. Saya berharap dapat bertemu salah satu dari mereka. Perlu kawan-kawan ketahui, di TN Sebangau hampir semua satwa di sini benar-benar ‘liar’ dalam arti yang sesungguhnya. Jadi, jika suatu waktu saya bisa bertemu atau minimal melihat orang utan yang sedang mencari makan, sungguh itu adalah kesempatan yang luar biasa.

Tibalah kami di area camp TN Sebangau. Sesudah meletakan barang bawaan, tanpa basa-basi kami segera menyantap makan siang yang telah disediakan oleh warga lokal yang memang ditugaskan sebagai tim guide. Warga lokal yang ramah ini ternyata merupakan anggota kelompok pemberdayaan ekonomi TN Sebangau. Jadi memang, upaya untuk menjaga alam tidak serta merta menutup rapat kawasan lindung, tetapi bagaimana mampu mensinergikan dan memberdayakan kearifan lokal masyarakat, termasuk menjadikan warga sekitar menjadi fasilitator bagi tamu-tamu yang berkunjung ke TN Sebangau.

Ada satu masakan yang sampai sekarang sangat berkesan untuk saya, yakni olahan rotan muda. Sungguh, sampai sekarang saya masih ingat betul rasa pahit di ujung lidah. Meski begitu, walau saya kurang menikmati, saya bersyukur berkesempatan menikmati olahan khas masyarakat lokal. Oiya, ada satu lagi, sambal mangga yang saya tidak kebagian untuk mencobanya, hiks.

Pada sela acara pembukaan, kami berkesempatan menikmati pertunjukan silat tradisional Dayak yang sangat atraktif.

Tak terasa hari pun menjelang petang. Suasana semakin asyik dan akrab. Pada waktu ini kami dibebaskan untuk melakukan keperluan pribadi. Inilah waktu yang saya tunggu-tunggu. Pada saat-saat seperti ini adalah kesempatan saya menjalin komunikasi yang lebih personal dengan beberapa kawan-kawan. Mulai dari obrolan remeh temeh hingga cerita situasi ‘genting’ di daerah kami masing-masing.

Selepas petang, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi bagaimana mengoptimalkan media sosial khususnya untuk menjaga ekosistem gambut di Indonesia.

Diskusi lalu dilanjutkan dengan cerita pengalaman masing-masing fasilitator desa yang menurut saya sangat menggugah daya juang dan semangat kami untuk bergerak melestarikan hutan dengan kapasitas kami masing-masing. 

Oiya, saya hampir lupa. Pada sesi ini juga kami berkesempatan menikmati pertunjukan langsung Suling Baluwung, yakni lantunan syair berbahasa Dayak yang bercerita tentang upaya perlindungan masyarakat Katingan dalam menjaga hutan gambut mereka. Irama khas Dayak yang disusul kicauan burung di pepohonan sungguh menambah kesan magis malam ini. Aseli, saya merinding tatkala pemusik mencoba menjelaskan arti bait demi bait syairnya yang ternyata syarat upaya perjuangan.

Jam telah menunjukan pukul 23.30 malam. Sesi diskusi yang hangat ini harus segera berakhir. Berbalut selimut rimbun hutan yang megah, saya mengaku takluk dan segeralah saya terlelap dalam keheningan rimba yang menenangkan.

Hari Kedua

Kami memulai aktivitas hari kedua dengan senam pagi. Beruntung kami memiliki Mbak Ami yang selalu berhasil menghidupkan tawa. Akan saya ingat betul gerakan-gerakan ‘aneh’ ini haha. Oiya, seakan tak mau kalah, senam kami juga dihibur oleh beberapa kawanan kera liar yang bergerak lincah di antara rimbun pepohonan. Suguhan pagi yang menawan.

Selepas briefing, ditemani pemandu per kelompok, kami segera melakukan eksplorasi hutan gambut TN Sebangau. Saya sungguh berharap dapat melihat orang utan, meski pada akhirnya saya hanya mampu melihat bekas sarang yang telah ditinggalkan. Tak apalah, ini berarti pertanda suatu saat saya harus kembali lagi ke sini.

Vegetasi di dalam hutan begitu rapat. Meski telah dibuat semacam penanda khusus untuk jalur tracking, tampaknya tetap mustahil bagi saya untuk tidak tersesat seandainya saya tertinggal dari rombongan.

Saya sangat menikmati perjalanan di dalam hutan. Sepanjang perjalanan, saya amati betul-betul jenis tanaman yang ternyata sangat berbeda dengan rerata tanaman yang saya temui ketika mendaki gunung-gunung di Jawa. Unik. Selain itu, suara ranting dan daun kering yang bila terinjak, akan menimbulkan suara yang khas sungguh menimbulkan kesan mendalam di benak saya. Meski waktu kami terbatas, saya cukup puas mengeksplore hutan TN Sebangau. Saya telah mengamati dan belajar banyak hal.

Menjelang siang hari, kami harus segera bergegas berkemas dan meninggalkan area camp TN Sebangau. Pola mobilisasi yang kami pakai untuk pulang sama persis dengan cara kedatangan kami. Sedikit berat hati sebenarnya beranjak dari sini karena masih banyak hal yang sebenarnya bisa saya pelajari. Waktu dan jadwal yang padat harus membuat saya merelakan kesempatan mengeksplore hutan gambut TN Sebangau.

Sesampainya di dermaga Kereng Pakahi, kami segera bergerak menuju desa Buntoi di Kabupaten Pulang Pisau. Tak seperti bayangan saya, ternyata perjalanan ini sungguh melelahkan. Hampir setengah hari kami menyusuri jalanan menuju desa Buntoi yang merupakan tempat tinggal komunitas Dayak Ngaju. Sekitar jam 19.00 tibalah kami di Desa Buntoi. Di sini saya dikejutkan kembali dengan hamparan sungai yang dua kali lebih luas dibandingan dengan sungai Katingan. Saya pikir akan naik kapal lagi, ternyata tidak hehe.

Kami segera beranjak menuju rumah adat khas Dayak Ngaju, yakni rumah Betang yang akan menjadi tempat kami menginap. Rumah ini terletak persis di samping sungai. Secara struktur bangunanm rumah ini dibangun dengan tiang penyangga yang sangat tinggi, sekitar tiga atau empat meter mungkin. Hampir seluruh bagian rumah dibangun menggunakan kayu yang bewarna hitam. Saya tidak tahu pasti jenis kayu ini.Pada halaman ruang tamu, terpampang informasi tentang riwayat pemilik rumah Betang yang ternyata, rumah ini telah berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu berbagai rentetan peristiwa, bahkan sejak zaman sebelum kemerdekaan Indonesia.

Oiya, sebelum memasuki rumah Betang, kami harus menjalani semacam ritual ‘pembersihan’ yang dilakukan oleh tetua adat. Pertama kami diciprati air menggunakan dedaunan, lalu wajah kami dicoreng menggunakan tepung beras. Konon katanya, hal itu akan membersihkan diri kami dari hal-hal negatif yang menyertai kami selama kami berada di hutan. Ruwatan gratis nih hehe.

Usai berbenah, kami segera bergegas berjalan kaki menuju aula yang disebut Rumah Bambu. Tempat ini merupakan pusat kegiatan Desa Buntoi. Mulai dari penyambutan tamu, diskusi, hingga pertunjukan-pertunjukan kesenian tradisional. Sebelum sesi diskusi dengan beberapa tetua adat dimulai, kami disuguhi dengan tari-tarian khas Dayak Ngaju. Gerakan tari ini sungguh enerjik dan setiap gerakannya mampu menampilkan kisah tentang perjuangan masyarakat Dayak Ngaju dalam menjaga kearifan lokalnya di tengah arus modernisasi.

Dalam sesi sambutan, kepala Desa Buntoi, secara tersirat juga memberikan tantangan kepada kami generasi milenial, yakni bagaimana caranya mengabarkan kepada dunia luar, bahwa melestarikan lingkungan adalah kewajiban semua pihak. Meski isu lingkungan, apalagi isu perubahan iklim, terlihat begitu abstrak dan tak habis untuk diperdebatkan, bukankah lebih baik jika kita segera bertindak dengan hal-hal kecil, misalnya dengan mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, sedotan, dan hemat penggunaan listrik dan air. Saya pikir itu lebih berguna.

Hari Ketiga

Adalah sebuah kenikmatan, bangun pagi di sebuah rumah Betang, lantas bersantai di beranda dan menikmati kabut yang perlahan mulai pudar. Sementara di seberang sungai sana, tampak cahaya mentari mulai meninggi sehingga menimbulkan siluet pada beberapa bangunan jauh di depan sana. Ini adalah sebuah pagi yang sempurna.

Meskipun begitu, kenikmatan ini rasanya tidak sebanding dengan keseruan kegiatan youthcamp yang sore nanti harus segera berakhir. Rasanya baru kemarin kami saling berkenalan dan belum tuntas cerita-cerita yang membangun keakraban kami. Ah, kenapa harus ada perpisahan pada sebuah pertemuan.

Saya pun segera beranjak ke kamar mandi, menyusul peserta lain yang telah terlebih dahulu siap. Hari ketiga ini, rencananya kami akan mengunjungi Desa Gohong yang lokasinya tidak terlalu jauh dari desa Buntoi. Sesuai jadwal, kami akan belajar dan berdiskusi dengan perangkat desa beserta warga Desa Gohong terkait upaya restorasi gambut.

Desa Gohong sendiri termasuk salah satu desa yang juga menjalin kerjasama dengan sebuah lembaga dalam upaya restorasi dan revitalisasi ekonomi masyarakat desa gambut. Desa ini membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA), yakni sebuah kelompok masyarakat yang telah terlatih dan siap siaga seandainya terjadi kebakaran lahan di lingkungan kabupaten Pulang Pisau. Selain itu, Desa Gohong juga membangun sarang burung Walet sebagai bagian dari upaya revitalisasi ekonomi masyarakat.

Salah satu aktivitas andalan masyarakat Desa Gohong adalah menganyam rotan untuk dijadikan berbagai bentuk kerajinan seperti gelang, tas, topi, tikar dsb. Hasil kerajinan yang dihasilkan, menurut saya sangat bagus. Apalagi setelah mengetahui proses mulai dari mendapatkan rotan hingga menjadi bentuk kerajinan tangan, rasanya tidak sebanding dengan harga yang mereka tawarkan. Belum lagi proses pembuatan kerajinan yang membutuhkan ketelitian yang tinggi.

Beruntungnya, usai sesi diskusi, kami berkesempatan membuat langsung gelang anyaman rotan sebagai oleh-oleh. Sebenarnya bukan membuat sih, lebih tepatnya ‘menyelesaikan’ karena hampir setengahnya telah dikerjakan oleh ibu-ibu pengrajin yang hebat ini hehe. Meski begitu, hasil anyaman saya kok belum memuaskan juga ya?

Setelah acara usai, tibalah saya menceritakan bagian yang paling tidak enak untuk dikisahkan: perpisahan. Rasanya waktu tiga hari di Kalimantan Tengah bersama orang-orang hebat ini tidak akan cukup. Saya pikir jika seandainya kita bersama lebih lama, mungkin ada kolaborasi besar yang bisa kita ciptakan.

Tepat pukul setengah empat sore, setelah memborong banyak oleh-oleh, tibalah kami di Bandara Tjilik Riwut. Tergambar betul pada mimik muka kawan-kawan yang enggan untuk berpisah. Meski begitu, saya pikir perpisahan adalah jalan terbaik sebagai bentuk upaya menjaga tali silaturahmi agar senantiasa terjaga. Tibalah saatnya kami harus saling melambaikan tangan.

Meski temaram begitu pekat mewarnai langit Palangkaraya, melalui jendela pesawat ini, saya bisa melihat jelas haturan salam perpisahan yang dilambaikan oleh hamparan gambut di bawah sana. Terimakasih kawan, senang bisa mengunjungimu. Baik-baiklah, kita akan segera bertemu lagi. Mulai hari ini, saya bulatkan tekad untuk selalu menjaga kelestarianmu.

 

Nama Penulis: Muhamad Munjin Safari Sidiq

Instagram: Muhamad Munjin Safari Sidiq

Twitter: Muhamad Munjin Safari Sidiq

Facebook: safarimunjin

Press Enter To Begin Your Search
×