Loading...

(photo source: pixabay.com)

Kalau kamu penggemar setia film-film animasi Studio Ghibli, atau setidaknya sudah pernah menonton satu saja film karya mereka yang terkenal seperti Spirited Away, Totoro’s Neighbor atau Howl’s Moving Castle, pastinya akan ada sepersekian detik dari aktivitas menonton itu yang membuat kalian harus pause filmnya untuk benar-benar meresapi visual yang diberikan penciptanya.

Mayoritas orang sudah mengakui ciri khas film-film buatan Studio Ghibli ini, yaitu hamparan pemandangan yang sangat kaya akan imajinasi fairy tale para pembuatnya yang diwarnai dengan semburat-semburat berani yang mencengangkan mata, lalu turun ke hati, untuk dinobatkan sebagai one of a kind. Lalu, pada 14 Juli tahun lalu, saya menjadi salah satu orang beruntung yang tak hanya berkesempatan untuk menikmati keindahan seperti itu dengan sepasang bola mata saya, namun juga melalui rabaan dan indera penciuman yang masih bekerja dengan sangat sempurna setelah melewati musim dingin yang sempat mematikan kehangatan hati saya. Musim semi setelahnya memang sedikit melegakan, tapi masih sangat berangin dan membekukan tanah Hokkaido.

Waktu itu, saya adalah mahasiswi UGM yang lolos seleksi program pertukaran pelajar di Hokkaido University selama satu semester penuh. Tak banyak yang saya pernah dengar tentang pulau bagian dari Jepang ini—saya bahkan baru tahu ketika menginjakkan kaki di sana bahwa pulau Hokkaido tidak sedaratan dengan mainland Jepang. Letaknya yang sangat di utara memungkinkanmu untuk melihat ujung kaki Russia yang dingin. Wah, ternyata walau memang sama-sama di Jepang, artikel-artikel what to do while you’re in Japan tidak terlalu bisa saya andalkan saat itu.

Jadilah saya mulai mencari artikel-artikel serupa, tapi kali ini keyword “Japan” diubah menjadi “Hokkaido”. Akhirnya, mengunjungi Susukino yang sedikit mirip Time Square di NYC, Sapporo Beer Museum, taman-taman kotanya yang sangat indah di musim panas, mendaki Gunung Moiwa, lalu makan genghis khan, soup curry dan es krim dari susu sapi Hokkaido pun saya coret satu-persatu dari Bucket List “dadakan” itu.

Selang satu semester, saya pun berteman dengan lingkungan di sekitar kampus Sapporo, dan tiap bulannya harus makan crepes di kedai kecil bernama Clove. Ketika ada uang lebih, saya tak lupa menyambangi 2nd Street yang punya banyak cabang di Hokkaido. Koleksi mereka bagus-bagus! Kalau kangen makan sambal dan indomie goreng, bisa beli di Kaldi’s Coffee yang ada di AEON Mall dekat asrama.

Sebagai sidenote, walau Hokkaido terpisah dari mainland Jepang, keinginan untuk merasakan dudukan toilet yang hangat masih bisa terkabul! Rupanya toilet itu sangat penting bagi warga Jepang di mana pun mereka berada. Buktinya, di kelas Introduction to Japanese Culture yang saya ambil dulu, kami sempat membaca esai tulisan Marta E. Szczygiel (2016) yang membahas tentang revolusi toilet di Jepang dari zaman sebelum penjajahan, saat penjajahan, sehabis penjajahan, hingga sekarang ini. Bahkan pemerintah Jepang sudah sempat menyelenggarakan kontes menciptakan toilet paling fungsional demi kualitas hospitality termaksimal mungkin selama Tokyo Olympics and Paralympics 2020 yang akhirnya terpaksa ditunda.

Namun, ada salah satu objek wisata milik Hokkaido yang mungkin menjadi representasi dari pulau ini sendiri, yaitu Furano. Sudah banyak halaman-halaman di Instagram yang membagikan video hamparan ladang bunga seperti suatu petak persegi panjang yang dibagi-bagi menjadi bidang arsiran tersendiri dan diwarna-warnikan. Di tengah-tengahnya, ada jalan setapak bagi para pengunjung untuk berjalan menikmati keindahan yang mungkin sebelumnya kamu pernah lihat di dunia Studio Ghibli saja.

Tentu, saya waktu itu sangat ingin main ke Furano juga pada saat musim panas mumpung lagi berada di Hokkaido. Lebih beruntungnya lagi, sebagai orang keturunan Asia di situ, saya dan yang lain boleh menumpang organisasi non-profit Sapporo yang selalu mengadakan acara field trip ke beberapa titik sekitaran Hokkaido per beberapa bulan sekali.

Bulan Juli tahun itu, mereka mengadakan field trip ke Furano dan Biei, yang tentunya saya sambut dengan suka cita sekali. Saya hanya perlu membayar 1500 yen untuk transportasi dan makan siang, padahal budget aslinya bisa mencapai 8000 yen. Pergilah saya bersama orang-orang Asia yang lain dalam konvoi bus pariwisata dari Sapporo sampai Biei, lalu makan siang bento yang tidak kopong, sebelum beranjak ke Furano.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Di Biei, kami mengunjungi ikon kota tersebut, yaitu Blue Pond, yang airnya benar-benar menunjukkan warna biru muda, bukan kejernihan layaknya air-air bersih pada umumnya, maupun cokelat karena keruh atau hijau karena lumut. Saya sangat ingat kurangnya waktu untuk berlama-lama berdiri dan memandangi pemandangan yang agak mistis itu karena pengunjungnya ramai sekali, sehingga barisan harus tetap jalan agar tak diteriaki yang di belakang.

Barisan orang-orang tersebut panjangnya minta ampun hampir tak terhingga, mengingat jalan setapaknya yang begitu sempit sehingga harus berbaris satu berbanjar. Cabut dari sana, kami beranjak ke suatu spot yang terletak agak tinggi untuk makan melon madu ciri khas Furano. Per orang diberikan satu potong melon yang ukurannya lumayan besar, lalu bebas duduk di mana pun sambil menikmati pemandangan pedesaan dari atas.

Bahkan di situ sudah ada ladang lavender yang walau hanya sepetak, tetap mengundang juga karena aromanya yang dihembuskan angin. Aroma segar itu menarik kami untuk memberinya perhatian. Saya belum pernah melihat hamparan ladang lavender yang sangat utuh dan ungu. Benar-benar lebat juga, sehingga bagi serangga-serangga kecil mungkin ladang seindah itu menjadi labirin hutan mengerikan bagi mereka.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Akhirnya, kami kembali duduk di bus untuk beranjak ke titik terakhir, yaitu Tomita Farm, Furano. Jika di Indonesia, mungkin tempat ini bisa dibayangkan layaknya Lembang Farmhouse, tapi 10 kali lipat lebih luas oleh hamparan ladang bunga-bunganya. Kalau sudah membayangkan 10 kali lipat yang lebih besar dan luas dari Lembang Farm House yang sendirinya sudah menakjubkan, apakah bisa?

Dulu saya juga pasti akan mengira tidak, karena yang seperti itu paling tidak saya pernah lihat ketika menonton film animasi Studio Ghibli saja. Sayangnya bunga-bunga yang lain pada saat itu belum benar-benar mekar, jadi warna-warninya belum benar-benar mencolok mengalahkan warna cokelat tanah yang tampak gembur sekali. Saya dan salah satu teman saya terus berjalan menyusuri Tomita Farm yang sudah layaknya infinity pool saja—tampak tak habis-habis!

(photo source: dokumentasi pribadi)

Kami pun sampai di kluster lavender yang bermandikan sinar matahari pukul tiga sore yang berlinangan seperti hujan berlian. Ada juga kios penjual es krim dan minuman dingin rasa lavender yang tak mau saya lewatkan! Harganya juga cuma 200 yen untuk porsi yang lumayan besar. Ada pula kios oleh-oleh yang didominasi oleh warna produk ungu lavender. Dari face mist lavender, body lotion lavender, permen lavender, teh lavender, lilin lavender, buku catatan dan pensil bergambar lavender, sampai buket kecil lavendernya dijual di sini.

Tumben sekali saya merasa beruntung membawa uang pas-pasan, karena kalau tidak saya pasti sudah kalap duluan. Untuk saya, hamparan bunga lavender itu sudah cukup mahal harganya dari yang lain. Apalagi dengan kecakapan kamera ponsel saya, pemandangan yang ditangkapnya otomatis mengirimkan oleh-oleh yang begitu indah bagi anggota keluarga saya di grup WhatsApp.

Ingin rasanya merebahkan diri di antara bunga-bunga lavender yang sedang mandi cahaya matahari itu, tapi saya rasa mereka hanya ingin diperhatikan dari kursi penonton saja karena harus ada satu pemain utama saja dari pemandangan sekali seumur hidup tersebut, yaitu mereka sendiri. Mungkin hal yang sama juga dirasakan oleh para creator di Studio Ghibli.

Mereka tak mau menginvasi keindahan yang alami itu, dan seperti apa yang saya lakukan menggunakan kamera ponsel saya, mereka melukisnya, meremajakannya lewat salah satu scene spesial dalam garapan film animasi mereka yang tak lekang waktu juga. Ternyata memang benar imajinasi itu tidak datang dengan sendirinya. Art imitates life, sebagaimana fairy tale mungkin mengimitasi pemandangan Furano sendiri.

 

Penulis: Ni Wayan Putri Damayanti Priyasa

Instagram: Putridamynt

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×