Loading...

 

Foto: Dokumentasi Pribadi

Waktu menunjukkan pukul  22.15 WIB ketika kami (aku dan suami) memutuskan untuk berangkat ke Wonosobo, memenuhi undangan Kusmini,  teman SMAku. Ya, beberapa hari  sebelumnya aku sempat mengatakan pada suamiku bahwa Kusmini  mengundang aku dan Tundjung, kami bertiga teman SMA, untuk main ke sana. Bisa dikatakan kami  dulu adalah teman dekat di SMA, meskipun hanya di kelas satu. Ketika naik ke kelas dua, kami berpisah, sesuai dengan minat jurusan masing-masing. 

Waktu begitu cepat berlalu, hingga akhirnya kami bertiga masing-masing telah berkeluarga. Saat ini Kusmini tinggal di Wonosobo dan menjadi seorang apoteker salah satu rumah sakit di Wonosobo. Sementara Tundjung menjadi dokter spesialis anak salah satu rumah sakit di Kabupaten Semarang. Masih satu kabupaten denganku. Sedangkan aku sendiri saat ini diamanahi untuk menjadi kepala sekolah pada salah satu sekolah swasta yang dekat dengan tempat kelahiranku. Meskipun dahulu ternyata kami sama-sama kuliah di Yogyakarta, tidak sekalipun kami sempat berjumpa. Maklumlah, saat kami kuliah, kami semua belum memiliki telepon seluler. Media komunikasi juga belum maju dan banyak pilihan seperti sekarang. Bisa dikatakan hampir 28 tahun kami tidak berjumpa.

Maka aku begitu takjub, gembira, sekaligus bahagia ketika suami berkenan untuk mengantar sekaligus mendampingiku ke Wonosobo. Bersama dengan dua anak kami, kami berangkat, meski sudah larut malam. Sementara itu, melalui whatsapp grup, Kusmini mengabarkan sedikit detail rencananya bersama Tundjungsari. Selain temu kangen, juga akan berpetualang sedikit, yaitu mendaki Gunung Bismo, mengunjungi candi-candi di sekitar Dieng, bermain di kebun teh, menyusuri Telaga Menjer, dan banyak lagi. Sudah terbayang keseruannya! Saat ini memang banyak sekali destinasi wisata baru di Wonosobo. Kelihatannya, dari foto-foto yang dikirim Kusmini maupun hasil searching di google, semua menarik untuk dikunjungi. 

Sekitar pukul 02.40 dini hari, akhirnya mobil yang disopiri oleh suami yang memaksakan diri untuk tidak tidur, sampai di Wonosobo. Kami sengaja tidak mampir ke rumah Kusmini, karena khawatir mengganggu jam istirahatnya. Lagi pula, rencananya kami akan memulai pendakian ke Gunung Bismo pada pukul 03.00 dini hari, agar bisa menyaksikan sunrise dari puncaknya. Sisa waktu yang ada dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh suami untuk tidur sejenak. Sementara aku memberanikan diri untuk mengabarkan kepada Kusmini dan Tundjung bahwa aku sudah sampai di Wonosobo. Tak berselang lama, Kusmini langsung menghubungiku. Antara kaget dan gembira, ia memintaku untuk menunggu. Kusmini dan Tundjung juga sudah bersiap-siap. Sebentar lagi mereka akan sampai di pom bensin tempat aku menunggu. 

Foto: Dokumentasi Pribadi

Benar saja, kira-kira pukul 03.10, mobil yang disopiri sendiri oleh Kusmini tiba. Ternyata suami Tundjung beserta anak ketiga dan keempatnya tidak ikut. Mereka memilih untuk menginap di rumah Kusmini. Hanya anak pertama dan kedua yang ikut. Kusmini sendiri mengajak kedua anaknya juga. Oya, suami Kusmini telah meniggal kira-kira setahun yang lalu. Jadi memang salah satu yang memotivasiku dan Tundjung untuk memenuhi undangan Kusmini adalah untuk mengabarkan keadaannya. Alhamdulillah, dari pertemuan kami, sepertinya Kusmini cukup terhibur dengan reuni yang serba mendadak ini. Ia tampak antusias menyiapkan segala sesuatunya, termasuk mengajak rekannya yang biasa menjadi guide pariwisata di Wonosobo. Maka tanpa menunda lagi, kami memulai petualangan amatir ini. Bayangkan, tiga emak-emak dengan enam orang anak remaja. Untunglah ada seorang guide yang menemani, dan suamiku, sang pendamping setia. 

Di perjalanan suami sempat menanyaiku, apakah aku benar-benar kuat naik gunung? Sebab ini adalah yang pertama bagiku. Sementara Tundjung, dulu semasa SMA sering naik gunung dengan kakaknya. Kusmini, tempat lahirnya di lereng gunung Merbabu. Naik turun gunung barangkali bukan hal asing baginya. Sedangkan aku? Naik gunung hanya ada dalam cerita dan angan-anganku. Namun dengan antusias aku menjawab suamiku, ya, kuat. Dikuat-kuatkan, tekadku. Baiklah, bismillah, ayo berangkat, kata suamiku.

Kira-kira setengah jam kemudian, kami tiba di basecamp tempat parkir mobil. Pak Trisno, guide kami, menanyakan barangkali ada yang mau ke kamar kecil terlebih dahulu, karena di atas tidak ada kamar kecil. Maka aku, suami, dan anak-anak yang memang sejak dari Salatiga belum ke kamar kecil, segera antre ke kamar kecil. Brrr! Dingin luar biasa airnya. Sesaat kemudian, Pak Trisno mengajak kami bergegas, karena waktu sebentar lagi Subuh, padahal biasanya beliau Subuh sudah sampai di puncak. 

Benar saja, baru sebentar kami melewati rumah-rumah penduduk, sayup-sayup ayam berkokok mulai terdengar. Diikuti kemudian lantunan ayat-ayat al Qurán dari speaker masjid yang kami lewati, tanda waktu Subuh sudah menjelang. Suasana kampung yang asri dan damai. Di sisi lain, kami terus melangkah dengan kecepatan tinggi. Kata pak Trisno, biar bisa menikmati keindahan sunrise dari puncak Bismo. Angin sepoi menyapa, meniupkan rasa dingin ke sekujur badan. Aku mengingatkan anak-anakku untuk merapatkan jaket. Napasku mulai ngos-ngosan. Tak biasa jalan cepat. Suamiku mengingatkan, tidak usah terburu-buru, yang penting konsisten. 

Di tengah perjalanan, akhirnya rombongan kami terbagi ke dalam tiga kelompok kecil. Tundjung dan kedua anaknya, serta Kusmini berada paling depan. Pak Trisno, bersama kedua anakku dan kedua anak Kusmini berada di bagian tengah. Sementara aku paling belakang, bersama suamiku yang terus menyemangatiku. Ketika azan Subuh benar-benar berkumandang, mereka kira-kira sudah sampai di Pos 1, dan menunaikan salat Subuh di sana. Sementara aku, masih jauh tertinggal di belakang. Pada akhirnya aku dan suami memutuskan untuk salat Subuh dulu, khawatir matahari segera terbit. 

Foto: Dokumentasi Pribadi

Sampai di pos 1, ternyata mereka masih menungguku dengan formasi lengkap. Anak bungsuku yang saat ini duduk di kelas V segera menghampiriku, “Umik kuat, kan?”tanyanya khawatir. Aku mengangguk meyakinkan diri sendiri. “Tapi umik ndak bisa jalan cepet, Adik duluan sama kak Icha dan Pak Trisno, ya! Nanti kita ketemu lagi di atas.” Syukurlah anakku mengangguk. Setelah memberikan beberapa botol susu kemasan dan roti, serta memasrahkan Ila dan Icha, anak-anakku,  kepada Pak Trisno, mereka mulai melanjutkan perjalanan. Aku masih beristirahat sejenak, mengumpulkan tenaga. Setelah dirasa cukup, aku dan suami mulai menyusul.

Tiba di pos 2, kakiku seakan sudah tidak bisa digerakkan. Apalagi jika melihat jalan setapak yang terus mendaki. Sementara puncak Bismo tampak kecil, nun jauh di sana. Beberapa kali aku ingin menyerah, tapi suami terus menyemangatiku. Aku sedikit terhibur, ketika semburat matahari mulai menampakkan diri di atas bukit-bukit yang mengelilingi Wonosobo. Benar-benar pemandangan yang luar biasa. Aku membayangkan jika sudah sampai di atas seperti yang lain. Pasti lebih luar biasa. Maka aku mulai melangkah lagi, setelah mengambil beberapa gambar dengan ponselku.

Matahari benar-benar telah menyapa dengan seluruh kehangatannya ketika akhirnya aku berhasil menyusul hingga mendekati puncak. Suara panggilan anakku dari puncak Gunung Bismo mulai terdengar. Ia melambaikan tangannya. “Umiiik! Cepetan sinii!” Aku berusaha tersenyum, menyusul mereka. Sementara Kusmini, Tundjung dan yang lain mulai berfoto ria, aku masih melangkah, mendekati mereka. Beberapa rombongan pendaki yang lain melewati kami. Sambil tak henti-hentinya memuji kebesaran dan kuasa-Nya, aku benar-benar takjub dengan pemandangan di sekelilingku. Indonesia memang negeri yang penuh pesona! Tak salah dengan sebutan zamrud khatulistiwa. 

“Yee, akhirnya sampai ke puncak, ya, Ir!” Kusmini menyambut kedatanganku. Kami berpelukan. “Bagaimana? Nyesal ndak?”tanyanya yang tentu saja langsung kujawab dengan gelengan kepala. Bagaimana mungkin aku akan menyesali pemandangan seindah ini? Dari tempatku berdiri sekarang, dapat kusaksikan puncak-puncak gunung yang lain. Sindoro, Sumbing, Merbabu, Merapi, bahkan Gunung Cermai di Jawa Barat pun tampak membiru dikejauhan. Di sisi lain, Telaga Warna dan area pertanian yang menghijau benar-benar memukau. Maka detik berikutnya, kami bersuka ria dan berfoto bersama. Masya Allah, sungguh pengalaman yang luar biasa! Pendaki amatir seperti aku, akhirnya bisa sampai ke puncak Gunung Bismo. Gunung dengan ketinggian mencapai 2,365 mdpl. Rasa letih dan lelahku seakan terbayar kontan dengan keindahan alam yang terhampar di sekelilingku. Sungguh, Maha Besar Tuhan yang telah menciptakannya. Sisi batinku bertanya, jika dunia seindah ini, bagaimana dengan Syurga yang dijanjikan-Nya? Semoga kita kelak bisa bersama-sama memasukinya, berbekal iman, amal dan rasa syukur kita, amin!

Penulis: Irtifaiyah Mahmud

Instagram: irti_f_mahmud

Twitter: Irtifaiyah Mahmud

Facebook: Umi Irtifaiyah Mahmud

Press Enter To Begin Your Search
×