Loading...

Foto: Unsplash

Saya orang Bali. Terlahir dan tumbuh besar di daerah tropis membuat saya bermimpi untuk melihat salju. Malah, waktu kecil saya pernah ingin pindah ke Eropa, agar bisa lihat salju terus, hehehe.

Mimpi itu berlanjut hingga saya dewasa. Saat hujan turun dan saya berada di dalam ruangan, saya akan membuat secangkir teh atau cokelat panas, kemudian duduk menghadap jendela. Berkhayal bahwa yang sedang turun adalah salju, dan bukan hujan.

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan, mimpi itu menjadi kenyataan tahun lalu, tepatnya bulan November 2019. Saya dan pasangan memutuskan untuk berlibur ke Georgia, sebuah negara kecil bekas koloni Uni Soviet yang terletak di sebelah selatan Rusia.

Kenapa pilih Georgia?

  1. Kami bisa melihat salju
  2. Murah
  3. Bebas Visa

Itu saja? Ya, itu saja. Maklum, budget belum cukup untuk liburan ke negara Eropa lain yang tentunya jauh lebih mahal, hehehe.

Kemana saja selama di Georgia?

Kami memilih paket liburan yang disediakan maskapai FlyDubai selama 7 hari 6 malam. Paket ini sudah termasuk tiket pesawat pergi-pulang dan voucher menginap di hotel selama 6 malam untuk 2 orang (sudah termasuk sarapan).

Di Georgia, kami menginap di Tbilisi, yang merupakan ibukota negara. Kami membeli paket tur untuk 4 hari lewat sebuah agen perjalanan yang terletak di dekat hotel. Berikut adalah jadwal kami selama disana.

HARI PERTAMA, GUDAURI TOUR

1. Mata Air Zhinvali

Mata Air ini membentang luas dengan warna biru dan airnya yang tenang. Pegunungan luas di latar belakang menambah indahnya pemandangan. Uniknya, pegunungan akan berwarna hijau saat musim semi dan panas, dan berwarna cokelat saat musim gugur dan dingin.

2. Sungai Aragvi

Sungai ini sangat unik karena merupakan pertemuan dari 2 sumber mata air yang berbeda (Gudauri dan Pasanauri). Hal ini menyebabkan Sungai Aragvi memiliki 2 warna, yakni warna cokelat dan biru.

3. Kastil Ananuri

Kastil ini dulunya digunakan sebagai benteng saat masa Perang Salib, namun kini sudah berubah menjadi gereja. Kastil ini terletak di tebing yang menghadap langsung ke arah Danau Ananuri, yang merupakan muara dari Mata Air Zhinvali tadi.

4. Pegunungan Kaukasus, Gudauri

Di sinilah kami melihat salju. Suhu saat itu adalah minus (-)6 derajat. Brr! Gunung-gunung dan bukit-bukit masih berwarna cokelat, sisa-sisa musim gugur. Perpaduan warna cokelat dan putih memberi kesan yang dingin dan misterius, namun tetap indah. Tak henti saya ucapkan syukur kepada Tuhan karena sudah diberikan kesempatan untuk melihat ciptaan-Nya yang menakjubkan. Banyak aktifitas yang dapat Anda lakukan di Gudauri, contohnya: ATV Snow Ride, Paragliding, hingga Skiing.

Gudauri, Pegunungan Kaukasus (Foto: Dokumentasi pribadi)

HARI KEDUA, KAKHETI WINERY TOUR

1. Biara Bodbe

Biara ini adalah Biara khusus wanita. Semua pihak yang mengurus dan menjaga Biara ini adalah para Biarawati yang memilih untuk hidup selibat. Biara Bodbe dipercaya sebagai tempat yang sangat sakral, karena ini adalah titik awal dimana Santa Nino mulai menyebarkan agama Kristen Ortodoks di Georgia.

2. Kota Sighnaghi

Kota ini disebut dengan kota cinta (the city of love). Sebutan ini disebabkan karena banyak pasangan yang datang ke kota ini hanya untuk menikah. Kota ini kecil dan sepi, namun sangat cantik. Terletak di atas bukit yang menghadap ke Lembah Alazani, saya rasa sebutan kota cinta sangat cocok untuk kota ini.

3. Kota Tsinandali

Di sini terdapat museum yang dulunya merupakan rumah tinggal Alexander Chavchavadze. Beliau adalah seorang penyair terkenal dari Georgia yang juga merupakan anggota militer yang berpangkat Letnan Jenderal. Beliau berteman baik dengan penulis terkenal asal Prancis, Alexandre Dumas. Semua benda milik beliau dirumahnya adalah asli, tidak ada satupun yang diubah letak dan bentuknya.

4. Shumi Winery

Ini adalah salah satu dari sekian banyak perusahaan Wine lokal yang dapat Anda kunjungi saat Anda di Georgia. Biasanya, Anda akan diberikan Wine tour di sekitar kebun anggur dan pabrik, untuk kemudian menikmati Wine tasting and pairing. Dalam hal agrowisata Georgia dikenal sebagai penghasil buah persik (persimmons) dan minuman anggur (Wine).

Yang membuat Wine dari Georgia unik dan istimewa adalah cara pembuatannya. Jika pada umumnya Wine difermentasikan di dalam barel kayu, maka Wine dari Georgia dibuat dengan cara “menanamnya” di dalam pasir, setelah dimasukkan ke dalam gentong tanah liat. Unik, bukan? Metode ini dipercaya memberikan karakter yang khas terhadap aroma dan rasa Wine tersebut.

Wine ditanam di dalam tanah dalam wadah tanah liat, kemudian ditutup pasir. Fermentasi dilakukan di ruangan yang gelap dan tidak terkena sinar matahari (foto: Dokumentasi pribadi)

5. Danau Lopota

Pegunungan Kaukasus yang berdiri menjulang di latar belakang danau membut pemandangan menjadi semakin dramatis. Resor ini sangat luas, terdiri dari kamar hotel, spa, ruang fitness, dan restoran. Bahkan, terdapat juga kebun anggur dan istal kuda di dalam resor, lho!

Danau Lopota, dengan Pegunungan Kaukasus di latar belakang (Foto: Koleksi pribadi)

 

HARI KETIGA, MTSKHETA TOUR

1. Biara Jvari

Jika Biara Bodbe yang kami kunjungi di hari sebelumnya adalah biara khusus wanita, makan Biara Jvari ini adalah biara khusus pria. Biara ini merupakan salah satu tempat suci di Georgia, dan setiap hari biara ini sangat ramai pengunjung. Letaknya yang dramatis membuat biara ini meiliki pemandangan yang sangat indah, kita bisa dengan leluasa melihat kota Mtskheta dari atas.

2. Museum Stalin

Banyak yang tidak mengetahui bahwa Stalin adalah orang Georgia, bukan orang Rusia. Stalin dikenal sebagai pemimpin yang dingin dan kejam pada masa kejayaan Uni Soviet. Ada perasaan kagum sekaligus ngeri saat mengunjungi museum ini. Melihat benda-benda yang dipajang di sana, menyadarkan saya bahwa Uni Soviet baru runtuh di tahun 1991, dan Stalin berkuasa dari 1924 – 1953. Artinya, semua yang terdapat di museum ini umurnya masih bau kencur, masih baru. Hii, seram, ya.

3. Goa Uplistsikhe

Namanya berarti “benteng para Dewa” dalam bahasa Georgia. Goa ini merupakan puing-puing peradaban kota kuno yang dipercaya ada sejak 2.000 tahun sebelum Masehi. Goa ini terletak di atas tebing dan ukurannya luas sekali. Kami melihat banyak bekas-bekas peradaban kuno, salah satunya yang berkesan bagi kami adalah penjara kerucut.

Penjara ini adalah sebuah lubang yang berbentuk kerucut (segitiga terbalik) yang muat untuk 1 orang dewasa. Di atas lubang ini terdapat penutup yang dibuat dari besi. Pemandu kami menyebutkan bahwa penjara ini digunakan untuk menghukum dan mempermalukan para kriminal, karena banyak orang akan melihat ke dalam lubang dan melempari mereka dengan batu. Tentu saja, mereka dibiarkan kelaparan dan kehausan di dalam lubang, hingga mati. Duh!

Goa Uplistsikhe, salah satu area yang merupakan kamar tidur (Foto: Dokumentasi pribadi)

4. Kota Mtskheta (dibaca: met-ske-ta)

Kota ini merupakan Ibukota Georgia yang lama sebelum dipindah ke Tbilisi. Kota ini menurut saya sangat cute dan panoramik. Anda bisa berjalan-jalan sepuasnya dan mengagumi arsitektur kota kecil ini.

HARI KEEMPAT, TBILISI TOUR

Pada hari ini kami mengelilingi kota Tbilisi. Ada banyak tempat yang dapat Anda kunjungi disini, misalnya:

  1. Mtatsminda Park (taman bermain mirip Dufan di Jakarta).
  2. Museum Etnologi (mirip seperti TMII di Jakarta).
  3. Melihat pemandangan kota dari atas cable car atau menaiki perahu keliling sungai Kura.
  4. Turtle Lake (di danau ini Anda dapat bersantai sambil menyantap makan siang dan menikmati pemandagan).
  5. Jembatan Perdamaian (Bridge of Peace).
  6. Makan makanan khas Georgia, seperti Khachapuri dan Khinkali.
  7. Luangkan waktu untuk berjalan-jalan di sekitar townsquare. Ada banyak hal menarik yang akan Anda temukan, seperti penjual buku bekas, toko suvenir, seniman jalanan, strip club, hingga kasino.

Wah, seru, ya! Mau dong liburan ke Georgia juga! Bisa bagi-bagi tips, nggak?

Bisa banget! Jika Anda tertarik untuk mengunjungi Georgia suatu hari nanti, berikut beberapa catatan dari saya. Semoga bermanfaat, ya.

  1. Belilah paket liburan yang ditawarkan beberapa maskapai, seperti Air Arabia dan FlyDubai. Paket ini akan memudahkan Anda karena Anda tidak perlu repot-repot cari hotel lagi, dan yang pasti harganya lebih murah daripada Anda membeli tiket dan kamar hotel secara terpisah. Beberapa paket bahkan menyediakan layanan antar dan jemput dari dan ke bandara, lho. Praktis, bukan?
  2. Jika Anda tidak mempunyai layanan antar jemput seperti kami, jangan khawatir! Tergantung jarak hotel Anda dari bandara, rata-rata ongkos taksi ke hotel berkisar antara GEL 40 – GEL 70 (ini jika Anda menginap di Tbilisi loh, ya). Ingat, pilih taksi yang resmi (ada tanda “TAXI” di atas kap mobil) untuk mendapatkan harga argo yang standar. Jika tidak, Anda akan terkecoh seperti kami (kami menaiki taksi “liar” yang tidak bertanda dan dimintai ongkos GEL 170 saat sampai di hotel). Hiks.
  3. Bawalah uang USD saat datang dan tukarkan di bandara. Nilai tukarnya sama saja kok dimana-mana. Kebanyakan tempat yang akan Anda kunjungi hanya menerima tunai. Jika Anda memutuskan untuk menggunakan kartu kredit/debit, lakukan 1-2 kali saja karena transaksi Anda akan dikonversi ke GEL sehingga Anda akan membayar lebih mahal.
  4. Jangan bingung melihat mobil-mobil di Georgia. Negara ini memakai sistem setir kiri seperti di negara-negara Eropa lainnya, maka pada umumnya setir pengendara akan berada di jalur kiri. Namun, jangan heran jika Anda melihat banyak mobil dengan setir kanan berseliweran. Eits, tenang saja, Anda tidak mimpi kok, hahaha. Penduduk Georgia banyak mengimpor mobil dengan setir kanan dari Jepang tanpa melakukan modifikasi terlebih dahulu, dengan alasan lebih murah daripada mobil impor dari Eropa.
  5. Hormati dan taati aturan di tempat yang Anda kunjungi. Para wanita diwajibkan menggunakan penutup kepala (hijab atau selendang) saat memasuki gereja. Jika Anda tidak membawanya, mereka menyediakannya disana, kok.
  6. Orang lokal Georgia jarang yang mampu berbahasa Inggris dengan lancar. Pastikan saat Anda menyewa supir atau pramuwisata, mintalah kepada agen Anda seseorang yang lancar berbahasa Inggris.
  7. Di manapun Anda berbelanja (kecuali Mall), ingat tawar, tawar, dan tawar! Beberapa pedagang tidak keberatan menurunkan sedikit harga mereka, tapi jangan buat mereka kesal karena nawar terlalu murah, ya. Apalagi sudah nawar lalu tidak jadi beli, kan kasihan, hehehe.
  8. Selama seminggu kami di sana, kami telah mengunjungi sebagian besar tempat-tempat menarik di Georgia. Jika Anda memilih durasi liburan yang lebih singkat, saya sarankan Anda memilih paket wisata ke Gudauri dan Kakheti. Namun, jika Anda memilih durasi yang lebih panjang, Anda dapat menambahkan Bakuriani dan Borjomi ke dalam jadwal Anda setelah Anda mengunjungi semua tempat di atas.
  9. Jika Anda ingin membeli oleh-oleh, jangan beli di Tbilisi. Kenapa? Karena harganya lebih mahal. Belilah di tempat di mana Anda melihatnya. Contoh: Jika Anda ingin membeli Churchkhela (permen khas Georgia yang berbentuk panjang seperti lilin), belilah di Kakheti langsung karena di sanalah permen ini diproduksi.
  10. Anda akan menemukan banyak pengemis tersebar kemanapun Anda pergi, biasanya nenek-nenek. Mereka suka nongkrong di depan gereja, berharap belas kasihan para turis. Mereka tidak berbicara bahasa Inggris. Saya sarankan untuk tidak memberi mereka uang. Umumnya, mereka adalah kaum gypsy yang suka berpindah-pindah dan tidak mau bekerja.

Saya tidak akan melupakan liburan kami ke Georgia. Banyak hal luar biasa yang saya jumpai di negara ini. Saya yang semula hanya ingin melihat salju, diberikan kesempatan untuk “melihat” lebih banyak. Lama berada di bawah bayang-bayang sang kakak, perlahan Georgia mulai bangkit dan bertekad mengalahkan Rusia di bidang pariwisata. Tentu, ini akan menjadi sebuah perjalanan panjang. Namun, saya yakin, suatu hari nanti, sang adik akan dapat mewujudkannya.

 

Penulis: Suciani Arta

Instagram: @blahdaily

Twitter: @Annie Gen

Facebook: Suciani Arta

Press Enter To Begin Your Search
×