Loading...

Pengembara, seorang yang gemar pergi kesana-kemari, ke banyak tempat yang berbeda khususnya untuk kesenangan dirinya. Ya, aku dengan percaya diri menyebut bahwa diriku ini seorang gadabout. Istilah ini terdapat dalam kamus Indonesia-Inggris, yang jika teman-teman search pasti ada kok hihi..

Jadi, namaku Leniya. Umurku baru diawal kepala dua dengan status mahasiswi. Hobiku selain ber-gadabout, aku juga senang menulis, membaca, dan dengerin musik. Baru-baru ini sih aku seneng nulis (lagi), sejak kecil aku udah banyak menulis cerita namun sempat terbengkalai karena aku mengalami sedikit krisis kepercayaan diri. Sejak kecil pula aku sudah senang diajak jalan-jalan.

Papaku selalu mengajak kami sekeluarga travelling. Travelling yang selalu jauh menggunakan mobil kesayangan papa. Dari SD pun aku sudah terbiasa perjalanan darat berjam-jam dari subuh, pagi, siang, sore, dan malam mengitari Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Hampir seluruh bagian dari dua provinsi ini sudah kami jalani.

Makanya aku, abangku, serta adikku yang dulu masih balita nggak pernah yang namanya mabuk di jalan alias mual muntah. Travelling sama keluarga biasanya kami jalani harus ke rumah opung (bahasa batak untuk kakek dan nenek) lalu setelah dari sana akan kami lanjutkan untuk jalan-jalan lagi ke tempat wisata. Bila ke Sumatera Utara, pasti kami akan datang ke Danau Toba melewati Bukit Tele, lalu ke Pulau Samosir. Sedangkan bila kami ke Sumatera Barat,kami pasti akan ke rumah Opung dari Mamaku yaitu di Bukittinggi.

Di umurku yang udah masuk kepala dua ini,aku senang rasanya. Sudah cukup banyak menjajah dunia travelling. Ya tapi tetep aja belum banyak-banyak banget. Saat memasuki SMP dan SMA tempat-tempat yang aku kunjungi tentunya masih barengan dengan keluargaku selain dari Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Seperti Jakarta, Singapore, dan Malaysia yang by the way, cokelat di Singapore dan Malaysia enak banget jadi pingin.

Perbedaan dengan masa sekarang tentunya saat aku sudah menjadi mahasiswi. Apalagi aku menjadi mahasiswii rantau di Pulau Jawa yaitu Semarang. Wah bener-bener jadi ngerasain gimana serunya travelling di luar zona nyaman, yang biasanya dari kecil bareng keluarga , sekarang selalu bareng temen-temen dan ehm partner yang juga sejiwa petulangan denganku.

Paling ajaib dimasa kuliah sekarang jadi ngerasain berani pergi sendirian naik kereta api (di Batam mana ada ini hff), pesawat (antar pulau), bahkan nyetir mobil di kota orang yang mana aku tuh deg-degan sih parah karena belum ada SIM. Jujur, semua travelling memberi kesan berbeda tentunya, pelajaran yang berbeda, tapi sukacita yang pastinya sama. Semua tempat ini mengajarkan aku banyak culture yang beda-beda. Misalnya waktu di Bali, masyarakatnya yang terbiasa hidup berdampingan dengan wisatawan asing sehingga terasa vibes-nya yang ramah. Aku paling terkesan sama Jalan Tol Bali Mandara. Sesimpel itu rasa seneng aku cuma pas lewatin tol itu. Kayak gini nih dari yang aku potret dari handphoneku.

Jalan Tol ini sepanjang 12,7 km untuk melintasi Kota Denpasar dan Kabuaten Badung. Jalan ini ditengah-tengah laut, jadinya kalau lewat pas lagi sunset, luar biasa banget rasanya dan itu yang buat aku seneng lewatin ini selama di Bali. Lanjut lagi yaitu Kota Jogja. Kalau ini sih punya kesan paling beda dari antara lainnya yang aku datengin sih terutama Malioboro. Soalnya kota ini yang membuat aku dekat dengan si doi, aduh skip. Lagu Adhitya Sofian yaitu “Sesuatu di Jogja“ emang sesuatu sih, terlepas dari cerita aku tadi ya. Pemandangannya, jalanannya, makanannya, dan orang-orangnya itu bikin pengen balik lagi. Oh iya jangan lupa ombak pantainya. Jangan lupa selain pantai Parangtritis, cobain deh pantai Indrayanti dan pantai selatan lainnya,wah recommended banget sih.

Sama kayak waktu di Kota Pacitan, Jawa Timur. Di sini juga membuatku terkesan yaitu Pantai Srau. Waktu itu,aku camp gitu di pantai ini. Kita camp sekitar ber-6 ditepi pantainya. Kita milih pantai ini karena katanya sih pantai selatan yang satu ini dijuluki raja ampatnya pulau Jawa. Tidak salah juga, pantai ini cantik dan bersih.

Ombaknya bagus, bergulung-gulung dan membuat teduh hati sampai lupa punya masalah hidup. Jangan lupa, titik terkesan ku sendiri juga terletak waktu malam hari. Saat kami berbaring di pasir dan melihat banyak banget bintang bersinar bertebaran. Aku pertama kali dalam hidup melihat langit sebagus itu dan aku langsung ngerasa norak banget. 

Jauh dari perkotaan membuatku melihat hal baru (dan ajaib) yang pasti susah ditemuin kalau kembali ke Batam dan Semarang. Sayangnya, langit penuh bintang itu nggak bisa aku potret buat diabadikan karena kamera DSLR nya tidak bisa motret sampai bintang. Memang benar, beberapa memori ada yang cuma bisa diabadikan di kepala dan pasti tidak akan hilang dimakan waktu. Aku coba memperlihatkan deh secuil cantiknya pantai ini melalui potretanku.

Satu lagi perjalanan terbaik dalam hidupku. Perjalanan yang semasa sekolah aku inginkan tapi aku gayakin bisa mewujudkannya. Yaitu Muncak. Akhirnya di usiaku yang ke-19 tahun aku merasakan muncak gunung. Kenapa tadi aku menyebutkan kalau aku nggak yakin bisa mewujudkan meskipun menginginkannya?

Karena aku tau kalau muncak itu harus dengan persiapan matang dan harus dengan fisik yang optimal. Dulu aku tuh pernah mencoba mewujudkannya dengan ikut organisasi pencinta alam gitu di kampus, tapi ternyata latihan fisik setiap harinya buat aku nggak tahan dan capek banget. maklum deh anak rebahan.

Tapi ya semenjak aku kenal sama temen-temen baru aku di kampus yang jiwa petualangnya lahir dari gunung sih aku jadi tertarik dan langsung mengiyakan buat muncak gunung. Penasaran banget dan kayaknya bakal jadi penyesalan banget buat aku kalau belum pernah mencoba itu. Kami muncak bareng ke Gunung Prau, Jawa Tengah. Di situ ada 9 cewek. Semuanya cewek, bayangin deh semuanya cewek naik gunung.

Tapi ini nggak sembarangan cewek, meskipun di kampus kelihatan rapi, anggun, dan lembut, tapi ketika kami sama-sama turun di alam mereka bener-bener lebih cewe dari yang aku duga. Garang dan berani. Kami mulai dengan motoran dari Semarang-Wonsobo (Dieng). Pegal banget rasanya tapi nggak masalah karena view di jalan juga mantap. Ditambah temen-temen nggak ada sama sekali yang ngerepotin dari awal perjalanan sampai pulang kembali ke Semarang. Dari kami ber-9, yang sudah sering naik gunung ada 3 orang jadi sisanya yaa newbie.

Setiap momen saat muncak gunung Prau ini tidak ada yang tidak berkesan, semuanya nggak bisa dilupain. Kami muncak start jam 7 malam hari, dan disaat itu tidak ada yang lagi muncak jam segitu. Kami was-was dong tapi tetep semangat, toh di atas sana tetap banyak yang kemping. Gunung dan hutan yang luar biasa gelap gulita, jalanan naik turun curam, dan akar-akar pohon yang menyebar di jalan membuat kami saling berdampingan satu sama lain.

Kami saling menjaga dan mengingatkan. Apalagi biar saling menjaga sikap yaa taulah anak muda gimana suka kadang sembrono, makanya harus saling menjaga baik dari perkataan maupun perbuatan selama di alam. Ada lagi moment paling nyebelin dan lucu waktu aku nggak sengaja jatuhin tas isi makanan dan itu guling-guling langsung ke bawah. Untungnya nggak jatuh ke jurang, dan tertahan oleh akar jadi jatuhnya nggak begitu jauh dan langsung berhenti. Kalau itu sampai jatuh ke jurang, nggak tau lagi deh nasib perut kami di atas gunung sana.

Selama mendaki rasanya menyenangkan sambil melihat langit penuh bintang sesekali. Ini pengalaman keduaku melihat langit malam penuh bintang lagi. Rasanya luar biasa. Gunung Prau juga merupakan salah satu gunung terdingin diantara gunung lainnya. Makanya nggak jarang bisa hipotermia kalau tidak berusaha untuk menghangatkan diri.

Saking dinginnya, kami masak mie rebus saja dan nggak pakai ditiup lagi, langsung dimakan karena tidak terasa apa pun panas mie-nya. Untunglah saat itu kami tidak ada yang pingsan karena hipotermia namun nyaris sih, terimakasih jaket berlapis-lapis, sarung tangan, kaus kaki, serta sleeping bag yang menyelimuti kami di Prau.

Apa yang luar biasa lagi di Gunung Prau kemarin bagiku? Sunrise. Ya, sunrise di gunung Prau adalah sunrise terbaik yang pernah aku lihat dalam hidup. Hawanya sejuk, pemandangannya juga mantap karena bisa melihat dua gunung lainnya yang berjajar yaitu Sindoro dan Selamet. Indah banget rasanya melihat ciptaan Tuhan. Rasanya pengen lama-lama disitu terus. Seperti yang aku potret di bawah ini.

Keinginanku tetep sama dari dulu sampai sekarang. Aku mau terus explore Indonesia, setelah puas Indonesia (yang aku nggak yakin pasti bakal nggak puas-puas karena Indonesia itu cakep banget) baru deh ke luar negeri. Padahal rencananya pada tahun ini kami akan lanjut lagi untuk muncak ke gunung. Gunung Sumbing, Sindoro, Lawu, bahkan Slamet yang kami sama-sama inginkan, namun apa daya kita dikala Pandemi begini. Semoga pandemi cepat berakhir, biar jiwa-jiwa gadabout-ku cepat tersalurkan. Amin.

 

Nama Penulis: Leniya Pasaribu

Instagram: Leniya Pasaribu

Twitter: Leniya Pasaribu

Facebook: Leniya

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×