Loading...

Foto: Pixabay

Hidup ini adalah tentang perjalanan, perjalanan menembus batas-batas imajinasi. Imajinasiku melanglang jauh, membubung tinggi merenangi lautan awan-awan putih, biru, merah muda laksana gula-gula kapas beterbangan dicumbui sang angin genit. Pemandangan sempurna terhampar di kanan kiri jendela pesawat yang kutumpangi ini bak lukisan surgawi yang disuguhkanNya. Mata dan jiwaku melahap dengan rakus momen ini, berjaga-jaga jika suatu saat nanti momen ini takkan dapat terulang lagi. Jika hal itu terjadi maka kenanganku akan memeras habis semua gambaran ini dari benakku dan menuangkannya kedalam kalbu, membuatnya sejuk bagai memandang permadani karpet sawah rakasasa yang terhampar nun jauh di bawah sana.

Foto: Dokumentasi Pribadi

Akhirnya pesawat landing juga dan aku tiba di kota Yogyakorta, entah sudah kesekian kalinya aku membelai waktu di kota ini. Kota yang takkan pernah bosan kudatangi, yang selalu ada hal baru untuk kumaknai. Kulinernya tak pernah membosankan meskipun makanan itu ada juga di kotaku namun rasanya jadi berbeda ketika menyantapnya disini. Ada semacam rasa romatis dan sensasi yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tak ingin latah dengan fenomena “ngopi” tapi salah satu tujuanku ke kota ini adalah mendatangi tempat” ngopi yang eksotik. Bukan ngopi di kafe-kafe dengan brand terkenal itu, aku sudah bosan dengan aroma ac yang sering membuatku masuk angin di tempat kerja. Kulihat di sosmed bersliweran tempat ngopi baru dengan hamparan sawah dan para baristanya yang nampak sederhana, pintu masuk pengunjung yang tak nampak angker bagi pengunjung dengan dompet tipis di kantong karena cuma butuh duit tujuh ribu buat segelas kopi panas sambil lesehan dan menghirup aroma padi dan tanah di kanan kirinya. Bahkan beberapa kelompok pengunjung nekad membawa papan catur serta kartu remi untuk menemani sang kopi. Lumayan juga untuk membunuh ketergantungan dengan gadget, meski tetap kulihat puluhan lainnya bergenit-genit selfie dengan seri gadget terbarunya. Siapa yang sudi melewatkan pemandangan sehijau ini untuk latar fotonya, cukup bermodalkan tujuh ribu rupiah kamu sudah bisa upload status keren dengan background hamparan sawah menghijau dan lukisan alam langit surgawi. Tempat ini tidak akan kehabisan meja karena tanah-tanah kosong di samping kanan kiri lansekap sawah adalah meja dan kursinya, Aku hanya harus cukup bersabar menunggu pesanan kopi dihantarkan, sambil tiduran beralaskan tikar dan beratapkan langit yang berarak-arak awan dan sesekali jika beruntung pandanganku akan membentur gerombolan burung-burung yang sedang mengayuh sayapnya menuju nirwana.

Foto: Dokumentasi Pribadi

Puas menghirup aroma alam dan kopi, tujuan travelling selanjutnya yang tidak mungkin tidak ada dalam daftarku adalah pantai. Tepatnya di wilayah Gunung Kidul, kita akan menjumpai deretan nirwana air berpasir putih dengan ombak berdeburan namun tak menciutkan nyali ketika hasrat mengetuk-ngetuk tubuhmu untuk menceburkan diri kedalamnya. Menjilati asin buihnya, meresapi hangat lembut pasirnya dan merasakan sensari terapi pijat kaki alami ketika menginjak kerikil-kerikil atau jika cukup bernyali menyusuri karang-karang di sekitarnya. Anak-anak kecil berkano-kanoan bersama orang tua mereka, mengumpulkan kerang, membuat istana pasir atau sekedar mengubur diri mereka dlm gundukan pasir. Payung aneka warna berderet-deret sekedar untuk berteduh beralaskan pasir hangat dengan pasangan muda mudi saling memadu atau sekedar merayu kasih. Di batas pantai tertambat kapal-kapal para nelayan yang tak ayal sering menjadi arena selfie untuk pengunjung. Disitu juga telah menanti deretan kedai dan para penjaja makanan hasil laut dengan harga yang akan membuat kita makan dengan rakus, rasanya tak kalah dengan resto di kota dengan harga aduhai, aduhai dengan kantong traveller dompet cekak seperti aku. Nikmatnya berlipat-lipat menabrak-nabrak mulutmu karena aroma angin pantai yang menguar disemburkan dari udara di sekitarmu ketika menyantap kepiting dan lobster yang disajikan dalam piring plastik warna merah dan hijau.

Foto: Dokumentasi Pribadi

Pantai yang tak ingin kutinggalkan namun harus kuhempas karena hari telah menjelang malam dan libur weekend yang seolah hanya sekian detik saja di kota ini hampir pungkas. Dan akhirku disini takkan sempurna tanpa menjejakkan kaki di Malioboro, sekedar menyusurinya dari ujung sampai ke ujung 0 kilometer, sejenak berhenti untuk menyeruput wedang ronde dan memanjakan telinga dengan orkestra pengamen jalanan. Tawaran bapak pengayuh becak dan andong tak henti-henti menghujaniku untuk sekedar berkeliling atau membeli oleh-oleh. Karena sudah terlalu letih akhirnya ku menyerah dan berandong-andong menghirup malam kota Yogya menuju penginapan, menuju mimpi traveling impianku dan travelingku yang paling berkesan. Semoga kan terwujud lagi, segeralah bangkit kembali pariwisata Indonesia mengobati kerinduan yang telah menggebuk-gebuk raga kami untuk membelaimu kembali. Covid 19 berdamailah dengan kami dan biarkan kami tetap hidup tuk mengarungi dan memuja ciptaanNya kembali.

 

Foto: Dokumentasi Pribadi

 

Penulis : Angela Wahyu Wenniarty W

Facebook: Angela Wulan

Press Enter To Begin Your Search
×