Loading...

 

Kejadian luar biasa yang terjadi satu tahun yang lalu pada bulan Oktober. Saya diberikan amanah bersama sebuah tim berisikan enam orang termasuk saya dari suatu organisasi kampus yang saya tekuni untuk mengunjungi Kamboja selama empat hari tiga malam. Alasan utamanya pasti bukan jalan–jalan. Tapi sekedar diberi kesempatan untuk bisa keluar negeri bersama teman–teman saya yang satu organisasi sudah cukup membuat saya senang. Belum lagi kegiatan ini mendapatkan bantuan dana dari rektor.

Penampakan Sungai Mekong, Foto diambil pada 12 Oktober 2019 oleh Penulis

Setelah beberapa hari penuh persiapan, akhirnya hari keberangkatan datang juga. Butuh kurang lebih tiga jam dari Bandara Soekarno-Hatta untuk sampai ke Phnom Penh International Airport. Hal pertama yang dilakukan saat pertama kali sampai adalah beli kartu perdana lokal untuk memenuhi kebutuhan internet sehari–hari. Saya bersama tim pun menuju lokasi hotel dengan kendaraan lokal bernama tuk-tuk. Kerennya di sana kendaraan ini bisa dipesan dengan aplikasi seperti ojek online pada umumnya.

Sampailah kami berenam di lokasi hotel. Di mana hotel kami terletak di kawasan yang mayoritas beragama Islam. Nggak aneh juga karena memang letaknya di seberang Masjid Al-Serkal. Salah satu masjid terkenal di Kamboja yang terletak di Phnom Penh. Berhubung kami sampai di hotel saat hari mulai gelap dan di hari pertama ini kami nggak punya agenda apa pun, akhirnya kami cuma bisa rebahan.

Hari esok pun tiba, di pagi hari saya bersama tim menuju destinasi pertama dari urusan yang sebenarnya. Kami ke sana naik tuk-tuk lagi. Singkat cerita setelah selesai dengan urusan di destinasi pertama, kami berjalan menyusuri daerah pinggir kota Phnom Penh. Jujur, pemandangan di Kamboja nggak jauh beda dengan Indonesia. Hal yang paling mencolok adalah tuk-tuk yang ke sana kemari. Layaknya ojek online yang ke sana kemari mencari pesanan.

Setelah capek berjalan, akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di restoran halal berlabel Bali. Kami pun bisa tukar mata uang dari Cambodian Riel (KHR) ke US Dollar (USD) dengan pemilik restoran karena kami sudah hampir kehabisan persediaan Dollar. Satu hal yang jadi ciri khas Kamboja adalah sistem jual beli yang menggunakan dua jenis mata uang, yakni Cambodian Riel (KHR) dan US Dollar (USD). Lucunya orang–orang Kamboja ini malah lebih banyak yang pake US Dollar ketimbang Cambodian Riel.

Setelah selesai makan siang, kami baru mengetahui bahwa sungai Mekong hanya berjarak beberapa meter dari restoran Bali tempat kami makan siang. Sekali nyebrang dan akhirnya sungai yang terkenal itu sudah terpampang di depan mata. Melihat ke seberang sungai tersebut rasanya seperti melihat perbatasan negara lain. Kami terus jalan sambil mengikuti aliran sungai. Ada kalanya kami capek dan perlu istirahat sebentar sambil bercanda. Setelah berjalan cukup lama, siapa yang menyangka kalau ternyata aliran sungai ini mengantarkan kami pada Royal Palace.

Tempat di mana penguasa dari kerjaan Khmer tinggal. Bangunan yang sudah berdiri sejak abad ke-18. Akhirnya saya bersama teman–teman saya bisa melihat Royal Palace of Cambodia secara langsung. Sayangnya kami hanya bisa menikmati pemandangannya dari luar karena sudah terlalu sore untuk masuk ke dalam. Akhirnya kami cuma bisa foto dari luar dan dibatasi oleh pagar emas. Untuk mengakhiri hari, kami pulang dengan jalan kaki sampai akhirnya menyerah dan memilih naik tuk-tuk sampai hotel.

Memasuki hari kedua di Kamboja. Di pagi hari kami pergi ke suatu tempat di garis luar Phnom Penh. Tempat di mana destinasi kedua kami berada. Dengan tuk-tuk berkapasitas enam orang, butuh waktu dua jam dari hotel untuk ke lokasi yang dimaksud. Begitupun untuk kembali ke pusat kota Phnom Penh. Perjalanan yang dipenuhi dengan pemandangan sawah dan kubah khas kerajaan Khmer beserta rumah warga yang tinggal jauh dari pusat kota.

Setelah pulang dari destinasi kedua, kami pergi ke Tuol Sleng Genocide Museum. Pernah berpikir kenapa Kamboja disebut sebagai Hell on Earth? Semua jawabannya ada di museum ini. Dengan atmosfer ketakutan yang dipancarkan dari gedung–gedung tua dan peralatan bekas siksaan dari 44 tahun yang lalu. Perlu tiket untuk masuk ke dalam. Karena di grup kami nggak ada orang lokal Kamboja jadi terpaksa harus bayar lebih mahal. Tapi demi pengalaman kami tetap rela bayar. Tempatnya nggak terlalu besar, jadi nggak capek sama sekali mengelilingi museum ini.

Tampak dalam dari Tuol Sleng Genocide Museum, Foto diambil pada 13 Oktober 2019 oleh Penulis

Singkat cerita setelah dari museum, kami pergi ke pasar lokal untuk membeli beberapa suvenir yang bakal dijadikan oleh–oleh. Tempat di mana gantungan kunci, magnet kulkas, stiker dan lainnya dijual dengan harga yang lumayan. Saya nggak bisa bilang murah juga karena memang cukup menguras kantong. Tapi dibalik harga yang mahal terdapat kualitas yang bagus.

Bukan cuma suvenir, kami juga beli beberapa oleh–oleh yang bisa dimakan. Karena kami gak punya referensi jadi kami beli aja cemilan yang dijual di supermarket terdekat tanpa tahu kalau cemilan itu adalah cita rasa lokal atau tidak. Entah kenapa waktu rasanya cepat berlalu sehingga setelah kami belanja berbagai oleh–oleh malam pun tiba. Tapi itu tidak menurunkan hasrat untuk jalan–jalan lagi.

Beberapa jam mendatang setelah kami pulang ke hotel dan menaruh seluruh belanjaan di kamar masing–masing, kami memutuskan untuk pergi ke pasar malam di dekat hotel kami. Butuh kurang lebih 11 menit untuk sampai ke lokasi dengan tuk-tuk. Layaknya Indonesia, pasar malam di Kamboja juga berbentuk pasar kaget yang menjual baju bekas dan berbagai aksesori. Malam hari dengan suasana tempat yang diterangi lampu oranye dengan alunan musik lokal oleh artis dadakan. Semua komponen yang pas untuk membangun suasana pasar malam. Terdapat food court juga yang menjual berbagai makanan jalanan khas Kamboja.

Gerbang masuk dari Phnom Penh Night Market, Foto diambil pada 13 Oktober 2019 oleh Penulis

Kemarin kami memang jalan -jalan di jalanan perkotaan Phnom Penh. Tapi kejadian itu terjadi di siang hari. Sekarang kami berpikir. Bagaimana rasanya berjalan di jalanan kota Phnom Penh di malam hari? Setelah lelah berjalan menyusuri Phnom Penh Night Market, kami memutuskan untuk melihat kehidupan malam kota Phnom Penh. Jangan salah paham dulu, maksudnya kami mau melihat suasana kota Phnom Penh saat malam hari.

Sebuah pengalaman yang layak dicoba. Malam yang tidak terlalu terang akibat polusi cahaya yang cuma sedikit sehingga kami masih bisa melihat bintang malam hari ketika duduk di tepi sungai Mekong. Tanpa kami sadari, kami sudah berjalan sampai bertemu kembali dengan sungai itu di malam hari. Dimana suhunya sejuk dan angin yang bertiup terasa lebih segar. Teman–teman saya terlihat senang tanpa mereka sadari bahwa malam ini merupakan malam terakhir di Kamboja. Tapi lebih baik bagi mereka untuk lupa akan hal itu. Setelah kami benar–benar lelah, akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke hotel naik tuk-tuk.

Hari esok pun tiba. Sebelum menuju destinasi ketiga, kami check out dari hotel terlebih dahulu agar setelahnya kami bisa langsung menuju bandara untuk kembali ke Indonesia. Butuh sekitar setengah jam untuk sampai ke lokasi. Mungkin nggak banyak yang bisa saya ceritain di hari terakhir saya di Kamboja ini. Hal yang paling mengasyikan dari hari terakhir ini adalah disaat kami naik tuk-tuk untuk yang terakhir kalinya di Kamboja. Perjalanan menuju bandara yang diisi dengan flashback kami saat pertama kali sampai di Kamboja sampai kemarin malam.

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dari destinasi ketiga, akhirnya kami sampai juga di Phnom Penh International Airport. Pesawat kami berangkat sekitar jam tiga sore sementara kami sudah tiba di bandara sejak jam 12 siang. Berhubungan waktunya dekat dengan waktu sholat Dzuhur jadi kami memutuskan untuk sholat di sebuah ruang ibadah yang terletak di luar bandara. Setelah menunggu sambil mengelilingi bandara, akhirnya waktunya tiba bagi kami untuk menuju gerbang penerbangan dan terbang pulang menuju Bandara Soekarno-Hatta.

 

Penulis: Fahmi Ramdhani Surya

Instagram: fahmiramdhani14

Akun Facebook: Fahmi Ramdhani Surya

Press Enter To Begin Your Search
×