Loading...

Taj Mahal, Agra (photo source: dokumentasi pribadi)

Pengalaman travelling ke India bagaikan love and hate relationship menurutku. Pasalnya, banyak keunikan yang aku alami saat travelling ke sana. Bukan hanya hal-hal yang menyenangkan, namun juga pengalaman yang ‘tidak biasa’.  Tidak banyak orang yang memilih India untuk masuk dalam traveling list mereka, karena mereka lebih banyak mendengar kabar menakutkan dibandingkan berita menyenangkan dari India.

“Kalau cewek traveling ke India lebih baik jangan sendirian, seram!”, itulah salah satu pesan menakutkan yang aku dengar. Bukannya ketakutan, aku malah semakin semangat dan penasaran untuk menelusuri India. Jiwa petualang seorang sagitarius memang tidak bisa dilawan hehe.

Akhirnya aku memilih Golden Triangle untuk jadi destinasi wisataku selama di India. Golden Triangle merupakan tiga kota yang menjadi destinasi wisata utama di India, yaitu Jaipur, Agra, dan Delhi. Dinamakan Golden Triangle karena letaknya secara geografis pada peta menyerupai bentuk segitiga, coba deh perhatikan.

Uniknya, setiap kota mempunyai warnanya sendiri, jadi rasanya seperti nano-nano. Jaipur dikenal sebagai the pink city di mana sebagian besar bangunannya dicat berwarna pink. Sementara Agra merupakan kota tempat Taj Mahal berdiri dengan megahnya. Delhi sendiri terdiri dari New Delhi dan Old Delhi yang sangat kontras suasananya, di manaNew Delhi merupakan ibu kota negara India.

Jaipur

Hampir seluruh sudut dan tembok bangunan di kota Jaipur berwarna merah muda yang lebih menyerupai ke warna salem, inilah mengapa Jaipur terkenal sebagai the pink city. Konon katanya pada tahun 1876, Prince of Wales dan Queen Victoria datang mengunjungi Jaipur. Kemudian untuk menyambut kedatangan para rombongan, Maharaja Ram Singh berinisiatif untuk mengecat seluruh bangunan kota dengan warna pink salem sebagai tanda penyambutan terhadap rombongan raja. Tradisi ini akhirnya diteruskan masyarakat Jaipur sampai sekarang.

Destinasi pertama yang aku kunjungi adalah Amber Ford, yaitu sebuah benteng bersejarah yang merupakan mahakarya dari Raja Man Singh I pada abad ke 16. Ketika ingin memasuki kawasan Amber Fort, aku merasa bak selebritas yang dihampiri ramai sekali penjual makanan yang dengan agresif menawarkan jualannya. Cukup membuat syok dan kaget, padahal ini masih destinasi pertama loh.

Perjalanan dilanjutkan dengan drama sakit perut setelah mencoba mencicipi jajanan pinggir jalan khas India. Kabar yang berbicara bahwa makanan di India itu kurang bersih, sepertinya benar. Walaupun sakit perut, tapi niat jalan-jalan harus terus berkobar. Selanjutnya, aku mengunjungi Hawa Mahal, yang merupakan salah satu destinasi terkenal di Jaipur. Di balik bangunannya yang megah, ternyata Hawa Mahal menyimpan cerita yang miris, karena ternyata bangunan ini merupakan “penjara” bagi para selir di istana pada zaman dahulu.

Hawa Mahal, Jaipur (photo source: dokumentasi pribadi)

Agra

Perjalanan dari Jaipur menuju Agra dapat ditempuh dengan sleeper train. Jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, aku sudah membeli tiket kereta jenis sleeper dan AC dengan tujuan supaya bisa rebahan dan nyaman. Eh, tapi lagi-lagi drama, ternyata sleeper train yang aku naiki cukup mengecewakan dan bikin inhale exhale berkali-kali. Bentuknya mirip dengan kereta Jawa kelas ekonomi jaman dulu yang dilengkapi kipas, ya kipas, bukan AC. Tapi, ya sudahlah yang penting aman dan sampai tujuan tepat waktu. Jangan tanya kamar mandinya di keretanya ya, bisa-bisa ilfeel deh.

Destinasi wisata utama di Agra adalah Taj Mahal yang menurutku sangat magical vibes apalagi saat subuh ketika seluruh bangunan diselimuti kabut tebal. Sebaiknya datanglah saat subuh agar dapat menikmati detik-detik menyambut datangnya sang fajar. Bangunan utama Taj Mahal yang awalnya aku kira sebuah masjid, ternyata adalah sebuah makam yang dibangun oleh Shah Jahan, Kaisar Mughal ke-5, untuk sang istri tercinta, Mumtaz Mahal. Setiap sudut Taj Mahal membuatku terkagum-kagum dan lupa akan segala drama yang terjadi selama mengitari India.

Selanjutnya, aku memilih one day trip keliling Agra dengan menyewa tuktuk. Setelah tawar menawar harga yang sangat sengit, akhirnya aku dan supir tuktuk mencapai kesepakatan. Penasaran selisih harganya? Harga yang kami sepakati 70% lebih murah dibanding dengan penawaran pertama supir tuktuk. Begitulah Agra, harus cermat supaya tidak ditipu oleh warga lokal kalau berhubungan dengan harga dan uang.

Bersama supir tuktuk, aku diajak berkeliling mengunjungi Agra Fort, yang bentuknya mirip dengan Amber Fort di Jaipur, namun seluruh bangunannya berwarna merah. Kemudian kami mengunjungi Mini Taj Mahal yang terletak di sisi lain Taj Mahal. Salah satu kekagumanku terhadap bangunan-bangunan wisata India adalah desainnya yang sangat detail, berseni, dan megah.

Delhi

Kota Golden Triangle terakhir adalah Delhi. Untuk menempuh Delhi dari Agra, aku kembali menaiki sleeper train yang kali ini lebih manusiawi. Tempat tidurnya lebih nyaman dibanding sleeper train dari Jaipur menuju Agra, disediakan bantal, selimut, dan handuk kecil. Tapi tetap saja bau pesing kamar mandi keretanya sangat menyengat.

Tiba di Delhi, aku cukup dikagetkan dengan konsisi stasiun yang sangat ramai, banyak sekali warga lokal memenuhi peron stasiun. Bau rempah-rempah bercampur dengan aroma keringat orang yang lalu lalang. Bingung. Takut. Tidak ada satu pun petunjuk arah yang jelas di dalam peron. Tatapan sinis warga lokal menyapa aku dari atas ke bawah, cukup risih tapi yasudahlah cuek aja. Inilah salah satu kekhawatiranku traveling ke India, tapi ya lama-lama terbiasa juga diliatin dari atas sampai ke bawah seperti itu, tinggal tatap balik dengan muka sangar aja.

Ternyata aku turun di Old Delhi, yang memang merupakan wilayah Delhi yang kumuh, berbeda dengan New Delhi, kota modern yang merupakan ibu kota India. Padahal tujuan utamaku adalah menyelusuri New Delhi dengan segala kemewahannya. Ternyata lagi-lagi perjalananku harus didahului dengan drama sebagai intronya.

Aplikasi Uber saat itu menolongku untuk mencapai New Delhi, tepatnya India Gate sebagai tujuan pertama. Cuaca panas, polusi udara, tatapan sinis, semoga setelah ini tidak ada drama lagi. Selanjutnya mampir ke pasar sekitar untuk berbelanja oleh-oleh, membeli saree khas India, dan beberapa kerajian etnik yang unik.

Indian Gate, New Delhi (photo source: dokumentasi pribadi)

Lodhi Garden bagaikan oase ditengah panasnya cuaca New Delhi saat itu. Tempat ini adalah taman bersantai yang banyak digunakan masyarakat untuk olahraga. Terdapat beberapa candi yang masih berdiri kokoh di tengah taman tersebut. Pohon-pohon hijau nan rimbun sangat menyegarkan jiwa kami yang lelah setelah kepanasan.

Kemudian perjalanan Delhi diakhiri dengan mengunjungi Agrasen Ki Baoli, sebuah sumur tangga yang disulap menjadi tempat wisata. Masyarakat India zaman dahulu membuat sumur tangga untuk mendapatkan air. Konon katanya tempat ini menyimpan cerita horor bagi masyarakat sekitar. Namun, bangunannya yang unik dan dipenuhi tangga juga sering dijadikan bahan pembelajaran bagi pencinta sejarah.

Golden Triangle merupakan tiga kota yang wajib kamu kunjungi saat wisata ke India. India memang dikenal dengan warna-warninya yang penuh drama. Drama selama perjalanan di India adalah drama yang tidak terlupakan dalam hidupku. India menyimpan banyak cerita sejarah dalam setiap destinasi wisatanya, keindahan dibalik bangunannya, serta suasana yang khas yang hanya dapat kamu temui di India. Walaupun penuh drama, traveling ke India tidak ada salahnya sampai pada akhirnya kamu sendiri yang menjadi pemeran utama dalam drama itu. Balik lagi ke India? Siapa takut! I love India dengan segala drama di dalamnya.

 

Penulis: Dewi Lestari Natalia

Instagram: deenataliaa

Twitter: deenatalia

Facebook: Dewi Lestari Natalia Marpaung

Press Enter To Begin Your Search
×