Loading...

 

(Foto: Pixabay.com)

“Excuse me? Do you know where is bus station” Tanyaku kepada salah satu pengguna jalanan  Vietnam. Alih-alih menjawab, penduduk setempat malah menjauh dari kami sambil berkata “No, No”. Tak ada satu pun orang yang paham apa yang kami ucapkan. Kami kebingungan dan kehilangan arah.  

Kalau kalian bertanya, mengapa kami tidak mencari stasiun bus lewat Google Maps. Oh, tidak semudah itu kawan. Kami sedang mengikuti Survival Challenge dari sebuah event International. Inilah kelompokku yang terdiri dari Kak Nesa, Kak Dimas, Kak Elsa, dan aku. Challenge ini berisi kertas teka-teki dari tempat-tempat bersejarah di Hanoi. Kami harus mengunjungi tempat-tempat ber bersejarah tersebut dengan berbekal uang masing-masing 100.000 VnD (setara dengan Rp68.000) serta dilarang membawa Hp. Uang tersebut tidak boleh tersisa dan tidak boleh kurang. Kami diawasi oleh dua orang volunteer, Quyhn dan Kaylee merekalah yang bertugas menilai dan mengambil foto selama challenge berlangsung.

Sumber : Dokumen Pribadi Kaylee

Udara dingin Hanoi yang berada di kisaran 14 derajat celcius, tak menyurutkan semangat kami yang sudah sekitar setengah jam bolak balik mencari letak stasiun bus. Ide pun muncul. Mengapa kita tidak menggambar bus dalam kertas kosong yang disediakan dan menunjukannya kepada orang-orang? Pikirku. Gambar bus seadanya pun selesai. Kami kembali mengitari jalanan sambil menyodorkan kertas tersebut kepada setiap pengguna jalan. Akhirnya salah seorang bapak baik hati mengerti apa yang kami maksud. Sambil menggunakan bahasa isyarat, beliau menggambar jalan menuju ke stasiun bus, nomor bus yang harus kami tumpangi, dan pemberhentian selanjutnya. Kami pun bisa melanjutkan perjalanan. 

Di atas bus, kami memutuskan untuk menyusun strategi. Mana tempat pertama yang harus kami tuju? Berapa estimasi biaya di setiap lokasi? Seberapa lama kita bisa mengunjungi seluruh lokasi? Namun, masalah kembali muncul, jelas kami tak tahu sejarah tempat-tempat tersebut, dan kertas challenge hanya berisi informasi sejarah, bukan nama tempatnya. Di tengah keheningan bus, aku pun memutuskan untuk berseru “ Is there someone can speak English in here?”. Mereka semua menoleh ke arahku. Hening. Tak ada yang menjawab. Tiba-tiba, ada seorang bapak berjas menunjukkan tangannya dari bangku paling belakang. Beliau menjelaskan kepada kami lokasi-lokasi tempat-tempat bersejarah tersebut. Setelah penjelasan selesai, kami mulai memahami medan juang kami. Kami mengucapkan banyak terimakasih kepada bapak itu.


Sumber : Dokumen Pribadi Quyhn

Kami berhenti di sebuah kedai kopi legendaris di Hanoi. Atas nama penghematan, kami hanya membeli satu gelas egg coffe untuk diminum bersama. Hangatnya kopi merasuk ke badan di tengah dinginnya suhu Vietnam. Kami melanjutkan perjalanan ke Restoran Bun Cha. Untuk kedua kalinya, atas nama penghematan kami hanya memesan satu mangkok mie dan meminta 6 mangkok kecil untuk disantap bersama. Mie satu mangkok yang sangat terbatas jelas tak cukup untuk kami, aku hanya mendapatkan beberapa potong daging, Kak Elsa beberapa sayur, dan yang lainnya pun hanya mendapat ‘beberapa’ bagian dari Bun Cha. Tak terasa dua tempat lagi yang belum kami kunjungi Restoran Dessert dan West Lake. Kami mencari dessert tersebut di sepanjang jalan, nama dessert tersebut Sua Chua Nep Cam Caramen, namun kami hanya menemukan Sua Chua Nep Cam tanpa Caramen. Kami memutuskan untuk berjalan sampai stasiun bus selagi mencari dessert. Namun, kami tak kunjung menemukan dessert tersebut.

Kondisi Vietnam semakin dingin, Kak Nesa tiba-tiba pusing dan muntah karena kelelahan. Kami memutuskan untuk kembali, selain karena letak West Lake sangat jauh dan berlawanan arah, uang kami juga tidak tersisa banyak. Letak West Lake yang jauh juga menghabiskan banyak waktu. Waktu kami pun terbatas. Setelah sampai dekat hotel, uang sisa tersebut kami habiskan dengan membeli camilan untuk kami dan dua volunteer yang membantu kami. 

Waktu demi waktu berlalu, tibalah malam hari sebelum kepulangan para delegasi ke Indonesia. Aku dan para delegasi lainnya mencari oleh-oleh di night market untuk sanak-saudara di Indonesia. Aku telah menyiapkan list siapa saja orang yang akan aku beri oleh-oleh di ponselku. Setelah membeli satu hadiah untuk sahabatku yang sedang berulang tahun, aku kembali meraba kantongku, meraba dan meraba lagi.. Alamakk.. Ponselku menghilang!!

Aku dengan tergesa-gesa mendatangi tempatku terakhir kali membeli barang. “Excuse me madam, do you see my phone when I’m buying your accessories?” Mereka tak mengerti. “My Phone? Phone? Do you find it?”kataku sambil menggunakan bahasa isyarat. Akhirnya mereka paham apa yang kumaksud, mereka menggelengkan kepala berkali-kali. Sudahlah. memang ini nasibku. Aku menyuruh kakak delegasi lainnya untuk melupakan saja pencarian ponsel tersebut. GPS ponsel telah hilang, telepon pun tak diangkat. Ponselku telah dicuri. Tak ada harapan akan kembali.

Sesampainya di tempat penginapan, aku meminjam ponsel salah satu kakak delegasi untuk mengamankan tiket kepulanganku. Tiket Hanoi-Jakarta aman. Masalah utama nya adalah tiket Jakarta-Lampung yang kubeli dari salah satu marketplace online terkenal. Aku mendaftarkan marketplace tersebut dengan nomor ponsel, jadi aku tak bisa masuk untuk mengamankan tiketku. Proses pengajuan tiket melalui aplikasi tersebut sangatlah rumit. Salahnya, marketplace tersebut juga tidak mengirimkan tiketnya lewat email. Sudahlah, setidaknya aku bisa balik ke Indonesia, pikirku dalam hati. 

Drama Hanoi ini memang sangat panjang dan tak berhenti sampai situ. Ketika aku ingin memasuki lorong sebelum masuk ke pintu pesawat. Aku dicegat oleh dua pegawai wanita. Mereka berkata “Hello, you only get permission to bring two bag, just two bag” katanya. Aku mengerti dan memasukkan satu tas kecilku ke tas yang lebih besar, jadilah dua tas. Mereka tak terima dengan caraku tersebut, dengan segera mereka mengambil timbangan. Sialnya, tas ku melebihi kapasitas yang diizinkan. “You have to pay 200 dollars, if you wanna bring all of your things” katanya dengan tegas. 200 dollar? OMG! Mana punya gue uang sebanyak itu!, pikirku dalam hati. 

“Hello, can you help me? Can you bring my bag just a minutes” aku memohon kepada setiap orang asing yang ingin memasuki lorong sambil menyodorkan tasku. Seorang bule wanita melihatku dengan sinis, sambil berkata. “Sorry, it’s not my things. Tak ada seorang pun yang berniat menolongku. Kedua pegawai wanita tersebut tidak sabaran dengan tingkahku “Hurry up! Hurry up please! Gate will be closed” katanya. Akhirnya, seorang pria baik hati dari Malaysia mendatangiku, “Sini saya bawakan” katanya sambil mengambil satu tas dari tanganku. Karena bantuan pria tersebut, barangku aman tanpa harus mengeluarkan uang 200 dollar.

Di pesawat aku merenung. Kini aku masih bisa menghubungi keluargaku dengan meminjam ponsel delegasi lainnya. Jika telah sampai di Jakarta, bagaimana aku menghubungi orangtuaku? Apakah tiket pesawatku bisa diproses di bandara?, renungku. Aku pun memutuskan untuk meminjam ponsel salah satu delegasi dan menghubungi teman terdekatku yang tinggal di Jakarta, menanyakan apakah dia bisa datang ke bandara dan meminjamiku ponsel. Syukurlah, temanku menyanggupinya. 

Sesampainya di Bandara International Soekarno Hatta, aku langsung berpisah dengan delegasi lainnya. Aku menuju ke terminal 3 untuk penerbangan domestik. Waktu menunjukkan jam 1 malam, aku beristirahat sejenak sambil memikirkan bagaimana cara memproses tiket pesawatku. Pagi pun tiba, akhirnya masalah tiket pesawat bisa diatas. Aku menunggu kedatangan temanku yang akan meminjamiku ponsel. Aku meminjam ponsel salah satu penumpang bandara untuk menghubunginya. Akhirnya, dia datang, kami berbincang mengenai banyak hal karena sudah lama tidak bertemu, dia menyerahkan ponselnya kepadaku. “Nih, buat lu aja, udah ga dipake sama ibu gua” katanya. Dia memberikan ponselnya kepadaku secara cuma-cuma. Aku terkejut dan mengucapkan banyak terimakasih kepadanya. 

Screenshot_2020-09-14-19-34-00-35 (1).png

Sumber: Instagram @_salwasalsabilla

Itu fotoku dan ponsel yang diberikan temanku. Setelah ia pergi, aku masuk untuk check in dan mengambil boarding pass. Sebelum mengambil boarding pass, mereka menimbang koperku terlebih dahulu. Koperku tetap melebihi kapasitas yang diizinkan. Aku diminta mengurangi barangku. Aku pun menitipkan beberapa barangku ke ibu-ibu yang sedang duduk. “Dimana barang kamu tadi?” kata petugas check in. “Aku titipin ke ibu-ibu yang ada disana” kataku dengan polosnya. “Ya gabisa gitu lah dek, nanti abis aku kasih boarding pass nya, kamu masukin lagi gitu barangnya?” ucapnya dengan sinis. Aku hanya diam saja. Petugas itu lalu mengacuhkanku dan melayani penumpang lainnya. Setelah beberapa saat lamanya, aku yang jelas ada di depannya dan diacuhkan akhirnya berseru “Om, jadi gimana boarding pass saya?” kataku. “Kamu penerbangan mana?” tanyanya dengan ketus. “Lampung om” kataku. “Lampung? Cepat-cepat naik! kenapa ga bilang daritadi!” katanya dengan nada panik. Bukannya tidak bilang, dia yang benar-benar mengacuhkanku dan menganggapku tidak ada.

Tiba di gate, setelah seluruh barangku diperiksa. Aku langsung mendatangi salah satu penjaga gate. Benar saja, pesawatku telah take off. Tamatlah sudah! Duit tak ada, ponsel pun tak bisa diharapkan, tak ada kartu, dan tak bisa connect dengan wifi bandara. Aku bertekuk di tengah lantai sambil menangis tanpa henti. Bagaimana cara aku kembali ke Lampung? Ponselku telah hilang, bagaimana bisa pesawatku juga melayang? Aku tak dapat berhenti menangis.

Aku mendatangi salah satu kakak yang duduk di gate, ”Per..permisi kak, bo..boleh pinjam Hp nya? A..ku pengen nelpon ibu” kataku dengan tersedu-sedu. “Oh iya, silahkan dek, ini HP nya” katanya sambil menatapku dengan iba. Aku menyambungkan telepon “I..ibuu,, La..la ke..ketinggalan pe..pesawatt” kataku. Terdengar nada panik dari seberang telepon. “Ya Allah kakakkkk,, kok bisa? Baru ajaa kehilangan Hp, kok sekarang ketinggalan pesawat? Ga bisa diurus lagi tah?” kata ibuku dengan sangat panik. “E..engga bu.. harus beli lagi” kataku. “Ya udah beli aja, kamu masih ada uang gak?” jawab ibuku. “Engga cukup kayaknya bu” kataku dengan tersedu-sedu. “Ya udah sebentar ibu transfer ya” kata ibuku Sambungan pun terputus. Aku kembali menangis menyesali segalanya. Bagaimana bisa aku se-ceroboh ini? Bagaimana bisa aku kehilangan banyak hal secara bersamaan?

“Sudah..sudah jangan menangis, sini kakak pesankan, kamu mau tiket apa? Pesawat yang sama aja ya? Biar kamu ga ribet pindah gate lagi” kata seorang kakak laki-laki disampingku . “O..Oke kak” jawabku masih dengan tersedu. “Hp kamu bisa dipake gak? Aku kirimin nih tiketnya” kata kakak itu. “Ga bisa kak, ga bisa connect wifi bandara” kataku. “Oh, ya udah difoto aja nanti minta anterin satpam untuk pesen tiket lagi” katanya.“Oke kak” jawabku. Satpam menemaniku untuk memesan tiket kembali di tempat check-in. ”Mana tadi orang yang cegat kamu?” Tanya satpam kepadaku. Aku menggeleng tidak tahu karena tidak menemukan orang tersebut. Seorang pegawai wanita berseru, “Oh adek ini toh, kenapa? ketinggalan pesawat? udah dibilangin juga ke dia, adek ini masih kecil, mungkin belum paham sama sistem pesawat, masih aja dicegat” seru pegawai wanita itu membicarakan pegawai yang mencegatku kepada satpam. 

Tiket penerbangan Jakarta-Lampung yang baru sekarang ada ditanganku. Aku kembali menuju gate dan mendatangi kakak yang menolongku. “Kak, berapa tadi harga tiketnya?” tanyaku.“Udah dek gausah” katanya sambil menolak uang yang aku sodorkan. “Beneran kak, ini aku ada kok uangnya” kataku. “Beneran gausah dek” katanya lagi. “Beneran kak? Kalau gitu, makasih banyak ya kak”. Aku benar-benar ingin berterimakasih sebanyak-banyaknya kepada kakak tersebut. Aku menelpon ibuku kembali dan bercerita bahwa aku dibelikan tiket oleh kakak yang menolongku, kak Alfin namanya. Ibuku juga mengucapkan banyak terimakasih kepada kak Alfin. 

Sesampainya aku di Lampung, aku dijemput oleh keluarga besarku. Akhirnya, aku bisa tiba di kampung halaman dengan selamat. Drama Hanoi dan perjalanan pertamaku ke luar negeri ini, memberikanku banyak pelajaran dan kesan mendalam. Di perjalananku selanjutnya, aku akan lebih berhati-hati dan memperhatikan segala peraturan yang ada. Sekian:)

Penulis: Ummu Adilla

Instagram: Ummuadilla

Twitter: BebenerDah

Facebook: Ummu Adilla

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×