Loading...

(photo source: dokumentasi pribadi)

Masih segar dalam ingatan ketika saya sedang berjalan santai menyusuri jalanan nan teduh di Dharamsala, India. Seorang biksu menghampiri.

Dengan senyum ramah menyapa “Hai, where you come from?”.

“Oh, hai We come from Indonesia” Saya jawab dengan keramahan yang sama

Mengetahui saya dari Indonesia, rona bahagia membuncah dari wajahnya. Dengan antusias, beliau bercerita tentang sepatu yang beliau pergunakan saat ini adalah pemberian dari seorang pemuda Indonesia. Sebuah kebetulan yang menjadi awal pertemanan kami.

Selanjutnya kami berbincang sambil berjalan bersama menyusuri jalan sambil mendengarkan kisah beliau juga tentang Dharamsala. Berbagi cerita tentang kebersamaan dan kehidupan. Hingga akhirnya tak disangka sangka, pertemuan itulah yang memberi kesempatan kepada saya untuk bisa berjabat tangan dan berbincang dengan Dalai lama.

Seperti halnya cerita pengalamana mendapatkan kesempatan bercengkrama dengan Damai lama, kesempatan bertatap langsung dengan kumari Dewi adalah sebuh kisah perjalanan berkesan dan tak akan terlupakan.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Tahun berlalu. Perjalanan membawa saya ke negeri seribu dewa, Nepal. Saya datang beberapa bulan setelah negara yang berada di pelukan pegunungan Himayala ini porak poranda akibat gempa. Pertanyaan demi pertanyaan datang menghampiri, apa yang saya cari? apa yang akan saya lihat di negeri yang sedang kacau. Banyak situs bangunan tua terkenal rusak parah akibat gempa.

Saat itu yang ada dalam pikiran hanya satu. Perjalanan tak hanya tentang keindahan bukan? tapi juga kemanusiaan. Dengan percaya diri dan izin keluarga, saya berangkat ke Nepal berdua bersama anak saya yang berusia 9 tahun ditemani seorang teman.

Sesampai di Kathamandu terlihat banyak bangunan rusak. Tenda tenda darurat berdiri. Pemandangan yang mengaduk rasa. “Madam, banyak bangunan rusak dan anda harus berhati hati” kata resepsionis hotel ketika dia tahu saya akan mengunjungi Kathmandu durbar square sore itu. Selanjutnya, keramahan dan kebaikannya adalah gambaran masyarakat Nepal pada umumnya.

Jarak hotel yang kami tempati berada di kawasan Thamel, dengan Kathamandu durbar square jaraknya tidak terlalu jauh. Kami cukup melangkahkan kaki menuju kesana. Debu, jalanan yang sempit, dereta petokoan, restauran, rumah semua nampak seperti labirin yang asyik untuk ditelusuri.

Sesampainya di Katmandu Durbar Square saya menuju loket untuk membeli tiket masuk. "Is kumari dewi there?” tanya saya kepada petugas loket sambil menyodorkan uang rupee untuk membayar tiket. "She wasn’t there, she visit some ritual, but she ll camebak" Jawaban bapak sambil menyodorkan tiket. 

Dalam hati saya sedikit kecewa. Selain melihat deratan bangunan tua, datang ke Kathmandu Durbar square tentu saja bisa manatap Kumari dewi. Sang dewi hidup yang dipuja masyarakat Nepal. Manusia setengah dewa.

Kumari dewi adalah seorang gadis belia yang masih berusia belasan tahun dan belum mengalami pubersitas. Dia dipilih dengan aturan ketat dan dipercaya titisan dewi Teluja atau dewi Durga. Masyarakat Nepal percaya bahwa Kumari dewi membawa berkah juga melindungi, menjaga serta mengawasi tatanan kehidupan Masyarakat Nepal. Itulah sebabnya dia sangat dihormati dan dipuja. Bukan hanya oleh umat beragama Hindu mayoritas disana tapi juga umat beragama Budha.

Kumari tinggal di Kumari Ghar, istana tempat Kumari dewi menjalani keseharian. Letaknya berada dalam kompleks Kathmandu durbar Square. Berdekatan dengan tempat saya membeli tiket masuk. 

(photo source: dokumentasi pribadi)

Karena Kumari sedang tidak berada di tempat, saya lewatkan. “Baiklah, tidak apa apa, nikmati waktu yang ada” ucap diri membesarkan hati. Saya percaya, semua pertemuan dan perpisahan telah diatur oleh semesta. Saya akan mengunjungi Kumari ghar nanti ketika saya selesai menatap keunikan setiap sudut kawasan Kathmandu Durbar Square.

Sore yang sejuk di musim semi waktu yang pas jelajahi Basantara Durbar square, nama lain dari Kathmandu durbar square yang merupakan situs kota tua yang masuk dalam warisan dunia, UNESCO. Pusat kegiatan keagamaan warga Kathmandu ini dikelilingi deretan kuil tua yang dipercaya sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Kuil berbentuk pyramida yang unik dengan arsitektur yang spektakuler pada masanya, menjadinya ikon terkenal dalam gambar wisata Nepal.

Kuil tua ini dibangun oleh raja Newar yang menguasai kawasan Nepal pada saat itu. Disini pula terdapat istana raja yang megah dengan deretan jendela nan artistik.

Disaat sedang menatap keunikan bangunan istana raja bagian luar, tetiba terdengar suara terompet diiringi musik tradisonal. Saya menatap kearah datangnya suara. Berasal jalanan utama memasuki area Kathamandu durbar square.

Rombongan musik berserta iring iringan dalam balutan pakaian yang seragam. Selain musik terlihat beberapa dekorasi dan aksesori yang dibawa oleh iring iringan. Terlihat sangat artistik dan menarik. Awalnya saya pikir, mungkin rombongan ritual keagamaan.

Saya melihat di seberang jalan, orang orang mulai berkerumun bersiap menyambut rombongan di tepi jalan. Senang karena rombongan akan lewat di depan kami. Saya genggam tangan anak saya lebih erat karena khawatir terlepas ketika kerumunan datang. Tapi tidak, ditempat saya berdiri, hanya kami berdua. Kerumunan hanya ada di seberang.

Semakin dekat, terompet dan gendang diiringan musik tradisonal terdengar semakin kencang. Iring iringan nampak semakin jelas. Ditengah rombongan terlihat sebuah tandu dengan dekorasi didominasi warna merah dan emas. Seorang gadis duduk bersila diatas tandu dengan dandanan yang khas. Di dahinya terhias simbol satu mata berwarna merah yang dikenal dengan agni chakshu atau fire eyes. Simbol ini menjadi pertanda kekuatan khusus yang ada padanya.

“Ya tuhan, itu Kumari Dewi!” teriak girang dalam hati. Tak ingin kehilangan momen langka. Kamera yang sudah nyala sedari tadi langsung saya arahkan menuju rombongan.

Perlahan Kumari Dewi yang duduk bersila diatas tandu mendekat dan menghampiri kami yang berdiri terpukau menatapnya. Gadis dengan sorot mata hitam yang tajam tapi meneduhkan. Dengan segala kekuatan yang dipercaya ada padanya memberikan berkah kepada orang yang ditemuinya. Sedekat itu Kumari dewi mendekati kami. Waktu seakan terhenti ketika dia berada tepat di hadapan kami. Bagaikan sebuah adegan film yang dibuat slow motion. Saya tersenyum sebagai tanda menghormati. Bahagia membuncah.

Setelah rombongan kumari dewi berlalu, kerumunan orang yang tadi berdiri akhirnya berlari mengikuti. Tentu saja, semua berharap mendapatkan berkah darinya.

Saya menyadari antusiasme para pengikutnya karena memang untuk melihat kumari dewi berada di luar istana adalah hal yang sangat langka. Setelah diangkat menjadi dewi, seorang Kumari tinggal di istananya. Tidak menginjak tanah. Ketika keluar istana akan dibopong diatas tandu. Dalam setahun kumari keluar dari istananya hanya beberapa hari dalam setahun untuk menghadiri festival atau ritual khusus. Beruntung bagi saya bisa melihat kumari Secara dekat.

Terlihat rombongan menuju istana Kumari. Melihat kerumunan yang terlalu banyak, kami memilih menghindar. Sore itu kami habiskan waktu duduk santai melihat geliat aktifitas warga di Kathmandu Durbar square

Ketika akan balik hotal, saya berjalan menuju istana Kumari yang tadi belum saya kunjungi. Saya lihat diluar tidak terlalu banyak kerumunan. Hanya beberapa rombongan turis Eropa yang menunggu untuk masuk ke dalam istana.

Setelah saya masuk bersama rombongan, kami berdiri di taman istana yang dikelilingi bangunan kayu tua bertingkat. Sembari menunggu kemunculan Kumari dewi, tour guide meminta kami untuk mematikan kamera karena tidak diperkenankan mengambil foto kumari Dewa.

Jujur saya kaget, karena tadi ketika Kumari menghampiri kami di jalan, waktu itu kamera saya yang sudah menyala langsung saya arahkan kepadanya. Sungguh kesempatan mendapatkan pengalaman yang benar benar langka.

Keberuntungan masih mengayomi. Setelah menunggu beberapa saat di taman istana, Kumari menampakkan diri dari balik jendela di lantai tiga dan menyapa kami dalam diam. Biasanya kumari muncul hanya beberapa detik saja dari balik jendela. Di saat kami berada disana Kumari muncul beberapa menit dalam waktu yang cukup lama di jendela. Lama atau tidaknya tergantung hatinya.

Kemunculan Kumari dewi dari balik jendela istananya dipercaya oleh pengikutnya membawa keberkahan tersendiri. Itulah mengapa taman istana Kumari tak pernah sepi. Banyak pengikutnya yang berharap bisa melihatnya dari balik jendela untuk kesembuhan dari penyakit, meminta restu, keberuntungan hingga keberkahan hidup.

Sungguh sebuah pengalaman yang tak terlupakan dalam hidup.Terima kasih Tuhan, keberuntungan dan kebahagian yang berlipat lipat kami dapatkan hari itu. Ketika perjalanan tak hanya mengedepankan keindahan, semesta akan menjawabnya dalam sebuah makna.

Terlahir sebagai seorang muslim, sebagai manusia beragama tugas saya adalah menghormati umat agama lain. Menghormati Dalai lama sebagai biksu agama Budha juga kumari, Dewi hidup umat agama Hindu. Ketika kita semua saling menghargai, di sanalah harmoni kehidupan dengan segala perbedaan akan terjalin.

 

Penulis: Attini Zulfayah

Instagram: @emakmbolang

Twitter: @emakmbolang

Facebook: @emakmbolang

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×