Loading...

 

Dengan hembusan angin gunung yang berbaur dengan aroma kopi dan bunga di setiap sudut, sulit rasanya untuk merasa tidak betah di Kota Da Lat, Vietnam. Hanya satu masalahnya: kota ini penuh dengan pasangan, sementara saya sendirian.

Terletak di kawasan pegunungan yang skenik dan sejuk, Da Lat sering disebut sebagai kota paling romantis di Vietnam dan menjadi rujukan bulan madu berbagai pasangan—baik lokal maupun mancanegara. Baru kali inilah saya benar-benar merasakan makna sejati dari kalimat “love is in the air”, karena setiap sudut kota ini memang penuh dengan cinta—mulai dari tanaman berbunga di hampir seluruh sudut kota, sapaan lembut angin gunung di setiap detik, hingga deretan pepohonan berdaun jarum di tepian jalan membuat setiap jengkal kota ini terasa romantis bagi turis yang datang berpasangan... sekaligus membuat baper pelancong-pelancong tunggal seperti saya.

Da Lat sebenarnya bukan menjadi tujuan utama perjalanan saya selama di Vietnam, melainkan sebatas kota transit yang berada di rute wisata klasik antara Hanoi dan Ho Chi Minh City alias Saigon. Namun melihat banyaknya travel guide yang menyarankan kota Da Lat sebagai destinasi yang wajib dikunjungi selama berada di Vietnam, saya pun tertarik untuk menelusuri kota pegunungan ini lebih dalam—apalagi dengan keberadaan berbagai atraksi wisata alam dan buatan yang menarik seperti Danau Xuan Huong, Danau Tuyen Lam, Bukit Lang Biang, serta air terjun Elephant Falls yang sayang untuk dilewatkan. Anehnya, hampir semua rekan sesama pelancong tunggal yang telah mengunjungi Da Lat selalu memiliki raut muka yang agak sedih bercampur ngenes saat bercerita pengalaman mereka saat berkunjung ke kota ini. 

“Da Lat itu asyik, tempatnya cantikbanget! tapi...” ujar Melissa, seorang solo traveller asal Belgia yang saya temui di Cat Tien National Park, lokasi yang saya kunjungi  sebelum berpindah ke Da Lat. “Yah nanti kamu bakal tau sendiri.”

Kesan “cantik” itulah yang saya rasakan saat sampai di tengah kota Da Lat, setelah menghabiskan tiga jam perjalanan di atas bus sempit dari Cat Tien.  Pemandangan hutan pinus dan perbukitan terjal yang menghiasi sebagian besar sisi jalan tiba-tiba berubah menjadi kota modern yang penuh warna, lengkap dengan sebuah danau luas (Xuan Huong Lake) di pusat kotanya. Dari balik barisan gedung-gedung klasik dan modern yang saring berdampingan, deretan perbukitan hijau menyembul hingga ujung horison—sebuah pemandangan yang menjadi background di hampir seluruh sudut Da Lat.

Lepas menitipkan barang abwaan di penginapan, saya langsung bergegas menunggangi motor rental menuju Danau Xuan Huong—danau besar di pusat kota yang dibangun sejak tahun 1919 dan menjadi landmark utama kota Da Lat. Sambil duduk meringkuk kediginan dan mengunyah banh trang (makanan lokal mirip crepes dari kulit lumpia dan telur), saya menikmati keindahan riak-riak air di Danau Xuan Huong yang tertiup angin pegunungan, lengkap dengan deretan perahu angsa yang berlayar pelan di atasnya. Di belakang danau, dua bangunan bergaya art deco terlihat mencolok: satu berbentuk bunga matahari, sementara satunya berbentuk bunga teratai.

Saat saya duduk santai di pinggiran danau inilah saya mulai sadar akan sesuatu: hampir seluruh orang yang ikut menikmati keindahan Xuan Huong datang berpasangan! Mulai dari pengendara perahu angsa di danau, orang-orang 

Saya pun memutuskan untuk menyingkir dari baper zone ini dan menyusuri beberapa ruko di sekitar pusat kota untuk mencari makan siang. Awalnya saya santai saja berjalan kaki di trotoar dekat danau, sambil menikmati dekorasi tanaman bunga warna-warni yang bertebaran di berbagai sudut kota. Beberapa turis terlihat asyik berfoto-foto dengan bunga tersebut, sehingga saya pun tertarik untuk ikut hunting foto sambil menunda rencana makan siang. Namun setelah saya perhatikan lagi, ternyata semua yang berfoto itu pasangan! 

“Duh, jangan-jangan emang salah tempat nih,” ujar saya dalam hati.

Setelah mencari beberapa rekomendasi tempat makan di Da Lat, saya memutuskan untuk berpindah ke salah satu cafe terkenal yang berada di sisi utara kota, La Viet Coffee. Di sini harapan saya untuk menghindar dari rasa baper karena menjadi satu-satunya pelancong yang tidak membawa pasangan juga pupus, karena ternyata isinya juga penuh dengan pasangan!

“Yah, memang sejak awal kota ini menjadi lokasi bulan madu favorit,” ujar Kari—bartender di La Viet Coffee yang menyambut saya dengan ramah. “Single traveler yang datang ke sini minoritas banget, makanya saya tadi memastikan kalau kamu memang datang sendiri.”

Sambil duduk di depan meja barista yang bergaya industrial, saya berbincang-bincang dengan Kari yang sudah cukup lama tinggal di Da Lat. Menurut dia, sejak didirikan pada masa kolonial Prancis di tahun 1898 Da Lat memang sudah menjadi lokasi favorit untuk bulan madu. Pada masa itu, kota ini memang dibangun sebagai resort center di pegunungan bagi orang-orang Eropa yang ingin mengungsi dari kota-kota besar yang panas. Setelah masa kolonial selesai, kota ini tetap menjadi destinasi favorit untuk berlibur bagi orang-orang lokal—khususnya mereka yang ingin berlibur dengan pasangan.

“Dengan suasana yang sejuk dan romantis ini, memang Da Lat cocok banget untuk berlibur bareng pasangan” ujar Kari. “Tapi buat kamu yang sendirian, ya... dirasain sendiri aja,” lanjutnya sambil diselingi gelak tawa.

Malam hari itu, saya memutuskan untuk makan malam di Artist Alley—sebuah restoran tersembunyi yang berlokasi tidak jauh dari pusat kota Da Lat. Sama seperti La Viet Coffee, berbagai travel guide juga menyarankan restoran ini sebagai tempat yang wajib dikunjungi saat berkunjung ke Da Lat. Saya sendiri tertarik untuk mengunjungi bistro kecil ini karena menunya yang tidak biasa (steak burung unta!) sekaligus penasaran dengan review nyaris sempurna yang saya lihat di berbagai situs traveling. 

Agak susah memang menemukan restoran ini karena lokasinya yang nyempil di gang kecil, sesuai dengan namanya. Hal lain yang sesuai dengan nama restoran ini adalah dekorasinya yang sangat artsy, dengan berbagai lukisan art-deco dan post-modern yang digantung di dindingnya. Restorannya sendiri tidak terlalu besar, hanya ada beberapa meja yang tersedia di dalamnya. Satu hal yang membuat saya agak gugup adalah penerangannya yang agak gelap, dengan cahaya temaram dari lilin-lilin kecil yang diletakan di atas setiap meja. Duh, kayaknya salah tempat lagi nih!

Begitu masuk, owner dari restoran ini langsung menyambut saya dengan ramah. Beliau bertanya apakah saya datang sendirian (dengan muka agak heran tentunya), lalu menjelaskan kalau kondisi restoran sedang agak penuh dan sayap harus share meja dengan pengunjung lain. Awalnya saya sih oke-oke saja—tapi begitu tahu kalau teman satu meja saya adalah pasangan dari Eropa yang sedang dimabuk asmara, saya hanya bisa tersenyum miris meratapi nasib.

Selama tiga hari selanjutnya, saya pun harus puas mengeksplorasi Da Lat sambil sedikit menahan rasa baper karena harus melihat pasangan-pasangan yang dimabuk cinta di setiap atraksi yang saya kunjungi. Sejujurnya ini tidak terlalu menjadi masalah, karena toh atraksi wisata seperti keindahan Danau Tuyen Lam, kemegahan Elephant Fall serta kecantikan Da Lat Flower Garden tetap menjadi pemandangan yang membuat saya terpukau. Hampir setiap sudut kota dan kawasan pedesaan di sekitarnya menyajikan pemandangan yang eye-catching, seakan-akan  kota ini memang didesain sedemikian rupa untuk memanjakan mata setiap pelancong yang mampir. Satu-satunya pengecualian mungkin untuk Valley of Love—sebuah lembah cantik dan ijo royo-royo di dekat Xuan Huang yang dari namanya saja sudah menandakan betapa pentingnya lokasi ini bagi traveler berpasangan, namun cuman memberi sengsara bagi mereka yang sendirian.

Yah meskipun dilanda rasa miris dan kesepian, saya akui bahwa waktu-waktu saya di Da Lat tetap menjadi salah satu pengalaman traveling paling berkesan bagi saya. Kota ini pun menjadi satu dari sedikit destinasi yang ingin saya kunjungi kembali di masa depan, khususnya dengan atmosfer romantis yang membuat saya selalu rindu untuk mengunjunginya lagi—bersama dengan pasangan, tentunya.

Penulis: Panji Gusti Akbar

Instagram: crazybirdguy

Facebook: Panji Gusti Akbar

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×