Loading...

Pertengahan Juni 2019.

Pagi menjelang siang. Kapal bersiap meninggalkan Kaimana—kabupaten di Papua Barat yang terkenal dengan hiu paus dan Teluk Triton-nya—ditemani ombak besar khas musim Angin Timur, begitu masyarakat sini menyebutnya. Wilayah Indonesia timur memang berbeda, ketika pertengahan tahun identik dengan musim kemarau, di sini, dari Maluku sampai Papua—setidaknya di Kaimana—justru sedang deras-derasnya hujan. Ombak besar, angin kencang, langit suram menjadi teman keseharian mulai Juni hingga Agustus. Jadi ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan.

Anyway, tujuanku adalah ke Banda Neira, sebuah pulau di tengah-tengah Laut Banda yang masuk wilayah Kabupaten Maluku Tengah. Kapal dalam perjalanannya akan bersandar di Dobo—sebuah kota kecil di Kepulauan Aru—dan Kota Tual yang terkenal dengan kacang botolnya, sebelum akhirnya sampai di Banda Neira. Sebenarnya bisa saja sih pakai transportasi udara, namun akan sangat menguras kantong karena butuh tiga kali naik pesawat, yakni Kaimana-Sorong, Sorong-Ambon, Ambon-Banda Neira.

Bandingkan dengan jalur laut yang hanya bayar dua ratus tujuh puluh lima ribu rupiah. Mungkin harus tahan dengan kepala berdenyut dan perut menggeliat karena ombak besar, dan mungkin tiga puluh dua jam dilautan akan terasa selamanya, namun dengan dua ratus ribuan sudah sampai sana adalah anugerah. Jadi nikmati saja anugerah itu.

“Emang itu di mana sih?” temanku bertanya di chat.

“Maluku,” jawabku singkat.

“Kalo aku taunya yang bubar itu,” tentu saja dia bakalan balas kayak gitu. “Emang mau ngapain ke sana?” lanjutnya.

Let’s see.” Dan sinyal pun hilang ditelan samudera.

Gunung Api Banda dari mercusuar Lautaka

Jam sembilan malam keesokan harinya kapal tiba di Banda Neira. Pelabuhan ramai dengan penumpang turun, penumpang naik dan mereka yang ingin membeli bekal untuk perjalanan selanjutnya selama kapal bersandar. Aku membeli “suami”—makanan khas terbuat dari singkong parut yang dikukus dan berbentuk kerucut—dan ikan cakalang asap sebesar lengan. Sumpah enak sekali. Langsung kenyang. Murah lagi, Rp2 ribu untuk suami dan Rp12 ribu untuk ikan cakalangnya.

Aku langsung ke penginapan terdekat. Penginapan di sini lumayan mahal kisaran Rp200 ribu per malam termasuk sarapan. Bisa pancake selai pala atau nasi. Tempatku menginap merupakan bangunan kuno namun sangat estetik dengan barang-barang antik menghiasi setiap sudut ruangan.

Banda Neira adalah salah satu pulau yang berada di Kepulauan Banda, Maluku. Pulau ini terkenal dengan pala, sejenis rempah yang menjadi komoditas paling berharga pada abad ke-16. Terdapat tiga pulau utama di sini, yakni Banda Neira, Banda Besar dan Banda Api. Letaknya pun saling berdekatan, bisa dijangkau dengan kapal kecil dengan tarif Rp5 ribu saja per sekali jalan.

Apa saja sih yang ada di tiga pulau itu?

Di Banda Neira kita bisa menikmati suasana kota dan pelabuhan. Di sini terdapat banyak sekali bangunan peninggalan Belanda. Mulai banteng sampai gereja. Di Banda Besar terdapat desa Lonthoir dan perkebunan rempah-rempah. Sedang Banda Api adalah pulau vulkanik Gunung Api Banda.

Jadi itinerary-ku adalah menjelajahi Banda Neira, kemudian Banda Besar dan terakhir naik Gunung Api Banda. But, man purposes God disposes. Ketika bangun keesokan paginya, mataku tiba-tiba merah. Padahal tidurku baik-baik saja, tidak mimpi buruk atau sedih sampai nangis. Saat melihat mataku di kaca berasa horor sekali. Jadi tempat pertama yang kukunjungi adalah rumah sakit. Untung saja tidak kenapa-kenapa meskipun harus istirahat dua hari.

Hampir semua tempat di Banda Neira bisa dijangkau dengan jalan kaki, dan gratis, kecuali untuk Rumah Budaya dan Benteng Belgica. Pertama adalah Rumah Budaya Banda Neira yang berada persis di depan tempatku menginap. Di sini terdapat barang-barang asli jaman VOC dan catatan sejarah kehidupan jaman Belanda.

Yang paling menarik adalah sejarah kelam pembantaian masyarakat Banda Neira oleh penjajah pada abad ketujuh belas. Ada juga lukisan Jan Pieterzoon Coen, Gubernur Jenderal VOC pada saat itu. Selain itu, ada juga koin-koin kuno dan gramophone yang menurutku super dope. Tempat ini cukup terawat, meskipun ada bau debu dan lukisan-lukisan itu yang—jujur saja—membuatku takut. Tiket masuknya adalah Rp20 ribu per orang.

Perjalanan dilanjutkan menuju Gereja Tua Banda. Gereja ini dibangun pada tahun 1873. Ketika sampai dan lihat lantainya, I was like “Lantainya unik ya” karena ada tulisan-tulisan kuno. Namun setelah diberitahu bahwa tulisan-tulisan di atas plat itu ternyata kuburan, I was like “Really?” Ternyata gereja ini dibangun di atas tiga puluh kuburan prajurit Belanda yang tewas berperang untuk menguasai Banda. Pulau ini benar-benar menarik.

Selanjutnya adalah Istana Mini. Bangunan ini dibangun pada tahun 1622 dan menjadi tempat gubernur jenderal. Dari luar bangunan ini terlihat seperti Istana Negara di Jakarta, cuma lebih kecil sesuai namanya. Di dalam hanya ada ruangan kosong seperti aula, lubang meriam di ujung aula dan ruangan-ruangan di sisi kanan kiri. Sempat kepikiran “Kalo ada teman yang indigo ke sini, pasti dia sibuk sekali.” Haha.

Setelah itu saya lanjut ke rumah pengasingan Bung Hatta pada tahun 1936. Sayang sekali saat itu tempatnya ditutup, jadi aku lanjut ke Parigi Rante, sebuah sumur. Di tempat ini ada daftar 40 orang Banda yang jatuhi hukuman mati pada era VOC. Aku terdiam beberapa saat setelah membaca tulisan di tugu itu dan mendoakan mereka yang telah gugur.  

Pintu Benteng Belgica

Sore hari dihabiskan di Benteng Belgica, ikon Banda Neira yang menjadi gambar di uang pecahan Rp1000,-. Bangunan ini awalnya dibangun oleh bangsa Portugis di abad ke-16, dan dilanjutkan oleh Belanda pada abad ke-17. Berada di sini berasa seperti di Casterly Rock di Games of Thrones, karena berada di atas bukit (30 meter di atas permukaan laut) dan bisa melihat pemandangan laut, Gunung Api Banda dan matahari sore. Indah sekali. Aku naik ke salah satu menara banteng—hati-hati saat naik tangga karena kepalaku kejedot tembok, sakit sekali—dan foto uang Rp1000,- dengan background banteng yang berbentuk segilima dan Gunung Api. Tidak ada tiket masuk, namun kotak kontribusi tersedia di dalam bangunan.

Keesokan harinya, aku pergi ke Banda Besar dengan naik kapal kecil. Perjalanan hanya lima menit saja karena sangat dekat. Ini adalah pulau terbesar, di mana ada Desa Lonthoir yang sangat indah pemandangannya dari atas Benteng Hollandia yang terbengkalai. Selain itu, ada banyak perkebunan pala, kayu manis, kacang mete, dan kacang kenari (pohonnya besar sekali!). 

Di sini juga ada festival Cuci Parigi alias cuci sumur suci setiap sepuluh tahun sekali, terakhir tahun 2018. Bukan waktu yang tepat, pikirku. But still, pulau ini menarik. Dari dermaga menuju desa Lonthoir bisa naik ojek dan harganya Rp20 ribu karena memang jauh jaraknya.

Sekembalinya dari Banda Besar, aku diajak naik mercusuar di Lautaka, ujung Pulau Banda Neira. Mercusuar ini seperti menara SUTET, dan tidak disarankan bagi yang akrofobia (takut ketinggian). Tinggi mercusuar ini sekitar 30-40 meter. Agak gemetar saat naik, ada sensasi goyang karena hembusan angin, but it paid off!

Pemandangan dari atas mercusuar bagus sekali! Bentangan bukit menuju kota di sebelah kiri di kejauhan dan lautan lepas di sebelah kanan, dan di depan adalah Gunung Api Banda yang berdiri digdaya di seberang. Seriously, it paid off!

Desa Lonthoir dari Benteng Hollandia, Banda Besar.

Keesokan harinya adalah ke Banda Api. Gunung Api Banda memiliki ketinggian 656 mdpl, merupakan gunung aktif dan terakhir erupsi di tahun 1988. Sebelumnya aku bertanya ke masyarakat lokal bagaimana pergi ke sana, dan akhirnya ada yang bersedia mengantarkan pendakian dengan membayar Rp200 ribu. Mungkin akan lebih murah per orang kalau tidak solo travelling sepertiku dan tergantung negosiasi. Kami berlima menyeberang dengan kapal kecil dan hanya butuh dua menit. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Terakhir aku naik gunung adalah di Bukit Rimpi Kalimantan Selatan dan Gunung Panderman di Kota Batu—yang ternyata adalah bukit—jadi setelah lima belas menit perjalanan.

“Nggak papa kan?” tanya salah satu kawan. Aku muntah dong, jam tujuh pagi. Macam ibu hamil saja.

“Nggak papa. Masuk angin mungkin.” Aku istirahat sepuluh menit.

Medan yang dilalui naiknya terjal, banyak batuan kecil dan pasir, jadinya licin. Kayak shuffling. Seriously, you can sing “I’m sexy and I know it!” saat melewati medan terjal ini biar sensasi shuffling-nya lebih afdol. Aku tidak sabar untuk menikmati pemandangan dari puncak. Namun, semakin dekat ke puncak, kabut tebal dan angin menyelimuti pandangan. Lupakan pemandangan, karena sampai puncak kami semua kedinginan. Karena gunung aktif, jadi ada lubang di sela-sela batuan yang mengeluarkan uap panas. Beberapa dari kami menghangatkan diri di sana, berasa sauna. Salah satu kawanku ada yang mau check cuaca di bawah, entah apa maksudnya.

“Di bawah gimana kondisinya? Aman?” aku dengar dia berbicara dari kejauhan.

“Aman” ada suara jawaban. Tunggu, mereka video call! Jadi di sini masih ada sinyal 4G. Wow.  Cuaca tidak semakin baik jadi kami turun. It was fun pas turun karena bisa perosotan dengan efek suara kerikil dan pasir.

Dalam perjalanan ke penginapan, aku mampir beli selai pala, manisan pala (I feel healthier setiap kali makan produk rempah-rempah ini haha), mento (seperti dadar gulung tapi isinya suwiran cakalang dan sayuran), dan suami.

“Dari gunung?” tanya si ibu penjual.

“Iyaaaa,” jawabku bahagia.

“Cuaca kurang bagus,” sambungnya. Aku cuma senyum.

Mungkin bukan waktu yang tepat untuk berkunjung kalau menginginkan cuaca cerah dan lautan teduh seperti di bulan November atau Desember. Namun, momen seru bisa terjadi kapan saja bukan?  

 

Nama Penulis: Rangga Yanwar Pratama

Instagram: Ranggainthezone

Twitter: ranggainthezone

Press Enter To Begin Your Search
×