Loading...

Akhir 2016 menjadi momen tak terlupakan. Setelah beberapa bulan menikah, akhirnya aku dan suami  bisa pergi berbulan madu ke Lombok. Pengalaman pertama naik pesawat dan kali ini langsung bersama dengan pasangan halal. Cihuy. Menikah pada bulan Mei 2016, saat itu aku masih disibukkan dengan urusan kelulusanku. Iya, aku memang menikah saat belum resmi di wisuda oleh kampusku. Jadilah, acara honeymoon harus ditunda dulu. Lagipula kami tetap bisa menikmati momen honeymoon berdua di mana saja tempatnya, hehehe.

Pada akhir tahun itulah akhirnya kami bisa pergi “bulan madu beneran” berdua. Kami pergi ke Lombok tanpa rencana yang tersusun rapi. Awalnya suami iseng-iseng ngajak, ”yuk ke Lombok.” Aku yang biasanya kurang suka bepergian tanpa rencana, entah kenapa saat itu tidak mungkin dan tidak bisa menolak. Akhirnya, hanya dalam hitungan hari kami berangkat backpacker-an ke Lombok.

Kami tiba di Lombok jelang sore hari. Saat itu suasana bandara Lombok agak sepi, mungkin karena sudah sore ya. Kami yang sama-sama belum pernah ke Lombok pun sempat kagok dan bingung harus pergi ke mana dulu. Apalagi ditambah dengan rencana yang sama sekali tidak matang. Aku sudah hampir mengomel pada suami kala itu. Kalau tidak mengingat-ingat bahwa ini momen honeymoon kami, aku pasti sudah uring-uringan dan tak sabaran. Namun, aku mencoba meredam emosi dan menikmati tiap momen kebingungan dan menjadikannya momen berharga bagi kami.  

Sore itu kami memutuskan untuk menginap di sebuah penginapan di daerah Senggigi. Selain karena menemukan sewa yang murah, kami juga berencana untuk pergi ke Gili Air keesokan harinya. Menurut penelusuran yang kulakukan, kabarnya memang public boat yang akan mengantar kami menyebrang akan berhenti beroperasi ketika sore hari. Saat itu, kami rasa memang waktunya tidak akan sempat. Jadi kami putuskan untuk bersantai dahulu di Senggigi.

Malam pertama kami habiskan hanya di penginapan, selain karena lelah usai penerbangan, kami juga belum tertarik berkeliling Senggigi. Kami hanya keluar sebentar untuk makan malam, lalu kembali lagi melanjutkan rebahan. Suasana penginapan saat itu sangat homey. Selain itu bangunan yang baru juga membuat kami sangat nyaman. Meski lebih mirip kamar kost, penginapan yang kami sewa memiliki bar kecil untuk menyantap makanan ataupun ngopi-ngopi cantik. Malam itu juga kami sempatkan untuk ngopi di bar penginapan dan ngobrol dengan beberapa pengunjung serta staf di sana.

Keesokan harinya usai menyantap setangkup roti telur, kami bersiap menuju ke penyebrangan di Pelabuhan Bangsal. Malam sebelumnya, ketika ngopi kami sempat ditawari untuk ikut rombongan mobil yang memang akan mengantar satu rombongan menuju ke Bangsal. Tanpa pikir panjang kami pun memutuskan untuk ikut rombongan tersebut. Kebetulan memang masih ada kursi kosong untuk kami berdua.

Perjalanan yang sebenarnya memakan waktu tak lebih dari 45 menit itu harusnya berjalan lancar. Namun sayangnya, karena roti telur (yang kurang matang) tadi perutku jadi bergejolak. Benar-benar malu, akhirnya aku mual bahkan muntah selama di perjalanan itu. Aduh, sungguh malu rasanya jika ingat hal itu. Untungnya tidak ada protes keras dari penumpang lainnya. Perjalanan menggunakan mobil kali itu harusnya menjadi perjalanan yang seru. Kami melewati berbagai pemandangan indah yang tersaji di kanan kiri sepanjang perjalanan. Hamparan pantai yang cantik, pepohonan rindang menghias serta hembusan angin nan sejuk yang menerobos melalui jendela mobil. Sayangnya, kondisiku yang kurang fit jadi agak mengurangi keindahan perjalanan itu.

Mobil pun akhirnya terparkir di daerah Pelabuhan Bangsal. Dari sinilah kami akan menyebrang ke Pulau kecil. Tidak seperti kebanyakan orang yang mungkin akan langsung memilih Trawangan, suami memutuskan untuk mengajakku ke Gili Air. Menurut hasil searching suami, Gili Air adalah pulau yang tidak terlalu ramai tetapi juga tidak terlalu sepi. Alasan utama suami tentu saja, ia ingin snorkeling ala-ala gitu. Menurut hasil penulusurannya juga di berbagai ulasan, Gili Air menjadi salah satu spot wajib untuk melihat keindahan biota laut di Lombok. Entahlah, aku yang tak paham manggut-manggut saja.

Aku yang masih mual karena perjalanan darat dengan mobil tadi, kembali harus menyiapkan mental untuk menyebrangi lautan menuju Gili Air. Setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya kami bisa menyebrang. Dengan perjalanan tempuh tak lebih dari setengah jam, surprisingly aku menikmati perjalanan itu dan akhirnya aman sampai mendarat di Gili Air. Ternyata, ada satu peristiwa ganjil yang terjadi yang baru saja kami sadari saat telah sampai di penginapan. Ponsel suami hilang, kemungkinan saat menunggu di Pelabuhan tadi. Haah, ya sudahlah mau bagaimana lagi. Harus diikhlaskan saja. 

Setelah sampai di Gili Air, kami langsung menuju penginapan yang telah kami pesan malam sebelumnya lewat aplikasi. Ternyata letak penginapan kami lumayan jauh dari Pelabuhan. Apalagi di Gili ini tidak ada kendaraan bermotor. Yang diizinkan hanya sepeda dan delman. Kami yang sok tahu ini, mengira tempat tujuan kami dekat, sehingga nekat berjalan dengan tanpa alas kaki. Sengaja kami tidak beralas kaki, karena harus turun dari public boat sebelumnya. Tentu saja kami tidak ingin membasahi sepatu. Jadi sekalian saja nyeker sampai ke tempat penginapan. Ternyata, yang dituju tidak sedekat yang dikira. Beginilah tempat penginapan yang kami sewa. Fasilitasnya sebanding sih dengan harganya.

Kami menginap di sana kurang lebih tiga hari dua malam. Ada banyak memori terekam di sana. Pagi hari setelah menyantap sarapan, kami sudah sibuk mendekat ke bibir pantai. Suamiku dengan sigapnya membawa perlengkapan menyelam. Sementara aku yang tidak suka snorkeling hanya bisa mengintip barang beberapa menit, lalu kemudian memutuskan untuk mentas dan menunggu di tepi pantai sembari mengeringkan baju. Hingga siang menjelang, terik matahari terasa kian menyengat. Ditambah pula dengan perut yang memulai konser alias keroncongan, kami memutuskan untuk makan siang sekalian di resto yang berada di sekitaran pantai.

Usai santap siang, kami kembali ke penginapan dan beristirahat. Sore harinya kami kembali menyusuri gili dengan menyewa sepeda. Aku lupa berapa tarifnya. Lumayan juga ternyata menyusuri gili dengan bersepeda, meskipun ya tetap tidak memutari seluruh pulau ini. Suamiku yang sangat jumbo mudah kelelahan sih, harap maklum sajalah.

Setelah lelah bersepeda, kami berdua menikmati indahnya sandyakala sembari bersantai di tepi pantai. Pemandangan yang sungguh menakjubkan terhampar di depan mata. Menyuguhkan haru dan membuat diri ini merasa sangat kecil di hadapan alam semesta. Seperti itulah pengalaman traveling yang tidak akan pernah ku lupakan. Sekarang sudah 4 tahun sejak menikah, belum merasakan traveling yang super seru lagi. Apalagi di era pandemik ini. Suatu saat ketika kondisi sudah lebih memungkinkan rasanya pengin banget ngajakin suami dan anak juga buat traveling ke tempat yang lebih seru.

Setelah lelah bersepeda, kami berdua menikmati indahnya sandyakala sembari bersantai di tepi pantai. Pemandangan yang sungguh menakjubkan terhampar di depan mata. Menyuguhkan haru dan membuat diri ini merasa sangat kecil di hadapan alam semesta. Seperti itulah pengalaman traveling yang tidak akan pernah kulupakan. Sekarang sudah 4 tahun sejak menikah, belum merasakan traveling yang super seru lagi. Apalagi di era pandemik ini. Suatu saat ketika kondisi sudah lebih memungkinkan rasanya pingin banget ngajakin suami dan anak juga buat traveling ke tempat yang lebih seru.

 

Nama Penulis: Walidah Ana Farah

Instagram: www.instagram.com/anafarahan

Twitter: www.twitter.com/anafarahan

Facebook: Walidah Ana Farah

Press Enter To Begin Your Search
×