Loading...

Unsplash

Bulan Sepetember merupakan bulan dimana kami berjanji untuk berjumpa kembali setelah 4 bulan tidak berkumpul. Kami sepakat untuk melakukan reunian di Gunung Semeru, Jawa Timur. Gunung Semeru menjadi tempat reuni yang cocok terinspirasi dari film 5 cm. Pertama kali kami berjumpa adalah saat mengikuti kegiatan sosial di Kerinci , Jambi sekaligus melakukan pendakian gunung tersebut.

Tanggal 17 September, Uni teman kami yang berasal dari Padang, Sumatra Barat lebih dulu berangkat menggunakan bus menuju Jakarta bertemu Bang Tomy dan berangkat menggunakan kereta ke Bandung. Tiga rekan kami sudah menunggu di Bandung Abi, Bang Febri, dan Ari. Kelima orang tersebut menyambung kereta menunju Yogyakarta dimana saya akan menyusul. Dari Jogja kereta terus melaju menuju stasiun Gubeng, Surabaya tempat anggota terakhir bergabung,  teh Almi. Setibanya di Surabaya kami menunggu sebentar di stasiun untuk bertolak ke Malang menggunakan kereta lokal. Lengkaplah kami ber-7 berangkat ke Malang. Hari sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB ketika kami sampai di Tumpang. Dari Tumpang kami menyewa mobil untuk membawa kami ke Ranu Pani. Kami beberapa kali berhenti di pasar untuk membeli barang logistik kami. Setelah semua bahan lengkap kami langsung menuju basecamp pendakian Semeru. Sepanjang perjalanan ke basecamp kami disuguhi pemandangan sabana yang sangat indah percis seperti di film 5 cm.

Pukul 07.00 WIB kami sampai di basecamp, kami beristirahat sambil sarapan terlebih dahulu, sementara Ari ke pos registrasi untuk mengurus pendakian. Sekembalinya Ari kami diberi kabar bahwa terjadi kebakaran dari Kalimati menuju puncak. Sedih dan kecewa pasti tak tertahankan. Ibaratnya sebuah film, puncak gunung bagai klimaks dari sebuah cerita, ada rasa puas tersendiri. Namun kata seorang porter disana jika api sudah padam maka mungkin diperbolehkan mendaki sampai puncak. Muncul sedikit harapan, karna kami sudah ada disini maka pendakian harus tetap dilaksanakan. Kami pun memulai pendakian pukul 11.00 WIB. Terik matahari tepat mengenai ubun-ubun kami selama perjalanan. Kami yang berjalan terlampau santai akhirnya sampai di pos 2 pukul 13.00 WIB. Kami segera mengeluarkan perbekalan untuk makan siang. Sejam istirahat kami lanjut berjalan melewati pos Ladengan Dowo dan Watu Rejeng. Kaki sudah sangat lelah berjalan namun tempat tujuan kami untuk berkemah tidak kunjung terlihat. Tepat saat sunset terlihat begitu jingga saya melihat air yang luas dari balik pohon. Sangat gembira saya melihatnya, kami sampai di Ranu Kumbolo.

Dok.Pribadi

Danau Ranu Kumbolo merupakan potongan surga di Taman Nasional Bromo Tenger Semeru yang juga tempat favorit para pendaki untuk kemah. Tempat ini menjadi favorit selain karena keindahan alamanya, air disini melimpah untuk dikonsumsi. Kami pun bermalam dulu disini sambil menunggu berita dari porter yang mengecek lokasi kebakaran. Malam hari kami memasak dan menikmati malam bersama, meski udara di Ranu Kumbolo bisa mencapai -4°C, udara dingin kalah hangat dengan keakraban kami malam itu. Malam pun terlewati, kudapati tenda sudah berlapis es saat pagi hari. Ternyata udara di sini memang sangatlah dingin. Sembari membuat sarapan dan merencanakan perjalanan, seorang porter datang dan memberi tahu bahwa titik api masih menyala dan berbahaya untuk pergi lebih jauh.

Sekali lagi pupus harapan kami untuk mencapai puncak Mahameru. Sempat terbesit dipikiran kami untuk tetap naik ke atas. Setelah melalui debat panjang akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakian dan menetap semalam lagi di Ranu Kumbolo, toh disini pemandangannya juga bagus. Sekali lagi malam terlewati dengan bebagi tawa dan sedih dari cerita curhatan teman-teman. Satu tenda kapasitas 5 orang kami penuhi 7 orang tentu saja posisi kami berdesakan. Tetapi momen liburan kali ini sungguh menyenangkan, berkegiatan bersama teman-teman di danau yang indah, meski ada juga kekecewaannya. Paginya kami disuguhi sunrise yang luar biasa indah. Pantas tempat ini dijuluki surga.

Sungguh terpesona kami oleh indahnya Semeru. Pesona Ranu Kumbolo sepenuhnya hanya bisa dinikmati oleh mata langsung,. Dulu saat menonton film 5cm saja sudah sangat indah, jauh lebih indah saat mata sendiri yang melihat.

Dok.Pribadi

Tanggal 21 september 2019 pukul 14.00 WIB kami bersiap kembali ke basecamp. Tiga hari dua malam kami sudah di Semeru. Kami berjalan kembali menyusuri jalan pulang, sesekali kutengok lagi kebelakang melihat indahnya Ranu Kumbolo. Hasrat dalam hati berkata “suatu hari lagi akan kuraih puncak Mahameru” sambil melihat ujung puncak yang terlihat dari jauh. Butuh waktu 4 jam hingga saya tiba di basecamp kembali. Kami menghangatkan diri kembali sambil bersiap untuk kembali ke stasiun. Meski kaki sangat pegal tapi hati senang karena menghabiskan liburan bersama teman-teman ini. Malamnya kami berangkat menumpangi mobil menuju stasiun. Tepat saat kami hendak pulang ada kabar dari rescuer Semeru bahwa baru saja muncul titik api di Ranu Kumbolo dan membakar padang rumput disana sehingga aktivitas pendakian di Semeru ditutup total. Kami kaget karena jika terlambat turun semalam saja kami pasti masih disana terjebak dengan api. Sungguh tidak terduga rencana Tuhan, ada pesan dibalik kekecewaan kami tidak dapat meraih puncak Semeru. Keselamatan jiwa jauh lebih penting dari ego kami. Kami bersyukur kembali dalam keadaan yang utuh. Perjalanan yang sangat berkesan, senang karena bisa berkumpul bersama kawan-kawan dan juga belajar kembali akan makna sebuah pendakian, bahwa tujuan akhir dari pendakian bukanlah puncak melainkan kembali pulang dengan selamat. Kami pun berpisah menuju rumah masing-masing kembali. Tak lupa kami merencanakan reuni kembali dengan petualangan yang lebih seru. Setelah saling menyebut tempat, akhirnya kami sepakat untuk bertemu kembali di Lombok, Rinjani!

Dok.Pribadi

 

Nama Penulis: I Komang Adi Widyastama

Instagram : www.instagram.com/wmangadi

Facebook: Adi Widyastama

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×