Loading...

Unsplash

Berbicara tentang pengalaman travellingku yang paling memorable, mungkin adalah saat berkunjung ke tanah Jogja beberapa tahun lalu.

Di tahun kedua kuliah, aku bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa. Sejak awal dilantik, salah seorang rekan mengusulkan ide liburan di akhir masa jabatan nanti. Kami ramai-ramai menyetujui.

Apalagi jika tujuannya adalah Jogja.

Duh, banyak orang pasti tahu bahwa kota kecil itu selalu menjadi destinasi wisata favorit. Banyak pula yang menjadikannya sebagai tujuan studi banding, tapi niat sebenarnya jalan-jalan. Jogja bahkan pernah didatangi oleh dua artis kenamaan; Lee Seung Gi dan Jasper Liu untuk syuting, sukses membuat para penggemarnya heboh.

Termasuk aku, yang mupeng ingin ketemu juga tapi terhalang budget. Hiks.

Ini kok, jadi bucin.

Pantai Drini, Gunung Kidul | Dok. Pribadi 

Baiklah. Setelah uang tabungan selama setahun terkumpul, kami akhirnya memesan tiket kereta dan penginapan. Budget kereta saat itu lebih kurang 90 ribu per orang. Kami berangkat pagi dari stasiun Senen, Jakarta, dan sampai di Lempuyangan kira-kira pukul sembilan malam.

Benar kata orang, Jogja itu romantis. Kesan yang kudapatkan setelah melihat lanskap kota yang diterangi oleh sinar kuning lembut lampu jalan.

Malam itu, kami beristirahat di rumah famili rekan pers. Barulah, esok paginya, di udara sejuk Jogja, kami check in ke penginapan yang agak tersembunyi dari suasana kota. Guesthouse sederhana, cocok untuk para backpacker.

Hari itu juga, kami berangkat berwisata dengan mobil sewaan yang sudah dipesan semalam. Biayanya lebih kurang satu juta untuk sehari penuh. Karena tidak punya itinerary pasti, kami banyak berdiskusi dengan bapak driver yang ramah sekali.

Tempat pertama yang direkomendasikan adalah pantai di kawasan Gunung Kidul; Pantai Drini dan Pantai Baron. Sama-sama menyenangkan, tapi aku pribadi lebih suka Drini. Lebih luas, spot foto instagramablenya lebih banyak, kawasannya lebih indah. Dan di Drini lebih banyak pelancong.

Sayangnya, deburan ombak di Drini juga lebih besar. Jadi kalau niatmu nggak mau basah-basahan, sepertinya kamu harus menghindari sisi kanan pantai yang ombaknya lebih ganas.

Kita juga bisa menyewa perahu dan pelampung, yang hanya diperbolehkan untuk dipakai di sisi kiri pantai. Aku sendiri memutuskan untuk bermain di tepian saja, menceburkan kaki ke air yang dialasi bebatuan indah.

Kami baru beranjak dari Gunung Kidul saat sore menjelang. Inginnya ke Candi Borobudur, tapi batas waktu sewa mobil tidak cukup jika kesana. Akhirnya tetap ke candi, tapi ke Prambanan. Dan rupanya gugusan batu peninggalan sejarah di sana tidak kalah menakjubkan. Apalagi beriringan dengan sinar sunset yang perlahan menyepuh bebatuan.

Magis.

Seperti beberapa patung di ruangan candi yang punya aura supranatural.

Candi Prambanan | Dok. Pribadi

Di jalur pulang Prambanan, kami juga menemukan satu lapangan luas dengan rusa serta kijang di dalam pagar. Ya karena tidak bisa mengalihkan perhatian dari yang imut-imut, kami berhenti dulu untuk menyapa dan memberi rumput. Namanya juga kaum hawa.

Lelah berkeliling seharian, rupanya kami sadar kalau perut keroncongan. Dan dengan diantarkan oleh bapak driver lagi, kami menuju kedai makan yang katanya punya gudeg paling enak. View Jogja dari kaca mobil malam itu benar-benar seperti ilham bagi puisi-puisi. Ah, aku rindu!

Jika sudah makan gudeg, maka tidak sah ke Jogja kalau tidak beli bakpia!

Lagi-lagi dengan penuh kebapakan, driver kami menyarankan sebuah toko bakpia terenak, yang sayangnya aku lupa nama kedainya. Dan memang iya, tester bakpia hangat yang kami rasakan memang lumer sekali di mulut. Lepas beberapa hari setelah dibeli pun masih nikmat. Berlaku bagi semua varian rasa yang dijual. Terimakasih bapak driver!

Hari selanjutnya, kami meniatkan diri untuk berfoto di pohon besar di alun-alun Jogja. Tapi sayang sedang dibanjiri air karena hujan sejak sore. Kami tidak bisa mendekat ke lokasi dan hanya menaiki odong-odong yang ‘bercahaya'.

Dinaiki segerombolan, dan kami mengayuh bersama-sama. Diiringi musik dari kotak suara di belakang odong-odong, angkringan yang ramai, dan semilir angin malam Jogja. Jatah kami kalau tidak salah hanya dua putaran lapangan. Itu pun, sudah ngos-ngosan.     

Berikutnya, semua tujuan wisata sudah membuat kami puas, time for shopping! Dan Malioboro adalah tujuan spesialnya.

Kawasan Malioboro masih ramai meski cukup malam. Toko-toko masih terang benderang, para pedagang masih berseru kencang memamerkan barang dagangan, dan becak-becak terparkir rapi di pinggir jalan protokol. Di titik nol tempat kami bersepakat berkumpul, bangunan tua khas Belanda di seberang jalan seperti menampilkan fragmen sejarah.

Salah satu spot Titik Nol Kilometer | www.alodiatour.com/titik-nol-jogja/

Kami berfoto, menikmati kacang rebus, wedang ronde, serta sate, mendengarkan samar-samar petikan gitar, melihat atraksi budaya dan lalu-lalang pelancong di sepanjang jalan.

Hidup seperti dijeda sejenak.

Meski sudah bersama merasakan roda organisasi selama setahun penuh, rasa kebersamaan yang terjalin terasa tak sama. Kami masih beradu argumen terkait tiket, mengomel gara-gara gowesan odong-odong yang tidak seirama, mengeluh tentang keegoisan berkumpul di titik nol padahal jauh sekali. Tapi kami juga menikmati—aku khususnya—pengalaman travelling yang berbeda.

Kami tidak sendirian menikmati Jogja yang mengesankan. Kami tidak sendirian merindukan Jogja lagi dan lagi. Dan meski saat ini sudah terpisah jarak, list perjalanan kami sudah bertambah dengan Jogja sebagai tempat kenangan bersama.

“Pengalamanmu tak akan sama lagi jika sudah menjejakkan kaki di tanah yang berbeda.”

 

Nama Penulis: Fauziah

Instagram: www.instagram.com/zeytanzil/

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×