Loading...

Minggu, 9 Agustus 2020, dengan mengendarai mobil, saya, kang “Keanu Reeves” Pepih Nugraha, kang Dodi Mawardi, yang nama belakangnya sama seperti nama jenis bunga yaitu Mawar, dan sang filsuf Masri Sareb Putra, bertolak dari Malinau ke Desa Wisata Pulau Sapi. Sebelumnya kami berempat menghadiri acara peluncuran buku Kaltara Rumah Kita karya Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si yang biasa disapa Ytp. Acara peluncuran buku dilangsungkan di Kafe Tubu, Malinau, pada 8 Agustus 2020.

Bung Masri mendapat julukan “filsuf “karena jika berbicara kadang mengutip teori-teori filsafat dunia. Pepih Nugraha dijuluki “Keanu Reeves” karena salah seorang temannya kesulitan mencari fotonya di FB, katanya sering ketuker sama Keanu Reeves……ha…ha..ha.

Saat pertama kali mendengar nama Desa Pulau Sapi yang terlintas dibenak saya adalah desa tersebut menjadi pusat peternakan sapi di Kabupaten Malinau. Namun dugaan tersebut ternyata….Upsss….Salah…..ha...ha…ha

Disebut Desa Pulau Sapi karena menurut sejarahnya, bahwa pada zaman dahulu telah ditemukan bangkai seekor sapi yang terdampar hanyut dari hulu sungai. Letak Pulau tersebut tepatnya di seberang Desa Pulau sapi.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, tibalah kami di Desa WIsata Pulau Sapi yang merupakan salah satu desa wisata di Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau. Di sana kami menjumpai lukisan dan ukiran tampil di mana-mana. Dapat dilihat di dinding-dinding rumah, balai desa, atau fasilitas umum dengan lukisan dan ukiran khas Dayak Lundayeh. 

Di tengah perjalanan menuju Desa Pulau Sapi, kami tertawa, mengingat argumen dan mimik muka pak Ngadri dikala menjawab pertanyaan yang disampaikan pak Ytp saat makan malam setelah acara peluncuran buku.

“Itu saya yang ngomong duluan”, ujarnya saat ditanya pak Ytp perihal kapasitas seorang pemimpin. Kala itu "sang filsuf" Masri sedang menjawab pertanyaan yang sama. Menurutnya, jawaban sang filsuf adalah jawabannya yang dia ucapkan di lokasi peluncuran buku"

“Saya duluan menjawab seperti itu. Itu jawaban saya tadi sore ketika berbincang dengan pak Ernest-Sekda Malinau”, katanya.

Akhirnya sang filsuf pun memberi jawaban lain karena jawaban sebelumnya sudah menjadi hak cipta pak Ngadri…ha…ha..ha… Sampai gelas minuman berisi kopi milik sang filsuf dan pak Nadri pun dipermasalahkan. 

“Tuhhh lihat…saya minum kopi segini, dia juga segini," kata pak Ngadri sambil menunjuk isi batas kopi dalam gelasnya.

Kami pun tertawa  mendengar ucapannya dengan logat jawa yang kental dan mimik mukanya. Sejak saat itu keluarlah istilah saya duluan atau nadri.com

Pak Ngadri adalah perwakilan dari MURI yang diundang dalam peluncuran buku Kaltara Rumah Kita untuk menyampaikan penghargaaan MURI atas buku Hidup Bersama Allah Jadi Produktif  karya Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si yang telah memecahkan rekor MURI karena ditulis dengan penulis terbanyak dalam satu buku, yaitu 31 orang. 

Setelah berbincang sekitar dua jam dengan salah seorang camat dan penggiat seni dan budaya serta warga sekitar yang ditemani dengan sajian kopi jahe yang nikmat, kami bertolak ke perkebunan Bang Abak milik pak Ytp. Di tengah perjalanan menuju Bang Abak, HP sang fisuf berdering.

“Sudah di mana?” terdengar suara pak Ytp.

“Kami menuju Bang Abak," demikian sang filsuf menjawab

Sesampainya di Bang Abak, saya melihat pak Ytp sudah berada di tengah perkebunan dengan sebuah parang dipinggangnya. Setelah berbincang di tengah perkebunan, pak Ytp mengajak kami menikmati makan siang yang sudah disediakan. Ditemani dengan ibu Ping, Adi, dan Richard yang merupakan istri dan anak-anak pak Ytp, kami menikmati makan siang di tower dengan pemandangan perkebunan yang asri dan indah.

Bang Abak, sebuah kawasan perkebunan keluarga yang tak jauh dari Malinau. Di sini tersedia berbagai fasilitas rekreasi dan liburan, antara lain jalan setapak untuk berolahraga, naik turun bukit melalui tangga batu, berdayung di sebuah danau buatan, berjalan kaki mengitari taman bunga, dan kebun lada serta memancing. Untuk pertama kali saya mendayung menggunakan perahu yang telah disediakan. Saya dipandu oleh sang filsuf Masri Sareb Putra mengitari danau yang dikelilingi oleh berbagai macam tumbuhan dan hingar bingar burung belibis di tengah danau. Amazing….

“Ton… bagian tengah di ujung perahu harus lurus. Jika  belum lurus, dayung perahu dengan arah berlawanan agar kembali lurus," ujar sang filsuf.

Saya juga diajarkan cara belok dan putar arah. Ada teknik unik yang diajarkan sang filsuf Masri kepada saya: mendayung dengan tangan…ha..ha…ha. Teknik ini ternyata dikomentari oleh kang Dodi yang saat itu mendokumentasikan dengan HP kesayangannya. 

“Aneh aja tuh orang dayung kok pake tangan”, begitu gumamnya. Teknik ini diajarkan sebagai antisipasi jika dayung rusak. Ada trik dan tekniknya juga. Luar biasa sang fisluf…benar-benar anak sungai….ha..ha..ha. Sementara kang “Keanu Reeves” Pepih Nugraha langsung meluncur ke tengah danau. “Mantan atlit dayung PON Tasik” ini (ha..ha..ha..) mengelilingi danau seorang diri tanpa dipandu siapa pun. Khayalannya terbang tinggi mengenang Frankenstein di Danau Bang Abak.

Kang Dodi akhirnya turun juga mengelilingi dan menikmati keindahan Danau Bang Abak dipandu oleh sang filsuf Masri Sareb Putra. Kami benar-benar menikmati keindahan alam nan asri, ditambah dengan kicauan burung, melihat ikan patin yang super besar serta udara yang benar-benar bersih dan segar. Pikiran dan jiwa jadi fresh.

Sayang waktu telah senja dan matahari sudah mulai kembali ke peraduannya. Satu kerinduan “kang Keanu Reeves” adalah memancing di tengah danau sambil membayangkan Frankenstein di tengah Danau Bang Abak. Semoga yaaa kang.

Di Bang Abak, saya melihat hamparan kebun lada. Berjejar naik turun munggu, tertata rapi, bagaikan hiasan.

Tanaman lada di Bang Abak bukan hanya sekadar ditanam dan menghasilkan buah, akan tetapi ditata sedemikian rupa, sehingga membentuk keindahan yang berpadu sekaligus menyatu dengan lingkungan sekitar. Manakala hari menyibak pagi, matahari muncul dari balik bukit menerpa sinarnya ke segenap penjuru. Burung-burung riang bernyanyi menyambut hari baru. Bunga-bunga asoka aneka warna menebar pesonanya. Kembang sepatu meriap. Tangkai putrimalu merekah menangkap datangnya berkas cahaya.

Perkiraan saya Bang Abak akan terus dikembangkan menjadi lebih besar dan luas untuk perkebunan lada, buah-buahan lokal Malinau dan nasional di samping perikanan kolam air tawar, juga ada peternakan kambing, penangkaran rusa, dan konservasi hutan untuk menampung air dan menjaga vegetasi tumbuhan serta pepohonan yang memiliki nilai ekonomis serta menjadi tempat tinggal beberapa jenis burung enggang serta hewan lainnya. Di Bang Abak sapi dan kerbau dibiarkan hidup liar di salah satu punggung bukit dan lembah yang dibatasi pagar tinggi agar ternak yang tidak diberi kandang itu tidak melintas batas.

Kawasan Bang Abak nan menawan. Perhutanan, perkebunan, perikanan air tawar, peternakan, persawahan, tempat rekreasi, perkemahan, dan retreat. Apalagi jika nanti dibangun flying fox, miniatur pulau-pulau Nusantara, dan studio film atau tempat khusus untuk menonton film dokumenter sejarah Bang Abak…komplet. Bang Abak, jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, adalah sebuah “daerah di tengah lembah atau perbukitan”. Disebut demikian, karena geografisnya memang seperti itu adanya. Dalam bahasa daerah Dayak Lengilo Bank Abak berarti  lembah yang diapit bukit-bukit.

Yang tidak terlupakan adalah mendayung dan tower di atas bukit di Bakabak itu. Mata bisa berputar kedelapan penjuru angin. Mentari terbit dan tenggelam bisa terlihat dari tempat itu dengan hanya memutar posisi badan 160 derajat.

Semoga di lain kesempatan bisa refreshing lagi di perkebunan Bang Abak, apalagi bersama keluarga…Amin

 

Nama Penulis: Saptono Raharjo

Instagram: Saptono Raharjo

Twitter: Saptono Raharjo

Press Enter To Begin Your Search
×